Sejarah Afrika

Posted: 22 Januari 2011 in makalah



SEJARAH AFRIKA


Dosen         : Dra Emerita Wagiyah, M,Pd.


Oleh :

Nama                   : Anissa Filial Putri (09021005)

Saeful Rohman (09021031)

Semester     : III

Jurusan      : Pendidikan Sejarah

FAKULTAS PENDIDIKAN IPS

IKIP  YOGYAKARTA

2011

ANTOLOGI AFRIKA TRADISIONAL

(ZAMAN KUNO SAMPAI ABAD XIX)

Afrika “the Dark Continent” Suatu Tinjauan Didaktis atas Sebuah Mitos

  1. A. Latar belakang dan isi Mitos

Afrika sering dikenal denga sebutan “The Dark Continent”. Istilah ini sebetulnya merupakan istilah yang sudah membatu dalam masyarakat luas yang berasal dari suatu predikat yang ramai diteriakan pada zaman kolonial terhadap Afrika. Berbeda dengan sebutan Greenland atau Yellow River, sebutan Dark Continet lebih pada konotasi negative yang merendahkan dan sering kali dipakai untuk tujuan yang bersifat imperialistis.

Nama “Afrika” sudah dikenal sejak zaman kuno. Besar kemungkinan orang romalah yang pertama kali menggunakannya, walaupun semula hanya untuk menunjukkan suatu wilayah tertentu di pantai Afrika Utara yang jadi daerah kekuasaannya, yakni berkas Carthago dan sekitarnya. Mereka menyebutnya Afri, atau A Fricani, yang berasal dari nama salah satu suku mayoritas pendudk setempat Aouriqha atau Afarika. Kemudian pada masa orang Arab berkuasa menggantikan kedudukan Roma, nama tersebut juga digunakan  dengan ejaan yang sedikit berbeda Ifrikiya. Selanjutnya pada zaman Kolonial orang Eropa menggunakannya malah untuk seluruh gugusan benua, dan sejak saat itulah nama Afrika terpakai secara umum.

Sebuah paradoksal bila dikatakan bahwa mitos tentang Afrika justru timbul setelah benua tersebut dikenal oleh dunia luar. Pengenalan dunia secara utuh, khususnya dimata orang barat, sebenarnya merupakan barang baru. Sebelumnya ,mereka mengenal Afrika hanya namanya saja tanpa mengetahui isinya. Pengetahuan yang mereka peroleh amat terbatas. Kemudian saat mereka berhadapan dengan Afrika yang sesungguhnya seringkali hubungan antara bangsa tersebut diwarnai oleh suatu ketidak seimbangan yang menjurus kea rah dominasi suatu piahak oleh pihak lain. Bangsa Barat yang merasa dirinya lebih unggul selalu memberikan penilain yang rendah terhadap Afrika. Untuk mengekalkan dominasinya justru hasil penilaian subyektif itulah yang selalu ditonjolkan sebgai sutau kebenaran. Dengan latar belakang ketidak tahuan adanya tujuan tertentu; maka lahirlah mitos Afrika “The Dark Continent”, yang diterima oleh masyarakat Barat sebagai suatu kebenaran.

Dan sebagai klimaks dari semuanya disusunlah suatu hipotesis rasialais atas sebuah pertanyaan profokatif; kenapa Afrika terbelakang. Jawabanya benar –benar merupakan suatu kunci mati atas semua penilaian yang dilontarkan terhadap Afrika. Dengan didukung oleh keyakinan religi dan diperkuat oleh bukti yang bersifat Pseudo scientific dalam bidang medis, ssampailah orang Barat kepada suatu kesimpulan bahwa keterbelakangan Afrika disebabkan oleh Struktur rasialnya.

  1. B. Realita Geografis dan Rasial

Ciri suatu mitos adalah imajiner, fiktif, tidak realistis, tetapi didalamnya terdapat sesuatu yang terselubung. Sehubungan dengan hal tersebut kenyataan apa yang sebenrnay dibalik Afrika The dark Continent. Pertama adalah sebutan “Terra Incognita” tanah yang tidak dikenal. Tidak dikenalnya Afrika adalah akibat dari terisolasinya daerah tersebut terutama daerah peadalaman dari pusar-pusat peradaban dunia.

Mitos hutan dan singa, yang jelas menggambarkan ketidaktahuan Eropa dan merupakan suatu kekeliruan. Afrika mempunyai daerah yang cukup luas, sebagian tanahnya ada yang tertutup hutan, sabana, padang pasir dan subtropis. Yang dikategorikan sebgai hutan belantara hanyalah sebagian kecil dari Afrika, yakni berupa sutau jalur sempit sekitar khatulistiwapada pantai teluk Guinea sampai lembah Congo. Disamping itu di dalam hutan bias dipastikan terdapat hewan buas, tapi singa dan sebgaian besar fauna tidak biasa berkeliaran didalamnya, melainkan hidup bebas di padang terbuka daearah savanna. Dugaann yang keliru ini nampaknya mempunyai alas an, kegelapan seringkali diassosiasikan dengan rimba raya dan binatang buas, singa dalam hal ini merupakan symbol ketakutan bangsa barat terhadap Afrika yang saat itu masih serba misterius.

  1. C. Realita historis dan cultural

Pada saat bangsa Barat datang di Afrika, mereka menjumpai banyak hal yang serba rendah, sehingga ditarik kesimpulan bahwa Afrika tidak mampu mengembangkan peradaban. Meskipun orang Afrika tidak mempunyai tulisan, bukan berarti mereka sama sekali tidak pernah menggunakannya. Sebagian masyarakat Afrika Barat dan Afrika Timur pernah pula menggunakan tulisan yang diperoleh dari bangsa Arab. Hal ini diperkuat dengan adanya penulis Negro dari Timbuktu yang bernama Baba, Kati, dan Sadi dalam karyanya yang berjudu Tarikh al Fettasi, Tarikh as Sudan, dan Tedzkiret en Nisian.

Mengenai masalah peninggalan budaya materil, Afrika dulu memang hanya sedikit sekali memilikinya, tetapi abas –abad terakhir ini para ahli giat mengadakan penelitian dan penggalian di berbagai daerah misalnya Mauritania, Lembah sungai Niger, Zambesi dan lain – lain. Dan sebagai hasilnya teryata Afrika memiliki suatu yang bisa dibanggakan, berupa bangunan maupun karya seni lainnya. Seperti bangsa lainnya, bentuk dan tingkatan budaya Afrika bervariasi dan berbeda antara kelompok satu dengan kelompok lainnya. Tidak semua orang Afrika peradabannya rendah dan terbelakang, sebagai contoh beberapa kelompok masyarakat agraris di daerah Afrika Barat mempunyai corak budaya yangcukup tinggi, sementara ada pula corak budaya yang sederhana terdapat dalam masyarakat Afrika Selatan yang sampai saat ini menunjukkan adanya sisa – sisa kehidupan prasejarah sebagai hunter dan gatherer.

Secara umum pengaruh kondisi lingkungan ternyata sangat menghambat bagi pertumbuhan dan perkembangan peradaban Afrika. Meminjam istilah Toynboe, tantangan alam yang dihadapi oleh masyarakat Afrika terlalu kuat. Daratan Afrika sesungguhnya luar biasa luasnya, tetapi areal tanag yang bisa dimanfaatkan untuk kehidupan agraris dan pastoral amat terbatas. Selain itu banyak sekali hal – hal yng menghambat pertanian di Afrika, selain mutu tanahnya yang rendah, pemupukan juga tergantung pada hewan ternak yang dibanyak daerah ternyata tidak ada. Pengolahan tanah dengan system Slash and Burn, sambil berpindah – pindah serta alat sederhan berupa cangkul ternyata terlalu banyak membuang waktu dan tidak produktif.

Menyingkap Misteri Hieroglyph Mesir Kuno

Peradaban Mesir Kuno telah lama tenggelam. Peninggalan – peninggalannya banyak terdapat di kiri – kanan sepanjang Sungai Nil, maupun yang tersebar diberbagai benua mempesona banyak umat dari berbagai geenrasi. Dari hal ini menimbulkan pertanyaan alam fikiran apa yang telah mendorong orang Mesir sehingga mampu mengembangkan suatu peradaban yang begitu tinggi. Untuk menjawab hal itu mereka berusah menghidupkan kembali huruf hieroglyph.

Untuk bisa memahami huruf hieroglyph terlebih dahulu harus mengetahui arti simbolis setiap gambar atau figurnya. Karena selalu terpancamg pada keyakinan seperti it setiap usaha untuk memecahkan huruf tersebut selalu gagal. Mereka belum mengetahui atau belum bisa membuktikan bahwa sesungguhnya betapapun huruf tersebut berbentuk pictographi, didalamnya telah terdapat unsur – unsur bersifat alphabetis. Artinya setiap huruf atau gambar tidak hanya mengandung nilai simbolis atau arti tetapi juga nilai phonetis (bunyi), yang seringkali satu huruf berdiri untuk satu bunyi. Masalahnya tinggal bagaimana caranya, atau apa alatnya untuk membuktikan pendapat tersebut. Jawaban atas pertanyaan tersebut terletak pada batu Rosetta dan Obelisk Philae, yang dengan demikian kedua benda tersebut merupakan suatu kunci untuk membuka hieroglyph Mesir Kuno.

Batu Rosetta diketemukan oleh salah seorang opsir zeni Napoleon, Bouchard pada Agustus 1790 ketika sedang membangun benteng atau kubu Fort St.Julien di dekat kota Rashid, daerah Delta Barat. Dari kata “Rashid” inilah kemudian berdasarkan ejaan barat menjadi terkenal dengan nama “Rosetta”. Batu tersebut oleh Jendral Menou disimpan di rumahnya Alexandria, yang selanjtnya atas perintah Napoleon dipindah ke Cairo disimpan di “Institute National”.

Batu Rosetta merupakan prsasti yang pertama kali diketemukan yang termuat tulisan – tulisan dengan dua bahasa, yakni bahasa Yunani Kuno dengan huruf Yunani Kuno dan bahasa Mesir Kuno dengan huruf hieroglyph dan demotis. Para Egyptolog berusaha membuat suatu rekonstruksi dengan cara menambahkan beberapa baris yang diambilnya dari prasasti yang tertera pada sebuah stela di Demanhur (diketemukan pada 1898) dari dinding sebuah temple di Philae. Tercancumnya huruf Yunani Kuno pada prasasti tersebut mempunyai arti yang luar biasa pentingnya, sebab merupakan pembantu terpecahkannya huruf – huruf lainnya, khususny hieroglyph. Hal ini mengingat bahwa ketiga bagian huruf – huruf tersebut mempunyai isi yang sama. Bagian Yunani Kuno menandaskan bahwa peryataan atau dekrit isinya diulangi dengan mempergunakan “writing of the speech of the god” pada hieroglyph, serta “writing of the books” pada huruf demotis.

Batu Rosetta dikeluarkan oleh para pendeta pada masa pemerintahan Ptolemy V Epiphanes. Keluarga Ptolemy adalah salah satu dinasti raja – raja asing keturunan Yunani atau Mecedonia (dinasti XXXI) yang memerintah Mesir setelah Alexander Agung. Mereka berkuasa di lembah sungai Nil cukup lama antara 323 – 30 SM. Hubungan antara keluarga istana dengan para pendeta sanagt intim dan telah diabadikan dalam batu Rosetta.

Isi batu Rosetta merupakan suatu dekrit yang dibuat oleh para pendeta dalam suatu sidang umum di kota besar Memphis, pada saat memperingati windu pertama masa pemerintahan Ptolemy V, dengan kata lain peryataan tersebut disusun pada tahun kesembilan masa pemerintahan Raja tersebut, dalam musim semi tanggal 4 bulan Yunani Kandikas tahun 196 SM, atau bertepatan dengan tanggal 18 bulan MesirMekhir. Pada waktu itu yang menjadi pendeta tertingginya adalah Pyrrha, puteri Philinus, Arcia puteri Diogenes, dan Irena puteri Ptolemy.

Alenia pertama memuat suatu rentetan gelar Ptolemy V sebagai raja seluruh Mesir, baik Utara maupun Selatan. Selain itu ditulis pula serangkaian sanjungan terhadap raja sehubungan dengan sikap dan tindakannya yang sangat terpuji terhadap para dewa, Negara dan rakyat Mesir. Alinea berikutnya merupakan suatu daftar jasa- jasa baik raja yakni:

  1. Menghadiahkan uang dan gandum kepada temple.
  2. Menghadiahkan sajian – sajian yang melimpah kepada temple.
  3. Menghapus pajak sebanyak-banyaknya.
  4. Penundaan pembayaran pajak kepada pemerintah sebanyak setengahnya.
  5. Menghapus hutang rakyat kepada pemertintah.
  6. Membebaskan tawanan yang lemah setelah bertahun – tahun lamanya disekap.
  7. Pengurangan biaya yang harus dibayaroleh para calon pendeta.
  8. Pengurangan pajak yang harus dibayar oleh temple kepada pemerintah.
  9. Memperbaiki tempel – tempel.

10.  Mengampuni pemberontakan dan mengijinkan kembali dan menetap di Mesir.

11.  Menempatkan tentara penjaga keamanan, baik di darat maupun di laut.

12.  Merebut dan mempertahankan kota Shekau (Lycopolis).

13.  Membebaskan hutang para pendeta kepada raja.

14.  Pengurangan pajak untuk byssus (semacam tekstil halus).

15.  Pengurangan pajak untuk lading gandum.

16.  Membangun kembali tempat – tempat ibadah (suci) yang telah hancur.

17.  Memperbaiki tempel Apis dan Mnevis serta hewan – hewan suci lainnya.

Selanjutnya untuk menunjukkan bukti sebagai tanda terima kasih kepada raja, sidang umum memutuskan :

  1. Membuat patung – patung Ptolemy dalam bentuknya sebagai “Saviour of Egypt” dan menempatkannya di dalam temple diseluruh Mesir untuk dipuja, oleh para pendeta dan rakyat.
  2. Membuat patung Ptolemy dari emas dan menempatkannya berdampingan dengan patung para dewa, serta diikutsertakan dalam setiap prosei keagaman.
  3. Lemari tempat menyimpan patung Ptolemy dilengakapi dengan 10 buah mahkota rangkap yang tebuat dari emas.
  4. Menjadikan 5 hari pertama bulan Toth sebagai hari raya untuk selamanya. Pada waktu itu diadakan upacara keagamaan di temple – temple; rakyat diharuskan menghiasi dirinya dengan untaian bunga.
  5. Mengadakan perayaan pada setiap hari ulang tahun kelahiran dan penobatan Ptolemy, yakni tanggal 17 dan 30 bulan Mosore selamanya.
  6. Menambah gelar baru bagoi para pendeta, yakni “Priests of the bone ficent god Ptolemy Epiphanes, who appearth on Earth”. Gelar tersebut harus dipahatkan pada masing – masing cincinnya untuk dijadikan sebagai stempel setiap dokumen.
  7. Tentara diijinkan meminjam lemari beserta patung Ptolemy dari temple untuk prosesi keagamaan di asramanya.
  8. Salinan dari keputussan Sidang Umum para pendeta akan dipahatkan pada batu basalt dengan tulisan “writing of the speech of the god”, hieroglyph; “writing of the books”, demotic; “writing of the oeienin”, Yunani Kuno. Salinan – salinan tersebut akan ditempatkan di temple – temple kelas I, II dan III di seluruh Mesir berdampingan dengan patung Ptolemy, dewa yang hidupnya abadi.

Peranan Batu Rosetta dan Obelisk Philae dalam Pemecahan Huruf Hierogliph Mesir Kuno

Diantara ketiga bentuk tulisan pada batu Rosetta yang pertama kali bisa dibaca adalah bagian Yunani kuno. Batu Rosetta dengan masalahnya maulai menarik perhatian Thomas Young tahun 1814, ketika seorang temannya Sir W E Rouse Boughton memberinya sehelai papyrus bertuliskan huruf demotis yang berasal dari sebuah peti mumy Thebe. Kemudian dengan copy Rosetta dan hasil peneliian Akerblad ia pergi ke Worthing untuk memulai mengadakan penyelidikan. Dari hasil jerih payahbya dia banyak menyumbangkan dalam memecahkan huruf hieroglyph melalui batu Rosetta. Hasil penemuannya dicantumkan dalam Encyclopedia Britannica edisi 1819 yang merupakna petunujuk bagi para ahli lainnya dalam memecahkan huruf tersebut. Sayangnya, ia tidak melanjutkan penyelidikannya yang akhirnya dipecahkan oleh Champoleon.

Pada tahun 1815 WJ Banke menemukan sebuah kunci lainnya, yakni Obelisk Philae. Philae merupakan sebuah pulau kecil terletak di tengah – tengah sungai Nil di atas bendungan Aswan, dan menjadi tempat suci untuk memuliakan dewa Isis. Monument yang terkenal dengan sebutan Obeliks Philae diketemukan di halaman temple dalam keadaan telah tumbang dan tertimbun tanah.

Fungsi Obelisk Philae merupakan semacam tempat pengumuman. Seperti halnya batu Rosetta, Obelisk Philae dibuat pada masa pemerintahan keluarga Ptolemy. Isi Obelisk Philae agak sederhana, diceritakan bahwa temple Philae sering mendapat kunjungan dari tentara beserta pengikutnya dalam jumlah yang sangat banyak. Kedatangan mereka yang tidak ada henti – hentinya sangat merepotkan temple, sebab mereka dalam melakukan pemujaan sering memakssa emple untuk menyidiakan makanan, minuman dan penginapan dan segala fasilitasnya, jika keadaan it uterus berlanjut maka kas temple akan habis. Untuk mengakhiri gangguan tersebut para pendeta Philae memohon agar Raja turun tangan. Permohonan mereka diterima dan pemerintah segera mengeluarkan larangan yang ditujukan kepada siapa saja untuk tidak mengganggu temple. Agar bisa diketahuai oleh para pengunjung temple, maka didirikan sebuah obelisk dengan diberi tulisan yang berisi maklumat tersebut. Persamaan yang mencolok antara batu Rosetta dengan obelisk Philae adalah terdapatnya cartouche yang bentuknya mirip dengan cartouche yang pendek yang tertera pada batu Rosetta.

Pengaruh Caravan Trade Terhadap Savana Afrika Barat Prakolonial

(Abad X – XV)

  1. A. Sahara dan Savana

Gurun Sahara sangat luas, terbentang dari pantai Antalntik di sebelah barat, terus memanjang ribuan kilometer ke  Timur, di sambung oleh padang pasir Libia dan Arabia sampai pantai Laut Merah dan Laut Hindia. Dari waktu ke waktu Sahara masih juga terus meluas, yang antara lain karena ulah manusia, terutama kelompok masyarakat pastoral. Sahara secara keseluruhan berupa plato, dengan ketinggian rata – rata 500 m dpl. Dibagian pedalaman terdapat gunung dan bukit – bukit karang, serta bentuk lain yang dikenal dengan sebutan Hammada, erg dan Reg. Walaupun curah hujan rata – rata hanya antara 1 – 5 inchi, wilayah ini masih memungkinkan bagi kehidupan, baik agraris maupun pastoral, terutama disekitar oase yang tak terhitung jumlahnya.

Bila Sahara dikatakan sebagai pemisah geografis Afrika, itu berarti pula pemisah dalam hal demografis. Tinjauan rasial, daerah  yang terletak disebelah utara garis tersebut adalah blok Concosaid Arab dan Barber, sedangkan di sebelah Selatan siftanya heterogen, multi rasial. Orang Arab menyebutnya Bilad as Sudan, Land of the Black Men. Istilah tersebut sepanjang jangkauana wilayah Afrika Barat. Penduduk savana berbeda dalam banyak hal dengan penduduk hutan tropis.

  1. B. Caravan Trade

Setelah Sahara terbentuk, maka terpisahlah Afrika pedalaman dari dunia luar. Wlaupun demikaian masyarakat di kedua ujung utara dan Selatan selalu berusaha untuk mengadakan kontak. Secara kebetukan di tengah lintas perjalanan yang jauh itu terdapat batu – batu loncatan yakni oase. Oase berfungsi sebagai persinggahan sambil menambah perbekalan, terutama air. Walaupun demikian melintas sahara tetap tidak mungkin tanpa adanya alat trasportasi. Pertama – tama diperkenalkan lembu pada beberapa millennia SM. Kemudian kuda yang masuk Afrika via Mesir pada masa berkuasanya orang Hyksos sekitar 1900 SM, periode Second Dark Age. Di Sahara terdapat pula lukisan pada dinding bukit karang kereta yang ditarik kuda, Chariot. Terakhir sarana penyebrangan yang paling efisien adalah unta yang akhirnya menjadi tulang punggung dalam melintas Sahara untuk keperluan Caravan Trade. Di sahara terdapat jalur – jalur penting, jalur tersebut hakikatnya merupakan garis – garis yang menghubungkan oase – oase yang tersebar di Sahara. Secara garis besar terdapat empat jalur utama Caravan Trade. Jalur Teodeni terletak paling barat, menghubungkan Maroko dengan daerah Savana Barat, termasuk Walata dan lembah Niger tegah. Jalur kedua Gadames, menghubungkan Tunisia(Chartago) dengan wilayah orang Hausa di Nigeria. Jalur berikutnya Bilma, menghubungkan Libya dengan daerah sekitar danau Chad. Yang terakhir jalur Selima, menghubungkan Mesir dengan Darfur dan Wadai.

Bentuk perdagangan antara Utara dan Selatan pada umumnya berupa tukar menukar barang atau barter. Jarang sekali digunakan uang, mengingat orang Afrika belum lagi mengenal system Cash Economy. Karena demuikian banyaknyabarang kebutuhan hidup yang harus diangkut, rombongan pedagang pada suatu perjalanan melintasi Sahara jumlahnya sangat besar, beriringan menaiki unta dan hisa mecapai 25.000 ekor, itulah Caravan.

  1. C. State Formation

Perjalanan melintasi Sahara selain harus melewati tantangan alam para pedagang juga harus menghadapi penduduk Sahara itu sendiri. Suatu waktu mereka dapat bersahabat dan terlibat dalam kegiatan perdagangan dengan menyediakan akomodasi yang diperlukan barter produk barang oase. Tapi di lain waktu dan lebih sering mereka mengganggu, merampok, menyamun persis sama dengan yang dialami pedagang dilaut menghadapi perompak, Corsair, bajak laut. Faktor yang menyebabkan mereka tidak ramah itu hampir selalu berlatar belakang keharusan ekonomi, yakni kegagalan system ekonomi agraris – pastoral.

Caravan Tarde sangat bergantung pada adanaya bentuk pemerintahan, yang berarti Caravan ada bila ada State. Karena dalam sejarah Savana Afrika Barat, eksistensi jalur Caravan Trade selalu berkaitan dengan timbul tenggelamnya suatu pemerintahan. Seperti halnya terhadap para pedagang, juga penduduk sahara mempengaruhi perilakau masyarakat yang tinggal di Savana. Konflik antara kedua kelompok Sedentaris agraris Savana dengan nomadis pastorolis Sahara sudah merupakan suatu Style of History.

Masyarakat Savana agar tetap survive dari rongrongan para Raiders haruslah kuat, terorganisasi dalam suatu state. Untuk itu semua persyaratan bagi terbentuknya Negara haruslah terpenuhi: Rakyat, pemerintah, dan wilayah. Rakyat dalam arti Man Power yang cukup banyak; terdapatnya syarat pemerintahan yang cakap; dan wilayah yang fungsinya bukan hanya sebagai tempat untuk berdomisili peenduduk, tetapi lebih penting kaitannya dengan dana, yakni akomodasi kekayaan yang diperlukan untuk membiayai lajunya roda pemerintahan, bisa berasal dari wilayah itu sendiri, dan dari luar melalui kegiatan perdagangan terutama long distance trade. Bagi Afrika lebih – lebih Savanna, akumudasi kekayaan dari alam kurang memungkinkan mengingat perekonomian bersifat subsistence. Dengan demikian kunci utama dari terbentuknya state adalah sumber dana dari luar.

State dan Caravan tumbuh, berkembang dan mati bersama – sama. Mengingat volume perdagangan banyak ditentukan oleh cara melintasi Sahara, maka pengaruhnya terhadap State Formation baru nampak jelas sejak awal abad Masehi, yakni setelah diperkenalkannya unta. Pengaruh tersebut lebih menyolok lagi dengan masuknya Islam dan orang Arab di Afrika Utara. Walaupun demikian, pengaruh tersebut diolah oleh masyarakat Savana sedemikian rupa sehingga tidak menyebabkan hinganya identitas dirinya. Ini terlihat dalam bentuk dan struktur organisasi pemerintahan yang berciri Sudanic Civilization.

  1. D. Akulturasi

Hubungan Utara – Selatan via Sahara pada dasarnya adalah hubungan ekonomi perdagangan. Tetapi saat mereka bertemu, terjadi pula kontak cultural diantara keduanya, yang tidak jarang diwarnai oleh percampuran rasial. Hubungan ekonomi yang dijalankan sudah berlangsung lama, begitu pula hubungan politik, dan kontak cultural yang paling menyolok berbekas setelah berkembangnya agama Islam. Perkembangan Islam di Afrika juga membawa perubahan dalam bidang demografi, yakni masuknya migrasi orang Arab, terutama Banu Hilal dan Sulalim.

Islam masuk ke Afrika sudah sejak abad X khusunya Savana yang umumnya dari mahzab Maliki dan sedikit Hambali. Disamping agama, yang terbawa ke Savana tentunya budaya Arab, meliputi berbagai aspek, mislanya bahasa, tulisan, ilmu pengetahuan, tradisi, kesenian, arsitektur dan sebagainya.

Perbudakan di Antara Orang Wolof Senegambia

  1. A. Latar Belakang Geografis dan Historis

Sinegambia merupakan suatu negara bekas jajahan Perancis dan Inggris, yakni Senegal dan Gambia. Berdasarkan letak geografisnya Senegambia dapat dibagi ke dalam enam daerah yakni lembah sungai Senegal, padang pasir Forlo, dataran Cayor, daerah Basin, daerah dataran tinggi, dan daerah pantai. Rakyat Sinegambia merupakan suatu kesatuan yang Homogen, mereka terpecah belah ke dalam beberapa kelompok atau suku. Suku yang terbesar adalah orang Wolof, yang jumlahnya mencapai sekitar 35% dari seluruh penduduk. Mereka menempati daerah Senegal dataran Cayor yang subur, dan kebanyakan hidup sebagai petani. Kemudian menyusul orang Fulani (17%) yang menempati daerah basin. Di antara sungai Salum dan Gambia terdapat orang Serer (16%) mereka mempunyai hubungan yang sangat dekat dalam berbagai aspek cultural dengan orang Wolf, sehingga sering diberi julukan Tribal Causin. Kelompok lainnya yang jumlahnya lebih kecil adalah oaring Tukulor (9%) yang menempati daerah lembah sungai Senegal, dan orang Mandingo (7%) serta Diola (9%) yang keduanya tinggal di daerah basin Selatan.

Salah satu sumber Arab mengatakan bahwa pada abad X – XI terdapat beberapa kerajaan orang Negro disekitar lembah Senegal. Salah satu yang terbesar adalah kerajaan Tekrur dari orang Tukulor. Daerah kekuasaannya terbentang dari padang pasir di Utara sampai sungai Gambia di Selatan, termasuk didalamnya adalah wilayah orang Wolof. Pada masa pemerintahan Warjabi, yang merupakan raja Muslim pertama di Afrika Barat (meninggal tahun 1040), hukum dan ajaran Islam disebarkan di seluruh daerah pengaruhnya.

Sumber tradisional yang hamper seluruhnya bersifat oral, mengatakan bahwa pendiri kerajaan Wolof adalah Ndiandiane N’Diaye, yang memerintah pada akhir abad XII. Pada masa puncak kejayaannya orang – orang Wolof berhasil membangun sebuah Imperiun yang meliputi hamper seluruh wilayah Senegambia, dengan membawahi lima Vasal, yakni Walo di Utara Cayor dan Baol di Barat, serta Slae dan Salum di Selatan. Pusat pemerintahan terletak di Jolof, di daerah pedalaman, dengan seorang raja bergelar Bourba. Hububgan antara pusat dengan daerah – daerah vassal hanya bersifat sukarela, yang dituangkan dalam bentuk kerjasama bidang pertanahan dan perdagangan. Pada abad XIX seluruh Senegambia jatuh ketangan Perancis dan Inggris.

  1. B. Stratifikasi Sosial

Masyarakat Wolof terbagi dalam empat tingkatan pokok, yakni germi, jambuur, nyenyo, jaam. Germi adalah tingkatan tertinggi dalam masayarakat, yang terdiri dari raja beserta keluarganya dan para bangsawan. Mereka adalah inti dari masyarakat Wolof, cikal bakal pendiri kerajaan. Para bangsawan berhak memilih raja, bourba dari sekian banyak calon yang berasala dari keuarga N’Diaye, yakni keturunan langsung pendiri kerajaan. Mengingat masyarakat Wolof mengikuti system patrilianisme, maka yang berhak mengajukan diri sebagai calon adalah keturunan raja yang laki – laki. Syarat lainnya adalah dia harus dilahirkan oleh seorang ibu yang berasal dari keluarga bangsawan, menes. Dengan demikian seseorang akan dapat naik tahta tidaklah secara otomatis karena anak seorang raja, melainkan harus melalui suatu pemilihan, serta upacara keagamaan sebagai jaminan bahwa ia akan beruasaha menyejahterakan rakyatnya.

Kelompok kedua adalah Jambuur, yakni rakyat biasa yang merdeka. Mereka adalah orang Wolof asli, bukan pendatang dan tidak ada hubungannya langsung dengan kerajaan serta tidak mempunyai hak atas tahta. Mempunyai posisi yang penting dalam kehidupan politik maupun ekonomi. Satu dewan yang terdiri dari kepala orang – orang jambuur, mempunyai suara dalam masalah pemilihan raja. Posisi mereka dalam ekonomi sangat menonjol. Merekalah yang member makan semua anggota masyarakat, sebab hamper semua orang jambuur adalah petani, tetapi tak seorangpun dari mereka yang mempunyai tanah katrena tanah adalah kepunyaan raja.

Kelompok ketiga adalah nyenyo, yakni para tukang. Statusnya adalah rakyat yang merdeka tetapi mereka adalah pendatang baru, bukan orang Wolof asli. Posisi ekonomi mereka mengarah ke kegiatan yang bersifat industri. Orang griot merupakan kelompok nyenyo yang paling dihormati dalam masyarakat. Posisi mereka selalu dihubungkan dengan keluarga dari kelompok high society. Mereka adalah manusia sumber, baik untuk masanya dan masa kini. Mereka semacam arsip hidup yang menyimpan segala catatan peristiwa sejarah tradisi, silsilah, dan lain sebagainya yang erat hubungannya dengan peristiwa masa lalu dari keluarga yang diikutinya. Maka dari itu banyak diantara mereka yang diberi kepercayaan sebagai sekretaris pribadi atau penasehat. Pengetahuan mereka tentang sejarah majikannya serta tentang hak dan kewajibannya disampaikan secara lisan kepada anak cucunya, turun temurun dari generasi ke generasi. Profesi seperti ini tidak bisa digantikan oleh siapapun.

Kelompok terakhir adalah jam, yakni orang yang telah kehilangan kemerdekannya, dengan kata lain mereka adalah budak. Seperti halnya kelomok nyenyo, mereka sebagian terbesar adalah orang asing, atau pendatang baru.

  1. C. Asal dan Tujuan Perbudakan

orang asing yang dibawa masuk ke dalam masyarakat Wolof umumnya diperoleh dengan cara kekerasan, misalnya melali perang, serbuan atau penangkapan. Peperangan antar suku tersebut bersifat endemic. Mereka yang kalah dan masih hidup, diseret sebagai tawanan untuk kemudian dijadikan budak.

Fungsi budak adalah sebagai Aliving tool. Selain itufungsi ekonomis yang lain lebih dititik beratkan sebgai barang dagangan. Samapai pertengahan abad XIX budak merupakan komoditi eksport yang paling berarga dan paling banyak diminta oleh dunia internasional. Slave trade mengalami puncaknya dengan adanya pesanan tenaga manusia dalam jumlah besar untuk dipekerjakan diperkebunan – perkebunan Amerika. Tujuan perbudakan yang lain erat hubungannyadengan masalah politik. Seorang yang memiliki budak dipandang lebih terhormat jika dibandingkan dengan mereka yang tidak punya budak.

  1. D. Status dan Jenis Budak

Bila dibandingkan dengan perbudakan di Amerika, hubungan antara slave dan master di Afrika boleh dikatakan tidak begitu keras. Hal ini mungkin disebabkan oleh kecilnya jumlah budak yang ada dalam masyarakat. Seorang budak dijamin keselamatannya dari segala kekerasan dan perlakuan sewenag –wenang . budak juga mempunyai hak untuk memiliki harta. Hal – hal seperti ini merupakan cirri khas perbudakan di Afrik, yang jelas berbeda dengan di Amerika.

Dalam masyarakat Wolof dikenal berbagai jenis budak atau jaam, antara lain jaam sayor, jaam juddu, dan tyeda. Jaam Sayor adalah budak yang biasa diperjual belikan. Mereka adalah para tawanan perang, hasil penangkapan atau penculikan, atau diperoleh dengan cara dibeli yang kebanyakan adalah narapidana dan mereka menjual dirnya akibat bahaya kelaparan.

Kelompok budak yang kedua adalah Jaam Jaddu, yakni budak yang dilahirkan dalam masyarakat Wolof. Mereka dilarang diperjual belikan. Mereka bisa diangap sebagai anggota keluarga, hubungan dengantuannya amat dekat,. Tuannya berkewajiban mencarikan jodohnya dari sesame budak. Jaam Jaddu ini bisa dikategorikan sebagai domestyic slave.

Kelompok budak yang paling penting adalah tyedo. Sama dengan kelompok yang lain, yakni berasal dari orang asing. Bedanya adalah yang memiliki mereka adalah kelompok garmi, terutama raja. Oleh karena itu diantara semua budak, merekalah yang paling tinggi kedudukannya, paling penting dan berkuasa. Dalam kehidupan sehari – hari mereka lebih tinggi kedudukanya daripada golongan mayoritas rakyat biasa yang merdeka. Karena mereka adalah pengawal raja, tentara resmi kerajaan, maka sering diberi julukan military aristocracy.

  1. E. Manumisi dan Abolisi

Tujuan Manumisi dan Abolisi boleh dikatakan sama yakni member kemerdekaan kepada seorang budak. Manumisi dimaksudkan pemberian kemerdekaan yang dilaksanakan pada saat institusi perbudakan masih sedang berlaku, sedangkan Abolisi pemberian kemerdekaan dilaksanakan dengan cara menghapus institusi itu sendiri.

Manumisi yang sesungguhnya bisa ditempuh dengan melalui redemption, yakni menebus, atau membeli kembali, baik dilakuka oleh anggota keluarganya maupun dirinya sendiri. Cara lain untuk memperoleh kemerdekaan ialah dengan charity yaitu melalu belas kasihan da kedermawanan seseorang. Pembebasan budak yang palin efektif adalah melalui undang – undang anti perbudakan, abolisi yang dikeluarka oleh pemerintah colonial Perancis dan Inggris. Pada bulan Mei 1794 pemerintah Perancis mengeluarkan Emansipation Act.

Langkah pertama yang diambil oleh banyak Negara dalam memerangi perbudakan adalah penghapusan perdagangan budak, dengan pertimbangan agar tidak menimbulkan shock diantara mereka yang terlibat dalam institusi perbudakan.inggris mengeluarkan undang-undang anti slave trade tahun 1807, disusul oleh Perancis satu decade kemudian, pada tahu 1817 dan dunia internasional pada 1890 dalam konferensi Brusel. Pada tahin 2833 seragam ditujukan langsung ke sumbernya, yakni institusi itu sendiri. Prancis menyusul kembali pada tahun1848, dan sejak saat itu perbudakan secara teoritis di Senegambia dinyatakan illegal.

Perbudakan dalam Masyarakat Negro Afrika Barat

  1. A. Geografi dan Penduduk

Pembagian geografis Afrika Barat erat kaitannya dengan factor iklim, terutama curah hujan. Daerah yang paling utara kurang sekali menerima curah hujan, sehingga iklimnya kering dan tanahya gersang. Kehidupan di daerah ini amat sulit. Penduduknya hidup pastoralis nomad. Kemudian kea rah Selatan secara Gradual terdapat curah hujan yang semakin meningkat, sehingga terbentuklah dua jalaur hijau yang terbentang dari barat ke timur berupa Savana di sebelah Utara, dan hutan tropis di sebelah Selatan sampai mencapai garis pantai. Penduduknya yang tinggal di daerah savanna hidup secara patoral selain agraris, sedangkan yang menetap di hutan tropis sebagian besar sebagai petani.

Walaupun secara rasial semua penduduk Afrika Barat merupakan satu blok utuh Negroid, mereka masing – masing hidup terpencar, membentuk kelompok –kelompok kecil berupa suku. Antara suku satu dengan yang lain terdapat perbedaan caar hidup, bahasa, tradisi,agama, dan sebagainya. Suku –suku yang terkenal diantaranya adalah grup Atlantik Barat yang anatara lain terdiri dari suku Wolof, Surer, dan Tukolor. Mereka menempati daerah savanna sekitar lembah Senegal dan Gambia. Di sebelah Timurnya masih pada jalur yang sama, terdapat grup Mande, yang antara lain terdiri dari suku Malinke, Soninke, Kasonke, Karanko, Barbara dan Susu. Lebih ke Timur lagi terdapat grup Volta, yang terdiri dari Mosi, Bobo, Gurma, Dagombo dan Konkamba. Di daerah Nigeria yang paling terkenal adalah orang Hausa, yang menempati daerah savanna Afrika Barat paling Timur. Kemudian daerah selatnnya di daerah hutan tropis terdapat orang Igbo, Yoruba, Ibibio, Ijaw, Ife dan Egba. Di sebelah Barat mereka, sepanjang jalur yang sama sampai pantai Atlantik, terdapat dua grup Twi dan Kru, yang terdiri dari suku Fon/Dahomey, Ewe/Togo, Ashanti, Bakwe, Ngere, Grebo dan Dido.

  1. B. Perbudakan Dalam Masyarakat Muslim

Perbudakan dikenal secara meluas dalam masyarakat Muslim daerah Sudan, sejak dari Senegambia di pantai Barat sampai ke Nigeria di pedalaman sebelah Timur. Budak yang baru saja  diperoleh, baik dengan cara halus maupun kekerasan, masuk dalam kategori Trade Slove, yaitu orang – orang yang benar-benar asing, berasal dari suku lain untuk dijadikan budak. Konsekwensinya mereka kurang mendapat perlindungan, haknya amat dibatasi, dan diperlakukan secara sewenang – wenang.  Nasib mereka ketika masih berada pada penangkap dan tukang tanah sangat kasar, tetapi apabila sudah berada di tangan seseorang yang berniat memilikinya, ada kemungkinan terintegrasi kedalam masyarakat setempat.

Budak yang memiliki anak dan ketika mencapai usia tertentu juga kan menjadi budak, dinamakan budak generasi kedua. Tetapi statusnya jauh berbeda jika dibandingkan dengan orang tuanya, mereka dianggap sebagai bagian dari anggota keluarga. Budak dari kelompok ini dilarang diperjual belikan.

Fungsi budak banyak sekali, mengingat sebagian besar anggota masayarakat hidupnya sebagai petani pastoral, maka para budak biasanya dipekerjakan di lading – lading atau menggembala. Dalam masyarakat Fulbe terdapat semacam pembagian tugas dimana para budak diserahi mengolah tanah, sedangkan mereka sebagai transhumant pastoralis biss mengkhususkan diri pada beternak, yang seringkali berbulan –bulan harus meninggalkan kampung halamannya. Ketika berkembang long distance trade, fungsi ekonomis budak lebih dititik beratkan pada komoditi ekspor, baik ke Afrika Utara, yang selanjutnya dipasarkan di Timur Tengah, maupun kesebrang lautan, Eropa dan Amerika. Selama sekitar empat abad para budak dari daerah Sudan turut meramaikan Atlantic Slave Trade.

Fungsi budak lainnya erat kaitannya dengan factor social dan politik. Budak dalam kelompok tertentu amat diperlukan untuk memperbesar anggota keluarga suatu clan, terutama dalam masyarakat yang masih memeprtahankan system kekerabatan materineal. Tapi didaerah Sudan kelompok seperti ini hanya sedikit sekali, akibat adanya pengaruh Islam yang cenderung menempuh system patrilineal. Manumisi atau pembesan budak biasa dilaksanakan sesuai dengan hokum Islam, yang sering dipertautan dengan tradisi setempat.

Salah satu fungsi budak sangat mirip dengan yang dipraktekkan di Amerika, yakni sebagai gang slaves, yaitu segerombolan budak yang sangat besar dipaksa bekerja keras dalam waktu yang lama di perkebunan – perkebunan milik raja dan para bangsawan untuk menghasilkan sesuatu yang pantas dijadikan barang ekspor. Fungsi yang lain mirip dengan perbudakan dalam masyarakat Dahomey adalah dalam bidang religi. Budak bias dijadikan sebagai kurban dalam upacara keagamaan atau menemani tuannya kealam baka, tetapi tidak semua budak bias diperlakukan secara demikian, hanya kelompok tertentu saja yang disebut Akvere.

Institusi perbudakan juga dipraktekan dalam kelompok – kelompok kecil, seperti dalam masyarakat Igba di Nigeria Tenggara. Budak diperoleh dengan peperangan, yang kadang –kadang menggunakan tentara sewaan. Khusus mengenai fungsi budak dalm religi ada sedikit perbedaan dengan suku – suku lain. Budak disamping dijadikan sebagai kurban dalam upacara keagamaan dan kematian, yang berarti dibunuh, ada pula yang dimasukkan dalm kelompok khusus yang disebut Osu, yang ditemui dalam masyarakat Igba Barat dan Tengah. Osu adalah budak yang dipersembahkan secara hidup oleh tuannya kepada dewa tertentu, dengan menyelenggarakan berbagai upacara  keagamaan. Mereka hidup terpisah secara fisik dari anggota masyarakat lainnya, tinggal dekat temple, memperoleh sebidang tanah untuk dikerjakan, mengadakan hubungan perkawinan hanya diantara sesame anggota Osu, yang statusnya abadi turu  temurun, dan masyarakat mengakui mereka sebagai budak milik para dewa.

Perbudakan diantara yang tinggal disekitar hilir sungai Niger yang dinilai paling keras mungkin seperti yang terdapat dalam masyarakat Nike. Nasib semua budak secara penuh ada pada para tuannya, baik hidup atau mati. Mereka sering dipekerjakan tanpa batas, diperlakukan dengan kejam tanpa memperoleh hak apapun. Kebalikan dari pemilikan yang absolute ini, seorang harus bertanggung jawab atas segala perbuatan apapun yang dilakukan oleh budaknya. Perkawinan antara budak dengan golongan merdeka dilarang, yang artinya proses asilmilasi tidak pernah terjadi. Sealain itu, manumisi tidak dikenal. Fungsi budak pada dasarnya sama dengan kelompok lain multy purpose, termasuk fungsi religi, yakni unrtuk kurban dalam acara keagamaan, atau teman seperjalanan kealam kematian.

State Formation di Daerah Hutan Tropis Afrika Barat

  1. A. Geografi dan Penduduk

Afrika Barat adalah suatu wilayah yang secara administratif merupakan bekas kekuasaan Perancis, dengan sebutan French West Africa, serta beberapa daerah bekas kekuasaan bangsa Barat lainnya. Terbentang dari pantai lautan Atrlantik sebelah Barat, sampai ke pegunungan Cameroon di sebelah Timur, dan dari padang pasir Sahara sebelah Utara, sampai ke teluk Guinea di sebelah Selatan.

Secara garis besar penduduk di Afrika Barat terbagi dalam lima keluarga bahasa, yakni Atlantik, Mande dan Volta menempati daerah Savana, dan kelompok Ijo dan Kru menempati daerah Tropis.

  1. B. Sudanic Civilization

Sebagian masyarakat Afrika Barat pada awal abad Masehi sudah hidup secara sedentaris, agraris dan atau pastoral. Peradaban Sudan atau Sudan Civilization merupakan istilah untuk menyebut kebudayaan  bangsa Afrika Barat, lebih dari sekedar menunjuk sutu daerah yang bernama “Sudan”.

Proses peradaban Sudan terjadi, karena factor lingkungan bukan karena rasialnya. Masyarakat Afrika dalam mengolah tanahnya selalu menggunakan semacam cangkul yang di sebut hoc, mereka tidak mengenal bajak (plow). System yang biasa ditempuh adalah Shifting culvitation, atau berpindah lading dengan teknik slash and burn sebelum tanah siap untuk ditanami. Mereka selalu berpindah ladang yang berarti masyarakat Afrika selalu dalam keadaan bergerak, terjadi arus migrasi, besar maupun kecil. Keadaan seperti ini memungkinkan timbulnya difusi dan interaksi cultural antara kelompok satu dengan yang lainnya, baik secara damai maupun secara kekerasan. Dengan demikian peradaban Sudan yang semula tumbuh di daerah Savana Afrika Barat bias berkembang ke berbagai daerah.

Masyarakat Afrika Barat memelihata jenis tumbuhan yang disebut Sudanic Complex ; Sorgum, Kacang, labu, asam, kapas, kola, coleus. Disamping itu mereka mengenal pula jenis tumbuhan yang berasal dari kompleks lain. Beberapa diantaranya yang sangat penting adalah tumbuhan dari Asia Tenggara, besar kemungkinan dari Indonesia, yakni pisang, gadung, dan talas. Dengan dikenalnya jenis tumbuhan ini, yang ternyata sangat cocok untuk daerah basah, serta berkembangnya budaya besi, yang memudahkan pembukaan daerah pertanian baru, maka berkembanglah peradaban Sudan memasuki daerah hutan tropis. Selanjutnya di daerah pedalaman dan terjadilah population eksplosion, yang berakibat peradaban tersebut menjalar ke berbagai arah, sampai ujung Selatan benua Afrika, terbawa oleh migrasi suatu kelompok yang kemudian disenut orang Negro Bantu.

Salah satu ciri peradaban Sudan adalah peradaban tersebut didukung oleh kelompok masyarakat dengan system ekonomi agraris. Dalam masyarakat ekonomi ganda biasanya diadakan pembagian tugas berdasarkan stratifikasi social dan jenis. Umumnya kaum pria kelas atas  menyelenggarakan kehidupan pastoral, sedangkan mengolah tanah dipercayakan kepada wanita dan kelas bawah. Dengan kehidupan agraris masyarakat berkembang, timbul labor division yang mengarah ke spesialisasi, terdapat akumulasi produksi hasil pertanian, jumlah penduduk yang meningkat, tumbuh perkampungan dan kota, waktu terluang dipakai untuk berkarya seni, kegiatan politik, religi dan sebagainya.Ciri lain yang cukup menonjol adalah dalam kehidupan politik struktur organisasi politik atau pemerintahan mula –mula disusun untuk satu kelompok atnis atau suku tertentu.

  1. C. Pantai Emas : Ashanti

Pantai emas atau Gold Coast, adalah nama yang diberikan oleh orang Eropa kepada suatu wilayah hutan tropis dipantai teluk Guinea, yang sejak zaman kuno telah dikenal sebagai salah satu produsen emas terbesar di Afrika.

Berdasarkan oral tradition, dikatakan bahwa nenek moyang penduduk wilayah hutan tropis berasal dari daerah Utara dan Timur, yang artinya bahwa mereka berasal dari daerah Savana. State formation di mulai dari pembentukan masyarakat egalitarian, suatu stateless society yang bersifat gotong royong, yang sampai saat ini masih mewarnai corak hidup hamper sebagian besar orang Afrika. Secara berangsur –angsur, dengan bertambahnya akumulasi kekayaan dan jumlah penduduk timbullah kota –kota dan Negara kecil seperti, Ashanti, Denkyira, Fante, Wassa, Efwi san Asin.

Diantar kerajan –kerajaan tersebut yang berhasil mencapai puncaknya adalah Ashanti. Seperti halnya masyarakat Afrika Barat pada umumnya, orang Ashanti adalah petani, tapi seperti kerajaan besar di daerah Savana, Ashanti sulit untuk bias maju bila hanya bertumpu pada system ekonomi agraris, tanpa memanfaatkan kemungkinan lain, terutama perdagangan. Sehubungan dengan ini, orang Ashanti yang semula menetap di Selatan, secara berangsur –angsur pindah ke daerah pedalaman, hamper di perbatasan Savana, dengan pusat Kumasi. Pertimbangannya adalah, daerah tersebut merupakan terminal rute dagang Utara – Selatan, antara daerah pantai dengan Savana. Disamping itu daerah tersebut sangat kaya akan komoditi penting dalam perdagangan, misalnya mas dan kola. Tapi saat itu Kumasi ada di bawah kekuasaan kerajaan Denkyira. Usaha pertama yang harus dilakukan adalah konsolidasi ke dalam. Di bawah pimpinan Obiri Yebon (1670) dari klan Oyako dimulailah langkah tersebut dengan mempersatukan penduduk Kamasi. Usaha ini dilanjutkan oleh penggantinya, O Sei Tutu (1668 – 1717), dan berhasil mempersatukan semua klan, serta menarik suku – suku lain ke dalam suatu konfederasi di bawah supremasi Asantehene (King of Ashanti) kemudian setelah melalui peperangan pada 1698 – 1701 orang Ashanti dengan bantuan kerajaan Kwamu bias memerdekakan diri dari Denkyira.

Selama pemerintahan Oppoku Ware (1720 – 1750) kerajaan Ashanti terus menerus melakukan perluasan wilayah ke berbagai daerah. Oppoku Ware berhasil membawa rakyatnya ke puncak kebesarannya, dan menjadikan Ashanti sebuah imperium yang sangat luas di daerah hutan tropis.

Setelah melampaui masa jayanya, Imperium Ashanti pada abad XIX dengan deras menurun wibawanya. Di bawah Asanthene yang lemah, satu persatu jajahannya melepaskan diri. Sebab tidak langsung jatuhnya Ashanti adalah berhentinya sumber daya utama, yakni slave trade. Selain itu terjadi pula peperangan antar Ashanti dan Fanti yang sudah terjadi berkali – kali, dan pada tahun 1874 merupakan lonceng kematian bagi Ashanti, karena Fanti dibantu oleh Inggris yang memiliki perlengkapan lebih unggul. Pada 1896 Ashanti secara definitive dihapus sebagai imperium, setelah rajanya yang terakhir Prempeh I dibuang oleh pemerintah colonial Inggris.

  1. D. Dahomey : Fon

Daerah yang terbentang di seberang sungai Volta, walaupun masih terletak pada garis lintang yang sama dengan Pantai Emas disebelah Barat, keadaan iklimnya berbeda. Akibat dari kelembaban dan curah hujan yang menurun, daerah tersebut tidak lagi berupa hutan tropis seperti wilayah di kiri kanannya, melainkan sebuah padang savanna.

Secara garis besar kelompok etnis yang menetap di sini antara lain adalah suku Fon, yang jumlahnya paling banyak dan merupakan penduduk mayoritas Dahomey. Kemudian menyusul suku Ewe, Adangine, Popo dan Gun. Selain itu di daerah Togo yang penduduk mayoritasnya adalah orang Ewe, masih terdapat suku –suku kecil lainnya yang tinggal di dataran tinggi, yakni Adele, Akpaso, Atyuti, Avalime, Basila, Buem, Kebu, Karchi dan Tribu. Masyarakat ini disamping hidup secara agraris juga ada yang melakukan kegiatan pastoral.

Sejarah pembentukan Negara di wilayah ini dimulai dari pembentukan kelompok –kelompok kecil masyarakat oligatarian, dengan system ekonomi ganda. Mula – mula perkembangannya lamban, mengingat kekayaan dan jumlah penduduknya amat terbatas. Namun, abad XV kerajaan –kerajaan kecil mulai terbentuk. Di daerah pantai Pantai orang Ewe membangun kerajaan Anecho, Popo, Whydah, Jokin dan Ardna yang semuanya berada di bawah pengaruh kerajaan Aja dengan ibu kota di Allada. Orang Fon membangun kerajaan di daerah pedalaman dengan pusar di Abomey atau Dahomey. Tapi kerajaan – kerajaan tersebut masih lemah, dan sebagian besar berada di bawah supremasi kerajaan Oyo atau Yoruba, yang pada 1689 menakhlukan Aja, dan pada 1730 menakhlukan Fon.

Sebagai Negara yang miskin, usaha unruk bias mengembangkan Dahomey tidak bias lain kecuali harus ikut aktif dalam perdagangan. Pada 1650 dibawah pimpinan Raja Wegbaya, orang Fon bisa dipersatukan. Walaupun untuk beberapa waktu masih harus mengakui supremasi kerajaan Oyo. Tapi sejak tahun 1740 Dahomey bukan saja berhasil melepaskan diri dari Oyo, tapi juga mampu memperluas wilayahnya sampai ke daerah pantai. Ini berarti bias ikut andil dalam perdagangan Eropa, dengan komoditi utama budak. Demikian banyaknya budak yang dieksport dari Dahomey, sehingga daerah pantai diberi sebutan Slave Coast. Kebutuhan akan budak sebagai satu – satunya sumber kekayaan, mendorong Dahomey untuk terus-menerus melakukan ekspedisi penangkapan. Ekspedisi tersebut menggunakan tenaga wanita, yang terkenal dengan sebutan Amazon.

Setelah slave trade berakhir kejayaan Dahomey juga ikut memudar dan lemah, selain itu ancaman dari kerajaan Oyo mempercepat hancurnya Dahome. Akhirnya bangsa Barat mematikan kemerdekaan Dahomey, dan sejak 1893 menjadi daerah proktektorat Perancis.

  1. E. Nigeria : Yoruda dan Edo

Pendukung kebudayaan Sudan sudah masuk daerah tropis Nigeria sebelum tahun 1000. Mereka adalah kelompok masyarakat agraris dan sudah memiliki pengetahuan teknologi besi, yang besar kemungkinan berasal dari kebudayaan Nok. Tetapi perkembangan kebudayaan mereka lamban, sampai datang waktunya tumbuhan kompleks Asia Tenggara memasuki Afrika Barat, yang mengakibatkan penduduk daerah hutan tropis meningkat jumlahnya. Kelompok etnispun terbentuk, dan kemudian tersebar ke berbagai daerah. Diantara mereka yang paling menonjol perkembangannya adalah orang Yoruba disebelah Barat, dan orang Edo disebelah Timur.

Orang Yoruba berasal dari Ife, dan Oduduwa sebagai nenek moyang mereka, yang kemudian menurunkan para raja (alafin) kerajaan Oyo. Orang Yoruba tidak menetap hanya pada satu daerah saja, melainkan tersebar, baik didaerah Savana maupun daerah hutan tropis. Di daearah Savana mereka membangun beberapa kerajaan, antara lain Oyo dan Ilorin. Di daerah hutan tropis mereka membangun kerajaan – kerajaan kecil, seperti Ife, Ilesha, Ibadan, Lagos, Akure, dan Abeokuta. Pada tahun 1893 seluruh wilayah orang Yoruba jatuh ketangan Inggris.

Di dalam hutan tropis orang Edo membangun kerajaan yang dikenal dengan sebutan Benin. Benin dibawah pemerintahan Oba Ewure mampu memperluas kerajaannya, terutama ke arah pantai. Pada band XVIII terjadi disintegrasi yang sebab utamanya tidak jauh berbeda dengan yang dialami oleh Oyo. Tahun 1897, Benin jatuh ketangan colonial Inggris.

Latar Belakang Transplantasi Negro – Amerika di Liberia (Abad XVIII – XIX)

  1. A. Atlantic Slave Trade

Penduduk Amerika Serikat terdiri dari berbagai kelompok rasial, multi rasial. Masyarakat mayoritas adalah orang kulit putih, yang beraslah dari berbagai wilayah Eropa dengan keturunan Inggris paling dominan. Kelompok lainnya berasal dari Asia, termasuk penduduk asli orang Indian. Sedangkan satu lagi adalah orang Negro dari Afrika, yang biasa diberi sebutan ekslusif Negro-Amerika atau Afro – Amerika untuk membedakan dengan penduduk asli. Komposisi penduduk seperti ini adalah produk sejarah masa lalu, dimana kedua kelompok datang pertama datang di Amerika atas kemauan sendiri, sedangkan kelompok orang Negro datang bukan atas kemauan sendiri. Mereka adalah budak, didatangkan dengan paksa melalui Atlantic Slave Trade.

Slave trade diawalai oleh portugis pada akhir abad XV, lalu disusul oleh Spanyol, Belanda, Inggris, Perancis, dan pedagan Eropa Utara. Saat inilah dimulainya kegiatan Atlantic Slave Trade, para budak negro diseberangkan tidak hanya ke Eropa, tetapi juga menuju benua Amerika.

Rute perdagangan budak trans Atlantik ini biasanya termasuk dalam pola yang disebut triangular trade. Bentuk ini menggambarkan aktivitas perdagangan Eropa – Afrika – Amerika. Setelah sekian lam Atlantic Slave Trade berjalan, pada awal abad XIX berhenti. Banyak pihak, terutama philanthrophist dan kalangan gereja tertentu, yang melontarkan kritik tajam terhadap kegiatan perdagangan budak. Banyak sekali budak yang mati ditengah perjalanan akibat kesewenang- wenangan sehingga yang selamat sampai di Amerika, kecil sekali. Dengan dipelopori oleh Inggris 1807 Slave Trade dinyatakan illegal. 1842 dikatakan semua Negara Eropa secara formal mengakhiri kegiatan tersebut. Dalam kongres Brussels 1890 slave trade dihapus untuk selama-lamanya.

  1. B. American Slavery

Budak Negro pertama kali mendarat di Amerika Utara tahun 1619, tidak lama setelah Inggris membangun kolonialnya pada 1607 di Jamestan. Perbudakan Negro timbul sebagai suatu alternatif akhir untuk memcahkan kesulitan akan tenaga kerja. Motive dari perbudakan di Amerika adalah keharusan ekonomi. Budak dijadikan sebagai alat produksi ekonomi, agrarian dan peranannya sangat menentukan. Tenaga kerja orang Negro penting terhadap kehidupan ekonomi Amerika. Tidak semua orang Negro Amerika berstatus yuridis sebagai budak, orang yang tinggal di kota-kota berstatus sebagai orang merdeka. orangNegro tertekan dan kehilangan identitasnya sebagai manusia merdeka. Orang kulit putih member julukan “Sambo” dengan ciri yang serba rendah, bodoh, malas, penurut, kekanak -kanakan, pembohong, dan lain – lain.

  1. C. Manumisi dan Abolisi

Orang Negro – Amerika melakukan protes baik secara halus maupun secara kasar. Dengan cara halus antara lain puton, mengelabuhi, pura – pura. Bentuk yang umum adalah rin away yaitu melarikan diri kemana saja terutama kewilayah yang tidak ada perbudakan, seperti Negara nagian Utara atau ke Kanada dengan melaui under ground rail road. Bentuk lain dengan carakekerasan misalnya paison, meracuni, arson, membakar, rebellion, pemberontakan. Pemberontakan terjadi karena tidakterorganisasi dengan baik, dapat digagalkan oleh orang kulit putih. Pemberontakan orang Negro yang berhasil adalah di bawah pimpinan Tousaint L’ouverture. Dia telah membebaskan bangsanya, dan mengawali berdirinya Republik Haiti, Caribia.

Status budak bagi orang Negro adalah abadi, sehingga sulit bagi mereka untuk emperoleh kemerdekaan, manumisi. Seorang mulato campuran antara bapak putih dengan ibu budak Negro tetap statusnya budak juga. Pada tahun 1787 dikeluarkan Nort West Ordinance, bertujuan agar perbudakan tidak menjalar ke wilayah Barat, terutama daerah sebelah Utara Sungai Ohio samapai ke hulu Sungai Mississippi yaitu wilayah luas ke arah mana para industrialis akan berekspansi. Tahun 1861 – 1865 terbesar dalam sejarah Amerika Serikat, Civil War. Peperangan berakhir 1865 dengan kekalahan di pihak Selatan. Dengan berakhirnya perang, berakhirlah perbudakan Negro Amerika.

  1. D. Repatriasi

Dalam pembukaan konstitusi USA, Declarations of Independence tercantum kalimat “that all men are created equal”, serta kebahagiaan (Current,1975 : 449) tidak termasuk orang Negro. Hampir dalam berbagia aspek kehidupan orang Negro Amerika kenyataannya belum juga merdeka. Dalam bidang ekonomi mereka tetap tergantung pada orang kulit putih. Mereka tidak mempunyai tanah, jika punya itupun hadiah republic radikal lewat program freedmens Beurau. Maka tak jarang bekas budak kembali bekerja di tempat bekas tuannya sebagai buruh atau petani penggarap. Dalam bidang politik orang Negro susah melaksanakan haknya, hak pilih diblokir oleh banyak rintangan seperti tes baca tulis, tes penguasaan isi konstitusi saringan Grand Father Clause. Bekas budak umumnya buta huruf, akibat larangan pemberian pendidikan oleh siapa saja kepada orang Negro. Dalam bidang social ada segregasi, pemisahan atas dasar rasial.

Ide Back to Africa ini sebenarnya sudah timbul sejak zaman colonial. Salah satu jalan keluar yang diajukan oleh organisasi abolisionis adalh mengembalikan budak atau bekas budak yang dimerdekakan ke tanah asalnya. Hal ini disetujui oleh tokoh dan negarawan besar Amerika termasuk Jefferson, Madison, Adams, Monroe. Rencana deportasi Negro tersebut adalah ke suatu wilayah dan terpilih Afrika Barat. Realisaisnya sudah dimulai sejak 1819 dengan dipelopori oleh Paul Cuffe dengan mengangkut 38 orang atas biaya sendiri. Kemudian jumlahnya meningkat dibawah organisasi American Colonisation Sosiety yang dibentuk pada 1817 oleh B. Washington, H. Clay, dan J. Randolph. Pada 1830 ACS telah mengirim sekitar 1420 Negro Amerika ke Liberia.

Ada beberapa factor yang menghambat kelancaran arus repatriasi. Orang Negro merasa bahwa USA adalah negaranya. Tiga abad melalui asimilasi rasial cultural dan justru lebih dekat dengan masyarakat barat atau Amerika. Factor dari luaradalah sikap Liberia sendiri. Mayoritas penduduk asli sebagian Islam dan kebanyakan pagan adalah orang Negro kelompok Mande, Atlantik dan Kru.

Naik Turunnya Imperium Matabelf

  1. A. Tanah dan Penduduknya

Metable Land adalah suatu daerah di Afrika Selatan bagian Tengah merupakanRepublik Rhodesia. Daerah tersebut memiliki batas – batas alami, di sebelah timur pegunungan Inyanga, Vumba dan Melsetter memisahkan daerah ini dengan Mozamique; sungai zambesi di Utara memisahkannya dari Malawi; sungai Limpopo di Selatan memisahkanya dari Bechualand. Sebagian terbesar dari daerah yang luasnya sekitar 160.000 mil persegi ini terletak di daerah khatulistiwa. Daerah ini salah satu tempat yang cocok untuk kolonisasi orang kulit putih.

Secara keseluruhan Afrika Selatan Afrika Selatan didiami oleh penduduk asli Shan (Bushman) dan Khoi (Hottentot) dan pendatang baru yang termasuk ke dalam kelompok Negro Bantu Selatan.

  1. B. Lahirnya Suatu Bangsa

Dalam decade terakhir abad XVIII di antara orang Nguni terdapat beberapa klan yang disebut Abkwa Kumalo. Salah satu keluarga dari klan ini dipimpin oleh seorang kepala yang bernama Matshobane. Di sebelah Timur tinggal klan yang bernama Ndwandwe dengan ketuanya Zwide. Di sebelah Selatan tinggal klan Mtherwa di bawah pimpinan Dingiswayo. Mereka hidup sebagai petani di samping memelihara ternak

Salah seorang putra kepala suku Zulu Sengzangkona yang bernama Shaka yang bekerja untuk Dingiswayo dan berjasa dalam memagu perkembangan Mthethwa. Dia memperkenalkan suatu senjata baru berupa tombak pendek berfungsi seperti pedang. Dalam waktu itu Zwide dari Nawandwe menempuh kebijakan yang sama dengan bantuan putera Matshobane yang bernama  Mzilikazi. Terjadi konflik antara kedua kekuatan tersebut memperebutkan supremasi. Zwide berhasil menyisihkan Dingiswayo tetapi Shaka masih tetap bertahan. Zwide gagal menundukan Shaka karena persoalan orang khumalo, dibunuhnya semua kepala keluarga klan kecil tersebut, termasuk Matshobane ayah Mzilikasi. Ini mengakibatkan berpalingnya Mzilikasi memihak kepada Shaka untuk menghadapi Zwide. Pergolakan berakhir dengan dihancurkannya Zwide. Pengaruh Zulu pesat menanjak. Di bawah pimpinan Shaka Zulu menjadi kerajaan besar dengan pengaruh di daerah Natal dan daerah sekitarnya.

Pada tahun 1822 Mzilikasi terusir dari tanah kelahirannyakarena mendapat tekanan dari Shaka. Diikuti oleh beberapa ratus pengikutnya dari klan Whumalo, dia terpaksa lari ke pedalaman Afrika Selatan setelah menyeberangi pegunungan Naga.

Sejak Konggres Wina 1815 Cape Colony milik Belanda jatuh ke tangan Inggris. Terjadi perselisihan di antara kedua kolonis kulit putih yang menyangkut masalah politik, ekonomi, bahasa dan rasialisme. Jalan keluarnya orang Boer pindah ke daerah kosong di pedalaman utara. Perpindahan ini dikenal dengan sebutan The Great Trek 1839-1840 dengan tokoh terkenal seperti Potgieters, Peetorius, Manitz, Relief, uys.

Kontak berdarah antara kedua ras yang pertama terjadi pada tanggal 29 Oktober 1839 di seberang Sungai Vaal. Mzilikazi dengan 5000 tentara di bawah pimpinan Potgieters.

  1. C. Kehidupan Sosial, Ekonomi, Religi dan Politik

Pada akhir pemerintahan Mzilikazi jumlah orang Metebele sekitar 200.000 orang yang terbagi ke dalam tiga golongan yaitu golongan Zansi, Enhla dan Holi. Golongan Zansi merupakan inti dari masyarakat Matabele. Mereka penduduk asli dari daerah selatan. Kedudukan dalam masyarakat sangat penting. Mereka sebagai golongan aristokrasi mempunyai kekuasaan besar dari berbagai bidang kehidupan. Keluarga raja termasuk kelas zansi. Golongan Enhla mempunyai arti orang dari hulu sungai, golongan ini terbentuk saat mzilikazi berada dalam perjalanan menuju lembah sungai, Limpopo. Golongan Holi adalah hasil asimalasi,yang terakhir pada saat menuju sungai zambegi,terdiri dari orang shoha dan keluarga. Mareka merupakan kelas paling rendah. Tanah di Metabelelana cukup subur menghasilkan berbagai macam hasil bumi. Kehidupan metabele berdasar pertanian dan perternakan. Ternak sangat berarti bagi mereka sebagai simbol kekayaan,kekuasaan maupun prestige.

Orang metabele dikenal sebagai manusia beragama. Mereka mempercayai adanya makhluk halus yang disebut amadhlosi. Makhluk ini berpengaruh atas semua kehidupan dialam ini.

Dalam bidang politik dan pemerintahan metebele menganut sistem sentralisasi dengan kekuasaan ada pada tangan raja secara absolute. Raja berkawajiban melindungi rakyatnya dan menghormati adat/tradisi. Kerajaan pada jamannya berpengaruh sampai kedaerah yang jauh.

  1. D. Pathenic Epilpgue

Pelarian mzilikasi dari lembah Limpopo kearah utara adalah suatu langkah untuk menyelamatkan dari kehancuran total. Ketika orang Boer berhasil membangun Negara besar diatas tanah osong yang di tinggalkan, Mzilikasi menandatangani suatu perjanjian perdamaian pada tanggal 8 Januari 1853. Tetapi naskah perdamaian itu hanya jebakan yang memojokan metabele kesuatu sudut yang tidaj bisa berkutik. Orang Boer giat mempertagankqn diri baik politik ,ekonomi maupaun militer. Mzilikasi memerintah sampai tahun 1868. Setahun sebelumnya Henry Hartly dan Karl Mauch menemukan tambamg emas di perbatasan Metabeleland.

IKHTISAR SEJARAH DAN KEAGAMAAN MESIR KUNO

PENDAHULUAN

Ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang peradaban Mesir Kuno bertambah maju setelah terpecahnya huruf herogliph. Ilmu mulai berkembang berkat jasa bangsawan-seniman Perancis Vivant Donon, merupakan salah seorang dari 175 ekspert yang dibawa oleh Napoleon Bonaparte dalam ekspedisi ke Mesir pada tahun 1798. Setelah itu pencarian sumber sejarah dilakukan dengan cara yang lebih seksama dengan berbagai metode ilmiah. Tercatat tokoh-tokoh Egyptoloog antara lain dari Inggris antara lain W. M. F Petrie, J. H Breasted, A. E. W Budge, H. Carter; dari Perancis antara lain G. C. C  Maspere, A. Mariette; dari Jerman antara lain A. Erman, R. Lepsius; dari Amerika antara lain Th. M. Davies; dari Italia antara lain Berzoni. Hasilnya adalah ditemukannya makam pharaoh Tutan Khamon hampir dalam keadaan utuh pada bulan November 1922 oleh Hovard Carter dan Lord Carnarvon.

Orang yang pertama kali mengemukakan periodisasi sejarah Mesir Kuno adalah Manetho, seorang pendeta Mesir dari Sabennytos. Pembabakan paling umum yang dipegunakan adalah periodisasi yang bersifat Eropa Sentris. Selain mempunyai irama yang mirip sejarah Eropa dengan tanda-tanda klasik, feodalisme-imperialisme dalam periode-periode utamanya benar-benar berbau Eropa. Ada 3 periode besar dalam sejarah Eropa yang dikemukakan oleh Givanni Boccaccio yaitu

1)      Jaman Kuno “ Ancient”

2)      Jaman Tengah “Middle”

3)      Jaman Baru “ New”

Disamping 3 periode utama tersebut masih ada beberapa periode peralihan yang terkadang lamanya mencapai beberapa abad dan terdiri dari banyak dinasti. Masa peralihan tersebut dinamakan Intermediate Period. Antara Old Kingdom dengan Middle Kingdom disebut First Intermediate Period, sedangkam antara Middle Kingdom dengan New Kingdom disebut Second Intermediate Period.

Pembabakan lainnya dikemukakan oleh Prof J. H Breated dengan criteria ibukota. Ibukota Mesir selalu berpindah-pindah sesuai dengan turun naiknya suatu dinasti. Kota-kota yang pernahmenjadi pusat pemerintahanantara lain Buto, Nekheb, Memphis, Thebe, Hercleopolis, Tel el Amerna, Sais, Sabennytas, Alexandria dan lain-lain. Hanya ibukota yang mempunyai pengaruh dan peranan yang besar dalam perkembangan peradaban lembah Nil yang diambil dalam penyusunan periodesasi dalam sejarah Mesir kuno oleh Breated. Memphis, Thebe dan Tel el Amarna yang memenuhi syarat. Maka disusunlah suatu periodisasi yaitu

1)      Jaman Mempis

Bila disejajarkan dengan periodisasi eropa Sentris dapat disamakan dengan jaman Old Kingdom, dimana kota Memphis menjadi pusat kegiatan kulturil Mesir Kuno. Masa ini merupakan abad klasik

2)      Jaman Thebe

Ini disejajarkandengan periode Middle kingdom dimana kota Thebe menjadi pusat kerajaan dengan susunan masyarakat yang feodalistis.

3)      Jaman Thebe

Untuk kedua kalinya Thebe menjadi pusat pemerintahan. Kedudukan Thebe jauh lebih besar dan penting yaitu sebagai pusat imperium Mesir dengan daerah kekuasaan yang sangat luas. Ini disesajarkan dengan periode New Kingdom

4)      Jaman Tel el Amarna

Periode ini bukan kelanjutan dari periode sebelumnya. Posisinya masih dalam periode New Kingdom. Masa pemerintahan “The Meretic Pharaoh”, Akhnaton dari dinasti XVIII. Breated merasa perlu memasukan ke dalam suatu periode tersendiri , mengingat adanya banyak kelainan jika disbanding dengan masa-masa sebelumnya maupun sesudahnya yang meliputi berbagai bidang terutamakeagamaan dan kesenian.

Jaman Pradinasti

Peradaban Mesir Kuno berlangsung di sekitar Sungai Nil berbatasan dengan padang pasir Arabia di sebelah timur, padang pasir Lyhya di sebelah barat, Laut Tengah di sebelah utara dan daerah Nubia di sebelah selatan. Sungai Nil yang memotong daerah Mesir hampir di tengah-tengah mengalir dari arah selatan ke utara, berasal dari pegunungan dan danau besar di daratan tinggi Afrika Tengah dan timur laut seperti Danau Victoria, Danau Albert, Danau Tana. Di Khartoum , daerah Sudan sungai tersebut kea rah hulu bercabang dua yaitu Nil Biru yang menuju Ethiopia dan Nil putih yang menuju Uganda. Pendukung peradaban Mesir Kuno terdiri dari berbagai macam suku, bangsa, ras yang berasal dari berbagai daerah baik Afrika maupun Asia.

Awalnya merekan belum mempunyai tempat tinggal tetap dan hidup dari berburu, menangkap ikan, mengumpulkan hasil hutan dengan mempergunakan alat yang sederhana terbuat dari batu, tulang atau gading. Cara hidup yang sederhana berangsur-angsur berubah dari foodgethering economy menjadi foodproducing economy. Mereka sudah mulai hidup menetap, bercocok tanam dan beternak. Perasdaban ini kemudian dikembangkan oleh generasi berikutnya. Cara mengolah yang semula menggunakan hoe yaitu cangkul yang bercabang berbentuk huruf V. kemudian, bentuk baru yaitu alat semacam bajak yang ditarikoleh lembu yang disebut Hoe Culture dan Plow Culture.

Bukti-bukti kemajuan dapat dilihat dari peninggalan-peninggalan yang terbuat dari batu, tulang, gading, tanah liat berupa alat keperluan sehari-hari. Bentuk yang semula kasar bertambah halus dan diberi hiasan berupa goresan yang geometris artistic.

Menjelang berakhirnya periode pradinasti diperkirakan di Mesir telah terdiri semacam kota oleh orang Yunani Kuno disebut nome. Hal ini terbukti dengan perahu-perahu dagang dengan menunjukkan tempat asalnya. Misalnya perahu-perahu dengan symbol buaya berasal dari sebuah kota di daerah Fayum, gajah dari Elephantine, panah bersilang lambang dei Neit dari Sais di daerah Delta.

Dalam bidang politis nome yang berada di utara digabungkan dan membentuk suatu Kerajaan Mesir Utara (Mesir Delta) Lower Egypt sedangkan di selatan menjadi Kerajaan Mesir Selatan (Mesir Lemah) Upper Egypt. Kerajaan  Mesir Utara beribukota di Butokrajanya sedangkan Kerajaan Mesir Selatan beribukota di Nekheb dengan Nekhen/Hiere compolis sebagai tempat bersemayam raja.

Menurut pendapat para Egyptoloog di Mesir Utara memerintah 7orang raja antara lain bernama Seka, Khayu, Tan, Thesh dan Nekheb. Sedangkan di Mesir Selatan yang paling terkenal adalah yang disebut oleh orang Yunani Kuno sebagai Scorpion. Raja ini oleh orang Mesir Kuno dianggap sebagai raja mythis. Peninggalan dari jaman pradinasti yang terakhir sangat sedikit, maka lembaran sejarah Mesir Kuno pada saat menjelang berdirinya dinastoi ala Manetho dapat dikatakan masih kabur. Hanya diketahui akhirnya kedua kerajaan utara dan selatan disatukan menjadi suatu Negara kesatuan. Tapi tidak diketahui kapan peristiwa itu terjadi.

Jaman Old Kingdom

Bentuk Negara kesatuan merupakan sejarah nasional Mesir yang pertama. Persatuan tersebut membawa dampak dalam bidang pemerintah, religi, ekonomi, sosial, dan kulturil. Raja Mesir diberi sebutan khusus yaitu pharao. Raja yang berkuasa di seluruh wilayah Mesir yang meliputi delta dan lembah. Pharaoh memakai mahkota rangkap dari Kerajaan Mesir Utara dan Selatan berwarna merah dan putih, symbol ular senduk dan burung nazar dipakai baersama-sama, julukannya sebagai double lord. Namanya yang ditulis pada cartouche selalu dibubuhi gelar nisut bati atau neb-taui yang berarti Kings of Upper and Lower Egypt, Lord of The Two Lands.

Dua dinansti yang pertama dari ketigapuluh dinasti-dinasti Manetho raja-rajanya disebut Dinasti Thinis, mereka berasal dari kota tersebut dan dimakamkan di dekat kota suci Abydos. Pharaoh pertama telah berhasil mempersatukan Mesir oleh orang Yunani Kuno disebut Menes. Pengganti Menes adalah Zer, Zet, Den, Azeb, Semarkhet dan Qasen. Pharaoh Don pernah mengalahkan orang Bedawin sehingga peristiwa tersebut digunakan untuk member nama salah satu tahun masa pemerintahannya yaitu tahun the first occasion of smiting the east. Raja lain yang aktif di Asia adalah Samerkhet. Dia membuka tambang batu yang bagi Mesir sangat diperlikandalam pembangunan monument di Sinai. Pharaoh terakhir adalah Qasen. Dinasti lain dalam periode protodinasti adalah dinasti II,terdiri dari raja Hotep Sekhomui, Raneb, Neteron-Perabsen, Feremuaat dan Khangkhem. Nama tiga raja pertama tertera pada salah satu patung d Cairo.

Dengan wafatnya raja Kasekhem berakhirlah periode protodinasti. Kemudian menyusul periode besar dari pharaoh membangun pyramid kolosal,dinasti III – VI, Old Kingdom dengan pusat pemerintahan di Memphis.

Menurut catatan Manetho dinasti III terdiri dari 9 raja yaitu Nekherofes, Tsorhros, Mesokris, Soufis, Tosertasis, Akhas, Serufis, Kerferes. Mereka memerintah dari tahun 4212-3998 SM. Dinasti berikutnya Dinasti IV, oleh Egyptoloog dikatakan sebagi sumber kebesaran Mesir Kuno. Pada masa ini terdapat kemajuan di berbagai bidang terutama dalam bidang arsitektur. Pharaoh-pharao yang terkenal adalah Khufu, Khafra, Menkamra. Khufu adalah raja pertama dinasti IV. Beliau berasal dari daerah yang disebut Menat Khufu, sekitar Beni Hasan (sekarang Mesir Tengah). Dia pernah melakukan eksploitasi tambang di Sinai, membuka tambang batu ala baster di Hatnub dan membangun tempel di Dendereh. Pengganti Khufu adalah Khafra dan Menkamra. Mereka juga membangun pyramid dengan ukurankolosal. Bangunan lain yang menarik di sekitar pyramid Gizoh adalah sebuah sphinse raksasa yang menggambarkan seekor singa jantan berkepala manusia. Patung ini bedekatan dengan pyramid Khafra. Diantara kedua kaki depannya terdapat sebuah stela dengan tulisan yang berasal dari jaman Thothones IV dinasti XVIII.

Pharaoh berikutnya dari dinasti IV kebesarannya tidak dapat disejajarkan dengan pembangunan pyramid Gizeh. Keluarga baru dinasti V berasal dari Heliopolis dengan pusat pemerintahannya masih tetap di kota Memphis. Setiap pharaoh membangun tempel untuk memuliakan dewa matahari dengan sebuah obelisk sebagai pusat pemujaan. Di dalamnya terdapat dua buah perahu yang menurut kepercayaan merupakan kendaraan dewa Ra dalam mengarungi angkasa siang dam malam hari.

Pharaoh pertama dari dinasti V adalah Userhaf. Namanya tertera pada dinding bukit karang di dekat Jeram I.  Penggantinya bernama Sahura. Dia mengirimkan ekspedisi ke Phunisia. Pharaoh dinasti VI adalah Teti, Meyra, Pepi I, Menhra, Neforhana Pepi (Pepi II).dua dinasti terakhir membangun makam berupa pyramid tetapi dengan ukuran yang tidak begitu megah. Terdapat tulisan herogliph pada dinding ruangan. Tulisan tersebut dikenal dengan sebutan Pyramid Texts. Denagn berakhirnya dinasti VI maka berakhirlah periode Old Kingdom. Sisa-sisa kebesaran terdapat di sekitar Sungai Nil terutama di kota mati Necropolis di tepi  sebelah barat sungai. Misalnya Gizeh, Sabbara, Dashur, Medum Fuyum, Abureash.

Jaman Middle Kingdom

Gejala kemunduran Mesir sebenernya telah terlihat ketika menjelang berakhirnya periode Old Kingdom. Pemerintahan sentralisasi tidak dapat dipertahankan oleh pharaoh-pharaoh terakhir. Para gubernur banyak yang berusaha melepaskan diri dari kekuasaan pusat. Lalu mendirikan kerajaan-kerajaan kecil yang bebas berdaulat. Setelah berlalunya Old Kingdon Mesir memasuki First Intermediate Period atau jaman kegelapan/Dark Age. Dalam periode ini Manetho mengungkapkan adanya empat dinasti yaitu dinasti VII dan VIII yang berpusat di Memphis, dinasti IX dan X berkedudukan di lembah dekat ibukota Heracleopolos. Periode ini merupakan masa perpecahan dan pertentangan dalam negeri antara gubernur yang satu dengan lainnya memperebutkan hegemoni. Selain itu juga terdapat banyak serbuan dari luar terhadap Mesir terutama datang dari arah Asia. Setelah periode Old Kingdom terjadi perang saudara di Mesir dan masuknya bangsa Asia menyerbu daerah delta.

Di sebelah selatan dekat perbatasan muncul kekuatan baru. Pusat kekuasaan terbesar in ancient world dan menjadi pusatimperium Mesir Kuno. Dinasti XI didirikan oleh Intef I. Pada periode ini keagungan Mesir berangsur naik. Puncak kebesaran periode ini tercapai pada masa pemerintahan Amnenmhat III dan Sanusert III dari dinasti XII. Pada masa pemerintahan Intef II, Nekhthebtenefer dengan kekuasaan dinasti baru belum dapat bertambah. Penggantinya yaitu Mentuhotep I Sankhibtani terjadi pemberontakan di sekitar Abydos, Thinis. Masa pemerintahan Metehoteb II Nebhepetra kedudukan Thebe bertambah. Raja terakhir dinasti ini bernama Montuhoteb V Sankhara.

Pembangunan dinasti XII adalah Amenehat I. Dia banyak mendirikan bangunan monumental khususnya tempel di Memphis, Fayum dan di daerah Sudan, sedangkan untuk makamnya sendiri berupa sebuah pyramid di Lisht. Kota Lishty yang dalam bahasa Mesir disebut Etettani. Pernah dijadikan ibukota agar dapat dengan mudah mengawasi para gubernur baik yang ad di utara maupun yang berada di selatan. Salah seorang penggantinya adalah Sanuisert II yang melakukan ekspedisi ke Asia terutama Palestina dan Nubia.

Sebelum dinasti ini berakhir masih ada dua raja yang memerintah setelah Amovemhat IV yaitu Amovemhat IV Maakerura dan ratu Sobekneferura. Setelah itu Mesir mengalami Second Dark Age. Raja-raja dari luar disebut bangsa Hyksos yang mempunyai pusat pemerintahan di Avaris. Dua raja diantaranya meninggalkan beberapa monument adalah Khian dan Apepi. Masa terakhir dari kekuasaan bangsa Hyksos digambarkan dalam cerita rakyat seperti yang tertera pada PapyrusSalier II. Isinya adalah mengenai perselisihan antara seorang raja Hyksos yang bernama Apeju dengan raja Thebe yaitu Sheken Kera.

Jaman New Kingdom

Periode baru disebut New Kingdom. Periode ini dimulai setelah berakhirnya kekuasaan bangsa asing Hyksos di Mesir. Dinasti yang mula-mula naik adalah dinasti XVII yang didirikan oleh Aahmes Nebpohtira. Usahanya dalam menyelamatkan negara dan mengusir penjajah asing dari sungai Nil berhasil, bahkan mendesak penjajah asing sampai ke Siria Tengah. Penggantinya Amenhoteb I terus melakukan pengejaran terhadap bangsa asing sampai ke daerah antara Orontes dan Tigris. Sampai masa pemerintahan Thotmes IMesir berhasil menduduki Siria Utara dan daerah di Asia kecil. Masa pemerintaha dua pharaoh berikutnya Thotmes II dan Hatshepshut Mesir tidak begitu aktif dalam melakukan ekspansi. Pada masa pemerintahan Tothmes II Mesir sibuk di daerah utara. Pharaoh terbesar dari dinasti ini adalah Amonhoteb III. Pada masa ini Mesir Kuno mencapai puncaknya.

Dinasti berikutnya dinasti XIX didirikan oleh Haremhab. Dinasti XX didirikan oleh Ramses III. Ekspansi keluar masih dilakukan yaitu ke daerah Libia, Siria, Palestina dan Aegea. Dia juga rajin mengadakan pembangunan. Dia banyak menghamburkan kas Negara untuk mengadakan kebaktian kepada para dewa. Tempel-tempel yang didirikan terletak selain di Karnak juga di Medimethobo. Pada masa pemerintahannya sudah nampak gejala-gejala kemunduran Mesir. Kas Negara sangat tipis, pemberontakan sering terjadi. Raja-raja berikutnya kebanyakan adalah penguasa yang lemah.

Periode berikutnya dikenal sebagai Late Period yang terdiri dari dinasti XXI – XXVI. Dinasti XXII didirikan di Bubastis. Raja pertamanya adalah Shashakh. Nasib Mesir selanjutnya lebih menyedihkan dengan dikuasai berbagai Negara. Orang Ethiopia mendirikan dinasti XXIII. Mesir dijadikan sebagai suatu dominion dan diperintah dari ibukota yang letaknya jauh yaitu di Napata dekat Jeram IV. Di daerah delta muncul dinasti XXIV yang berpusat di Sais. Dua orang raja yang terkenal adalah Tefnekht dan Boecharis. Perdagangan mulai maju dengan daerah-daerah Mediterania. Keluarga ini tidak dapat bertahan lama dikarenakan serbuan orang yang berasal dari arah selatan. Untuk kedua kalinya orang Ethiopia datang dan berkuasa di Mesir. Lalu mereka mendirikan dinasti XXV. Pada masa raja Shabaha daerah delta dapat dikuasai.

Dinasti XXVI berdiri di Sais. Combyses di Mesir mendirikan dinasti XXVI. Selain menguasai Mesir dia juga memperluas jajahan. Plitik luar negeri dalam menghadapi Persia dengan cara bersekutu dengan beberapa raja di daerah Asia lainnya tidak membawa hasil seperti yang diharapkan. Di dalam timbul pemberontakan-pemberontakan. Kedatangan Alexander di Lembah Nil disambut baik. Rakyat Mesir sebenarnya merasa telah kehilangan kemerdekaannya. Tetapi Mesir Kuno terus melakukan perjuangannya.

Polytheisme Mesir Kuno

Menurut beberapa ahli keagamaan Mesir Kuno berbentuk polytheisme yaitu mempercayai dan memuja lebih dari satu dewa. Perpindahan suku-suku juga berdampak padabidang spiritual. Percampuran antarsuku terjadi sejak jaman pradinasti. Akibatnya kepercayaan yang semula berbentuk sederhana menjadi lebih kompleks dan rumit. Semula hanya mengenal dewa pelindung sukunya menjadi mengenal berjuta-juta bintang di langit yang dianggapnya sebagai dewa-dewa. Orang-orang Mesir memuliakan hewan sebagai pelindungannya. Hal ini akibat dari cara hidup mereka yang berdekatan dengan hewan. Hewan kemudian dianggap sebagai dewa pelindung suku. Hewan yang telah mencapai usia tertentu akan dibunuh dan dimakan bersama-sama dalam rangkaian upacara ritus. Selanjutnya akan dicari hewan yang sejenis sebagai gantinya.

Phase kedua dengan datangnya suku-suku baru yang memuliakan manusia. Kepercayaan ini berlatarbelakangkan pada rasa kagum dan hormat kepada kepala suku. Diantara dewa-dewa yang termasuk human god yang paling terkenal dan mempunyai pengaruh besar terhadap perkembangan keagamaan Mesir Kuno adalah Dewa Osiris. Pemujaan terhadap dewa Osiris besar kemungkinan berasal dari daerah Asia dan masuk Mesir pada jama prasejarah.

Phase ketiga dengan masuknya suku-suku yang memuliakan alam, nature god atau angkasa, heaven god, cosmic god. Mereka datang ke Mesir datang pada jaman prasejarah sekitar 7000 SM berasal dari daerah Asia. Dewa yang dipuja adalah Dewa Ra. Pusat pemujaan di Mesir adalah Kota Heliopolis. Kepercayaan terhadap dewa ini tersebar ke daerah selatan. Suku yang memuliakan dewa matahari ini tingkat kebudayaannya lebih tinggi daripada suku-suku sebelumnya. Penduduknya dikatakan orang-orang intelek, seniman, pekerja tangan dan pedagang.

Phase terakhir dengan datangnya suku-suku yang memuliakan dewa abstrak seperti keindahan,ilmu pengetahuan, kebenaran, kematian, pencipta dan lain-lain. Mereka datang menjelang berakhirnya jaman pradinsti. Kebanyakan berasal dari daerah Afrika Timur, Somali yang diolah orang Mesir disebut tanah Punt. Dewa-dewa penting antara lain dewa pencipta, ptah, kaum priya.

Di sampung faktor sosial juga pengaruh politik besar terhadap perkembangan polytheisme Mesir Kuno. Kesatuan dalam politik mengakibatkan kesatuan theology. Turun naiknya kedudukan setiap dewa erat hubungannya dengan turun naiknya peranan suatu tempat atau dinasti yang berkuas atas Mesir.

Dewa Ptah, Ra, Amon dan Osiris

Dewa Ptah merupakan dewa pertama dalam jaman dinasti yang dianggap sebagai dewa tertinggi dalam kerajaan. Kedudukannya mulai naik bersama dengan dijadikannya kota asal dewa tersebut sebagai ibukota yaitu Memphis. Sehingga kota tersebut dinamakan Hakaptah oleh orang Mesir. Konsepsi Memphis dewa Ptah adalah pencipta alam semesta. Dia tidak hanya menciptakan manusia, dewa, benda tetapi segala sesuatu yang ada dalam tempel terutama patung-patung yang dipuja oleh manusia. Dewa Ptah dapat disejajarkan dewa kematian kota Memphis yaitu Sokar.

Penduduk di beberapa daerah yang seharian selalu bermandikan cahaya matahari seperti Mesir mengangkat matahari sebagai seatu yang harus diagungkan dan dipuja. Dalam bentuk sebagai manusia dewa matahari disebut Otum tetapi sebutan paling umum adalah Dewa Ra. Ra berbentuk manusia berkepala elang dengan bulatan matahari di atasnya seperti ular serduk uracus melingkari bola tersebut. Kepala burung elang ini menandakan adanya pengaruh dewa lain yaitu Dewa Horus. Persatuan antara kedua dewa ini diberi nama Ra Herakhty.

Orang Mesir kuno mengenal beberapa legend sekitar Dewa Ra. Cerita yang terkenal adalah usaha Dewa Isis untuk menguasai Dewa Ra dengan mengetahui nama rahasia Dewa Ra. Setelah diberi mantra maka ular jadi-jadian itupun hidup dan menggigit Dewa Ra dan langsung sakit keras. Dewa Isis berpura-pura menawarkan jasanya. Dewa Ra akhirnya sadar kalau itu semua hanya jebakan Dewa Isis. Tetapi karena Dewa Ra memerlukan kesembuhan kemudian dibisikannya nama rahasianya. Yang mengetahui nama rahasia Dewa Ra adalah putranya Horus dan Dewa Isis.

Dewa Ra salah satu dewa yang benar. Bagi para pemujanya dia yang lebih dahulu ada di alam. Berbeda dengan Dewa Ra, Dewa Osiris tidak dikenal oleh kalangan atas. Symbol Osiris adalah sebuah tiang atau pilar yang berkepala empat buah, pohon maupun tulang belakang manusia.

Dewa lain yang bernasib baik dan pernah menikmati masa kejayaan Mesir Kuno adalah Dewa Amon. Namanya banyak digunakan oleh pharaoh dari dinasti XII dan XVIII seperti Amonemhat, Amonhotep. Tempel untuk memuliakan dewa ini tersebar di seluruh daerah Mesir, terutama di ibukota thebe dengan kompleks besar Karnak dan Luxor yang pada jaman kuno disebut opet-isut dan opet-riset.

Tempel, Upacara dan Pendeta

Bagi orang Mesir dewa Neter dianggap mempunyai sifat yang agung, mulia, pemurah, cantik, kuat, adil dan sifat yang terpuji. Dewa-dewa sama dengan manusia. Mereka tidak kekal dan bukan maha tau. Perbedaan antar dewa dan manusia hanya terdapat dalam tingkatan dewa yang lebih tinggi dan can do no wrong. Karena kelebihan inilah dewa sering dimintai bantuan oleh manusia bila sedang menghadapi berbagai kesulitan. Caranya antara lain dengan mengadakan upacara, pembacaan mantra, menghadiahkan sajian. Sebagai imbalannya para dewa menurunkan a power from heaven. Karena ada persamaan dengan manusia maka dewa juga memerlukan rumah yang disebut tempel. Di dalam tempel ini manusia dapat menghadap pada dewa pujaannya, member sesaji, memanjatkan doa. Tempel dibangun di tengah-tengah kota. Dindingnya dibuat tinggi agar suara gaduh di luar tempel tidak menggangu. Dinding di bagian muka dibuat lebih tinggi dan kokoh bagaikan sebuah benteng. Dinding ini dinamakan pylon. Bagian luarnya diberi hiasan berupa relief yang melukiskan aktifitas pharaoh. Bagian sebelah dalam juga penuh dengan relief dengan tema keagamaan.

Mula-mula tempel dianggap sebagai tempat kediaman dewa saja tetapi kemudian dalam perkembangannya sejalan dengan gerakan polytheisme. Tempel ditempati oleh banyak dewa yang membentuk keluarga.

Upacara pemujaan umumnya dilakukan setiap hari. Di dalam sebuah tempel upacara diselenggarakan oleh pendeta. Selain upacara harian juga dikenal beberapa upacara istimewa yang tidak hanya diselenggarakan oleh para pendeta tetapi diikuti oleh segenap rakyat. Upacara tersebut antara lain menyambut kemenangan dalam suatu peperangan, memperingati hari ulang tahun pharaoh dan yang paling besar adalah hari raya akhir tahun selama lima hari berturut-turut.

Upacara keagamaan yang diselenggarakan di setiap tempel ditangani oleh para pendeta. Menurut tinggi rendahnya jabatan terdapat dua golongan besar pendeta yaitu hem neter dan uab. Selain pendeta pria ada juga pendeta wanita. Meraka bertugas sebagai musician membunyikan instrument music yang disebut sistrum sebagai pengiring upacara. Gelar yang digunakan oleh pendeta berbeda disetiap tempat sesuai banyaknya aliran yang ada di Mesir.

Kepercayaan tentang Kematian

Keyakinan akan adanya kehidupan setelah kematian juga dimiliki oleh orang-orang di lembanh Nil. G. E. Smith mengatakan bahwa kepercayaan ini usianya sama tua dengan manusia itu tubuh kasarnya dilengkapi dengan unsure-unsure lain yang abstrak-immateriil. Beberapa diantaranya adalah ka, ba, akh, khat, dt, ib, rn. E. A. W Budge menambahkan dengan unsure-unsure yang disebut ab, khaibit, khu, sekhem, sahn.

Setiap orang Mesir Kuno mempunyai pendapat yang berbeda tentang wujud kehidupan setelah kematian. Pendapat yang paling tua dan paling popular mengatakan bahwa setelah mati manusia akan hidup kembali dengan kondisi yang hampir sama dengan lkehidupan yang dilalui di dunia. Manusia tidak akan mengalami perubahan wujud. Pendapat lain mengatakan bahwa si mati khususnya raja akan hidup tidak lagi di dunia ini melainkan di angkasa. Untuk sampai disana terlebih dahulu dia harus memanjat tangga, tali, pohon, angin, awan, asap, terbang atau dianggap sebagai dewa angkasa nut. Setelah sampai di angkasa harus berjalan kea rah timur menuju kerajaan Dewa Ra. Kepercayaan lainnya mengatakan bahwa si mati akan hidup di bawah tanah. Ada lagi yang mengatakan bahwa kerajaan si mati tertelak di sebuah pedang yang disebut Yaru. Kehidupan ini sangat menyenangkan, manusia tidak akan khawatir.

Sehubungan dengan kepercayaan akan adanya kehidupan yang baru setelah mati ini orang Mesir merawat baik-baik mayat orang yang sudah meninggal. Sesaji selalu disediakan agar si mati tidak kelaparan. Memelihara makam juga dipercayakan kepada putra laki-lakinya yang paling tua. Para raja mengawetkan mayatnya dengan cara pembalseman, mumifikasi. G. E Smith mengatakan bahwa sejarah mumifikasi sudah dikenal sejak jaman dinasti yang pertama. Dalam perkembangan periode selanjutnya menjadi sangat rumit. Orang yang mati akan disertakan ajimat,tulisan, lukisan, relief yang menggambarkan orang Mesir sehari-hari dan kehidupan setelah kematian.

Upacara kematian akan dipimpin oleh pendeta. Peti mati beserta semua benda akan dimasukan ke dalam makam dan dibagi menjadi beberapa ruang. Upacara pemakaman diakhiri dengan ditutupnya makam agar tidak dimasuki oleh para pencuri dan pintunya dirahasiakan. Bentuk makam juga selalu berubah.

Karena percaya adanya kehidupan setelah mati maka sebagian besar orang Mesir mempersiapkan diri untuk kehidupan yang akan datang. Makam pharaoh akan dijadiakan sebagai rumah yang abadi.

Atonisme

Pada masa pemerintahan Amonhotep III Mesir mengalami puncak kejayaannya. Pada saat itu Mesir menjadi sebuah imperium dengan daerah kekuasaan yang luas meliputi lembah Nil dan daerah sekitarnya meliputi Nubia, Somali, Jazirah Arobia, Asia Kecil serta beberapa kepulauan Aegea. Tetapi kebesaran itu menimbulkan suatu malah besar bagi Mesir yaitu kesulitan di dalam negeri. Dengan kekayaan mereka dapat memperoleh kekuasaan. Dengan kekuasaan tersebut mengakibatkan bertambah kakunya ajaran lama yang konvensionil, bertambah luasnya horizon Mesir yang dapat mempengaruhi alam pikiran orang tertentu khususnya kalangan istana dan menimbulkan keinginan untuk mengadakan berbagai perubahan terutama dalam bidang keagamaan. Hal ini diperkuat dengan faktor lain yaitu politik imperialisme Mesir yaitu masuknya orang-orang asing yang membawa kepercayaan baru.

Tiy mensponsori kalangan istana yaitu memperkenalkan ajaran baru yang mengagungkan dewa matahari yang disebut Aton. Tindakan ini merupakan pukulan bagi orang Thebe. Pada masa pemerintahan raja muda Amonhotep IV ajaran Antonisme yang diperkenalkan oleh ibunya terus dikembangkan. Walaupun telah ada tanda-tanda penyimpangan. Tetapi kemudian pada usia 17 tahun nampak gejala-gejala yang menyolok. Nama yang semula Amonhotep yang diganti dengan Akhnaton. Nama ini menjadi pertanda datangnya bencana bagi keagamaan Mesir Kuno yang tradisionil.

Mula-mula Akhnaton beranggapan bahwa dewa Aton digambarkan dengan gaya zoomorphisme. Dewa aton  tidak seperti dewa yang biasa dipuja oleh orang Mesir Kuno. Dewa ini tidak boleh diberi bentuk dan tidak boleh dipatungkan. Boleh diberi symbol tetapi tidak untuk dipuja. Dewa Aton menciptakan dan memelihara segala isi alam tetapi tidak merusaknya. Dewa Aton mempunyai sifat yang tidak menyukai kekerasan, penindasan peperangan. Ini mempengaruhi perkembangan jiwa dan fisiknya.

Perubahan dalam bidang keagamaan berpangaruh dalam bidang lain terutama masalah kematian, kesenian dan kebijaksanaan politik pemerintah. Semua berbeda dengan tradisi yang selama ini dipertahankan oleh orang Mesir Kuno yang masih ortodoks.

Akhnaton telah mengadakan perubahan yaitu yang awalnya polytheisme menjadi atonisme yang monotheisme. Dia merasa usahanya sukses dan mempunyai banyak pengikut. Tetapi dalam kenyataannya di luar istana tanpa sepengetahuannya rakyat masih mengagungkan dewa lama.

SEJARAH PERJUANGAN KEMERDEKAAN

NEGARA – NEGARA AFRIKA

BAB I

PENDAHULUAN

Afrika merupakan Benua terbesar kedua di dunia. Pada awalnya tidak ada yang tertarik dengan benua ini termasuk bangsa-bangsa barat. Hal ini diakibatkan karena di Afrika tanahnya gersang, sulit air, tandus, dan banyak terdapat gurun pasir yang luas.Tetapi setelah bangsa barat datang ke Afrika, maka wilayah Afrika dibagi menjadi banyak wilayah kekuasaan

Sampai dengan PD I tinggal ada 2 negara yang merdeka yaitu : Liberia dan Ethiopia. Sementara negara lainya sudah dikuasai oleh bangsa barat, Misalnya : Inggris berkuasa di :Mesir, Sudan, Uganda, Kenya, dll yang semuanya merupakan daerah yang subur dan padat penduduknya. Sementara kekuasaan Prancis Meliputi :Sahara, Gueinia, Maroko Aljazair, Tunisia, dll. Adapun wilayah yang dikuasai Prancis Terbagi dalam dua Propinsi besar yaitu : Afrika barat Prancis dan Afrika Equator Prancis. Selain itu negara lainya di Afrikapun rata-rata juga sudah dikuasai bangsa barat lainya.

Kebanyakan negara-negara barat didalam menguasai Afrika tidak sampai daerah pedalaman, hanya Inggris dan Prancis yang melakukan itu. Inggris hampir menguasai seluruh daerah Afrika dari utara ke selatan, terbukti dengan dibangunya jalur kereta api dari Cape sampai ke Cairo oleh Cecil Rhodes. Prancis yang ingin menguasai dunia dari samodra ke samodra di Afrika barat berhasil menemukan lautan Atlantik dan Guinia Prancis. Niat Inggris yang ingin menguasai dari daerah utara ke selatan terhalang oleh Jerman yang menguasai daerah Tanganyika dan Afrika bagian timur berdasarkan Perjanjian Helgoland 1892. Sebaliknya cita cita Prancis juga terhalang inggris di Sudan. Dengan melihat fakta diatas maka jelas bahwa sebelum Perang Dunia I daerah Afrika terbagi bagi menjadi daerah daerah kekuasaan bangsa barat.

Di Afrika selatan menjelang perang dunia I terjadi konflik antara orang  Inggris dengan orang Prancis keturunan. Hal ini disebabkan karena Inggris ingin agar Afrika Selatan yang sudah memperoleh hak otonomi berdiri dibelakang sekutu. Sementara orang Boer yang secara psikis lebih dekat dengan Jerman ingin agar Afrika selatan memihak Jerman. Akhirnya Inggris yang menang dan Afrika Selatan berdiri di belakang sekutu.

Perang dunia I membawa perubahan peta kekuasaan di Afrika. Yaitu tersisihnya dua penguasa berdasarkan perjanjian Versailles. Negara yang kalah dalam perang harus menyerahkan daerah kekuasanya pada LBB  menjadi daerah mandat. Daerah Jerman sebagian besar dikuasai oleh Inggris dan Prancis. Tanganyika dikuasai Inggris dan Belgia berkuasa di Ruanda dan Burundi.

Selama waktu antara Perang dunia I dan II belum muncul Nasionalisme di Afrika. Baru setelah selesai perang dunia II munculah nasionalisme besar-besaran di Afrika maupun di Asia yang ingin melepaskan diri dari penjajahan bangsa bangsa Eropa dengan tujuan untuk mencapai sebuah kemerdekaan. Setelah melalui perjuangan panjang akhirnya bangsa-bangsa di Afrika banyak yang mencapai Kemerdekaan pada sekitar tahun 1960. Selain dicapai melalui perjuangan kemerdekaan juga dicapai melalui solidaritas negara-negara di Asia dan Afrika juga ada yang dicapai secara damai yaitu kemerdekaan yang diberikan langsung oleh negara yang menjajah. Hanya ada  dua negara yang tidak mau melepaskan tanah jajahanya yaitu Spanyol dan Portugis. Bekas jajahan Inggris dan Prancis terpecah menjadi negara-negara kecil yang merdeka. Adapun kelompok negara negara baru tersebut adalab sebagai berikut:

  1. Bekas jajahan Inggris : Sudan, Uganda, Kenya, Zansibar, Tanzania,  Malawi dan Zambia.
  2. Di Afrika Barat : Ghana, Senegal, Gambia, Nigeria dan Somalia.
  3. Daerah Prancis di Afrika Utara meliputi : Maroko, Aljazair, Tunisia, Mauritania, Niger, Pantai gading, Afrika Tengah, Chad, Kamerun, Togo, Malagazi, Eritrea, Congo, Gabon.

BAB II

IMPERIALISME DAN POLITIK KOLONIAL BARAT DI AFRIKA

A. Sejarah dan Arti Imperialisme

Kata Imperialisme berasal dari bahasa latin yaitu ”Imperium”  yang berarti perintah. Istilah tersebut pertama kali digunakan oleh Inggris pada tahun 1870 dan 1855. Secara istilah Imperialisme berarti sebagai suatu usaha untuk memperoleh hubungan yang erat antara bagian-bagian kerajaan Inggris dengan negeri induk, baik hubungan cultural maupun mengadakan perjanjian politik dan  militer. Dalam perkembanganya kata Imperialisme mengalami perubahan arti dari semula yang berarti “ Perintah” menjadi “ Hak memerintah” atau “kekuasaan memerintah” dan berubah lagi menjadi daerah dimana kekuasaan memerintah itu dilakukan. Adapun tujuan dari Imperialisme pada awalnya ada 3 macam yaitu: Gold, Glory, Gospel. (Mencari kekayaan, Menyebarkan Agama dan kejayaan).

Imperialisme yang pertama kali dilakukan oleh bangsa barat pada abad  16. Adapun Imperialisme pada saat itu dibagi dalam 2 hal yaitu: Imperialisme tua (kuno) dan Imperialisme moderen. Imperialisme kuno dilakukan dengan cara melakukan penaklukan penaklukan negara dan bangsa lain untuk menjamin perdaganganya. Untuk kegunaanya imperialisme kuno hanya mengambil barang mentah tanpa menyajikan balasan barang jadi pada negeri jajahan. Imperialisme juga banyak dilakukan dengan expansi expansi ke negara lain. Adapun  yang menjadi pelopor dari Imperialisme kuno adalah negara Portugis dan Spanyol. Sasaran mereka adalah negara-negara dikawasan Asia, Australia, dan Amerika.

Sedangkan Imperialisme moderen yang dipelopori oleh Inggris yang telah berhasil dengan Revolusi Industrinya dan diikuti oleh negara-negara kapitalis lainya seperti Jepang dan Amerika Serikat. Imperialisme moderen dilakukan untuk memenuhi kebutuhan industri dan modalnya yang surplus dengan cara exploitasi dan penetrasi kebudayaan. Setelah berkembangbya nasionalisme berkobar di luar Eropa, imperialisme moderen bersembunyi dalam bentuk: Protecktorat, Domonion, Negara mandap, dan negara negara boneka. Dalam Imperialisme moderen maka yang diambil adalah barang mentah tetapi setelah itu disajikan pula barang dalam bentuk jadi kepada negara jajahan. Dalam bahasa mudahnya dalam Imperialisme moderen negara yang melakukan Imperialisme menjadikan negara jajahan sebagai negara pemasaran hasil industri yang mengalami surplus. Tujuan pokoknya adalah mempengaruhi dan menguasai ekonomi bangsa lain. Dengan melihat fakta diatas tentunya jelas dan dapat kita simpulkan bahwa pada hakikatnya tujuan imperialisme adalah sama. Tetapi terdapat pula corak corak khusus yang membedakan satu sama lain yaitu:

  • Adanya perbedaan corak politik kolonial. Perbedaan corak politik kolonial yang dilakukan oleh pemerintah kolonial di tanah jajahanya masing-masing.
  • Cara yang dipakai oleh bangsa terjajah untuk melepaskan diri dari belenggu penjajahan yang berbeda-beda juga.

2 hal itu yang membedakan  corak corak khusus imperialisme  yang satu dengan yang lain. Imperialisme moderen yang dipelopori oleh Inggris mencapai kejayaan pada tahun 1885 sampai dengan 1900. dengan adanya Imperialisme yang dilakukan oleh bangsa bangsa barat tentunya juga menimbulkan dampak yang dirasakan oleh bangsa yang terjajah antara lain adalah: Adanya kemiskinan yang terjadi di tanah jajahan, Adanya penderitaan yang tak terhingga di tanah jajahan, Imperialisme juga menyebabkan suatu bangsa yang terjajah mengalami pecah belah dan terbelakang, serta menyebabkan bangsa terjajah kehilangan keppribadian.

B. Politik Kolonial Barat di Afrika.

Ada bermacam corak ragam politik kolonial barat di Afrika, akan tetapi pada dasarnya tujuan mereka adalah sama yaitu politik pecah belah atau adu domba. Hal ini dilakukan untuk mempermudah didalam usaha untuk tetap menguasai tanah jajahan. Dalam hal ini penulis ingin menyampaikan politik kolonial yang dilakukan oleh Inggris dan Prancis di Afrika. Hal ini dilakukan dengan pertimbangan kedua negara tersebut yang berhasil mendominasi negara-negara di Afrika.

Politik kolonial yang dilakukan Pranci di Afrika diantaranya :

  1. Politik Asimilasi/Percampuran

Dalam hal ini orang-orang pribumi di Afrika diperlakukan sama dengan orang Prancis, perlakuan yang sama ini diberikan disegala bidang kehidupan antara lain: Pendidikan, hukum, Sosial ekonomi maupun hak yang sama dalam Parlemen.

  1. Politik Asosiasi

Pada politik ini maka Prancis melebur orang pribumi dan mencetak kembali menjadi orang orang yang berjiwa Prancis.

  1. Politik Devide At Impera

Politik ini dilakukan dengan memecah belah penduduk pribumi sehingga lebih mudah untuk dikuasai.

  1. Politik Conversion au Cristianisme

Politik ini dilakukan dengan cara mengadakan Kristenisasi terhadap penduduk pribumi.

Sedangkan politik yang dilakukan Inggris antara lain adalah:

1.   Pola Politik C. Khodes

Politik kolonial ini dilakukan dengan penekanan kepada kepentingan imperium Inggris atau kepentingan kaum kolonis di koloni.

2.   Pola Politik D. Livingstone.

Pada politik ini menekankan kepada pertanggungan jawab sebagai pembimbing untuk bumi putera.

3.   Sistem pemerintahan In Direct rule

Dalam system pemerintahan ini adalah system pemerintahan tidak langsung yaitu melalui birokrasi-birokrasi yang ada.

4.  Membiarkan tetap berlangsungnya kebiasaan-kebiasaan yang telah berlaku di tanah jajahan.

  1. Membimbing penduduk di tanah jajahan kearah pemerintahan sendiri yang mandiri secara pelan pelan dan Evolusioner.

Jadi apabila kita bandingkan Politik kolonial dari kedua negara tersebut memang mengalami perbedaan corak, akan tetapi pada dasarnya adalah sama yaitu sama sama dilakukan untuk tetap bisa menguasai wilayah jajahan.

Berbeda dengan di Asia, di Afrika sebagian besar jatuh ke kaum kolonialis dan imperialis tanpa disertai perlawanan yang hebat, walaupun ada juga yang disertai oleh sebuah perlawanan yang hebat yang dilakukan oleh kaum nasionalis yang ada. Akan tetapi sebagian besar negara Afrika jatuh ketanah jajahan akibat dari perjanjian perjanjian yang diadakan antara kaum imperialis sendiri atau kaum imperialis dengan kepala kepala suku yang ada di Afrika.

BAB III

ARTI EXPLORASI DAN AKIBAT AKIBATNYA BAGI BANGSA BANGSA DI AFRIKA

Benua Afrika sering dikatakan sebagai “The Dark Continent” karena benua Afrika sebagian besar belum dikenal oleh dunia internasional. Daerah yang dikenal hanya sebagian kecil Afrika bagian Utara yang letaknya dekat dengan Eropa. Pada zaman Roma kuno  sebagian dari daerah Afrika utara dimasukkan dalam “Imperium Romanum”. Daerah tersebut dinamakan Africano. Pada awalnya orang orang mengira bahwa daerah ini tidak berpenduduk, dan hanya didiami oleh binatang buas.

Tahun 1453 merupakan tahun yang penting bagi sejarah dunia, yaitu jatuhnya kota Konstantinopel yang mengakibatkan runtuhnya perdagangan Eropa karena Sultan Turki menutup Bandar-bandarnya bagi kapal-kapal kaum Nasrani. Tetapi orang Eropa berusaha mencari jalan lain yang nantinya akan membawa mereka menuju dunia timur. Dalam usahanya mencari jalan baru maka daerah Afrika yang tadinya dikatakan masih dalam keadaan gelap berangsur-angsur mulai dikenal oleh dunia barat. Penjelajahan daerah Afrika pada awalnya dipelopori oleh Portugis dengan tokoh Bartolomeuz Diaz dan kemudian disusul oleh Vasco da Gama. Setelah sampai sedemikian jauh daerah Afrika yang telah dikenal oleh dunia barat barulah daerah-daerah yang letaknya masih ditepi saja. Sedangkan daerah pedalaman masih dalam keadaan “The Dark Continent”.

Daerah Afrika tersebut kemudian diduduki oleh bangsa Eropa dari berbagai negara seperti: Inggris, Prancis, Jerman, Italia, dll. Sedangkan tokoh tokoh penjelajahanya antara lain adalah: Henry Morthon Staenly, David Livingstone, Baker, Gordon, de Brazza. Berkat aktivitas para penjelajah boleh dikatakan seluruh daerah Afrika sudah dikenal seluruhnya. Dengan demikian daerah Afrika tidak  merupakan dunia gelap atau “The Dark Continent”. Tetapi dengan dikenalnya seluruh Afrika berarti pula datangnya bencana bagi orang-orang asli Afrika yaitu datangnya bahaya Imperialisme(penjajahan). Dengan demikian disadari atau tidak maka para penjelahahpun turut ambil bagian dalam pembentukan imperialis kapitalis bangsanya. Selain para penjelajah yang juga berperan disini adalah para pedagang-pedagang besar. Ditulisan ini penulis akan meyajikan tokoh tokoh expedisi Afrika beserta dengan hasil hasilnya sebagai berikut:

A. Arti Expedisi Livingstone

Penemuan baru hasil dari Expedisi yang dihasilkan Livingstone dan kawan kawan sangat berarti besar bagi pengungkapan Afrika, terlebih setelah terbitnya buku-buku karya Livingstone cs, yang membuka mata bangsa Eropa tentang eloknya Afrika. Afrika merupakan sebuah benua baru dengan sumber kekayaan yang sangat luar biasa sehingga memancing minat bangsa-bangsa lain untuk menguasainya terutama bangsa barat. Tercatat ada beberapa negara yang berebut untuk menguasai Afrika, bahkan Afrika yang sangat luas itu nantinya kekuasaanya akan dibagi bagi menjadi beberapa bagian sesuai negara yang menguasainya. Berikut adalah beberapa negara yang berusaha menguasai Afrika : Jerman, Inggris, Belgia, Prancis, dll.

Untuk menghindari konflik di Afrika menyangkut perebutan kekuasaan di Afrika maka terciptalah sebuah konggres di Berlin ( Jerman ) pada tahun 1885. Adapun hasil konggres Berlin antara lain adalah;

  • Kongo dalam status Free state dalam penguasaan Belgia, Artinya semua negara boleh bertindak leluasa akan tetapi harus terbuka untuk perdagangan bebas ( Politik pintu terbuka tetap dijalankan )
  • Para peserta konggres Berlin berjanji untuk melindungi penduduk bumi putera terutama dibidang kesehatan, moril dan meteriil
  • Prancis mendapat bagian daerah di sebelah utara muara sungai Kongo dengan ibukota Brazzaville
  • Hak Portugis atas Angola diakui tetapi daerah yang ditambahkan kepada Mozambiek harus diserahkan kepada Inggris dan kemudian daerah itu disebut dengan Rhodesia
  • Antara Inggris dan Jerman dibuat persetujuan yang mengatur bahwa Zanzibar diserahkan pada Inggris dan ditukar dengan pulau Helgolandia yang letaknya dekat dengan Jerman.

B. Konflik Antara kaum Imperialis barat di Afrika.

Konflik yang terjadi saat itu tentunya tidak dapat dilepaskan dari keberadaan negara- negara imperialis dari Eropa yang sama-sama ingin menguasai wilayah Afrika. Hal ini dapat dilihat dari usaha-usaha yang dilakukan oleh bangsa Eropa sebagai berikut. Prancis ingin memperluas wilayah jajahanya dengan menaklukkan daerah Maroko kemudian membuat rencana untuk memperluas lagi kearah Pantai Atlantik sampai Samudra Indonesia. Tetapi usaha itu gagal di Sungai Nil karena bertubrukan dengan Inggris yang saat itu juga dalam usaha untuk memperluas wilayah dari Cape Town ( Afsel ) sampai Cairo ( Mesir ). Adapun benturan itu terjadi di Fasyoda di tepi Sungai Nil. Dengan adanya benturan itu maka lahirlah istilah Krisis Fasyoda. Yang berpusat di Sudan.

Yang juga tidak dapat dilepaskan dari Konflik diatas adalah mengenai terusan Suez yang dibangun oleh Ferdinand de Lesseps pada tahun 1869. Inggris mula mula menolak mentah mentah rencana dibangunya Terusan Suez karena dianggap akan mendatangkan ancaman terhadap India. Tetapi kemudian setuju dengan catatan turut memegang saham dalam PT Internasional Terusan Suez. Pada saat itu Mesir sedang mengalami kesulitan masalah keuangan sehingga mengajukan proposal kepoada Prancis , akan tetapi karena Prancis baru saja melunasi utang perangnya pada Jerman maka proposal itu tidak dapat dipenuhi oleh Prancis. Dengan mengetahui hal itu maka Inggris memanfaatkan momentum tersebut untuk membeli seluruh saham Terusan Suez dan menguasainya. Perlu dicatat bahwa Terusan Suez merupakan kunci pintu masuk ke India, dengan demikian akan memudahkan akses Inggris terhadap India.

Selain itu dengan menguasai terusan Suez dan pulau Perin maka  Laut Merah akan berada dibawah pengawasan Inggris disamping itu juga menguasai pintu pintu masuk laut tengah karena Selat Jabaltarik juga telah dikuasai. Bahkan Akhirnya negara Mesir juga berhasil dikuasai oleh Inggris dan menjadi negara persemakmuran Inggris dengan nama “Anglo Egyption Sudan”.

Sementara di Eropa saat itu juga sedang terjadi Krisis karena adanya pergeseran politik. Prancis mulai terancam dengan keberadaan Jerman dan berusaha memperbaiki hubunganya dengan Inggris. Maka pada tahun 1904 terjadilah perjanjian antara Inggris dan Prancis yang menyatakan. Prancis melupakan insiden Fashoda dan tidak akan merintangi politik Inggris di Mesir. Sementara Inggris memberikan kebebasan kepada Prancis di Maroko.

Dengan melihat uraian diatas tampak bahwa Afrika saat itu secara kekuasaan dibagi menjadi beberapa daerah jajahan. Adapun penguasa di Afrika antara lain adalah: Inggris, Prancis , Jerman, Belgia, Italia, Portugis dan Spanyol. Hanya Liberia dan Afrika Selatan saja yang Merdeka. Liberia tetap merdeka karena didirikan oleh mantan mantan budak yang telah dibebaskan dari Amerika Serikat. Sedangkan Afrika Selatan tetap merdeka karena yang memegang kekuasaan adalah orang kulit putih yaitu orang-orang Boer yang merupakan keturunan Inggris dan dibentuk dibentuk Dominion oleh Inggris. Yang tidak dapat dilupakan juga bahwa pada saat itu terjadi diskriminasi ras antara orang kulit putih dengan orang kulit gelap yang sampai sekarang terkenal dengan istilah Politik Apharteid.

C. Afrika Antara 2 Perang Dunia.

  • Daerah- Daerah bekas jajahan Jerman

Sebagai akibat dari kekalahan Jerman dalam perang Dunia I semua jajahan Jerman dikuasai oleh musuh-musuhnya termasuk didaerah Afrika. Pada saat itu sempat ada gagasan untuk membentuk sebuah Internasionalisasi jajahan dengan pemerintahan sedunia. Tetapi hal tersebut tidak dapat dijalankan karena dalam pelaksanaanya daerah-daerah tersebut tetap dikuasai oleh pemenang-pemenang perang dengan system daerah mandat. Dalam hal ini organisasi internasional yang ada pada saat itu LBB mengamanatkan pada penguasa daerah mandat untuk memperbaiki kesejahteraan serta kemajuan penduduk pribumi yang masih terbelakang. Tetapi pada saat itu yang terjadi adalah amanat tersebut tidak dapat dijalankan oleh penguasa mandat , bahkan penguasa mandat cenderung untuk tetap mengexploitasi daerah mandat  sehingga yang terjadi adalah daerah mandat menjadi semakin menderita.

  • Pergerakan Kemerdekaan di Afrika Utara sampai dengan Perang Dunia II

Dengan dikuasainya terusan Suez oleh Inggris maka membuat Inggris semakin leluasa mengexploitasi Mesir. Pada saat itu Inggris juga memperbesar penanaman modal di Mesir. Dengan keadaan mesir yang semakin terjajah maka memunculkan gerakan Nasionalisme di Mesir dibawah pimpinan Arabi Phasa. gerakan tersebut menuntut kepada Khidive agar mengadakan pembaharuan pemerintahan dari system feodalistis diganti dengan system demokratis yang nantinya akan melahirkan parlemen di Mesir. Setelah itu kemudian Arabi phasa diangkat jadi Menteri Peperangan dan angkatan perang Mesir diperkuat. Tentu saja hal itu menimbulkan kekhawatiran bagi Inggris dan Prancis yang membentuk komisi bersama untuk mengatasi masalah keuangan di Mesir. Khidive didesak oleh Inggris untuk memecat Arabi Phasa, dan saat itu tejadi kekacauan, akhirnya Arabi Phasa dipecat. Pada saat itu tentara Inggris masih ditempatkan di Mesir Untuk menjaga Terusan Suez.

Ketika Perang Dunia I pecah Khidive dipecat dan digantikan oleh Hussein Kemal sebagai Sultan. Setelah perang dunia I gerakan Nasionalisme mengalami perkembangan hebat, sehingga Inggris merubah protektorat dan memproklamirkan kemerdekaan Mesir dengan Fuad sebagai rajanya pada tahun 1922. akan tetapi tentara Inggris masih berada di Mesir dengan jabatan Komisaris Tinggi. Dengan melihat fakta itu maka sebenarnya Inggris hanya bersembunyi dibalik kerajaan Mesir dan masih tetap menguasai Mesir. Selain di Mesir Nasionalisme di Afrika juga lahir di Negara Afrika lainya antara lain Maroko, Tunisia dan Libya. Adapun tujuan dari Nasionalisme tersebut pada dasarnya adalah sama yaitu untuk mendapat kemerdekaan.

  • Politik Apartheid di Afrika Selatan

Pada saat Inggris memberikan status Dominion pada Afrika Selatan terjadi kesenjangan karena yang diberikan status Dominion hanya penduduk dengan warna kulit putih, sementara penduduk dengan warna kulit gelap tetap dijajah. Padahal fakta yang terjadi saat itu adalah penduduk warna kulit putih merupakan golongan minoritas sedangkan mayoritas penduduk Agrika selatan adalah berkulit gelap. Orang kulit putih yang ada adalah orang Boer yaitu orang keturunan Belanda dan sedikit dari orang-orang Inggris. Pada pelaksananya ternyata perbedaan warna kulit menjadikan sebuah kesenjangan di Afrika Selatan. Hal ini muncul karena adanya anggapan bahwa kulit putih lebih superior daripada kulit gelap. Pemisahan penduduk berdasar warna kulit inilah yang nantinya menjadi cikal bakal lahirlah Politik Apartheid di Afrika Selatan. Pemisahan warna kulit ini sebenarnya lahir dari ketakutan orang kulit putih sebagai minoritas terhadap orang kulit gelap ( pribumi ) sebagai mayoritas. Karena disatu sisi orang kulit putih ingin tetap menguasai Afrika Selatan.

  • Gerakan Anti Apartheid

Dengan adanya Politik Apartheid di Afrika Selatan tentunya sangat menyakitkan bagi penduduk pribumi yaitu orang-orang berkulit gelap. Hal ini karena dimana-mana orang berkulit gelap selalu didiskriminasi oleh orang kulit putih. Hal itu tentunya akan menimbulkan dendam yang mendalam pada orang- orang kulit gelap. Akhirnya datang juga kesempatan untuk unjuk perasaan setelah ratusan korban jatuh dan dunia tersentuh. Harapan mulai terbuka ketika Nelson Mandela bebas dari hukuman selama 27 tahun pada 11 februari 1990. harapan semakin lebar karena pada saat itu presiden FW de Klerk membuka dialog untuk menciptakan masa depan Afrika Selatan yang demokratis tanpa diskriminasi. Tetapi ternyata harapan itu tidak dapat segera di realisasikan karena orang Afrika sendiri pada saat itu juga terpecah. Terdapat 2 organisasi yang sama-sama ingin melepaskan diri dari politik Apartheid tetapi masing- masing punya perbedaan mengenai kepemimpinan dan rencana menentukan masa depan Afrika selatan. ANC dibawah Nelson Mandela ingin Keterbukaan sementara IFP menyatakan partainya menjadi partai non rasial. Dengan adanya perbedaan prinsip tersebut juga mempersulit Afrika untuk lepas dari Politik Apartheid karena untuk bisa lepas dari Politik Apartheid penduduk Afrika  Selatan harus Bersatu.

BAB IV

PERJUANGAN KEMERDEKAAN DAN HASIL-HASILNYA

A. Gerakan Kemerdekaan Mesir

  • Awal Sejarah Mesir

Mesir adalah negara tertua di dunia yaitu sejak runtuhnya raja fir’aun. Sebagai negara tertua tentu Mesir memiliki berbagai peninggalan benda-benda bersejarah yang melambangkan kebesaran negara Mesir pada saat itu seperti: Piramid, Spink,Obelisk serta bangunan bangunan lain. Adapun untuk kekuasaan yang pernah ada di mesir pada jaman dulu ada beberapa jaman antara lain: Romawi dan Yunani kuno, Babylonia, Romawi Timur dan lain lain. Yang perlu dicatat juga bahwa dari jaman ke jaman kota negara Mesir terus berbenah. Dalam bidang agama negara Mesir juga dikenal sebagai negara Islam yang kuat. Salah satu yang dapat menunjukkan kebesaran Islam di Mesir adalah adanya Universitas yang sangat terkenal sampai sekarang yaitu Universitas Al Azhar.

  • Pembukaan Terusan Suez

Gagasan mengenai Terusan Suez sebenarnya telah ada pada Cleopatra sampai Napoleon Bonaparte. Tetapi sampai saat itu belum dapat terealisasi. Adapun tujuan dari dibukanya terusan Suez adalah untuk menghubungkan laut tengah dan laut Merah demi lancarnya pelayaran. Baru pada saat ada pejuang dari Prancis Ferdinand De Lesseps gagasan itu dikabulkan. Terusan Suez mulai digali padatahun 1859. proses penggalian tersebut ternnyata memakan waktu 10 tahun dan baru selesai pada 17 November 1869. dengan dibukanya terusan Suez berarti dibukanya sejarah baru dalam dunia pelayaran di Eropa. Sementara bagi Arab dan bangsa Asia dengan dibukanya terusan Suez berarti musibah karena Expansi dari bangsa barat akan mengalir dengan begitu  hebatnya

  • Mesir pada masa Perang Dunia II

Mesir pada masa Perang Dunia II masih diselimuti awan kelam perebutan kekuasaan di Mesir antara Prancis Inggris dan mesir sendiri.Perebutan tersebut juga tidak dapat dilepaskan dari adanya Terusan Suez  yang menjadi bahan rebutan utama karena letaknya yang sangat strategis. Baru setelah muncul tokoh nasional Jendral Nadjib yang pada tanggal 26 juli 1952 berhasil menurunkan raja Farouk karena dianggap melindungi kaum koruptor yang menyengsarakan  rakyat. Setelah munculnya Jendral Najib maka pada saat itulah Revolusi Sosial di Mesir dimulai, adapun perubahan Sosial yang terjadi antara lain adalah:

  1. Pembatasan hak milik akan tanah dan yang lebih diberikan pada kaum petani yang melarat.
  2. Perwira –perwira yang bersalah akan ditangkap.
  3. Pengaruh modal asing akam dibatasi.

Dengan adanya kebijakan itu maka Jendral Nadjib semakin dicintai rakyat Mesir dan diangkat menjadi Presiden yang juga merangkap sebagai Perdana Menteri.

B. Gerakan Kemerdekaan Tunisia

Tunisia merupakan sebuah negara di Afrika bagian Utara. Tunisia juga merupakan sebuah negara protektorat Prancis yang selalu ingin merdeka penuh. Seperti kita ketahui bahwa negara Protektorat adalah sebuah negara yang diberikan status Dominion oleh negara induk. Dengan keadaan yang seperti itu  tentunya rakyat Tunisia ingin mendapatkan sebuah kemerdekaan yang penuh. Berbagai cara dilakukan baik melalui meja perundingan ataupun melalui jalur kekerasan. Akan tetapi tetap belum bisa mendapatkan hasil sesuai yang diinginkan  perundingan perundingan yang ada selalu tidak menghasilkan sebuah kesepakatan bahkan cenderung merugikan rakyat Tunisia. Dalam hal ini Prancis lebih senang menggunakan cara kekerasan , tentu saja dengan peralatan yang lebih canggih hal ini tidak dapat diimbangi oleh Tunisia dan menimbulkan korban jiwa yang tidak sedikit.

Setelah Usaha-usaha  yang dilakukan selalu gagal maka pada tahun 1952 Tunisia membawa masalah sengketa dengan Prancis ke PBB. Dengan harapan akan menemukan subuah penyelesaian sesuai yang diharapkan. Setelah melalui perjalanan panjang dan tak kenal lelah dan melalui bemacam sidang dalam PBB Akhirnya Tunisia dapat mencapai Kemerdekaan pada tahun 1956. Dengan perjuangan yang sangat keras dan juga korban jiwa yang tidak sedikit.

C. Gerakan Kemerdekaan Maroko.

Maroko merupakan sebuah bangsa di Afrika yang pada abad ke 5 menjadi propinsi dari bangsa Romawi. Penduduk asli Maroko adalah orang Barbar. Sedangkan bentuk negara Maroko adalah kekaisaran. Seperti bangsa Afrika lainya Maroko juga merupakan negara Protektorat dari Prancis. Selain dijajah Prancis Maroko juga pernah dijajah oleh Spanyol, disini terdapat tokoh perlawanan melawan Spanyol yang sangat terkenal yaitu Amir Abdul Karim pahlawan Rif yang sangat terkenal. Akan tetapi Akhirnya Abdul Karim berhasil dilumpuhkan oleh Spanyol yang bekerja sama dengan Prancis.

Sebagai negara protektorat tentunya Maroko ingin mendapatkan sebuah kemerdekaan penuh. Dan perjuangan menuju arah itu terus dilakukan baik melalui jalur perundingan atau jalur kekerasan. Jalur kekerasan Maroko selalu mengalami kegagalan karena dalam bidang persenjataan tentara Prancis jauh lebih maju. Dan cara ini yang disenangi oleh Prancis. Selain jalur kekerasan maroko juga melakukan perjuangan melalui jalur perundingan dan diplomasi. Hal ini sampai membawa masalah maroko ke sidang PBB pada tanggal 15 oktober 1952. setelah melakukan perjuangan dengan berbagai cara akhirnya pada tahun 1955 Prancis mengijinkan sultan Maroko Muhammad V kembali dari perasingan Akhirnya Maroko memperoleh kemerdekaan penuh pada tahun 1956, dan pada tahun 1957 Sultan Muhammad V memakai gelar raja hingga Wafat pada tahun 1961.

D. Gerakan kemerdekaan Sudan

Pada abad14 terdapat 2 kerajaan di Sudan yairtu Maqurra dan Alwa. Pengaruh budaya Islam Mesir begitu kuat di Sudan sebelum datangnya Inggris. Setelah datang Inggris ternyata membuat Sudan daerah rebutan Inggris dan Mesir karena memang letaknya yang strategis. Setelah terjadinya keributan itu maka muncul tokoh di Sudan yaitu Jendral Nadjib yang berhasil menggulingkan Raja Farouk. Pada saat itu diadakan Plebiciut/jajak pendapat yang hasilnya rakyat Sudan menghendaki kemerdekaan. Dan pada 1 Januari 1956 Sudan mendapatkan kemerdekaan Penuh. Akan tetapi walaupun sudah Merdeka penuh tetap tidak bisa meredakan suasana panas di Sudan karena masih terdapat pertikaian antara Sudan Utara dan Sudan Selatan.

E. Gerakan Kemerdekaan Aljazair.

Aljazair merupakan sebuah daerah dengan penduduk Orang Barbar, namun kemudian ditaklukkan oleh orang Barbarrosa dari Turky. Dan mulai saat itu dikuasai leh orang Turky. Kemudian setelah itu datanglah bangsa Prancis yang berhasil menguasai Aljazair dan menjadikan Aljazair sebagai bagian dari Prancis. Tentu saja rakyat Aljazair ingin mendapatkan kesetaraan dengan Rakyat  Prancis dalam hal hak dan kewajiban sebagai warga negara. Pada tanggal 1 Nopember 1954 muncul organisasi Front Pembebasan Nasional yang menuntut kemerdekaan penuh bagi Aljazair. Baru akhirnya pada tanggal 3 juli 1962 setelah tentara Oas lemah negara aljazair mendapatkan kemerdekaan penuh yang di proklamirkan oleh De Gaulle. Dengan Presiden pertama adalah Ahmad Beb Bella yang juga merupakan tokoh penting di negara tersebut.

F. Gerakan Kemerdekaan Ghana.

Tahun 1471 tentara Portugis datang ke pantai Emas di Ghana. Dinamakan Pantai Emas karena memang daerahnya kaya akan emas selain itu daerah itu juga penghasil budak belian orang Negro yang akan dikirim ke Amerika tengah. Bahkan bangsa Portugis sempat mendirikan benteng Elmina yang sangat terkenal disana. Belanda dan Inggris sempat bergantian menguasai daerah tersebut. Akan tetapi Akhirnya yang berkuasa adalah Inggris. Akan tetapi disana terdapat sebuah Suku yang tidak setuju dengan kekuasaan Inggris yaitu suku Asjanti yang selalu mengadakan Pemberontakan.

Karena berada dibawah kekuasaan Inggris tentunya rakyat Ghana ingin mendapatkan kemerdekaan. Perjuangan banyak dilakukan melalui perundingan-perundingan. Pada tahun !951 diadakan pemilihan Umum yang pertama dan Dr Kwame Nkrumeh diangkat sebagai Perdana Mentri  akan tetapi saat itu Ghana masih berada dalam Dominion Inggris baru pada tahun 1957 diadakan pemilu yang ke 2 yang disetujui oleh Inggris  dengan anggota perlemen orang Negro Asli. Dengan kenyataan itu Inggris dapat menerima dan pada tanggal 6 Maret 1957 Kemerdekaan Ghana di proklamirkan dengan perdana mentri Dr Kwame Nkrumeh.

G. Gerakan Kemerdekaan Kongo

Congo merupakan sebuah negara Jajahan Belgia dengan nama Belgia-Congo . Explorasi Congo tidak bisa dilepaskan dari 2 tokoh Penting Yaitu Henry Morton Staenly sebagai Peneleti. Karena dari hasil Penelitianya maka keadaan Congo dengan segala kelebihanya dapat terungkap . bahkan dalam temuanya H.M. Staenly juga menemukan Dinamit yang sebelumnya belum terklenal. Karena itulah rakyat Congo menjuluki Staenly “Boela Matari” atau Penghancur Padas.

Adapun untuk tokoh yang ke 2 adalah Raja Belgia saat itu Yaitu Leopold II. Dalam hal ini Leopold II berperan mendanai Penelitian yang dilakukan oleh Staenly  di Afrika. Raja Leopold II punya sebuah pemikiran bahwa Belgia sebagai  negara industri suatu saat pasti akan mengalami kelebihan Hasil Industri, untuk itu perlu dicari adanya daerah pemasaran baru. Setalah bekerja sama dengan Staenly akhirnya ditemukanlah Congo dan mulai 1908 Congo resmi jadi jajahan Belgia.  Sebagai jajahan Belgia tentunya Pendidikan di Congo jga memprihatinkan karena  baru pada tahun 1954 berdiri sebuah Universitas di Congo. Itupun dengan syarat tidak boleh mengadakan pendidikan hukum. Tentunya hal ini sangat memprihatinkan . dengan keadaan yang seperti ini membuat Nasionalisme rakyat Congo Meningkat. Mereka menuntut agar Congo diberi kemerdekaan penuh. Perjuangan banyak dilakukan melalui meja perundingan tetapi juga selalu gagal. Sampai akhirnya diadakan KMB (Konfrensi Meja Bundar ) pada tahun 1960. Pada moment KMB inilah secara resmi Belgia menyerahkan kemerdekaan penuh pada Congo. Dan pada tanggal 30 Juni 1960 Congo memperoleh kemerdekaan secara penuh setelah melalui perjuangan yang tak kenal lelah.

H. Perjuangan Kemerdekaan Lybia

Lybia merupakan daerah yang staregis sehingga jadi incaran negara-negara lain untuk menguasainya. Ini dapat dilihat dari sejarah Lybia dari abad ke 2 sampai dengan abad 19 yang sering berganti yang menguasainya. Akan tetapi yang paling terkenal menguasai Lybia adalah Italia. Pada perlawanan rakyat Lybia terhadap Italia juga melahirkan sebuah gerakan Islam yang bernama gerakan Sanussy. Gerakan Sannusy adalah suatu gerakan agama yang bertujuan mengembangkan ajaran ajaran Islam dan menanamkan cara-cara beribadah menurut Sanusy. Gerakan ini didirikan oleh Sayyid Muhamad Ali As-Sanusy. Gerakan ini yang secara gigih mengadakan perlawanan terhadap penguasa Lybia pada saat itu yaitu Italia tetapi usaha tersebut juga selalu gagal.

Tujuan Italia menguasai Lybia adalah untuk menguasai Laut Tengah sebagai usaha awal untuk memdirikan kerajaan Romawi baru di Afrika. Untuk menjalankan hal tersebut Italia menggunakan cara kekerasan dengan melebur Lybia sama sekali dan dijadikan suatu daerah Italia atau kerajaan Romawi baru. Untuk melaksanakan hal itu maka Italia memilih hari bersejarah yaitu hari kaum fasic “Maka ke Roma”. Pada saat itu dipindahkanlah1800 keluarga dari Italia ke Lybia yang dipimpin oleh Marsekal Bolbo, gubernur Jendral Lybia yang baru. Mereka benar-benar megadakan Explorasi yang besar besaran terhadap penduduk pribumi dengan harapan agar penduduk pribumi akan menyerah pada Italia. Akan tetapi hal itu tidak bisa membunuh senangat Nasionalisme rakyat Lybia yang ingin merdeka.

Setelah perang dunia II selesai maka berakhirlah kekuasaan Italia di Lybia, tatapi hal tersebut tidak lantas membuat Lybia secara otomatis merdeka karena seteh itu Lybia jadi rebutan negara negara sekutu untuk dikuasai. Karena permasalahan tidak kunjung selesai maka permasalahan Lybia akhirnya sampai juga ke meja PBB. Sampai akhirnya muncula seorang tokoh asal Belanda yang juga pegawai PBB yaitu Dr Adrian Pelt. Dr Adrian Pelt diberi tugas oleh PBB untuk mengurusi kemerdekaan Lybia. Walaupun mendapat halangan dan banyak kesulitan akhirnya lewat perjuangan yang keras  dengan membentuk Markas Besar di Tripolitania, Dr Adriaa Pelt dapat  mengatasi segala permasalahan di Lybia. Dan pada tanggal 24 Desember 1951 Kemerdekaan Lybia diproklamirkan dengan raja pertama adalah Idris As Sanusy Amir Cyrenika.

I. Pembentukan Republik Afrika Selatan

Afrika Selatan adalah negara di benua Afrika yang terletak di bagian paling selatan.  Negara ini mulai terkenal sejak ditemukanya Tanjung Harapan oleh Bartolomeuz Diaz. Adapun untuk penduduk selain bangsa kulit hitam disana juga tinggal orang-orang kulit putih keturunan dari bangsa belanda yaitu orang Boer. Pada dasarnya orang Boer ini tidak suka dengan Inggris  akhirnya orang Boer ini mengadakan migrasi yang besar-besaran ke daerah-daerah yang belum dikuasai oleh koloni Inggris. Saat pindah mereka menggunakan alat transportasi berupa pedati yang ditarik oleh Lembu. Peristiwa ini sampai sekarang sangat terkenal dan dikenal sebagai ” The Great Trek”, terjadi pada tahun 1836-1940. Usaha yang dilakukan bangsa Boer untuk mengadakan perlawanan pada Inggris selalu gagal dan akhirnya Afrika Selatan menjadi Domonion Inggris pada tahun 1910.

Pada tahun 1958 mulai diterapkan politik Apartheid di Afrika selatan oleh Pemimpin partai Nasional Dr Malam. Tahun 1958 Partai Nasional dipimpin oleh Hendrik F. Verwoerd yang juga memperteguh Apartheid . pada saat itu muncul suara dari Penduduk  kulit putih yang merupakan minoritas untuk melepaskan Afrika Selatan dari Inggris. Dan pada tanggal 31 mei 1961 negara Afrika Selatan resmi Merdeka dengan nama Republik Afrika Selatan.

J. Gerakan Kemerdekaan Negara-negara Afrika lainya

  1. Kenya dan Tanganyika

Sejarah Kenya dimulai sejak abad ke-7 m. Dimulai dari orang orang Arab yang tinggal di sepanjang pantai. Kemudian datanglah orang Eropa, bangsa Eropa yang pertama datang adalah Portugis dibawah pimpinan Vasco da Gama. Perkembangan setelah itu adalah Kenya berada dibawah Protektorat Inggris tentu saja dalam hal ini rakyat Kenya juga ingin merdeka secara penuh. Pada masa perjuangan inilah muncul gerakan “Mau-mau” yang mngejutkan masyarakat Eropa pada tahun 1952. Gerakan Mau-mau adalah  Sebuah organisasi rahasia yang terutama diikuti  oleh masyarakat Kikuyu dengan tujuan Untuk mengusir Pemjajah dari Kenya. Dengan juru bicara Jomo Kenyatta. Akhirnya Kenya berhasil merdeka pada tanggal 12 Desember 1963 dan Jomo Kenyatta diangkat sebagai perdana Menteri pertama.

Gerakan kemerdekaan juga muncul di Tanganyika dengan tokoh Yulis Nyrere seorang pemimpin Tanganyika African National Union ( TANU ). Mei 1961 Tanganyika Memperoleh hak mengatur pemerintahan dan pada Desember 1961 Tanganyika resmi merdeka.

  1. Kamerun

Nama Kamerun pertama diungkapkan oleh bangsa Portugis “Rio Dos Camaoes”.Sebelum PD I Kamerun merupakan derah protektorat Jerman. Setelah Jerman kalah dalam PD I maka Kamerun dibawah mandat LBB. Dalam hal ini LBB menyerahkan pada Inngris dan Prancis. Kamerun dibawah Prancis merdeka tahun 1960, sedangkan kamerun dibawah Inggris merdeka 1961. baru pada 1972 setelah keluar undang-undang Kamerun dapat bersatu dengan nama Republik Persatuan Kamerun dengan Presiden merangkap sebagai kepala pemerintahan

  1. Republik Somalia.

Sejarah Somalia dimulai sejak abad ke 7 m dari orang orang Arab sebagai cikal bakalnya. Sejarah moderen Somalia dimulai sejak dikuasai oleh Inggris yang secara bergantian  menguasai Somalia dengan Italia. Orang Somalia Inggris mulai memperjuangkan kemerdekaanya dan berhasil pada juni 1960 disusul 1 bulan kemudian Somalia Italia. Dan keduanya bergabung membentuk Republik Somalia. Republik ini merupakan negara Demokrasi Parlementer sampai tahun 1969 saat presiden terbunuh dan kekuasaan diambil alih oleh militer.

  1. Angola

Orang Eropa pertama yang datang di Angola adalah Diogo Cao dari Portugis, sehingga mulai saat itu Portugis yang menguasai Angola. Pada saat bersamaan Inggris yang sedang memperluas wilayah juga ingin menguasai Angola sehingga diadakan perjanjian dengan Inggris yang mengatur wilayah perbatasan. Setelah PD II Portugis mengubah status hukum tanah jajahan jadi Propinsi Sebrang Laut. Setelah terjadi kekacauan di Portugis  maka portugis memberikan kemerdekaan pada Angola pada tahun 1975. Walaupun begitu bukan berarti masalah Angola selesai Karena setelah merdekapun masih terjadi banyak kekacauan di Angola.

  1. Mozambik

Sama halnya dengan Angola Mozambik juga daerah bekas kekuasaan Portugis. Portugis juga menjadikan Mozambik sebagai propinsi sebrang laut. Budaya portugis juga sangat kental berlaku disana. Sama halnya dengan negara lain rakyat Mozambik juga menuntut kemerdekaan penuh pada Portugis. Sehingga munculah gerakan pemberontakan pada tahun 1964 yang disebut Fremilo ( front pembebasan Mozambik ).dengan wadah Fremilo rakyat Mozambik terus memperjuangkan kemerdekaan. Akhirnya setelah terjadi kekacauan di pemerintah Portugis maka Mozambik resmi merdeka pada tanggal 25 juni 1955 dengan Presiden pertama Samora Mackel yang juga tokoh Fremilo. Selain itu tokoh-tokoh Fremilo juga banyak diangkat sebagai pejabat pemertintah.

Masalah Yang Dihadapi Negara-Negara Afrika Pasca Kemerdekaan

Setelah melalui perjuangan yang panjang akhirnya negara-negara Afrika berhasil mencapai Kemerdekaan. Tetapi perjuangan tidak selesai sampai disitu karena setelah itu masih muncul berbagai persoalan baru antara lain sebagai berikut:

  • Masalah Politik

Di Afrika sulit tercapai persatuan nasional karena sejak awal bangsa Afrika terdiri dari bermacam-macam ras, suku serta kelompok etnis. Selain itu perpaduan pengaruh politik kolonial membentuk kepribadian bangsa yang berbeda pula. Hal itulah yang menyebabkan di Afrika sering terjadi perang perebutan kekuasaan dan perang saudara. Sehingga menyebabkan proses demokrasi di Afrika sangat tipis. Selain itu Afrika juga tercatat sebagai Benua yang paling bergejolak.

  • Masalah Sosial Ekonomi

Masalah ekonomi juga menjadi masalah yang serius di Afrika .pada awalnya ekonomi negara-negara Afrika bagus dan mapan karena lepas dari tangan penjajah. Tetapi disatu pihak juga terdapat hal yang memprihatinkan karena banyak terdapat pihak yang tidak bertanggungjawab yang memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan untuk kepentingan pribadi. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya bantuan luar negeri yang di korupsi sehingga menyebabkan kemiskinan dimana-mana.

Dalam bidang sosial juga terjadi kendala serius karena  peningkatan status sosial sukar dilaksanakan hal ini karena adanya warisan dari kolonial berupa ajaran feodal yang tidak mudah lenyap. Hal ini dapat dilihat dibanyak negara dimana hasil kemakmuran hanya dinikmati oleh segelintir orang saja yang saat itu kebetulan sedang berkuasa. Sementara raktyat banyak masih menderita.

 

About these ads
Komentar
  1. Adi mengatakan:

    makasih Gan,…. its great article,…. aku coppy ya….

  2. Thea mengatakan:

    makasih writer :)

  3. ikrimah mengatakan:

    mkasih yaa tulisan nya..
    izin copy ^^

  4. ukhti ayZha mengatakan:

    terimakasih artikelnya
    kalo bisa sama sejarah amerika juga ya,, trims

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s