Rencana Pelaksanaan Pembelajaran


RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)

Disusun Untuk Mengikuti Ujian Tengah Semester

Perencanaan Pembelajaran

 

 

OLEH :

NAMA          : SAEFUL ROHMAN         

NIM              : 09021031

SEMESTER            : IV

 

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN SEJARAH

FP IPS IKIP YOGYAKARTA

2011


RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

 

Sekolah                       : SMP N 1 Yogyakarta

Mata Pelajaran            : IPS – Sejarah

Kelas / Semester          : VII / 2

Alokasi Waktu            : 2 jam pelajaran / 2 x 45 menit

Hari, tanggal               : Senin, 9 Mei 2011

  1. A.    Standar Kompetensi

Memahami tentang kerajaan Majapahit khususnya pada masa pemerintahan Hayam Wuruk

  1. B.    Kompetensi Dasar

Menjelaskan tentang kerajaan Majapahit pada masa pemerintahan Hayam Wuruk

  1. C.    Indikator
  2. Menjelaskan asal-usul nama kerajaan Majapahit
  3. Mendeskripsikan ibukota kerajaan Majapahit pada masa Hayam Wuruk
  4. Menyebutkan sumber sejarah yang digunakan untuk menyelidiki kerajaan Majapahit
  5. Mengidentifikasi masa pemerintahan Hayam Wuruk
    1. D.    Tujuan Pembelajaran

Setelah penyajian materi (pengalaman belajar) siswa dapat :

  1. Menjelaskan asal-usul nama kerajaan Majapahit
  2. Mendeskripsikan ibukota kerajaan Majapahit pada masa Hayam Wuruk
  3. Menyebutkan sumber sejarah yang digunakan untuk menyelidiki kerajaan Majapahit
  4. Mengidentifikasi masa pemerintahan Hayam Wuruk
  1. E.    Materi Pelajaran

KERAJAAN MAJAPAHIT

  1. 1.      Asal-usul Nama Majapahit

Menurut prasasti Kudadu, pada tahun 1292 terjadi pemberontakan Jayakatwang bupati Gelang-Gelang terhadap kekuasaan Kerajaan Singhasari. Raden Wijaya ditunjuk Kertanegara untuk menumpas pasukan Gelang-Gelang yang menyerang dari arah utara Singhasari. Wijaya berhasil memukul mundur musuhnya. Namun pasukan pemberontak yang lebih besar datang dari arah selatan dan berhasil menewaskan Kertanagara. Menyadari hal itu, Raden Wijaya melarikan diri hendak berlindung ke Terung di sebelah utara Singhasari. Namun karena terus dikejar-kejar musuh ia memilih pergi ke arah timur. Dengan bantuan kepala desa Kudadu, ia berhasil menyeberangi Selat Madura untuk bertemu Arya Wiraraja penguasa Songeneb (nama lama Sumenep).

Bersama Arya Wiraraja, Raden Wijaya merencanakan siasat untuk merebut kembali takhta dari tangan Jayakatwang. Wijaya berjanji, jika ia berhasil mengalahkan Jayakatwang, maka daerah kekuasaannya akan dibagi dua untuk dirinya dan Wiraraja. Siasat pertama pun dijalankan. Mula-mula, Wiraraja menyampaikan berita kepada Jayakatwang bahwa Wijaya menyatakan menyerah kalah. Jayakatwang yang telah membangun kembali negeri leluhurnya, yaitu Kerajaan Kadiri menerimanya dengan senang hati. Ia pun mengirim utusan untuk menjemput Wijaya di pelabuhan Jungbiru.

Siasat berikutnya, Wijaya meminta Hutan Tarik di sebelah timur Kadiri untuk dibangun sebagai kawasan wisata perburuan. Wijaya mengaku ingin bermukim di sana. Jayakatwang yang gemar berburu segera mengabulkannya tanpa curiga. Wiraraja pun mengirim orang-orang Songeneb untuk membantu Wijaya membuka hutan tersebut. Menurut Kidung Panji Wijayakrama, salah seorang Madura menemukan buah maja yang rasanya pahit. Oleh karena itu, desa pemukiman yang didirikan Wijaya tersebut pun diberi nama Majapahit.

  1. 2.      Ibukota Kerajaan Majapahit

Ibukota Majapahit terletak di bagian barat kota yang sekarang dikenal dengan Mojokerto, pada situs yang dekat dengan Sungai Brantas. ibukota kerajaan Majapahit meliputi Kecamatan Sooko, Trowulan dan Jatirejo di Kabupaten Mojokerto dan kecamatan Mojoagung, Mojowarno serta Sumobito di Kabupaten Jombang. Kawasan ini berada pada luas 10 X 10 kilometer persegi.

Ibukota ini merupakan sebuah kompleks bangunan yang dipisahkan oleh jalan yang lebar dan berbagai alun-alun terbuka yang luas. Kompleks-kompleks memiliki pelataran, pepohonan dan paviliun yang terbuka dan hanya kompleks-kompleks inolah beserta pelatarannya yang dikelilingi oleh dinding atau pagar. Area tengahnya diperuntukkan oleh keluarga dari pimpinan rumah tangga. Bagian-bagian yang lain dihuni oleh para pembantu atau tamu atau untuk upacara-upacara. Sebuah tendon air yang sangat besar bernama “segaran” seluas enam hektar. Kota itu diorganisir dengan unit-unit pemukiman dan distrik-distrik yang diuperuntukkan bagi kegiatan industrial tertentu: pandai emas, pandai besi, pembuat gerabah, dan lain-lain. Masing-masing distrik dikendalikan oleh sebuah dewan, dibawah pengawasan seorang bangsawan. Pasar diadakan dalam jadwal teratur di lahan-lahan kosong yang memisahkan distrik-distrik. Pasar-pasar diawasi oleh pejabat resmi yang digaji dengan hasil pajak yang ditarik di pasar-pasar itu.

Pelabuhan kota ini dinamakan Bubat, terletak di bagian utara kota, pada tepi sungai Brantas. Ia dihuni oleh komunitas-komunitas asing. Sungai tersebut merupakan mode utama dalam mengirimkan barang, meskipun ada juga beberapa jalan yang memasuki dan keluar kota, tetapi kebanyakan yang melaluinya adalah gerobak sapi.

Dalam Negarakertagama dijelaskan kompleks kerajaan secara panjang lebar. Kraton dikelilingi oleh sebuah dinding batu bata merah yang tebal denagn tinggi lebih dari 10 meter dan memiliki gerbang pintu ganda. Dalam kraton terbagi dalam tiga pelataran:

  • Pertama adalah bangunan-bangunan religious dan sebuah menara putih yang besar. Akses menuju pelataran kedua adalah pada satu sisi dan pada sisi lainnya ada banyak pemandian.
  • Rumah para punggawa, yang dibangun dengan tiang-tiang dengan lantai kayu, terletak di pelataran kedua.
  • Rumah punggawa yang lebih tinggi tatarannya dan sebuah pendapa besar terletak di pelataran ketiga. Kamar-kamar raja juga terletak pada salah satu sisi dari pelataran ini dan istananya adalah paviliun-paviliun kayu yang didirikan diatas teras batu bata merah.
  1. 3.      Sumber Sejarah

Sumber sejarah atau sumber informasi mengenai berdiri dan berkembangnya kerajaan Majapahit berasal dari beberapa sumber yakni:

  1. a.      Prasasti

1)      Prasasti Kudadu (1294 M)

Mengenai pengalaman Raden Wijaya sebelum menjadi Raja Majapahit yang telah ditolong oleh Rama Kudadu dari kejaran balatentara Jayakatwang setelah Raden Wijaya menjadi raja dan bergelar Krtajaya Jayawardhana Anantawikramottunggadewa, penduduk desa Kudadu dan Kepala desanya (Rama) diberi hadiah tanah sima.

2)      Prasasti Sukamerta (1296 M) dan Prasasti Balawi (1305 M)

Mengenai Raden Wijaya yang telah memperisteri keempat putri Kertanegara yaitu Sri Paduka Parameswari Dyah Sri Tribhuwaneswari, Sri Paduka Mahadewi Dyah Dewi Narendraduhita, Sri Paduka Jayendradewi Dyah Dewi Prajnaparamita, dan Sri Paduka Rajapadmi Dyah Dewi Gayatri, serta menyebutkan anaknya dari permaisuri bernama Sri Jayanegara yang dijadikan raja muda di Daha.

3)      Prasasti Wingun Pitu (1447 M)

Mengungkapkan bentuk pemerintahan dan sistem birokrasi Kerajaan Majapahit yang terdiri dari 14 kerajaan bawahan yang dipimpin oleh seseorang yang bergelar Bhre, yaitu Bhre Daha, Kahuripan, Pajang, Werngker, Wirabumi, Matahun, Tumapel, Jagaraga, Tanjungpura, Kembang Jenar, Kabalan, Singhapura, Keling, dan Kelinggapura.

4)      Prasasti Canggu (1358 M)

Mengenai pengaturan tempat-tempat penyeberangan di Bengawan Solo.
Prasasti Biluluk (1366 M0, Biluluk II (1393 M), Biluluk III (1395 M).
Menyebutkan tentang pengaturan sumber air asin untuk keperluan pembuatan garam dan ketentuan pajaknya.

5)      Prasasti Karang Bogem (1387 M)

Menyebutkan tentang pembukaan daerah perikanan di Karang Bogem.
Prasasti Marahi Manuk (tt) dan Prasasti Parung (tt)
Mengenai sengketa tanah. Persengketaan ini diputuskan oleh pejabat kehakiman yang menguasai kitab-kitab hukum adat setempat.

6)      Prasasti Katiden I (1392 M)

Menyebutkan tentang pembebasan daerah bagi penduduk desa Katiden yang meliputi 11 wilayah desa. Pembebasan pajak ini karena mereka mempunyai tugas berat, yaitu menjaga dan memelihara hutan alang-alang di daerah Gunung Lejar.

7)      Prasasti Alasantan (939 M)

Menyebutkan bahwa pada tanggal 6 September 939 M, Sri Maharaja Rakai Halu Dyah Sindok Sri Isanawikrama memerintahkan agar tanah di Alasantan dijadikan sima milik Rakryan Kabayan.

8)      Prasasti Kamban (941 M)

Meyebutkan bahwa apada tanggal 19 Maret 941 M, Sri Maharaja Rake Hino Sri Isanawikrama Dyah Matanggadewa meresmikan desa Kamban menjadi daerah perdikan.

9)      Prasasti Hara-hara (Trowulan VI) (966 M)

Menyebutkan bahwa pada tanggal 12 Agustus 966 M, mpu Mano menyerahkan tanah yang menjadi haknya secara turun temurun kepada Mpungku Susuk Pager dan Mpungku Nairanjana untuk dipergunakan membiayai sebuah rumah doa (Kuti).

10)  Prasasti Wurare (1289 M)

Menyebutkan bahwa pada tanggal 21 September 1289 Sri Jnamasiwabajra, raja yang berhasil mempersatukan Janggala dan Panjalu, menahbiskan arca Mahaksobhya di Wurane. Gelar raja itu ialaha Krtanagara setelah ditahbiskan sebagai Jina (dhyani Buddha).

11)  Prasasti Maribong (Trowulan II) (1264 M)

Menyebutkan bahwa pada tanggal 28 Agustus 1264 M Wisnuwardhana memberi tanda pemberian hak perdikan bagi desa Maribong.

12)  Prasasti Canggu (Trowulan I)

Mengenai aturan dan ketentuan kedudukan hukum desa-desa di tepi sungai Brantas dan Solo yang menjadi tempat penyeberangan. Desa-desa itu diberi kedudukan perdikan dan bebas dari kewajiban membayar pajak, tetapi diwajibkan memberi semacam sumbangan untuk kepentingan upacara keagamaan dan diatur oleh Panji Margabhaya Ki Ajaran Rata, penguasa tempat penyeberangan di Canggu, dan Panji Angrak saji Ki Ajaran Ragi, penguasa tempat penyeberangan di Terung.

  1. b.      Cerita Kitab

–          Kidung Harsawijaya dan Kidung Panji Wijayakrama

Kedua kidung menceritakan tentang Raden Wijaya ketika menghadapi musuh dari Kediri dan tahun-tahun awal perkembangan Majapahit

 

–          Kitab Pararaton

Menceritakan tentang pemerintahan raja-raja Singasari dan Majapahit

–          Kitab Negarakertagama

Ditulis oleh Mpu Prapanca, berisi tentang sejarah kerajaan Singasari dan kerajaan Majapahit sampai masa pemerintahan Hayam Wuruk.

  1. c.       Candi

Candi pada masa Majapahit antara lain: Candi Penataran, Candi Sawentar, Candi Sumber Jati (di daerah Blitar), Candi Tikus di Trowulan, Candi Jabung di dekat Kraksaan, Candi Tlagawangi dan Candi Surawana di dekat pere, Kediri.

  1. d.      Berita-berita asing dari Cina, India dan Arab
  2. e.       Peninggalan budaya
  • Arca
  • Mata uang
  • keramik
  1. 4.      Masa Pemerintahan Hayam Wuruk

Nama Hayam Wuruk artinya “ayam yang terpelajar”. Ia adalah putra pasangan Tribhuwana Tunggadewi dan Sri Kertawardhana alias Cakradhara. Ibunya adalah putri Raden Wijaya pendiri Majapahit, sedangkan ayahnya adalah raja bawahan di Singhasari bergelar Bhre Tumapel. Hayam Wuruk dilahirkan tahun 1334. Peristiwa kelahirannya diawali dengan gempa bumi di Pabanyu Pindah dan meletusnya Gunung Kelud. Pada tahun itu pula Gajah Mada mengucapkan Sumpah Palapa. Hayam Wuruk memiliki adik perempuan bernama Dyah Nertaja alias Bhree Pajang, dan adik angkat bernama Indudewi alias Bhree Lasem, yaitu putri Rajadewi, adik ibunya. Permaisuri Hayam Wuruk bernama Sri Sudewi bergelar Padukasori putri Wijayarajasa Bhre Wengker. Dari perkawinan itu lahir Kusumawardhani yang menikah dengan Wikramawardhana putra Bhre Pajang. Hayam Wuruk juga memiliki putra dari selir yang menjabat sebagai Bhre Wirabhumi, yang menikah dengan Nagarawardhani putri Bhre Lasem.

Pada masa pemerintahan Hayam Wuruk, kerajaan Majapahit mengalami zaman keemasan, sebagai raja ia berpandangan luas dan tajam, serta memberikan kebebasan sepenuhnya kepada Mahapatih Gajah Mada untuk menjalankan pemerintahan. Hal itu dikarenakan Hayam Wuruk mengetahui kecakapan Gajah Mada yang mempunyai cita-cita yang sama untuk menyatukan Nusantara di bawah Panji Majapahit. Hayam Wuruk memerintah dari tahun 1350-1389 M.

Menurut buku Negarakertagama, daerah yang telah mengakui kedaulatan Majapahit pada waktu itu adalah sebagi berikut :

  • Daerah I, seluruh Jawa, meliputi: Jawa, Madura, Galiyao.
  • Daerah II, seluruh Pulau Andalas atau Sumatra, meliputi: Lampung, Palembang, Jambi, Karitang (Indragiri), Muara Tebo, Darmasraya (Sijunjung), Kandis, Kahwas, Minangkabau, Siak, Rekan, Kampar, Pane, Kampe, Haru, Mandailing, Tamiang, Perlak, Barat (Aceh), Lawas (Padang Lawas), Samudra (Aceh), Lamuri, Bantam, Barus.
  • Daerah III, seluruh pulau Tanjungnegara atau Kalimantan, meliputi: Kapuas, Katingin, Sampit, Lawai (Muara Labai), Kedangdanan (Kedangwangan), Landak, Samedang (Simpang), Tirem (Panireman), Sedu (Serawak), Brunei, Kalka Saludung, Solot (Solot, Bulu), Pasir, Barito, Sebuku, Tabalong (Amuntai), Tanjung Kutai, Malanau, Tanjungpuri.
  • Daerah IV, seluruh Semenanjung Melayu atau Malaka, meliputi : Pahang, Hujung Medini (Johor), Lengkasuka (Kedah), Saimwang (Semang), Kelantan, Trengganu, Nagor (Ligor), Pakamuar (Pekan Muar), Dungun (Trengganu), Tumasik (Singapura), Sang Hyang Hujung, Kelang (Neheri Sembilan), Kedah, Jere (Jere, Patani), Kanjap (Singkep), Niran (Karimun).
  • Daerah V, seluruh Sunda Kecil, meliputi: Bali, Bedulu, Lwagajah (Negara), Gurun (Nusa Penida), Taliwang (Sumbawa), Sapi (Sumbawa), Sang Hyang Api (Gunung Api Sangeang), Bima, Seram, Hutan (Sumbawa), Kendali (Buru), Gurun (Gorong), Lombok Mirah (Lombok Barat), Sasak (Lombok Timur), Sumba, Timor.
  • Daerah VI, seluruh Sulawesi, meliputi: Bantanyan (Bontain), Luwu, Udamakaraja (Taulud), Makasar, Buton, Banggai, Kunir (Pulau Kunyit), Selaya, Salor.
  • Daerah VII, seluruh Maluku, meliputi: Muara (Kei), Wandan (Banda), Ambon, Ternate.
  • Daerah VIII, seluruh Irian Barat, meliputi: Onin (utara), Seran (Selatan).

Patih Gajah Mada menjalankan politik persatuan Nusantara. Cita-cita yang dijalankannya begitu tegas sehingga menimbulkan peristiwa Sunda atau perang Bubat tahun 1351 M. Peristiwa berawal ketika Raja Hayam Wuruk berniat ingin mempersunting putri dari Padjajaran, Dyah Pitaloka. Lamaran diterima oleh Sri Baduga, Raja Pasundan. Raja Sri Baduga beserta putri dan pengokutnya bertolak ke Majapahit dan beristirahat di lapangan Bubat, dekat pintu gerbang Majapahit.

Gajah Mada tetap pada pendiriannya yaitu mempersatukan Nusantara, melihat hal ini ia memanfaatkan keadaan agar Padjajaran mengakui kedaulatan Majapahit yakni dengan menjadikan putri Dyah Pitaloka sebagai selir bukan sebagai permaisuri. Hal ini tidak dapat diterima oleh pihak Padjajaran karena dianggap merendahkan derajat. Maka terjadilah perselisihan antara pasukan Gajah Mada dengan pasukan dari Padjajaran, yang mengakibatkan terbunuhnya seluruh pasukan Padjajaran termasuk Raja Sri Baduga dan Putri Dyah Pitaloka di lapangan Bubat.

Dari kitab Pararaton dapat diketahui, bahwa setelah perng Bubat berakhir kemudian Gajah Mada mukti palapa, mengundurkan diri dari jabatannya. Beberapa waktu kemudian ia aktif kembali dalam pemerinthan, tetapi tidak seaktif waktu ia mejapat sebagai mahapatih pertama. Dalam Negarakertagama disebutkan bahwa Hayam Wuruk pernah menganugerahkan sebuah sima kepada Gajah Mada, yang kemudian diberi nama Darma Kasogatan Madakaripura, ditempat inilah Gajah Mada mukti palapa.

Gajah Mada wafat tahun 1364 M, dan Raja Hayam Wuruk kehilangan orang yang sangat diandalkan dalam pemerintahan. Kemudian ia mengadakan siding Dewan Sapta Prabu untuk memutuskan pengganti Gajah Mada. Terpilihlah empat orang menteri di bawah pimpinan Punala Tanding. Hal itu tidak berlangsung lama, keempat menteri tersebut kemudian digantikan oleh dua orang menteri, yaitu Gajah Enggon dan Gajah Manguri. Tetapi akhirnya, Raja Hayam Wuruk memilih Gajah Enggon sebagai mahapatih mangkubumi menggantikan Gajah Mada.

Keadaan Majapahit menjadi lebih suram ketika Tribhuwanatunggadewi (ibunda Hayam Wuruk) wafat tahun 1379 M. kerajaan Majapahit semakin kehilangan orang-orang yang cakap dalam pemerintahan. Keadaan itu semakin jelas ketika Hayam Wuruk wafat tahun 1389 M.

  1. F.     Metode Pengajaran
    1. Metode Pengajaran

Metode yang digunakan dalam pembelajaran adalah metode campuran ceramah dan Tanya  jawab.

Langkah-langkah pengajaran:

  1. Persiapan

–          Salam

–          Doa

–          Presensi

–          Apersepsi

  1. Kegiatan inti

–          Menulis topik

–          Pemasangan media

–          Penyampaian materi

–          Tanya jawab

–          Evaluasi : tes formatif

  1. Penutup

–          Penugasan

–          Doa

–          Salam

  1. Media yang menghantar ke penyajian materi.

–          Gambar 1. Peta kekuasaan kerajaan majapahit

–          Gambar 2. Candi Panataran

–          Gambar 3. Patung Gajah Mada

–          Gambar 4. Lambang Kerajaan Majapahit

–          Gambar 5. Silsilah keluraga kerajaan Majapahit

  1. G.    Sumber Pembelajaran
    1. Sumber buku
  • Poesponegoro,Marwati Djoened., Nugroho Notosusanto, 1993, Sejarah Nasional Indonesia II, Jakarta: Balai Pustaka, hal. 420 s.d 439.
  • Nurdin,Muh., S.W. Warsito, dan Nurs’ban Muh, 2008, Mari Belajar IPS 1: untuk SMP/MTs kelas VII, Jakarta : Departemen Pendidikan Nasional, hal. 184 s.d 186.
  • Munoz, Paul Michel, 2006, Kerajaan-kerajaan Awal Kepulauan Indonesia dan Semenanjung Malaysia, (terj.Tim Mitra Abadi), Yogyakarta: Mitra Abadi, hal. 397 s.d 413.
  • Muedjanto, G., 2002, Seuksesi dalam Sejarah Jawa, Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma, hal. 30 s.d 38.
  1. Sumber elektronik
  1. H.    Penilaian Hasil Belajar
    1. Teknik penilaian: tes formatif
    2. Bentuk soal pilihan ganda
    3. Jumlah soal 10 buah dengan pilihan ganda.
    4. Standar penilaian : jumlah soal ada 10, maka standar penilaian sebagai berikut :

Benar

Skor

Benar

Skor

1

1

6

6

2

2

7

7

3

3

8

8

4

4

9

9

5

5

10

10

Mengetahui,

Kepala SMP N 1 Yogyakarta

Drs. Y. Supriyadi, M.Pd

NIP. 19530509 198703 1 001

Wates, 2 Mei 2011

Guru Praktikum

Saeful Rohman

NIM. 09021031

Gambar 2. Candi Penataran

 

 

 

Gambar 3. Mahapatih Gajah Mada

Gambar 4. Lambang Majapahit

 

EVALUASI

SOAL

Jawablah pertanyaan di bawah ini dengan memberi tanda silang (X) pada huruf a, b, c, atau d pada lembar jawab yang tesedia!

 

  1. Kerajaan Majapahit awalnya berupa hutan yang di buka oleh Raden Wijaya  pemberian dari Jayakatwang. Nama hutan tersebut adalah ….
    a. hutan Alas Robantake thaty b.hutan Tarik c.hutan Maja d.hutan Alas Purwo
  2. Kraton Majapahit terbagi dalam tiga pelataran. Bangunan yang terletak pada pelataran kedua adalah ….
    a.bangunan religius
    b.pendapa besar
    c.rumah punggawa
    d. menara besar.
  3. Prasasti yang mengungkapkan tentang wilayah kekuasaaan Majapahit adalah ….a.prasasti Kudadu b.prasasti Sukamerta c.prasasti Karang Bogem d.prasasti Wangun Pitu.
  4. Prasasti Sukameta (1296 M) dan prasasti Balawi (1305 M) menjelaskan tentang ….a.Raden Wijaya yang mempersunting keempat puti Kertanegaran b.Pengaturan tempat penyebrangan di Bengawan Solo c.Pembebasan daerah bagi penduduk desa Katiden yang melipti 11 desa d.Pertempuran Raden Wijaya dengan pasukan Jayakatwang.
  5. Candi-candi berilut ini merupakan candi peninggalan dari Majapahit, kecuali …a.Candi Penataran, Candi Jabung, Candi Tikus b.Candi Sumber Jati, Candi Plaosan, Candi Borobudur  c.Candi Tlagawangi, Candi Surawarna, Candi Sawantar d.Candi Tikus, Candi Sumber Jati, Candi Tlagawangi.
  6. Perang Bubat terjadi tahun 1351 M karena kesalah pahaman antara Gajah Mada dengan kerajaan Pasundan untuk menikahkan putrid kerajaan Pasundan dengan Hayam Wuruk. Nama putrid dari kerajaan Pasundan adalah …a.Dyah Pitaloka b.Pramodhawardhani c.Paduka Sori  d.Tribhuwanatunggadewi.  ‘
  7. Gajah Mada setelah perang Bubat menyatakan mukti palapa. Kitab yang menyatakan tentang mukti palapa Gajah Mada adalah ….a.kitab Sutasoma  b.kitab Pararaton  c.kitab Babad Tanah Jawa  d.kitab Arjunawiwaha.
  8. Pengganti Gajah Mada yang ditunjuk oleh raja Hayam wuruk setelah Gajah Mada wafat tahun 1364 M adalah ….a.Gajah Manguri    b.Gajah Para   c.Gajah Enggon    d.Gajah Anabrang.
  9. Kerajaan Majapahit mulai menunjukan kemerosotan pemerintahannya ketika Gajah Mada wafat tahun 1364 M, yang setelah itu tidak lama ibu suri Majapahit Tribhuwanatunggadewi wafat pada tahun ….a.1359 M   b.1369 M  c.1379 M   d.1389 M.
  10. Masa pemerintahan Hayam wuruk berlangsung selama ….a.40 tahun   b.49 tahun   c.30 tahun d. 39 tahun

KUNCI JAWABAN

 

No

Jawaban

1

B

2

C

3

D

4

A

5

B

6

A

7

B

8

C

9

C

10

D

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Nama   : ……………………………
No Urt  : ……………………………

 

 

LEMBAR JAWABAN

 

 

No

JAWABAN

 

No

JAWABAN

1

A

B

C

D

11

A

B

C

D

2

A

B

C

D

12

A

B

C

D

3

A

B

C

D

13

A

B

C

D

4

A

B

C

D

14

A

B

C

D

5

A

B

C

D

15

A

B

C

D

6

A

B

C

D

16

A

B

C

D

7

A

B

C

D

17

A

B

C

D

8

A

B

C

D

18

A

B

C

D

9

A

B

C

D

19

A

B

C

D

10

A

B

C

D

20

A

B

C

D

 

Diterbitkan oleh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s