PROSES – PROSES SOSIAL

Posted: 12 Februari 2012 in makalah
Tag:,

 DASAR-DASAR SOSIOLOGI

Dosen Pengampu : Dra. E. Wagiyah, M.Pd

 

 

 

 

OLEH :

NAMA                 : DWI SUMARTINI

NIM                     : 09021010

SEMESTER       : V

 

 

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN SEJARAH

INSTITUT KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN 

YOGYAKARTA

2011

PROSES – PROSES SOSIAL

 

  1. A.       PEMBATASAN PENGERTIAN

Sosiologi menelaah dan meneliti proses-proses sosial atau “social proceses”. Pengetahuan tentang proses-proses sosial memungkinkan seseorang untuk memperoleh pengertian mengenai segi yang dinamis dari masyarakat atau gerak masyarakat. Perubahan atau perkembangan masyarakat yang mewujudkan segi dinamikanya, disebabkan oleh karena para warganya mengadakan hubungan satu dengan yang lainnya baik dalam bentuk orang perorangan maupun kelompok manusia.

Proses Sosial adalah cara berhubungan yang dapat dilihat apabila orang perorangan dan kelompok-kelompok manusia saling bertemu dan menentukan sistem serta bentuk-bentuk hubungan tersebut atau apa yang akan terjadi apabila ada perubahan-perubahan yang menyebabkan goyahnya cara-cara hidup yang telah ada / dengan kata lain proses social diartikan sebagai pengaruh timbale balik antara berbagai segi kehidupan bersama.

Bentuk interaksi sosial yaitu bentuk-bentuk yang tampak apabila orang-orang perorangan / kelompok-kelompok manusia itu mengadakan hubungan satu sama lain dengan terutama mengetenahkan dalam interaksi tersebut kelompok-kelompok serta lapisan-lapisan sosial sebagai unsure pokok dalam structural sosial. Interaksi social adalah kunci dari semua kehidupan social oleh  karena tanpa interaksi sosial tidak akan ada kehidupan bersama. Dapat dikatakan bahwa interaksi sosial adalah dasar proses-proses sosial, pengertian mana menunjuk pada hubungan-hubungan sosial yang dinamis, yang menyangkut hubungan antara orang perorangan, antara kelompok dan manusia, maupun antara orang perorangan dengan kelompok manusia.

 

  1. B.        INTERAKSI SOSIAL SEBAGAI FAKTOR UTAMA DALAM KEHIDUPAN SOSIAL

Bentuk umum proses-proses sosial  adalah interaksi sosial oleh karena interaksi sosial merupakan syarat utama terjadinya aktivitas-aktivitas sosial. Interaksi sosial antara kelompok-kelompok terjadi antara kelompok tersebut sebagai kesatuan dan biasanya tidak menyangkut pribadi anggota-anggotanya dan juga terjadi di dalam masyarakat. Interaksi sosial akan lebih terlihat mencolok apabila terjadi pertentangan antara kepentingan – kepentingan orang perorangan dengan kepentingan-kepentingan kelompok.

Berlangsungnya suatu proses interaksi sosial yang didasarkan pada berbagai faktor antara lain :

  1. Faktor Imitasi

Faktor imitasi mempunyai peranan yang sangat penting dalam interaksi social. Segi positifnya imitasi dapat mendorong seseorang untuk dapat mematuhi kaedah-kaedah dan nilai-nilai yang berlaku. Segi negatifnya jika yang ditiru adalah hal-hal yang menyimpang. Imitasi juga dapat melemahkan atau bahkan mematikan pengembangan daya kreasi seseorang.

  1. Faktor sugesti

Faktor sugesti berlangsung apabila seseorang memberi suatu pandangan / suatu sikap yang berasal dari dirinya yang kemudian diterima oleh pihak lain. Terjadi apabila orang yang memberikan pandangan adalah orang yang berwibawa / mungkin orang yang sifatnya otoriter.

  1. Faktor identifikasi

Merupakan kecenderungan atau keinginan dalam diri seseorang untuk menjadi sama dengan pihak lain. Sifatnya lebih mendalam daripada imitasi, karena kepribadian seseorang dapat dibentuk melalui proses ini. Prose situ berlangsung dengan sendirinya tanpa sadar/disengaja karena seseorang memerlukan tipe ideal tertentu dalam kehidupannya. Bisa terjadi bila seseorang indifikator benar-benar mengenal pihak lain yang menjadi idealnya/idolanya. Sehingga pandangan/sikap maupun kaedah yang berlaku pada idealnya/idolanya dapat melembaga atau menjiwainya. Walau pada awalnya identifikasi dialawi dengan proses imitasi dan atau sugesti.

  1. Faktor Simpati.

Proses seseorang merasa tertarik pada pihak lain. Perasaan pegang peran penting walau dorongan utama simpati adalah keinginna memahami pihak lain dan untuk kerjasama dengannya. Beda dengan identifikasi yang didorong oleh keinginan untuk belajar dari pihak lain yang dianggap lebih tinggi dan dihormati karena punya kelebihan / kemampuan tertentu yang patut dijadikan contoh. Simpati dapat berkembang bila saling pengertian terjamin.

  1. C.       SYARAT-SYARAT TERJADINYA INTERAKSI SOSIAL

Interaksi sosial tidak akan terjadi bila tidak :

  1. Adanya kontak (social contact)
  2. Adanya komunikasi

Kontak berasal dari bahasa latin concum (bersama-sama) dan tango (menyentuh) arti secara harafiahnya “bersama-sama menyentuh. Kontak sosialdapat berlangsung dalam tiga bentuk :

  1. Antara orang perorangan, misalnya apabila anak kecil mempelajari kebiasaan-kebiasaan dalam keluarganya.
  2. Antara orang dengan kelompok / sebaliknya, misalnya apanila seseorang merasakan bahwa tindakan-tindakannya berlawanan dengan norma-norma masyarakat.
  3. Antara suatu kelompok manusia dengan kelompok manusia lainya.

Kontak sosial bersifat :

  1. Positif, mengarah pada suatu kerjasama
  2. Negatif  mengarah pada suatu pertentangan bahkan sama sekali tidak menghasilkan suatu interaksi sosial.
  3. Primer  terjadi apabila yang mengadakan hubungan langsung bertemu / tatap muka / bicara dll.
  4. Sekunder  terjadi apabila yang mengadakan hubungan tidak secara langsung / melalui perantara.

 

  1. D.       KEHIDUPAN YANG TERASING
  2. Kehidupan yang terasing bisa disebabkan karena secara badaniyah orang diasingkan dari kehidupan dengan orang lain. Padahal perkembangan jiwa seseorang banyak ditentukan oleh pergaulannya dengan orang-orang lain. Bila orang disekap dalam waktu yang lama tentu akan punya perilaku yang berbeda.
  3. Terasingnya seseorang karena cacat pada inderanya. Misal orang yang buta dan tuli akan mengasingkan dari kehidupan yang tersalur melalui indera tersebut sehingga ia merasa rendah diri, tertutup,oleh karena kemungkinan untuk mengembangkan kepribadiannya seolah-olah terhalang dan bahkan seringkali tertutup sama sekali.
  4. Pengaruh Perbedaan ras / kebudayaan yang menimbulkan prasangka-prasangka. Misalnya tempat yang penduduknya memeluk suatu agama, orang yang berlainan agama akan merasa dirinya tersingkir daripergaulan atau dengan sengaja disingkirkan.
  5. Pada masyarakat yang berkasta. Dalam masyarakat demikian gerak sosial vertikal hampir tidak terjadi. Terasingnya seseorang dari kasta yang rendah berada di kalangan kasta yang lebih tinggi. Ini juga merupakan penghalang terjadinya suatu interaksi sosial.

 

  1. E.        BENTUK-BENTUK INTERAKSI SOSIAL

Bentuk interaksi sosial dapat berupa:

  1. Cooperation / kerjasama
  2. Competition / persaingan
  3. Confict / pertikaian / pertentangan

Suatu pertikaian mungkin mendapatkan suatu penyelesaian, yang penyelesaian itu hanya akan dapat diterima untuk sementara waktu, proses mana dinamakan akomodasi dan ini berarti bahw kedua belah pihak belum tentu puas sepenuhnya. Menurut Gillin dan Gillin ada dua macam proses social yang timbul sebagai akibat adanya interaksi social, yaitu:

  1. Proses yang assosiatif (Proceses of ossciation) yang terbagi dalam tiga bentuk khusus yakni :

-          Akomodasi

-          Asimilasi

-          Akulturasi

 

  1. Proses yang disosiatif ((Proceses of disossciation), yang meliputi:

-          Persaingan

-          Persaingan yang meliputi contovention dan pertentangan / pertikaian (conflict)

Sistematika lain yang pernah pula di kemukakan oleh Kimbal Youang, Bentuk-bentuk proses sosial adalah

  1. Oposisi (Opposition) yang mencakup persaingan dan pertentanganatau pertikaian.
  2. Kerjasama ( cooperation) yang menghasilkan akomodasi.
  3. Differention yang merupakan proses seseorang memperoleh hak-hak dan kewajiban yang berbeda dalam masyarakat atas dasar usia. Pekerjaan menghasilkan sistem yang berlapis-lapis dalam masyarakat.

 

 

 

 

PROSES INTERAKSI YANG POKOK

 

  1. 1.        Proses yang Assosiatif
    1. a.    Kerjasama (“Cooperation”)

Kerjasama timbul karena orientasi orang terhadap kelompok (in group) dan kelompok lain (out groupnya). Kerjasama merupakan unsur dari sistem nilai masyarakat social / sering dijumpai dalam keadaan warga masyarakat tersebut. Tidak punya inisiatif / daya kreasi karena mengandalkan bantuan dari rekan-rekannya. Kerjasama merupakan gejala universal yang ada dimanapun masyarakat walau tidak sadar timbul karena bahaya/ bersama.

Sehubungan dengan pelaksanaan kerjasama ada tiga bentuk pelaksanaan kerjasama:

  1. Bargaining

Pelaksanaan perjanjian mengenai pertukaran barang dan jasa antar dua organisasi atau lebih.

  1. Co-optation

Proses penerimaan unsur-unsur baru dalam kepemimpinan / pelaksanaan politik dalam suatu organisasi. Sebagai salah satu cara untuk menghindari terjadinya  kegoncangan dalam stabilitas orang tersebut.

  1. Coalition

Kombinasi dua orang atau lebih yang mempunyai tujuan yang sama. Coalition dapat menimbulkan keadaan yang tidak stabil untuk sementara waktu karena dua orang itu mempunyai struktur yang berbeda satu sama lain. Tapi maksud utamanya adalah mencapai tujuan bersama maka sifatnya cooperatif.

Ketiga bentuk kerjasama itu bisa terjadi dalam orang pemerintahan, pendidikan dan ekonomi.

Dari ketiga bentuk itu dapat di tambah dengan bentuk keempat yaitu, John Venture yang merupakan kerjasama dalam pengusahaan proyek-proyek tertentu tertentu, missal pengeboran minyak, pertambangan, perhotelan, dll. Dengan perjanjian pembagian keuntungan sesuai proporsi tertentu. Dalam John Venture pihak yang satu mengisi kekurangan pihak lain/ saling melengkapi.

 

 

  1. b.   Akomodasi (Accomodation)
    1. Pengertian

Akomodasi mempunyai arti dua, yaitu :

-             Menunjuk pada suatu keadaan

Kenyataan adanya suatu keseimbangan / oquilibrium dalam interaksi orang/orang dan keluarga sehubungan dengan norma-norma dan nilai-nilai sosial yang berlaku dalam masyarakat.

-             Menunjuk pada suatu proses

Usaha-usaha manusia untuk meredakan pertentangan untuk mencapai kestabilan / cara menyelesaikan pertentangan tanpa menghancurkan pihak lawan.

Menurut Gillin dan Gillin akomodasi adalah suatu pengertian yang dipergunakan noleh para sosiolog untuk menggambarkan suatu proses dalam hubungan-hubungan social yang sama pengertian dengan adaptasi yang dipergunakanoleh para ahli biologi menunjuk pada suatu proses dimana makhluk hidup menyesuaikan diri dengan alam sekitarnya.

Tujuan dari akomodasi dapat berbeda-beda tergantung pada situasi dan kondisi yang dihadapi :

  1. Untuk mengurangi pertentangan antar orang / kelompok masyarakat akibat perbedaan paham. Akomodasi ini bertujuan untuk menghasilkan sintesa antar kedua pendapat agar menghasilkan pola yang baru.
  2. Untuk mencegah meledaknya pertentangan untuk sementara waktu atau temporer.
  3. Akomodasi diusahakan untuk memungkinkan terjadinya kerjasama antar kelompom social sebagai akibat faktor sosial psikologis dan kebudayaan, hidup terpisah. Dijumpai dalam masyarakat yang menerapkan sistem yang berkasta.
  4. Mengusahakan peleburan antar kelompok social yang terpisah. Misal ; perkawinan campuran dan asimilasi.

 

  1. Bentuk-bentuk akomodasi

Akomodasi sebagai suatu proses, dsapat mempunyai bentuk-bentuk sebagai berikut:

  1. Coercion

Bentuk akomodasi yang prosesnya dilaksanakan karena ada paksaan. Terjadi karena pihak yang satu lemah dibanding pihak lawan. Misalnya budak dengan tuannya, negara-negara totaliter.

  1. Compromise

Bentuk akomodasi pihak-pihak yang terlibat mengurangi tuntutannya. Agar terlaksana pihak yang satu bersedia melaksanakan dan mengerti pihak lainnya, dan sebaliknya. Misal : traktat antar beberapa Negara, parpol,dll.

  1. Arbitration

Cara mencapai compromise bila pihak yang berhadapan merasa tidak sanggup mencapainya sendiri. Pertentangan diselesaikan melalui pihak ketiga sebagai perdamai yang ditunjuk oleh kedua belah pihak. Misalnya : penyelesaian pembunuhan.

  1. Mediation

Serupa arbitration, pihak ketiga yang netral diundang untuk mengusahakan penyelesaian secara damai. Ia hanya sebagai penasihat tidak punya wewenang untuk memberi keputusan penyelesaian sengketa.

  1. Consiliation

Usaha untuk mempertemukan keinginan pihak-pihak yang berselisih demi tercapainya persetujuan bersama. Sifatnya lebih lunak dari coercion dan membuka kesempatan kepada pihak yang bersangkutan untuk mengadakan asimilasi.

  1. Toleration ( Toleran Participan)

Bentuk akomodasi tanpa persetujuan fernial. Kadang timbul secara tidak sadar dan tanpa direncanakan karena watak kesadaran orang / kelompok untuk menghindari perselisihan.

 

  1. Asimilation ( Assimilasion)

Asimilasi merupakan suatu proses social dalam taraf kelanjutan yang ditandai dengan adanya usaha-usaha mengurangi perbedaan-perbedaan yang terdapat antara orang perorangan atau kelompok-kelompok manusia dan juga meliputi usaha untuk mempertinggi kesatuan tindak, sikap dan proses-proses mental dengan memperhatikan kepentingan-kepentingan dan tujuan bersama. Proses Asimilasi timbul bila ada :

  1. Kelompok-kelompok manusia yang berbeda kebudayaannya.
  2. Orang perorangan sebagai warga kelompok saling bergaul secara langsung dan intensif untuk waktu yang lama.
  3. Kebudayaan-kebudayaan dari kelompok manusia tersebut masing-masing berubah dan saling menyesuaikan.

Bentuk-bentuk interaksi sosial yang memberi arah ke suatu proses asimilasi

  1. Interaksi social yang bersifat pendekatan terhadap pihak lain dan juga pihak lain juga berlaku sama.
  2. Interaksi social tidak mengalami halangan atau hambatan  atau pembatasan. Asimilasi akan berhenti bila ada halangan yang mematikan dan pembatasan hal. Melakukan perkawinan, pembatasan masuk sekolah / lembaga-lembaga tertentu.
  3. Proses asimilasi berlangsung cepat bila interaksi social bersifat langsung dan primer.
  4. Dalil umum asimilasi diperkuat bila frekuensi interaksi social tinggi dan tetap serta adanya keseimbangan antar pola-pola interaksi.

Faktor-faktor yang mempermudah terjadinya asimilasi

  1. Toleransi
  2. Kesempatan di bidang ekonomi yang seimbang
  3. Sikap menghargai orang asing dan kebudayaannya
  4. Sikap terbuka dari penguasa dalam masyarakat
  5. Persamaan dalam unsure-unsur kebudayaan
  6. Perkawinan campuran
  7. Adanya musuh bersama di luar.

Asimilasi tidak akan terjadi walau interaksi itu berlangsung intensif dan luas antara kelompok-kelompok yang bersangkutan. Misalnya hubungan orang Tionghoa di Indonesia yang bergaul secara intensif dan luas dengan orang-orang Indonesia sejak berabad-abad yang lalu, akan tetapi mereka juga belum terintegrasikan ke dalam masyarakat Indonesia. Hal itu dapat dikembalikan pada politik Belanda pada jaman dahulu, sewaktu mereka menjajah Indonesia. Penduduk Indonesia di bagi atas tiga golongan Eropa, Timur Asing, dan Bumi Putera. Dasar hukum mengadakan perbedaan tersebut tercantum dalam pasal 163 tercantum dalam pasal 163 Indische Staatsregeling(IS). Dalam perang kemerdekaan RI mereka lebih memihak Belanda dan tergantung pada negeri kelahirannya.

 

Faktor-faktor yang menyulitkan asimilasi Cina dan Indonesia :

  1. Perbedaan cirri-ciri badaniyah
  2. In group feeling yang kuat dari golongan Cina sehingga kuat mmepertahankan identitas social dan kebudayaan yang eksklusif. Dominasi ekonomi sebagai akibat fasilitas-fasilitas yang di perolehnya sejak jaman dahulu menyebabkan mereka menjadi tinggi hati.

Faktor utama yang menjadi  penghalang terjadinya asimilasi

  1. Kurangnya pengetahuan tentang kebudayaan yang dihadapi
  2. Terisolirnya kehidupan golongan tertentu dalam masyarakat. Misal : masyarakat Indian Amerika Serikat diharuskan tinggal di wilayah tertentu yang tertutup. (disebut kesesuaian) sehingga tidak ada hubungan dengan orang kulit putih.
  3. Perasaan takut terhadap kekuatan kebudayaan yang di hadapi.
  4. Perasaan bahwa golongan tertentu lebih tinggi kebudayaan dari golongan tertentu. Sikap superior Negara penjajah dan inferior bagi terjajah.
  5. Suatu in group feeling / perasaan terikat kuat pada kelompoknya.
  6. Hal lain yang mengganggu proses asimilasi. Misal monoritas yang mengalami gangguan dari golongan yang berkuasa. Misal : setelah Jepang menghancurkan Pearl Harbor tahun 1942 orang Jepang yang tinggal di AS “disimpan” dari tempat tertentu yang disebut (relocation camps) dari daerah pedalaman.
  7. Perbedaan kepentingan ditambah pertentangan pertentangan pribadi dapat menghalang asimilasi.

 

 

  1. 2.        Proses Disosiatif

Seseorang akan menjadi menekankan pada salah satu bentuk oposisi atau lebih menghargai kerjasama, hal ini tergantung dari unsure-unsur kebudayaannya terutama yang menyangkut sistem nilai, struktur masyarakat dan sistem sosialnya. Oposisi juga dapat diartikan cara berjuang seseorang untuk mencapai tujuan tertentu atau bentuk tetap hidup (strunggle for axistence) yang dipopulerkan Charles Darwin. Bisa juga perjuangan manusia melawan manusia-manusia lain. Perjuangan manusia melawan makhluk lain dan perjuangan melawan alam.

Proses-proses Disosiatif dibedakan menjadi

  1. a.   Persaingan (Competition)

Proses seseorang atau kelompok yang bersaing mencari keuntungan melalui bidang-bidang kehidupan yang pada suatu masa tertentu menjadi pusat perhatiandari public atau dengan mempertajam prasangka yang telah ada, tanpa mempergunakan ancaman atau kekerasan. Ada 2 tipe umum persaingan :

-          Persaingan pribadi

Misal dua orang bersaing langsung untuk, misalnya mendapat kedudukan dalam organisasi. Tipe ini dinamakan rivalry.

-          Persaingan yang bersifat tidak pribadi

Misal dua atau lebih perusahaan bersaing untuk mendapatkan monopoli di wilayah tertentu.

Tipe-tipe tersebut diatas menghasilkan beberapa bentuk persaingan :

  • Persaingan di bidang ekonomi. Timbul karena terbatasnya persediaan bila dibandingkan dengan jumlah konsumen.
  • Persaingan dalam bidang kebudayaan dapat menyangkut misalnya persaingan di bidang keagamaan, dalam bidang-bidang lembaga kemasyarakatan seperti pendidikan unpamanya.
  • Persaingan untuk mencapai kedudukan dan peranan tertentu dalam masyarakat.
  • Persaingan karena perbedaan ras.Perbedaan warna kulit, bentuk tubuh, corak rambut, dsb hanya merupakan suatu perlambang dari suatu kesadaran dan sikap atas perbedaan-perbedaan dalam kebudayaan.

Fungsi Persaingan

1)      Menyalurkan keinginan yang bersifat kompetitif dari seseorang atau kelompok. Semakin sesuatu itu dihargai semakin meningkat pula keinginan untuk memperolehnya.

2)      Sebagai jalan bagi keinginan, kepentingan serta nilai yang menjadi pusat perhatian tersalurkan dengn baik dalam pemilihan.

3)      Alat mengadakan seleksi atas dasar sex dan seleksi social. Berfungsi untuk mendudukan orang pada posisi dan peran yang sesuai dengan kemampuan dalam masyarakat.

4)      Alat untuk menyaring warga-warga golongan karya (fungsionil) yang menghasilkan pembagian kerja yang efektif. Emil Durckeim menggambarkan “the social devicion of labor”. Hasilnya unit-unit pekerja-pekerja, ahli-ahli, pemuka-pemuka agama, seniman, politikus dsb yang masing-masing punya fungsi tertentu dalam masyarakat. Akibat persaingan bisa asosiatif bisa disosiatif.

Hasil persaingan tergantung dari beberapa faktor :

  1. Kepribadian seseorang

Charles H Cooley mengatakan bila persaingan dilakukan secara jujur akan mengembangkan rasa sosial dalam diri seseorang. Persaingan tidak akan terjadi bila tidak mengenal lawannya. Persaingan bisa memperluas pandangan, pengertian, pengetahuan dan perasaan simpati.

  1. Kemajuan

Dalam masyarakat berkembang dan maju dengan pesat, orang perlu menyesuaikan diri dengan perkembangan keadaan tersebut.

  1. Solidaritas kelompok

Selama persaingan dilakukan secara jujur, solidaritas kelompo tidak akan goyah, lain halnya jika persaingan menjurus kearah pertikaian / pertentangan.

  1. Disorganisasi

Perubahan yang terlalu cepat kadang sulit diikuti oleh masyarakat. Masyarakat tidak punya cukup waktu untuk menyesuaikan diri dengan kemajuan dan tak sempat mengadakan reorganisasi. Akibat negatifnya kurang pentingnya tenaga manusia, peran mereka diganti dengan mesin.

 

  1. b.   Controversion
    1. Pengertian

Bentuk proses sosial diantara persaingan dengan pertentangan/pertikaian. Ditandai dengan gejala ketidakpastian mengenai diri seseorang / rencana dan perasaan tidak suka disembunyikan, kebencian atau keraguan terhadap kegunaan usul, ide, kepercayaan, doktrin, rencana orang lain, rasa tersembunyi bisa berubah menjadi kebencian walau tidak sampai pada pertentangan.

Proses contravention menurut Leopold Von Wiese dan Howard Backer mencakup 5 sub proses :

  1. Proses umum dari contravention meliputi pembuatan seperti penolakan, keengganan, perbuatan menghalangi protes, gangguan, perbuatan kekerasan dan perbuatan mengacaukan pihak lain.
  2. Bentuk sederhana contravention menyangkal pernyataan orang lain di muka umum. Memaki, mencerca, menfitnah, melemparkan beban, pembuktian kepada pihak lain,dst.
  3. Contavention yang intensif mencakup penghasutan, menyebabrkan desas-desus, mengecewakan pihak lain.
  4. Contravention rahasia, mengumumkan rahasia pihak lain berkhianat dst.
  5. Contravention taktis, mengjutkan lawan, mengganggu, membingungkan.

Contoh lain adalah memaksa pihak lain untuk menyesuaikan diri (conformity) dengan memakai kekerasan, mengadakan provokasi, intimidasi, dsb.

  1. Tipe Contravention

Menurut Von Wiese dan Becker terdapat tiga tipe umum dari contravention, yaitu:

  1. Contravention generasi masyarakat

Terjadi dalam masyarakat yang mengalami perubahan dengan cepat.

Contoh : hubungan anak dengan orang tua. Awalnya asosiatif seiring perkembangan kemajuan, usia dan daya pikir anak timbul keraguan akan pendirian orang tua yang dianggap koloot atau kuno. Orang tua yang terikat tradisi tak akan begitu saja menerima perubahan-perubahan yang lebih mudah diterima generasi muda yang sepenuhnya berhasil membentuk kepribadian.

  1. Controvention bidang seks

Menyangkut hubungan / relasi antara suami istri walau suami istri sekarang ditempatkan dalam kedudukan yang sejajar, namun masih ada keraguan wanita terkait dengan peranannya, kesempatan kerja, dll.

  1. Controvention parlementer

Hubungan golongan mayoritas dengan golongan minoritas dalam masyarakat, yang menyangkut hubungan kedua golongan tersebut dalam lembaga legislative, lembaga-lembaga keagamaan, lembaga pendidikan, dst.

Beberapa tipe lain yanb berada di perbatasan antara contravention dengan pertentangan atau pertikaian. Tipe- tope tersebut dimasukkan dalam kategori contravention, oleh karena pada umumnya tidak menggunakan ancaman atau kekerasan. Tipe-tipe tersebut antara lain :

  1. Contravention antara masyarakat – masyarakat setempat yang mempunyai dua bentuk yaitu contravention antara masyarakat-masyarakat setempat yang berlainan (Intracomunity strunggle) dan Contravention antar golongan-golongan dalam satu masyarakat setempat (Intercommunity strunggle).
  2. Antagonis keagamaan
  3. Contravention Intelektual

Sikap memandang rendah pada mereka yang punya pendidikan lebih rendah atau sebaliknya sikap sinis pada mereka yang mengenyam tertentu sedang mereka tidak mengalaminya. Bisa juga sikap sinis masyarakat terhadap para sarjana tanpa menyaring latar belakang pendidikan dan faktor lain-lain.

  1. Oposisi Moral

Erat kaitannya dengan latar belakang kebudayaan yang menimbulkan prasangka terhadap kebudayaan tertentu termasuk sistem nilai yang menyangkut bidang moral, dsb.

 

  1. c.    Pertentangan (Conflict)

Pribadi-pribadi atau kelompok- kelompok manusia menyadari adanya perbedaan- perbedaan cirri badaniyah, emosi, unsure-unsur kebudayaan, pola-pola perilaku dll yang dapat menimbulkan pertentangan conflict. Perasaan pegang peran penting dalam mempertajam perbedaan. Sebab-sebab pertentangan:

  1. Perbedaan antar orang perorangan.

Perbedaan prinsip dan perasaan dapat menimbulkan bentrokan antara orang perorangan.

  1. Perbedaan kebudayaan

Kepribadian seseorang dipengaruhi latar belakang budayanya atau pendirian kelompok.

  1. Perbedaan kepentingan
  2. Perubahan-perubahan sosial

Perubahan social yang terlalu cepat bisa merubah nilai-nilai dalam masyarakat yang menimbulkan golongan-golongan yang berbeda pendirian, dll. Pertentangan menjadi atau punya akibat positif atau negatif tergantung dari persoalannya. Struktur social, tujuan, nilai-nilai dan kepentingan-kepentingan. Salah satu yang mencegah akibat negative adalah sikap toleransi. Disamping itu masyarakat biasanya punya sarana untuk menyalurkan benih-benih peruntuhan sarana tersebut dinamakan safety value institutions 19 menyediakan obyek-obyek tertentu yang dapat mengalihkan perhatian pihak-pihak yang bertikai.

Beberapa bentuk khusus dari  pertentangan

  1. Pertentangan Pribadi

Dua pribadi yang tidak saling menyukai. Jika permulaan yang buruk itu dikembangkan maka timbul rasa saling membenci yang berakhir dengan perkelahian yang hanya dapat dilerai sementara.

  1. Pertentangan rasial. Misal pertentangan antara orang negro dengan orang kulit putih di Amerika Serikat. Sebenarnya sumber pertentangan tidak hanya pada cirri-ciri badaniyah akan tetapi juga karena perbedaan kepentingan dan kebudayaan di tambah lagi salah satu ras merupakan golongan mayoritas.
  2. Pertentangan antar kelas social. Disebabkan karena perbedaan-perbedaan kepentingan, misalnya perbedaan kepentingan antara majikan dengan buruh.
  3. Pertentangan politik yang menyangkut baik antara golongan-golongan dalam satu masyarakat, maupun pertentangan antara negara-negara yang berdaulat.
  4. Pertentangan internasional, terutama disebabkan karena perbedaan-perbedaan kepentingan yang kemudian menyangkut kedaulatan negara-negara yang saling bertentangan.

 

Akibat dari pertentangan antara lain :

  1. Tambahnya solidaritas dari in group

Jika suatu kelompok bertentangan kelompo lain maka solidaritas anggota kelompok semakin erat mereka bersedia berkorban demi keompok.

  1. Retaknya persatuan kelompok

Jika pertentangan terjadi antar golongan dalam satu kelompok maka yang terjadi adalah goyah dan retaknya perasaan antar kelompok.

  1. Perubahan-perubahan kepribadian seseorang
  2. Hancurnya harta benda dan jatuhnya korban manusia karena perang
  3. Akomodasi, dominasi dan takluknya salah satu pihak. Jika kekuatan pihak yang bertentangan seimbang bisa timbul akomodasi, ketidakseimbangan menimbulkan bentrokan, atau dominasi satu pihak terhadap pihak lawannya.
  4. Stalemate, merupakan suatu akomodasi dimana pihak-pihak yang bertentangan karena mempunyai kekuatan yang seimbang, berhenti pada suatu titik tertentu dalam melakukan pertentangannya. Hal ini disebabkan karena kedua belah pihak sudah tidak ada kemungkinan lagi baik untuk maju maupun untuk mundur. Misalnya antara Amerika Serikat dan Soviet Rusia, khusunya di bidang nuklir.
  5. Adjudication, yaitu penyelesaian perkara atau sengketa di pengadilan.

Hasil-hasil akomodasi menurut Gillin dan Gillin

  1. Akomodasi menyebabkan usaha-usaha untuk sebanyak mungkin menghindarkan diri dari benih-benih yang dapat menyebabkan pertentangan yang baru, untuk kepentingan integrasi masyarakat.
  2. Menekan oposisi. Seringkali suatu persaingan dilaksanakan demi keuntungan suatu kelompok tertentu demi kerugian pihak lain.
  3. Koordinasi berbagai kepribadian yang berbeda . Tampak jika dua orang bersaing untuk menduduki kedudukan sebagai pemimpin dalam suatu partai politik.
  4. Perubahan dari lembaga-lembaga kemasyarakatan agar supaya sesuai dengan keadaan yang baru atau keadaan yang berubah.
  5. Perubahan-perubahan dalam kedudukan-kedudukan.
  6. Akomodasi membuka jalan ke arah asimilasi. Dengan adanya asimilasi, para pihak jadi lebih saling mengenal dan dengan demikian juga lebih mudah saling mendekati oleh karena timbulnya benih-benih toleransi.


About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s