KKL


BAB II

Museum Sono Budoyo I

  1. 1. Lokasi Museum Sono Budoyo I

Museum Sono Budoyo terletak di sebelah Utara Keraton Yogyakarta. Museum Sono Budoyo termasuk museum tertua di Indonesia. Tetapi penampilannya cukup mengagumkan, karena ditunjang oleh model tata pameran yang modern dengan tidak terlepas dari konteks budaya yang mendukungnya.

Bangunan Sono Budoyo menggunakan tanah bekas “schauten” tanah itu merupakan hadiah dari Sri Sultan Hamengku Buwono VIII dan ditandai dengan candra sengkala “Buta Ngarsa Esyhining Lata” yang menunjukkan tahun 1865 jawa atau tahun 1934 masehi. Bentuk bangunan ruang pamer Museum Sono Budoyo dilihat dari denah menunjukkan tipologi rumah bangsawan Jawa, lengkap dengan tembok kelilingdan regol depan. Setelah memasuki regol, terdapat bagian sentral yang dikelilingi halaman. Bagian ini terdiri dari pendopo menghadap selatan dengan kolom-kolom dan soko gurunya. Arah hadap bangunan dirancang sesuai dengan pola pikir kepercayaan Jawa mengenai arah sumbu spiritual utara selatan. Bangunan yang terletak disebelah utara atau selatan adalah bangunan yang menunjang konsepsi ini. Fungsinya sebagai sarana pendidikan dan penelitian, dianggap sebagai salah satu wadah untuk proses kehidupan manusia menuju keabadian.

  1. 2. Deskripi Bangunan

Museum menghadap selatan dengan pertimbangan bahwa laut selatan mempunyai makna kosmologis sebagai tempat yang amat luas dan merupakan gelombang dan dinamika masyarakat. Masyarakat adalah tempat manusia secara individual untuk ngangsu kawruh. Luas dan dalamnya ilmu pengetahuan sering disebut dengan idiom lautan ilmu. Prinsip mencari ilmu melaut ini dalam istilah Jawa disebut ngangsu apikulan warih (mencari air dengan pikulan air). Prinsip segara sebagai lautan ilmu dan dinamika masyarakat merupakan usaha setiap pribadi mengenal dirinya sendiri dan mengenal lingkungan masyarakatnya. Konsep monoplurali antara makluk individu dan makhluk sosial serta sebagai makhluk Tuhan menyatu disini).

Museum Sono Budoyo dilengkapi dengan berbagai fasilitas, antara lain ruang kerja, ruang ceramah, ruang reparasi, perpustakaan, kantor pengurus, ruang pelayanan, dan lain-lain. Sehubungan dengan kebutuhan pengembangan fungsi Vastriani seorang arsitek Belanda lainnya, membangun perpustakaan baru dan sanggar untuk Sekolah Seni Rupa beberapa tahun kemudian.

Bangunan baru ini tetap dibuat dengan karakteristik ciri – ciri arsitektur tradisional Jawa, tidak mengubah bangunan yang sudah ada, sehingga tetap dapat menyatu dan selaras dengan unit-unit yang lama. Tatanan ruang (spatial order) dalam system pemikiran Jawa, lebih diutamakan dalam pengorganisasian fenomena dibandingkan tatanan waktu (temporal order), sehingga penyusun merasa perlu membandingkan fungsi – fungsi ruang pada rumah Jawa dengan Museum Sono Budoyo, dengan pertimbangan walaupun bangunan museum menggunakan tipologi rumah bangsawan Jawa, namun telah terjadi pergeseran konsep fungsi, dari tempat untuk aktivitas.

Mengingat bahwa ruang utama dalam suatu museum adalah ruang pamer, maka bahasan selanjutnya dibatasi pada ruang tersebut. Ruang pamer  adalah ruang yang mempertunjukkan karya seni, obyek kebudayaan ataupun untuk kepentingan ilmu pengetahuan. Ruang pamer merupakan wadah yang menampung kegiatan komunikasi antara benda yang area sirkulasi utama, mengarahkan pengunjung ke ruang utama, dimulai dari gerbang Semar Tinandu dan regol.

Pembangunan gedung Sono Budoyo dilaksanakan oleh Ir. Karsten dan pengawas serta penasehat Ir.L.J.Moens. Bangunan gedung Sono Budoyo meliputi:

  1. Dalem agung sebagai tempat persetujuan
  2. Pendopo sebagai ruang pengenalan
  3. Gondok Tangen sebagai pameran
  4. Gondok Kiwo sebagai ruang pameran

Museum Sonobudodyo berbentuk tajuk seperti bangunan masjid lama keratin Kesepuhan Cirebon, Bangunan museum berbentuk “Sinom Lambang Ginantung”.

  1. 3. Koleksi Museum Sono Budoyo I

Museum memiliki berbagai koleksi yang berasal dari berbagai unsur kebudayaan daerah Jawa, Madura, Bali, dan Lombok.Didalam ruang pamer tetap Museum Sono Budoyo terdapat beberapa ruangan meliputi :

  1. Ruang Pengenalan

Ruang ini dimaksudkan untuk memberikan gambaran umum mengenai unsur-unsur koleksi yang dipamerkan pada ruang selanjutnya.

  1. Ruang Prasejarah

Koleksi yang dipamerkan dalam ruang ini yaitui berbagai macam peninggalan yang berasal dari masa prasejarah. Misal : kapak persegi, kapak perimbas, kapak genggam, mata panah, dan tombak.

  1. Ruang Klasik dan Islam

Ruang ini memamerkan sejumlah benda yang berasal dari masa hindu atau budha dan benda yang berasal dari masa Islam. Contoh benda yang berasal dari masa klasik antara lain : guci, mangkok, cawan, dan lain-lain. Sedang benda dari masa Islam misal : Al-Quran dan replica kaligrafi huruf Jawa.(Lihat lampiran 4)

  1. Ruang Batik

Ruang ini memamerkan corak batik, baik tradisional maupun modern(Lihat lampiran 5). Bahan yang digunakan untuk membatik yaitu :

1)      Gawangan

2)      Kain dengan gambar pola

3)      Wajan yang berisi lilin/ malam dan canthing.(Lihat lampiran 6)

4)      Anglo kecil dan tepas untuk mencairkan.

  1. Ruang Wayang

Didalam ruang wayang terdapat koleksi berbagai jenis wayang dan miniature pergelaran wayang kulit  yang dipamerkan misal :

1)      Wayang Suluh

Wayang ini menceritakan tentang perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia pada masa revolusi tahun 1945-1946. Tokoh-tokohnya yaitu : Kuprak, Prajurit kraton, Polisi militer, dan kompigen.

2)      Wayang Kulit

Wayang Gedhok bersumber dari Panji pada jaman Kediri dan Majapahit, tepatnya sejak masa Srigatayu Putra Prabu jaya.

3)      Wayang Diponegoro

Wayang ini menceritakan perjuangan pangeran Diponegoro dalam mengusir VOC pada tahun 1825-1830.

4)      Wayang Sadat

Wayang ini menceritakan tentang perjuangan para wali dalam menyebarkan agama Islam di tanah Jawa.

5)      Wayang Golek Purwa

Bersumber dari Kitab Ramayana dan Mahabarata yang berasal dari tanah Pasundan Jawa Barat.

6)      Wayang Duspa

Dasar cerita dari peristiwa atau legenda sejak jaman Majapahit sampai dengan perang Diponegoro.Tokoh-tokohnya antara lain: Untung Suropati, Kapten Tack, dan Murjagkung.

  1. Ruang Topeng

Di Ruang ini memamerkan berbagai jenis topeng.Topeng ini biasanya digunakan dalam tari – tarian topeng, dimana topeng ini dapat mencerminkan peran lakon yang sedang dibawakan. Adapun contoh topeng antara lain :

1)      Topeng Ksatria

Topeng ini menggambarkan ksatria yang tampan dan gagah berani, berbudi luhur dan sebagai suri tauladan.

2)      Topeng Bidadari

Topeng ini menggambarkan putri yang cantik jelita.

3)      Topeng Raksasa

Topeng ini biasanya dibawakan oleh mahluk raksasa yang jahat dan bengis.

4)      Topeng Punokawan

Topeng ini dipakai untuk memuaskan abdi dalem pengasuh ksatria.

  1. Ruang Jawa Tengah Yogyakarta

Pada ruang Jawa Tengah Yogyakarta ini memamerkan berbagai jenis benda kesenian dan kerajinan serta gambaran kehidupan yang menjadi ciri khas daerah Jawa Tengah dan Yogyakarta.

  1. Pameran di Ruang terbuka

Terletak dihalaman depan sisi timur, di ruang ini terdappat berbagai koleksi arkeologi berupa jenis-jenis arca batu yang dipamerkan di halaman Museum Sono Budoyo.

1) Yoni

Yoni adalah phallus putri, atau lambang dari dewi Durga, dimana biasanya terletak di bagian relung candi. Yoni berpasangan dengan lingga. Lingga adalah phallus laki-laki atau lambang dari dewa Syiwa. Lingga – yoni  ini dipakai sebagai tempat berdoa mengharap keturunan , dan biasanya terletak di tengah  ruangan.

2)      Durgamahesasuramardini

Durga artinya istri Syiwa (Uma) yang dikutuk menjadi raseksi, Mahisa artinya kerbau, Syura adalah nama raksasa, sedang ardhini adalah dewi. Durgamahisasyuramardhini atau Uma di candi syiwa Prambanan adalah Rara Jonggrang yang menghadap utara.

3)      Arca Dewa Syiwa, dapat dibedakan menjadi 3 yaitu  :

a)      Syiwa Maha dewa laksananya : Ardhacandrakapala, yaitu bulan sabit dibawah tengkorak, yang terdapatkan pada mahkota; mata ketiga di dahinya disebut urna, ular naga ; cawat kulit harimau yang dinyatakan dengan lukisan kepala serta ekor harimau pada kedua pahanya; tangannya 4, masing-masing memegang camara dan trisula.

b)      Syiwa sebagai Mahaguru atau mahayogi laksananya : kamandalu dan trisula; perutnya gendut, berkumis panjang, dan berjenggot runcing. Terletak di relung selatan candi.

c)      Syiwa sebagai Mahakala, laksananya yaitu Syiwa yang berdiri di atas tahta tengkorak, memegang belati, mangkuk, memakai kalung tengkorak dan naik anjing liar atau srigala.

4) Wisnu dan Laksmi

Wisnu laksananya bertangan 4 yang masing – masing memegang gada, cakra, sangka, dan buah atau kuncup teratai. Kendaraannya adalah garuda sedang Laksmi adalah lambang bahagia.

5) Arca Dwarapala

Arca ini merupakan pengawal atau penjaga bangunan suci yang terdapat di kiri kanan jalan di depan pintu gerbang. Arca ini mempunyai ciri-ciri berambut gimbal, berujud raksasa, memegang gada dan belati, patung ini berasal dari Jawa Timur.

6) Ganesha

Ganesa adalah anak dari dewa Syiwa dengan Uma yang berkepala gajah, ditemukan pada abad ke- 8-10 M di Jawa Tengah. Dewa ini dianggap sebagai dewa ilmu paengetahuan dan dewa penyelamat dari kehancuran (lihat lampiran 7).

7) Amitabha

Penguasa batrat, budha dunia sekarang. Mudranya dhayana yaitu sikap tangan bersemedi (lihat lampiran 8).

8) Wairocana

Penguasa Zenith, mudranya darmacakra, sikap tangan memutar roda dharma.

9) Akshobhya

Penguasa timur, mudaranya bumisparca, yaitu sikap tangan memanggil bumi sebagai saksi.

10) Amoghasidhi

Penguasa utara, mudranya abhaya yaitu sikap tangannya menentramkan.

11) Hiasan Kala

Hiasan Kala merupakan pengawal bangunan suci (termasuk pada candi) yang berasal dari Jawa pada abad ke- 8-10 M sebagai hiasan diambang atas bangunan pintu candi hindu dan budha. Hiasan ini berupa hiasan binatang, tumbuh-tumbuhan yang ada di gunung Mahameru (lihat lampiran 9).

12) Ratnasamhawa

Penguasa selatan, mudranya wara yaitu sikap tangan memberi anugerah.

13) Awalokiteswara

Laksananya sebuah arca Amitabha di mahkotanya sebagai patma pani yang memegang sebatang bunga teratai  merah ditangannya.

14) Makara

Makara merupakan pengawal bangunan suci di kiri kanan undakan yang berupa perpaduan antara kekuatan darat dan kekuatan laut. Makara ini biasanya menghiasai bagian bawah kanan kiri pintu atau relung candi.(lihat lampiran 10)

15) Arca Agastya

Berasal dari Jawa tengah pada abad ke- 10-12 M, yang merupakan gambaran dewa Syiwa sebagai maha guru.

16) Arca Dewa Syiwa

Berasal dari Jawa tengah, ditemukan pada abad ke- 12 – 14 M memiliki cirri khas Jawa Timur yang berupa bunga teratai yang keluar dari pot, sebagai dewa tertinggi dalam agama hindu dan sebagai dewa perusak.

  1. i. Ruang Emas

Para peserta KKL tidak bisa masuk ruangan ini, informasi yang diperoleh dari buku panduan museum, dalam ruang ini memamerkan berbagai jenis dan ragam mata uang, wadah perhiasan, artefak, syimbol religious, senjata, dan lain-lain.

BAB III

CANDI SAMBISARI

  1. A. Lokasi Candi Sambisari

Candi Sambisari terletak  di desa Sambisari kelurahan Purwomartani kecamatan kalasan kabupaten Sleman Yogyakarta. Lebih kurang 12 km dari pusat Yogyakarta. letaknya kurang lebih 55 km dari percandian Prambanan dan kurang lebih 2,5 km kearah utara dari jalan raya Yogya – Solo.untuk mencapai lokasi candi yang terletak sekitar 12 km ke arah timur dari kota Yogyakarta disebelah utara dari jalan utama antara Yogyakarta dan Solo dapat ditempuh naik bus dengan jurusan Yogya – Solo sampai km 10 dimana terdapat papan penunjuk jalan menuju candi.

  1. B. Sejarah Penemuan Candi Sambisari

Setelah terpendam berabad-abad karena letusan gunung berapi akhirnya ditemukan Candi Sambisari. Candi Sambisari ditemukan sekitar tahun 1966 tatkala seorang petani dengan tidak sengaja membenturkan cangkulnya pada puncak candi.yang terbenam di tanah sawah. Dia sempat keheranan saat cangkulnya menyentuh benda keras berupa batu berukir yang diduga merupakan bagian dari reruntuhan sebuah candi nama petani itu adalah Karyoinangun yang pertama kali menemukan kembali sebuah komplek candi yang kemudian diberi nama Candi Sambisari sesuai nama daerah ditemukannya candi tersebut. Menindak lanjuti penemuan tersebut oleh pihak balai arkeologi Yogyakarta dilakukan penelitian dan penggalian dari hasil penggalian tersebut pada juli 1966 diperoleh kepastian bahwa daerah tersebut terdapat sebuah situs candi dan dinyatakan sebagai daerah suaka budaya. Setelah itu mulailah proses penyusunan kembali reruntuhan komplek candi yang runtuh karena goncangan dan terpendam dari material letusan gunung berapi, yang diperkirakan adalah Gunung merapi dari penelitian geologis terhdap material bantuan dan tanah yang menimbun komplek candi. Tahun 1987 pamugaran dan melakukan rekonstruksi ulang terhadap komplek candi dapat diselesaikan dengan posisi pada kedalaman 6,5 km dari permukaan tanah atau sering juga Candi Sambisari disebut candi bawah tanah. Tapi sebagian ahli arkeologi memperkirakan dulunya situs candi ada di atas permukaan tanah seperti halnya candi yang lain. Candi Sambisari merupakan candi hindu beraliran Syiwaistis dari abad  X dari keluarga Syailendra ini berada di wilayah Sleman propinsi DIY. Saat penggalian komplek Candi Sambisari ditemukan benda – benda bersejarah lainnya misalnya perhiasan, tembikar, prasasti lempengan emas. Dari penemuan tersebut didapat perkiraan bahwa Candi Sambisari dibangun tahun 812-838 M, saat pemerintahan raja Rakai Garung dari kerajaan Mataram Hindu (Mataram Kuno).

  1. C. Deskripsi Bangunan

Komplek Candi Sambisari saat ini tampak dengan empat buah bangunan candi dan dibatasi oleh tembok mengelilinginya dengan total luas 50×48 m. Pada posisi di sekeliling tanah diadakan penggalian. Pada bangunan candi utama yang terbesar dengan ketinggian 7,5 m dan berbentuk bujur sangkar yang berukuran 15,65×13,65 m pada bagian bawah candinya(lihat lampiran 11). Sedangkan badan candi berukuran 5,5 m diperkirakan komplek candi tidak hanya seluas itu. Tapi bisa lebih luas jika diadakan penggalian lebih lanjut tapi dikhawatirkan tidak dapat menyalurkan air untuk dibuang karena posisinya lebih rendah dari pada sungai yang ada disebelah baratnya. untuk masuk dalam komplek Candi Sambisari pada keempat sisi bujur sangkar dengan menuruni tangga. pintu masuk candi menghadap kearah barat untuk masuk dilengkapi dengan sayap. Di ujung sayap tangga candi menghadap kearah barat, terdapat relief makara yang disangga oleh 12 belah tangan makhluk kate. Keunikan yang lain candi ini tidak memiliki pilar penyangga sehingga bagian dasarnya sekaligus berfungsi sebagai pilar penyangga candi. Tangga naik ke selasar diapit oleh sayap tangga dan pada ujung bawahnya dihiasi makara yang kedua tangannya di sangga oleh seorang cebol dengn kedua tangannya. Pada ambang gapura tidak diketemukan hiasan di kepala kala. Pada lantai selasar terdapat batu-batu pipih dengan tonjolan di atasnya sebanyak 12 buah terdiri 8 buah berbentuk bulat dan empat buah berbentuk persegi.

Tubuh candi berukuran 5 x 5 meter dengan ketinggian 2,5 meter lebar selasar 2,5 meter mengelilingi tubuh candi. Pada bagian luar dinding candi terdapat relung – relung yang di atasnya terdapat hiasan kepala kala sebanyak 4 buah,yaitu:

  1. Sisi Candi Sebelah Utara

Di dalam relung terdapat patung Mahisasuramardhini di bawah naungan Mahakala. Patung itu bertangan delapan dengan maksud sedang membunuh raksasa yang sedang merusak kayangan, tangan kanan memegang trisula, pedang cakra dan panah, tangan kiri atas tidak memegang apa- apa, tangan kiri memegang perasu. Sebelah kiri bawah terdapat raksasa kecil berdiri tegak diatas lembu mahesa.

  1. Sisi Candi Sebelah Timur

Di dalam relungan terdapat patung ganesha dibawah naungan bertangan empat, kiri bawah memegang mangkok, dan belalainya masuk kedalam mangkok melambangkan bahwa belajar itu tiada habisnya. Tangan kiri atas memegang perasu, tangan kanan atas memegang samara dan tangan kanan bawah memegang aksamala.

  1. Sisi Candi Sebelah Selatan

Di dalam relungan terdapat patung syiwa maharesi yang berdiri tegak dengan tangan kiri memegang kamandalu dan tangan kanan memegang aksamala dan trisula.

  1. Sisi Candi sebelah Barat

Bagian barat terdapat dua relung untuk penjaga yaitu mahakala dan nandisywara, kedua patung ini telah hilang dicuri oleh orang. Di dalam bilik candi induk terdapat sebuah yoni yang berukuran 1,34 mx1,18 m. Didalam perigi tidak ada benda kecuali tanah biasa.didepan candi induk terdapat tiga buah candi perwara. Perwara ini tidak mempunyai tubuh dan atap yang ada hanya kaki, diatasnya terdapat pagar langka.

Seni bangunan Candi Sambisari ini secara keseluruhan dapat digambarkan, sebagai berikut :

a)      Pintu masuk candi menghadap ke arah barat. Tangga untuk masuk dilengkapi dengan sayap. Diujung sayap tangga terdapat relief Makara   yang disangga oleh dua belah tangan makhluk. Keunikan yang lain,     candi ini tidak memiliki pilar penyangga sehingga bagian dasarnya sekaligus berfungsi sebagai pilar penyangga candi. Di bagian ini terdapat selasar yang mengelilingi badan candi dan memiliki 12 anak         tangga (lihat lampiran 12).

b)      Pada bagian luar badan candi terdapat relung – relung untuk menaruh          patung. Yang masih ada kini adalah patung Durga di sebelah utara,     patung Ganesha di sisi timur, dan patung Agastya di bagian selatan.             Dua relung lain yang ada di kanan dan kiri pintu untuk patung dewa             penjaga pintu, yaitu Mahakala dan Nadiswara. Tetapi kedua patung itu       sudah tidak ada ditempatnya lagi, sedangkan pada bilik di dalam       badan candi terdapat Yoni dan Lingga yang berukuran besar.

c)      Di depan candi terdapat 3 buah candi perwara atau candi pendamping.       Ukuran dasarnya 4,8 m x 4,8 m, tinggi 5 m. Namun, candi-candi          perwara itu belum dipugar sempurna. Sedangkan disekitar candi             terdapat pagar tembok batu putih berukuran 50 m x 48 m. Saat ini   saluran pembuangan air telah selesai dibangun, sehingga selama       musim hujan candi tidak terendam air.

BAB IV

CANDI   PLAOSAN

  1. A. Lokasi Candi Plaosan

Candi Plaosan terletak dilokasi dukuh Plaosan, desa Bugisan, kecamatan Prambanan, kabupaten Klaten, Jawa tengah. Dari   candi sewu kearah timur kurang lebih 1 km, dan dari candi Prambanan kearah utara kurang lebih 1 km juga.

Secaran geografis Candi Plaosan terletak pada titik ordinat 7° 44’32 lintang selatan dan 110°30’11,07 bujur timur. Dengan batas wilayah sebagai berikut  :

Sebelah utara         : Desa Kokosan.

Sebelah selatan      : Desa Tlogo.

Sebelah barat         : Daerah Istimewa Yogyakarta

Sebelah timur        : Desa Kemudo.

Candi Plaosan merupakan sebuah kompleks bangunan kuno yang terbagi menjadi dua kompleks yaitu : kompleks Candi Plaosan  Lor dan kompleks Candi Plaosan Kidul. Keduanya dipisah oleh jalan raya dan sawah (kota Yogyakarta.wordpress.com, 14 Mei 2010, 1-3).

  1. B. Deskripsi Bangunan

Candi Plaosan  ini sering disebut candi kembar karena bila dilihat dari jauh ada dua candi induk yang berdiri berdekatan. Dan memang Candi Plaosan  ini terbagi menjadi dua, yaitu Candi Plaosan Lor dan Candi Plaosan Kidul. Kedua kompleks candi tersebut dipisahkan oleh jalan raya  dan persawahan milik penduduk. Di sekitar candi ada tembok yang mengelilingi candi dari utara ke selatan sepanjang 460 m, dari barat ke timur 290 m, di dalam pagar masih ada parit dengan ukuran dari utara ke selatan sepanjang 440 m dan dari barat ke timur sepanjang 270 m, bisa di lihat dengan berjalan ke arah timur lewat sisi tengah bangunan.

  1. Candi Plaosan Kidul

Merupakan satu kelompok candi yang terdiri dari satu candi induk tetapi sekarang sudah runtuh, candi ini dikelilingi 18 candi dan 69 stupa yang sebagian besar  sudah rusak dan ada yang terpendam tanah. Di tengah kompleks candi ini terdapat altar yang diduga sebagai pendopo  yang dikelilingi 8 candi yang dibagi dalam 2 tingkat   dan tiap tingkat terdiri 4 candi. Di situ juga ada gambaran Tathagata Amitbha, Vajrapani dengan atribut vajra pada utpala serta Prajnaparamita yang dianggap sebagai “ibu dari semua Buddha”(lihat lampiran 13).

  1. Candi Plaosan Lor

Candi Plaosan Lor memiliki halaman tengah yang di kelilingi oleh tembok  dengan pintu masuk di sebelah barat, yang di jaga oleh sepasang patung Dwarapala yang saling berhadapan. Masing – masing patung berada dalam posisi duduk di atas kaki kanannya terlipat  dan kaki kirinya di tekuk di depan tubuhnya. Tangan kanan memegang gada, sedang tangan kirinya  di atas lutut kirinya. Pada bagian tengah halaman terdapat pendopo berukuran 21,62 m x 19 m. Pada bagian timur pendopo terdapat 3 buah altar, yaitu  altar utara, altar timur dan altar selatan. Gambaran Amitbha, Ratnasambhava, Vairochana, dan Aksobya terdapat di altar timur. Stupa Samantabadhara dan figur Ksitigarbha ada di altar utara, sementara gambaran Manjusri terdapat di altar selatan (lihat lampiran 14).

Candi Plaosan Lor terdiri  dari 2 buah candi induk, 58 buah candi perwara dan 126 buah stupa. Kedua candi dipisah oleh tembok yang di pugar tahun   1948. Kedua candi induk di kelilingi tembok yang berukuran 87,5 m x147,5 m. Dihalaman antara tembok pertama dan kedua berdiri 58 buah candi perwara dan 126 stupa yang diletakan dalam tiga baris mengelilingi candi induk, baris pertama deretan candi perwara, baris kedua dan ketiga deretan stupa. Tetapi sebagian besar sudah roboh tinggal beberapa yang masih berdiri. Yang lebih menarik diantara deretan stupa dan perwara itu  ada stupa besar setinggi 7 m. Stupa – stupa di Candi Plaosan  berbentuk genta yang bagian bawahnya  lebih kecil dari bagian  atasnya, dan landasannya berbentuk bunga teratai. Bahan yang dipakai  perpaduan batu kapur dan batu andesit (Y.Supriyadi, 2004 : 65).

Di pelataran utara terdapat teras batu berbentuk persegi yang dikelilingi oleh deretan umpak batu. Diperkirakan teras batu tersebut untuk meletakkan sesajian. Konon diatas teras tersebut ada bangunan dari kayu dan diatas umpak masing – masing terdapat arca Dhyani Buddha. Di setiap sudut candi perwara ada candi kecil yang dikelilingi dua barisan umpak yang diselingi dengan sebuah candi kecil lagi di setiap sudutnya. Di sisi barat pagar batu yang mengelingi masing – masing bangunan utama terdapat gerbang paduraksa dengan atap yang dihiasi deretan mahkota kecil – kecil. Puncak atap gapura berbentuk persegi dengan mahkota kecil diatasnya.

Masing – masing bangunan candi utama  berdiri di atas kaki  setinggi 60 cm tanpa selasar yang mengelilingi tubuhnya. Tangga yang menuju pintu dilengkapi dengan pipi tangga yang dihias dengan kepala naga dipangkalnya. Bingkai pintu dihias motif bunga kecil -kecil dan sulur – suluran. Di atas ambang pintu dihiasi kepala kala tanpa rahang bawah yang berbentuk segitiga bersusun  keatas semakin mengecil.

Sepanjang dinding luar tubuh kedua candi utama dihiasi relief yang menggambarkan  laki-laki dan perempuan yang berdiri dalam ukuran yang mendekati ukuran manusia sesungguhnya. Relief candi bagian selatan menggambarkan laki – laki, sedang pada dinding  candi bagian utara menggambarkan perempuan.

Bagian dalam kedua candi utama terbagi menjadi enam ruang, tiga ruang di bawah, tiga ruang diatas yang disekat dengan lantai papan. Sekarang lantai papannya sudah tidak ada lagi begitu juga dengan tangga yang menghubungkan ruang bawah dan ruang atas. Yang ada tinggal tempat memasang papan saja.

Ditiap ruang bawah candi induk terdapat 3 buah arca Buddha dan  Dhyani Buddha  yaitu Boddhisatwa, Awalokhitiswara, dan Maitreya. Berderet duduk diatas padmasana menghadap ke barat, tetapi arca yang di tengah sudah raib dan yang masih adapun sudah tidak utuh lagi. Di dinding kiri dan kanan ruangan terdapat relung yang mestinya ada arca tapi sekarang kosong. Relung tersebut di apit relief Kuwera dan Hariti. Juga ada relief yang menggambarkan bangswan yang pergi kehutan pada dinding dekat patung Buddha. Keistimewaanya pada puncak patung merupakan permata dengan prabha dikelilingi lidah api (Y.Supriyadi, 2004 : 63-64).

  1. C. Latar Belakang Keagamaan

Dalam konsep agama Buddha maupun Hindu terdapat  gambaran bahwa alam semesta  ini sebagai makrokosmos dan alam yang ditempati oleh sekelompok orang atau masyarakat sebagai mikrokosmos. Dan dalam kehidupan manusia harus ada keseimbangan antara keduanya. Jagad raya digambarkan sebagai lingkaran atau cincin yang terdiri atas wilayah -wilayah yang tersusun sedemikian rupa yang berpusat di gunung Meru (makrokosmos). Jagad kecil (mikrokosmos) juga harus memiliki representasi gunung Meru sebagai pusatnya. Gunung Meru sebagai pusat mikrokosmos tidak harus berupa gunung yang sesungguhnya, tetapi dapat diwujudkan dalam bentuk candi  yang melambangkan gunung Meru dan tempat tinggal para dewa(sthana).

Konsep candi sebagai tempat tinggal para dewa maka di candi dewa direpresentasikan dalam bentuk arca – arca dewa ornamen – ornamen yang menggambarkan mahkluk kahyangan dan bagian – bagian bangunan secara keseluruhan  menyimbolkan  triloka (bhurlkoka, bhuvarloka, dan svarloka) dan menyimbolkan tridhatu (kamadhatu, rupadhatu, dan arupadhatu).

Jadi latar belakang Candi Plaosan sebagai candi Buddha bisa di lihat dari bangunannya yang menghadap kebarat, ditemukannya arca – arca Buddha, bentuk stupa dan ratna. Stupa merupakan symbol dan identitas agama Buddha. Candi Plaosan bergaya Buddha Mahayana gaya syailendra. Terlihat dari bangunan candi yang megah dan mewah dihias pahatan dan relief – relief yang  halus dan indah.

Candi ini sering digunakan untuk tempat upacara keagamaan, seperti hari waisak. Biasanya upacara  dimulai dari Candi Plaosan Kidul kemudian dilanjutkan di Candi Plaosan Lor sebagai pusat dan puncak upacara keagamaan (http://www.purbakala-jawatengah.go.id/detailberita.php, 20 Mei 2010, 1-2).

  1. D. Pembangunan Candi

Keberadaan Candi Plaosan dalam sejarah Mataram kuno dapat dilacak melalui prasasti – prasasti pendek yang tertulis pada candi perwara dan stupa yang mengelilingi candi induk. Dan prasasti-prasasti lain yang berlatar belakang agama Buddha maupun prasasti lain yang sejaman. Prasasti pendek Candi Plaosan Lor meski tak berangka tahun, tapi secara kronologi dapat diketahui berdasar bentuk dan perkembagan huruf dan nama yang disebut dalam prasasti itu. Di antara nama yang disebut dalam prasasti – prasasti pendek yang berjumlah lebih dari 30 buah itu terdapat nama- nama antara lain : “sung watuhumalang pu tguh, sang sirikan pu suttyya, rakai gurunwangi dyah saladu, rakai gurunwangi dyah ranu, dan sri maharaja rakai pikatan yang berdekatan dengan frasa  dharma sri maharaja”. Yang artinya kurang lebih pemberian hadiah Sri Maharaja Rakai Pikatan (id:Wikipedia.org/wiki/candi-plaosan, 20 Mei 2010, 4).

Nama Rakai Pikatan berada dalam urutan ke enam dalam daftar raja – raja Mataram Kuno yang disebut dalam prasasti Mantyasih 907 M dan memerintah sekitar 847-856 M. Nama ini juga dikenal sebagai pendiri candi Roro Jonggrang prambanan, setelah memasuki kehidupan  sebagai Cakrawatin atau Jatiningrat. Ia menyerahkan tahtanya langsung kepada penggantinya yaitu Dyah Lokapala.

Dalam prasasti Kayumwungan 824 M juga menyebut nama  Samarattungga atau Samara Gravin dan putranya  Pramodhawardani, dan Walaputra. Dalam prasasti Magelang 842 M juga menyebut nama Sri Kahulunan. Prasasti lain yang punya ciri sama dengan prasasti pendek Candi Plaosan Lor, yaitu  prasasti Kalasan 778 M,dan prasasti Kelurak 778 M.

Prasasti – prasasti itu menggunakan huruf  Sidham dan bahasa Sansekerta. Berdasar prasasti – prasasti diatas maka rekontruksi sejarah berdirinya Candi Plaosan dapat disusun sebagai berikut :

Pada masa antara 750 – 850 M Jawa Tengah dikuasai oleh dua pemerintahan dari dua dynasty yaitu dynasty Sanjaya yang beragama Hindu berkuasa di Jawa Tengah bagian utara dan dynasty  Sailendra yang beragama Buddha berkuasa di Jawa Tengah bagian selatan. Pada masa itu banyak didirikan candi.

Setelah Sri Maharaja Rakai Pikatan dari dynasty Sanjaya naik tahta, Ia bercita – cita untuk menyatukan seluruh Jawa Tengah dalam kekuasaannya. Maka Ia mengadakan perkawinan politik dengan menikahi Pramodhawardani putri kerajaan Syailendra. Tapi sayang tahta kerajaan yang menjadi hak Pramodhawardani telah diserahkan kepada Balaputradewa. Maka Rakai Pikatan mendesak Pramodhawardani untuk menarik kembali tahtanya. Balaputradewa menolak permintaan kakaknya sehingga timbul perang saudara yang dimenangkan oleh Rakai Pikatan. Balaputradewa lari kebukit Ratu Boko sebelum akhirnya kembali ke Sriwijaya dan menjadi raja di sana.

Jadi Candi Plaosan dibangun pada masa pemerintahan Rakai Pikatan yang beragama Hindu sebagai hadiah kepada istrinya Pramodhawardani yang beragama Buddha dan berkedudukan lebih tinggi. Candi ini  diperkirakan dibangun sekitar abad IX.

Candi ini ditemukan abad XIX dalam keadaan rusak parah. Diduga akibat letusan gunung Merapi yang laharnya merusak dan menimbun beberapa candi di Jawa Tengah termasuk Candi Plaosan. Berapa candi berhasil dipugar dan sampai sekarang masih terus berlangsung.

Pembangunan candi berawal dari ide dan gagasan raja. Raja menjelaskan apa yang diinginkan  kepada Brahmana atau bikhsu tentang bentuk bangunan, arsitektur, seni hias, patung dan atribut candi lainnya. Dari gambaran itu para Brahmana atau Bikhsu mulai memikirkan bentuk candi, letak dan tempat yang disucikan, cara membangunnya, kapan waktu terbaik mendirikan candi dan perlukah dilengkapi dengan prasasti.

Kemudian pemimpin agama kerajaan mengumpulkan para pemuka bengkel batu untuk diminta membantu mewujudkan bangunan suci tersebut, dengan kesadaran bahwa raja sebagai wakil penguasa alam semesta. Maka tugas dilaksanakan sebaik-baiknya. Bengkel dari timur menyiapkan candi bagian timur, bengkel dari selatan menyiapkan candi bagian selatan,  bengkel dari barat menyiapkan candi bagian barat begitu pula bengkel batu dari barat menyiapkan candi bagian barat.

Setelah semua bagian candi siap, pemimpin agama kerajaan yang bertindak sebagai konsultan dan penilai hasil karya seni budaya, menyiapan tempat suci  dan hari baik untuk mendirikan candi.

Rakyat bergotong – royong mengangkut batu-batu candi, menyiapkan konsumsi, mengangkut tanah dan air. Mereka bekerja secara tertib dan tak merasa dirugikan karena didasari semangat kerohanian dan pengabdian kepada raja dan penguasa alam semesta.

Pembangunan candi mengikuti tuntunan silpasastra dan dikerjakan dengan cara susun timbun. Rakyat sangat bersyukur bila berhasil  menyelesaikan pembangunan candi, karena karyanya bukan hanya untuk sang raja, tetapi juga sebagai persembahan untuk Sang pencipta. Bentuk dan gaya seni bangunan candi tergantung pada agama, teknologi serta tingkat kesejahteraan masyarakat  pada masa itu.

BAB V

SITUS RATU BOKO

  1. Lokasi Situs Ratu Boko

Lokasi Keraton Ratu Boko dapat dicapai dari Yogyakarta melalui jalan raya Yogyakarta-Solo, kurang lebih pada Km 17 atau pertigaan Prambanan berbelok ke kanan sejauh  3 Km. Kompleks Situs Istana atau Keraton Ratu Boko berada di puncak bukit dengan ketinggian sekitar 196 meter atau tepatnya 195, 97 meter di atas permukaan laut menempati areal seluas 250.000 m2. Keraton Ratu Boko terletak di Bukit Boko, sekitar 19 kilometer ke arah timur dari kota Yogyakarta (menuju ke arah Wonosari), dari arah barat kota Solo sekitar 50 kilometer dan sekitar 3 kilometer dari Candi Prambanan ke arah selatan.

Kompleks Ratu Boko memiliki keunikan dan daya tarik tersendiri. Karena lokasinya berada di dataran tinggi, maka dari sini terlihat pemandangan yang memukau. Di arah utara Candi Prambanan dan Candi Kalasan dengan latar belakang pemandangan Gunung Merapi dengan suasana pedesaan dengan sawah menghijau di sekelilingnya. Selain itu, arah selatan, bila cuaca cerah, di kejauhan samar – samar dapat terlihat Pantai Selatan.

Keraton Ratu Boko hingga sekarang masih menjadi misteri yang belum dapat dijelaskan kapan dan oleh siapa nama tersebut diberikan. Kata Keraton berasal dari kata Ke-Ratu-an yang artinya istana atau tempat tinggal ratu atau berarti juga raja, sedangkan Boko berarti bangau (burung). Hal ini masih menjadi pertanyaan siapa sebenarnya Raja Bangau tersebut, apakah penguasa pada zaman itu atau nama burung dalam arti Ratoe Boko.

Istana Ratu Boko memiliki keunikan dibanding peninggalan sejarah lainnya. Jika bangunan lain umumnya berupa candi atau kuil, maka sesuai namanya, istana atau keraton ini menunjukkan ciri – ciri sebagai tempat tinggal. Hal itu terlihat dari adanya sisa bangunan di kompleks ini berupa tiang – tiang pemancang meski kini hanya tinggal batur – batur dari batu andesit, mengindikasikan bahwa dahulu terdapat bangunan yang berdiri di atasnya terbuat dari bahan kayu. Selain itu terdapat pula tanah ngarai yang luas dan subur di sebelah selatan untuk daerah pertanian dan di Bukit Boko terdapat kolam-kolam sebagai tandon penampung air yang berukuran kecil hingga besar (http://candidiy.tripad.com/boko.htm, 11 Mei 2010, 1 – 4).

  1. Latar Belakang Sejarah Kraton Ratu Boko

Sebuah prasasti kuno yang dibuat oleh Rakai Panangkaran pada tahun 746-784 Masehi mengatakan bahwa pada awalnya bangunan yang ada di kawasan Wisata Kraton Ratu Boko disebut Abhayagiri Wihara. Abhaya berarti tidak ada bahaya sedangkan Giri berarti bukit atau gunung. Wihara mempunyai arti asrama atau tempat. Dengan demikian Abhayagiri Wihara berarti asrama atau wihara para biksu agama Buddha yang terletak di atas bukit dengan penuh    kedamaian.
Prasasti Abhayagiri Wihara yang berangka tahun 792 M merupakan bukti tertulis yang ditemukan di situs Ratu Boko.Dalam prasasti ini antara lain menyebut seorang tokoh bernama Tejahpurnapane Panamkarono. Nama tokoh ini kemungkinan sama dengan Rakai Panangkaran yang disebut dalam prasasti Kalasan 779 M, Prasasti Mantyasih 907 M dan Prasasti Wanna Tengah III 908 M. Apabila dugaaan ini benar, maka Rakai Panangkaran adalah seorang Raja dan Syailendra yang terbesar dan paling lama memerintah. Rakai Panangkaran mengundurkan diri sebagai Raja karena menginginkan ketenangan rohani dan memusatkan pikiran pada masalah keagamaan, salah satunya dengan mendirikan wihara yang bernama Abhayagiri Wihara pada tahun 792 M. Hasil karya Rakai Panangkaran pada masa pemerintahannya adalah membangun candi Borobudur, Candi Sewu dan Candi Kalasan. Rakai Panangkaran menganut agama Buddha demikian juga bangunan tersebut disebut Abhayagiri Wihara adalah berlatar belakang agama Buddha, sebagai buktinya adalah : adanya Arca Dyani Buddha. Namun demikian ditemukan pula unsur – unsur agama Hindu di situs Ratu Boko, seperti adanya arca durga, lingga dan yoni.

Prasasti penting lainnya adalah Prasasti Siwagrha yang di buat pada Tahun 856 M, dimana dalam prasasti Siwagrha disebutkan tentang adanya seorang raja yang mengundurkan diri dan menyerahkan tahtakepada anaknya yaitu Rakai Kayuwangi Dyah Lokapala.

Dan prasasti Mantyasih 907 M menyebutkan bahwa raja yang berkuasa sebelum Rakai Kayuwangi adalah Rakai Pikatan yang merupakan seorang penganut agama Hindhu yang berhasil mempersatukan 2 kerajaan yang pernah berkuasa di Jawa Tengah melalui sebuah “Perkawainan Politik”.

Rakai Pikatan dari Dinasti Sanjaya kawin dengan Pramudawardani anak Samaratungga, Raja terakhir dari Dinasti Syailendra yang beragama Buddha. Setelah menjadi satu – satunya Raja di Jawa Tengah, iapun lalu membangun Candi Prambanan yang diresmikan pada tahun 856 M. Peresmian ini diperingati dalam prassasti Siwagrha seperti tersebut di atas, dan oleh karena itu Situs Ratu Bofko merupakan perpaduan antara adanya pengaruh

agama Buddha dan Hindhu.

Benda – benda peninggalan yang ada di lokasi Situs ini mempunyai kekhususan dan keunikan tersendiri sehingga menimbulkan perbedaaan dari benda – benda arkheologi di masa yang sama. Tidak diketahui secara pasti dari mana asal nama Ratu Boko, namun menurut cerita tutur dari masyarakat setempat, nama itu diberikan berdasarkan cerita legenda “Ratu Boko”,  ayah dari Roro Jonggrang.

Pada tahun 1989 – 1990, P. Subroto dalam risetnya menyimpulkan bahwa terdapat beberapa kemiripan antara komponen – komponen yang ada di Situs Ratu Boko dengan beberapa istana kuno di India. Namun apa fungsinya, tidak diketahui secara pasti hingga kini. Apakah bangunan tesebut merupakan sebuah taman kerajaan, istana raja, benteng pertahanan ataukah sebuah biara? Hingga kini masih merupakan misteri.

  1. Kompleks Bangunan


1. Kelompok Pertama :

Berbentuk 3 buah gapura yang saling berdekatan satu sama lain, berdiri dari arah utara ke selatan. Gapura yang di tengah adalah yang terbesar dan merupakan gapura utama, diapit oleh 2 buah gapura lainnya yang disebut gapura apit (lihat lampiran 15).

2. Kelompok kedua :

Berbentuk 5 buah gapura. 4 buah gapura kecil mengapit sebuah gapura yang paling besar, yang disebut Gapura Utama Kedua (lihat lampiran 16).

3. Candi kapur ( Temple of  limestone)

Berbentuk sebuah pondasi dengan ukuran 5 x 5 meter persegi, terbuat dari Limestone. Pondasi ini terletak di sebelah timur Laut, sekitar 45 meter dari Gapura Utama Pertama.

4. Candi Pembakaran ( Temple Of Incineration )

Terletak di sebelah Timur Laut, sekitar 37 meter dari Gapura Utama Kedua. Bangunan ini mempunyai panjang 26 meter, lebar sekitar 26 meter dengan ketinggian 3 meter dan terbuat dari batu kali. Di lokasi ini di temukan juga sebuah sumur berukuran 4 x 4 meter persegi di tengah – tengah teras kedua dengan sebuah anak tangga di sisi barat. Sebuah kolam dengan panjang 2 meter dan lebar 1 meter juga di temukan di sebelah tenggara dari sumur tersebut (lihat lampiran 17).

5. Kelompok Paseban

Bentuk bangunan lain yang dapat ditemukan adalah bentuk lantai yang menghampar dari utara ke selatan. Puing – puing dari Gapura, pagar tembok dan slope juga ditemukan di tempai ini. Terdiri dari pendopo dan istana pemandian.

6.  Kelompok Pendopo

Pondasi berukuran panjang 20 meter, lebar 20 meter dan tinggi 1,25 meter. Terletak di bagian sisi utara (lihat lampiran 18).

7. Pondasi Pringgitan

Batuan panjang 20 meter, lebar 6 meter dan tinggi 1,25 meter. Terletak di sebelah Selatan. Dua bangunan pondasi tersebut dikelilingi oleh pagar sepanjang 40 meter, lebar 36 meter dan tinggi 3 meter ( with decorations having the shape of buds above it). Pagar tersebut mempunyai atap, disisi utara, selatan dan barat. 3 anak tangga di buat untuk naik ke pondasi tersebut.

8. Pondasi Bangunan Publik

Terletak di sisi luar pagar, sekitar 1,5 meter kearah timur. Berukuran panjang 38 meter, lebar 7 meter dan tinggi 1.5 meter dari arah Utara ke Selatan. Terdapat 4 tangga di sisi Barat (20 pedestals are found on its floor). Terdapat juga 4 grooves yang mungkin digunakan sebagai tembok partisi.

9. Candi – candi Kecil

Terletak di sebelah Tenggara dari Pendopo dan di apit oleh 2 buah candi apit. Yang ditengah adalah Candi terbesar dan utama

10. Keputren

Terdiri dari sebuah kolam berbentuk persegi panjang dengan ukuran 31 x 8 meter, di kelilingi oleh pagar dengan 2 buah gapura di sisi Barat Daya dan Timur Laut. Lantai dasar dari bangunan tersebut bebentuk bujur sangkar dengan ukuran 20 x 20 meter dan terdapat ( 28 pedestals) di lantainya.

11. Gua

Di situs ini terdapat beberapa gua terletak di sebelah selatan dari lereng perbukitan batu. Gua yang berada di bagian atas oleh masyarakat setempat di kenal dengan sebutan Gua Lanang, sedang gua yang dibawahnya disebut Gua Wadon.

Untuk menuju ke masing – masing gua dihubungkan oleh sebuah tangga yang langsung dipahatkan pada sebuah tebing. Di depan Gua Lanang terdapat sebuah kolam berbentuk segiempat.

BAB VI

CANDI KALASAN

  1. A. Letak dan Lokasi

Candi Kalasan atau disebut juga Candi Tara. Candi Kalasan ini terletak 50 meter di sebelah selatan Jalan Yogya – Solo. Letak Candi Kalasan ini tepatnya berada di Kalibenning, Desa Tirtomartini, Kecamatan Kalasan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Candi Kalasan ini dikategorikan sebagai Candi umat Budha. Candi Kalasan ini dahulu sangat indah, tetapi sekarang sudah rusak dan belum dibangun kembali. Candi ini hanya terdapat di komplek perumahan para warga sekitar di Desa Kalasan. Di sekitar candi ini hanya terdapat rumah warga yang menjadi latar dari candi ini. Candi Kalasan merupakan candi yang megah, hal ini terlihat dari bangunannya. Di sebelah utara  Candi Kalasan terdapat pohon beringin yang sangat besar dan diperkirakan sudah berumur ratusan tahun(lihat lampiran 19).

  1. B. Latar Belakang Sejarah

Candi Kalasan ini didirikan oleh Rakai Panangkarana dari Wangsa Sanjaya yang menganut agama Hindhu, atas bujukan guru – gurunya dari Wangsa Syailendra yang menganut agama Budha.

Candi Kalasan dibangun sebagai penghargaan atas perkawinan antara Raja Pancapana dari Dinasti Sanjaya dan permaisuri dari Dinasti Syailendra, Dyah Pramodawardhani. Candi Kalasan merupakan peninggalan Budha yang tertua di daerah Yogyakarta dan Jawa.

Candi Kalasan dibangun sekitar abad ke- 8 atau awal abad ke-9 Masehi. Pembangunan candi dapat diketahui dari prasasti Candi tahun 700 saka atau 778 masehi berhuruf Panagari dan huruf Sansekerta yang menyebutkan bahwa pendiri candi ini bermula dari usulan para guru Sang Raja yang kemudian berhasil membujuk Raja Tejahpurana Panangkarana (Kariyana Panangkara). Mustika keluarga Syailendra (Syailendra Wangsatikala), untuk membangun sebuah bangunan suci bagi Dewa Tara dan sebuah biara bagi para pendeta. Kemudian raja menghadiahkan  Desa Kalasan kepada para biara dan tahun 778 masehi dianggap sebagai tahun pembuatan Candi Kalasan (Y. Supriyadi, 2004).

Tejapurnapana Panangkarana adalah Rakai Panangkarana, pengganti Sanjaya dan ini terbukti dari prasasti raja Balitung pada tahun 907. Prasasti ini memuat daftar lengkap yang mendahului Balitung.

Pemerintahan Sanjaya berlangsung terus di samping pemerintahan Syailendra. Keluarga Sanjaya beragama Hindhu dan memuja Sywa,sedangkan keluarga Syailendra beragama Budha aliran Mahayana yang sudah condong kepada Tantrayana. Menilik kenyataan, candi-candi dari abad ke 8 dan 9 yang ada di Jawa Tengah utara bersifat Hindhu, sedangkan yang ada di Jawa Tengah selatan bersifat Budha, maka daerah kekuasaan Sanjaya ialah bagian utara Jawa Tengah dan daerah kekuasaan Syailendra adalah Selatan Jawa Tengah.

Pada pertengahan abad ke-9 M, kedua wangsa ini bersatu dengan perkawinan Rakai Pikatan dengan Pramudawardhani, raja putri dari keluarga Syailendra.

  1. C. Latar Belakang Keagamaan

Candi Kalasan merupakan kuil Budha. Candi Kalasan erat kaitannya dengan Candi Sari atau disebut juga Candi Bendah yang letaknya tidak jauh dari Candi Kalasan. Hal ini berkaitan erat dengan upacara keagamaan umat Budha yaitu Waisyak.

Umat Budha berkumpul di Candi Sari. Mereka akan mengawali upacara waisak. Kemudian para umat Budha akan berprosesi/berarakan menuju Candi Kalasan. Setelah sampai di Candi Kalasan para umat Budha akan melanjutkan upacara waisak tersebut.

Candi Sari adalah candi untuk menyimpan kekayaan. Selain itu menurut perkiraan candi ini sebagai tempat tinggal para pendeta pada jaman dahulu (lihat lampiran 20).

Perlengkapan untuk upacara waisak umat Budha juga disimpan di Candi Sari. Perlengkapan itu misalnya air suci, stupa, wajra, tasbih, dan jubah.Kekayaan itu tersimpan di ruang atas Candi Sari.

  1. D. Deskripsi Bangunan

Bangunan Candi Kalasan mempunyai tinggi 34 meter, panjang dan lebar 45 meter. Bangunan ini terdiri dari 3 bagian yaitu bagian bawah atau kaki candi, tubuh candi dan atap candi. Bagian – bagian tersebut meliputi :

  1. Bagian bawah atau kaki candi

Candi ini terdiri di atas soubasemen yang luasnya 14,20 meter persegi dan merupakan dasar bagi kaki candi. Tapi sekarang sebagian sudah rusak dan bagian lainnya tertimbun tanah, yakni karena tanah disekitar makin lama makin menjadi tinggi. Di atas soubasemen melingkari candi ada gang lebarnya 4,6 meter yang pada waktu dulu berupa seperti gang – gang yang melingkari candi pada umumnya. Dari bawah ada empat tangga batu menuju gang dan dengan melalui pintu gerbang masing-masing tangga dari gang menuju ke 4 kamar. Terdapat tangga masuk yang dihiasi dengan makara di bagian ujung tangga. Di sekeliling candi terdapat hiasan sulur – suluran yang keluar dari sebuah pot bunga atau jambangan.

  1. Tubuh candi

Tubuh candi berbentuk bujur sangkar dengan beberapa penampilan yang menjorok keluar di tengah sisinya, dihiasi sangat indah pada tiap tiga sisinya terdapat pintu masuk ke kamar berukuran 3,5 meter persegi. Pada sisi keempat yang letaknya menghadap ke timur, terdapat pintu masuk ke kamar terbesar dan letaknya di tengah – tengah bangunan. Di depan pintu masuk sebelah timur, terdapat dua patung raksasa duduk memegang alat pemukul dan ular. Di dalam kamar tengah yang besar ini dahulu terdapat patung Dewi Tara.

Di dinding sebelah selatan, di kanan kiri jalan masuk yang dihiasi dengan sangat indah dua kamar-kamaran yang memuat gambar Bodhysatwa. Dalam kamar-kamar ini di dinding – dinding sisi tidak terdapat sesuatu, barangkali dahulu berdiri patung Bodhysatwa, karena sekarang tinggal terlihat landasannya saja.

Pada bagian tenggara terdapat bilik yang dapat dimasuki melalui bilik penampil sisi timur. Di dalam bilik tersebut terdapat singgasana bersandaran yang dihiasi pola singa yang berdiri di atas punggung seekor gajah. Pada bagian luar tubuh candi terdapat relung yang dihiasi figur tokoh dewa dalam posisi berdiri dengan memegang bunga teratai.

  1. Atap candi

Di atas badan candi terdapat atap candi yang pada puncaknya terdapat suatu dagop atau stupa seperti juga terdapat di puncak candi Borobudur.

Batas antara atap dan tubuh candi terdapat hiasan makhluk kahyangan yang berbadan kerdil disebut gana.

Atap candi bertingkat tiga, satu dengan lainnya berbeda. Di bawah sendiri dari badan candi dipisahkan oleh suatu kaki atap yang dihiasi pada sisi luarnya. Atap yang bawah sendiri bentuknya masih bentuk badan candi, ialah bentuk persegi 20 dan dihias pada sisi – sisinya dengan kamar-kamar ujung dulu berisi tiga buah. Atap tingkat dua berbentuk persegi delapan dan tiap sisinya mempunyai kamar – kamaran yang berisi Dhiyanibuddha dan di kanan kiri kamar – kamaran terdapat gambar Bodhysatwa yang berdiri. Di kamar – kamar tersebut masih terdapat satu patung Dhiyanibuddha. Atap tingkat tiga mempunyai delapan kamar-kamaran yang juga berisi patung Dhiyanibuddha dan sekarang tinggal sebuah.

Denah Candi Kalasan berbentuk silang Yunani dengan ruang-runag dalam bersegi empat. Di atasnya semula terdapat sejenis stupa dihiasi pahatan-pahatan dan plester yang hingga kini masih tampak sisi-sisinya (R.Soekmono, 1981).

Lengkung – lengkung kala makara, penyungkup sebuah relung dengan hiasan kayangan di atasnya, dipahat sangat indahnya di Candi Kalasan itu. Di bagian jengger terdapat hiasan kuncup-kuncup bunga, daun-daunan dan sulur-suluran. Bagian atas kala dihiasi pohon dewata dan lukisan awan beserta penghuni khayangan yang sedang memainkan bunyi-bunyian diantara pembawa gendang, rebab, kerang dan cemara.

Bagian atap candi terdapat kubus yang dianggap sebagai kemuncak Gunung Semeru yang di sekitarnya terdapat beberapa stupa.

Di sekeliling candi terdapat stupa dengan tinggi kurang lebih 4,60 m dan berjumlah 52 buah. Stupa-stupa tersebut tidak dapat dibangun kembali karena sudah banyak batu yang hilang.

Keistimewaan candi ini adalah pada permukaan batu terdapat lapisan yang disebut wajralepa.

Pada candi ini terdapat ornamen/ ukiran yang dipahat dengan halus dan dilapisi dengan wajralepa.Wajralepa adalah bahan yang terbuat dari putih telur/semen kuno yang berguna untuk melapisi dinding-dinding candi.Selain itu wajralepa juga dapat memperhalus ukiran agar menjadi bagus.

Selain keistimewaan yang disebut di atas ada juga keistimewaan lain yang berada di Candi Kalasan keistimewaan Candi Kalasan sama seperti halnya dengan yang berada di Candi Sari, berbeda dengan candi-candi yang lain.

Perbedaan tersebut ialah bahwa Candi Kalasan dan Candi Sari dindingnya dilekati dengan campuran pasir, seperti halnya dengan cara pembuatan tembok pada waktu sekarang.

BAB VII

PENUTUP

  1. A. Kesimpulan

Setelah kami melaksanakan kegiatan KKL I ke Candi baik yang bersifat Hindhuitis maupun Budhistis, dengan ini kami tim penyusun menyimpulkan hasil dari Kuliah Kerja Lapangan (KKL) I sebagai berikut :

  1. 1. Museum Sono Budoyo I

Museum Sonobudhoyo adalah salah satu museum yang etrtua di Indonesia. Bangunan ini dibuka dan diresmikan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono VIII pada tahun 1935 M. banguna museum ini menggunakan tanah bekas “schauten”, tanah itu merupakan hadiah dari Sri Sultan Hamengku Buwono VIII dan ditandai dengan candra sengkala “Buta Ngrasa Esthining Lata” yang menunjukkan tahun 1865 Jawa atau 1934 Masehi.

Banguan museum ini menghadap ke arah selatan yang dirancang sesuai dengan pola pikir kepercayaan Jawa mengenai arah sumbu spiritual, yang mempertimbangkan bahwa laut selatan mempunyai makna kosmologis sebagi tempat yang amat luat dan merupakan dan dinamika masyarakat.

Museum Sonobudhoyo memiliki berbagai koleksi yang berasal dari berbagai unsur kebudayaan daerah Jawa, Madura, Bali, dan Lombok. Selain itu, museum ini juga menyimpan benda – benda bersejarah yang berfungsi sebagai sarana pendidikan dan penelitian.

  1. 2. Candi Sambisari

Candi sambisari terletak  di desa Sambisari kelurahan Purwomartani kecamatan kalasan kabupaten Sleman Yogyakarta. Candi ini sempat tertimbun selama berabad abad karena letusan gunung berapi dan ditemukan oleh seorang petani dengan tidak sengaja. Kemudain pada tahun 1966 dilakukan penelitian dan penggalian oleh balai arkeologi Yogyakarta. Pada tahun 1987 pemugaran dan rekonstruksi ulang terhadap kompleks candi berhasil diselesaikan dengan posisi kedalaman 6,5 meter. Candi Sambisari merupakan candi yang beraliran Syiwaitis. Berdasarkan benda – benda yang ditemukan disekitar kompleks candi diperkirakan candi ini dibangun pada tahun 812-838 M dari kerajaan Mataram Hindu (Mataram Kuno).

  1. 3. Candi Plaosan

Candi Plaosan dibangun oleh Rakai Pikatan yang beragama Hindu sebagai hadiah kepada istrinya Pramodhawardani yang beragama Buddha. Candi ini dibangun sangat besar dan megah menunjukkan bahwa pada itu kerajaannya besar dan masyarakatnya makmur. Keindahan pada candi ini juga menunjukkan bahwa teknik pembuatannya sudah lebih maju terbukti dari pahatan dan relief yang halus. Dalam pembangunan candi ini juga tidak lepas dari peran umat Hindu yang menunjukkan bahwa seajak zaman dahulu telah ada toleransi antar umat beragama, rasa persaudaraan dan semangat gotong royong yang tinggi.

  1. 4. Situs Ratu Boko

Situs ini dapat dicapai dari Yogyakarta melalui jalan raya Yogya – Solo, kurang lebih pada km 17 pertigaan Prambanan belok kanan sejauh 3 km. keraton ini memiliki keunikan dan daya tarik sendiri karena terletak di dataran tinggi. Keraton Ratu Boko ini masih menjadi misteri hingga sekarang karena belum dapat dijelaskan kapan dan untuk siapa nama tersebut diberikan.

Banyak pendapat menegnai Ratu Boko, diantaranya prasati kuno yang berangka tahun 746 – 784 Masehi menyatakan Abhayagiri Wihara yang berarti wihara para bikshu agama Buddha. Prasasti Mantyasih menyebutkan raja Rakai Pikatan seorang penganut agama Hindu berhasil mempersatukan dua kerajaan yang pernah berkuasa di Jawa Tengah melalui “Perkawinan Politik”.

Kompleks situs ini meliputi gapura, candi kapur, candi pembakaran, pendopo, candi – candi kecil, kaputren dan gua.

Tidak diketahui secara pasti dari mana asal nama Ratu Boko, namun menurut cerita masyarakat setempat, nama itu diberikan berdasarkan legenda “Ratu Boko”.

  1. 5. Candi Kalasan

Bangunan candi yang terletak di sebelah selatan Yogyakarta ini merupakan candi Buddha yang bergaya Syailendra. Candi Kalasan dibangun sekitar abad VIII M sebagai hadiah perkawinan dari Rakai Panagkaran kepada Dyah Pramkdawardhani.

Candi yang berukuran tinggi 34 m, panjang dan lebar 45 m ini mempunyai 3 bagian candi yaitu bagian bawah atau kaki candi, tubuh candi, dan atap candi. Candi Kalasan juga banyak dihiasi dengan sulur – suluran bunga yang keluar dari pot. Hiasan kala yang ada pada candi ini di bagian atasnya dihiasi dengan lukisan kahyangan.

Di bagian puncak candi dulu terdapat stupa yang dianggap sebagai kemuncak gunung Semeru, tapi kini sudah tidak ada karena tersambar petir. Sebagai gantinya maka dipasang kaca di bagian puncak tersebut untuk menghalangi masuknya air hujan agar tidak merusak konstruksi candi.

Keistimewaan candi ini terletak pada batu yang dipakai untuk membangun candi, pada permukaan batunya terdapat lapisan yang disebut wajralepa yaitu semacam semen yang konon terbuat dari putih telur. Bahan ini berfungsi sebagi perekat batu dan juga sebagi lapisan batu sehingga ukirannya menjadi lebih bagus. Selain itu pada dinding candi dilekati dengan campuran pasir seperti halnya pembuatan tembok sekarang.

Candi yang dibangun pada masa Rakai Panangkar ini samapai sekarang masih digunakan sebagi tempat upacara Waisak yang terlebih dahulu diawali dengan prosesi upacara di Candi Sari yang terletak tidak jauh dari Candi Kalasan.

DAFTAR PUSTAKA

Bambang Prasetyo dan Moertjipto, 1994. Mengenal Candi Siwa Prambanan dari Dekat, Yogyakarta : Kanisius.

Bambang Prasetyo dan Moertjipto.1994. Borobudur, Pawon dan Mendut, Yogyakarta : Kanisius.

Supriyadi, Y. 2004. Perwara Budaya Hindhu-Budha, Yogyakarta : Kalika.

Soekmono,R.1990. Koleksi Pilihan Museum – Museum Negeri Propinsi,Jakarta : Proyek Pembinaan Permuseuman.

Soekmono,R.2000.Panduan Museum – museum Daerah Istimewa Yogyakarta,Yogyakarta : Bagian Proyek Pembinaan Permuseuman.

Soekmono,R.1973. Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia II. Yogyakarta: Kanisius.

______________. 2007.Borobudur Prambanan dan Ratu Boko,Yogyakarta : Unit Taman Wisata Candi Prambanan

http://id.wikipedia.org /wiki/sejarah_perkembangan Museum_sono budoyo.

http://www.wikipedia.org/wikipedia/candiplaosan

www.wisma.web.id

www.purbakala-jawa tengah.go.id/detail berita.php?act=view&idku=40.

Diterbitkan oleh

3 tanggapan untuk “KKL”

  1. Sekitar tahun 1982, saya memfoto gamelan beberapa kali..ternyata tidak berhasil..dan ketika saya coba lagi…berhasil tetapi muncul garis2 lurus dan garis2 lengkung yang sampai sekarang saya belum menemukan jawabannya.apa sebenarnya garis2 lurus dan garis2 lengkung tersebut..?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s