POLITIK EKSPANSI DAN IMPERIALISME JEPANG (1894 – 1945)


POLITIK EKSPANSI DAN IMPERIALISME JEPANG (1894 – 1945)

Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah

Sejarah Asia Timur II

Dosen: Drs. Suharman,M.Pd

 

OLEH :

  1. 1.      Anissa Filial Putri           (09021005)
  2. 2.      Etty Susanti                     (09021014)
  3. 3.      Eni Windarsih              (09021012)
  4. 4.      Marlina                            (09021024)
  5. 5.      Ngatilah                           (09021027)
  6. 6.      Saeful Rohman               (09021031)

  SEMESTER           : IV

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN SEJARAH

FP IPS IKIP YOGYAKARTA

2011

BAB III

POLITIK EKSPANSI DAN IMPERIALISME JEPANG (1894 – 1945)

  1. 1.      Kemampuan Meniru dan Konservatisme yang Fundamental

Kemampuan bangsa Jepang untuk mengadopsi dan mengadaptasi gaya hidup dan cara berpikir bangsa – bangsa yang lebih maju memang sangat luar biasa. Mereka selalu belajar dengan mengikuti perkembangan dan perubahan – perubahan kebudayaan, peradaban, ilmu pengetahuan dan teknologi yang disesuaikan dengan kebutuhan dan juga kebudayaan mereka. Mereka tidak malu untuk belajar pada Tiongkok, bahkan sampai menggulingkannya. Ketika terjadi hubungan bangsa Barat, dengan tangkas mereka mengejar ketertinggalannya dalam bidang pilitik, ekonomi, teknik, ilmu pengetahuan dan teknologi. Bangsa Jepang sangat cerdik dan pandai dalam mengadopsi dan mengadaptasi berbagai oengetahuan dari Barat tanpa kehilangan karakter bangsanya. Hal itu dikarenakan mereka punya rasa bangga yang tinggi terhadap kebudayaan warisan nenek moyang mereka. Mereka punya kesanggupan yang kuat untuk tetap melestarikan adat dan budaya bangsanya.

Dalam sejarah belum ada lembaga didunia ini yang dapat dibandingkan dengan lembaga kekaisaran Jepang, yang berlangsung secara turun temurun. Walaupun kaisar hanya bersifat simbolis dalam memimmpin urusan – urusan kenegaraan, tetapi kaisar yang dianggap sebagai keturunan Dewa Matahari sangat dihormati dan dijadikan lambang pemersatu serta nasionalisme Jepang.

Selain mempertahankan kekaisaran, di Jepang ada tradisi kemiliteran yang sangat penting artinya bagi Jepang pada masa yang akan datang. Sehingga terbentuk angkatan laut yang merupakan kelengkapan dari angkatan darat, walau kadang timbul iri hati da persaingan diantara keduanya. Jepang juga merasa dirinya sebagai bangsa yang tak terkalahkan. Hal itu dibuktikan dengan gagalnya serangan Kubilai Khan. Hal itu mendorong Jepang untuk menyerang daratan Asia Timur akhir abad XIX.

  1. 2.      Faktor – faktor yang Mendorong Politik Imperialisme

Setelah berhasil melaksanakan modernisasi, Jepang berubah dari negara tradisional menjadi negara Industri yang maju pesat. Sejak tahun 1894 Jepang telah diakui dunia sebagai negara modern yang kuat dan kedudukannya sejajar dengan negara – negara Barat. Sebagai negara industri yang maju, diikuti dengan peningkatan perdagangan dan pertambahan penduduk serta semangat patriotisme mendorong Jepang untuk melakukan ekspansi ke daerah – daerah lain. Sehingga menimbulkan masalah dengan negara – negara lain seperti Cina.

Jadi faktor pendorong Jepang melakukan Imperialisme adalah :

  1. Revolusi demografi

Untuk mengatasi kepadatan penduduk Jepang mengambil langkah :

–          Memperluas industrialisasi

–          Melakukan emigrasi.

  1. Jepang harus mencari sumber – sumber bahan mentah untuk keperluan industrinya
  2. Pengaruh ajaran Shinto

Dalam ajaran Shinto Jepang punya tugas untuk mempersatukan dunia dalam satu keluarga dibawah pimpinan Jepang, dengan membentuk Pan Asia. Dalam hal ini Jepang tidak mau kalah dengan negara – negara besar seperti Amerika dengan Pan Amerika, Rusia dengan Pan Slavia.

Korea sangat menarik bagi Jepang. Seperti kata Roy H. Akagi (1936), bahwa korea secara geografis memliki bentuk seperti golok yang menuju jantung Jepang. Jika golok itu dikuasai bangsa lain tentu akan mengancam keamanan Jepang. Sebaliknya jika Jepang bisa menguasai Korea, maka bisa digunakan untuk keperluan Jepang sebagai benteng pertahanan.

Bahkan oleh Mc. Chuns (1950 : 24) dalam bukunya “Korean To Day” secara geografis Korea dapat dimanfaatkan sebagai batu loncatan Jepang untuk menguasai daratan Asia. Hal ini dibuktikan dengan menguasai Korea, Jepang memeperluas kekuasaannya ke Manchuria, dan Rusia juga dikalahkan dalam perang tahun 1904 – 1905.

  1. 3.      Keterlibatan Jepang dalam Perang untuk Mewujudkan Imperialisme

Karena ambisi Jepang untuk menguasai Korea, maka Jepang terlibat perang dengan negara lain :

  1. a.      Perang Jepang >< Cina (1894 – 1895)

Korea merupakan daerah vasal negara Cina, maka Cina tidak segan melakukan perang demi mempertahankannya.

  1. Sebab – sebab umum :

–       Korea dapat dimanfaatkan sebagai benteng pertahanan bagi Jepang dari serangan bangsa lain.

–       Korea merupakan batu loncatan untuk memasuki Cina dan daratan Asia lain.

–       Korea akan dijadikan tempat memindahkan penduduk Jepang yang sudah padat.korea dianggap penting untuk pengembangan industri dan perdagangan Jepang.

  1. Sebab – sebab khusus :

–       Di Korea terjadi konflik antara golongan konservatif dan golongan progesif. Golongan konservatif pimpinan Tonghat minta bantuan ke Cina sedang golongan progresif minta bantuan Jepang.

–       Dengan alasan tersebut kedua negara mengirim pasukannya. Pemberontakan Tonghak dapat dipadamkan namun kedua negara tidak mau menarik mundur pasukannya.

Dalam persengketaan tersebut Rusia mulai campur tangan, apabila kedua negara menolak untuk menrik pasukannya, maka Rusia akan tampil kedepan dan bertanggung jawab.

Sementara itu di dalam negari Korea ingin mengadakan perubahan dan pembaharuan. Dan hal itu sulit dilakukan bila Cina tetap ada di Korea. Raja Korea meminta Jepang untuk mengusir pasukan Cina dati Korea. Kemudian Cina meminta bantuan kepada Inggris yang mengirimkan kapal perangnya ke Korea tahun 1894 dan membakari kapal perang Jepang. Hal itu menimbulakan kemarahan Jepang sehingga tanggal 1 Agustus 1894 Jepang mengumumkan perang melawan Cina.

Perang itu diakhiri dengan perjanjian Shimonoseki tanggal 17 April 1895. Bertindak sebgai penengah kedua pihak adalah Amerika. Cina dinasehati oleh John W. Foster, seorang sekretaris negara pada Harrison Administration and Legal Advisor di Washington. Sedang Jepang dinasehati oleh Henry W. Denison seorang Veteran Kementrian Luar Negeri.

Isi perjanjian Shimonoseki adalah :

  1. Cina mengakui kemerdekaan dan ekonomi Korea
  2. Cina harus menyerahkan sebagian Manchuria kepada Jepang
  3. Cina harus menyerahkan kepulauan Pescadores kepada Jepang
  4. Cina harus membayar 200.000.000 tael kepada Jepang
  5. Wei hawei akan diduduki Jepang selama Cina belum dapat membayar ganti rugi perang
  6. Empat kota, Shosi, Chunking, Soochow, dan Hong Chow dibuka untuk orang asing.
  7. Liatoung harus diserahkan kepada Jepang.

Dampak dari perjanjian itu :

  1. Jepang berhasil menginjakan kaki di daratan Asia.
  2. Jepang menjadi negara yang berpengaruh di Korea dan Cina
  3. Citra negara Cina sebagai negara besar merosot karena kalah dari Jepang
  4. Pembaharuan Jepang selama 40 tahun telah mengangkat Jepang menjadi negara yang kuat dan besar sejajar dengan negara besar lainnya.
  5. Berkat kemenangan Jepang atas Cina memberi peluang Jepang untuk memperluas imperialismenya ke Manchuria dan daratan Asia lainnya.
  1. b.      Keterlibatan Rusia dalam masalah Korea

Atas jasa Rusia ikut campur tangan dalam sengketa antara Cina dan Jepang serta atas jasanya menghalangi orang – orang Jepang, tahun 1895 Rusia mendapat hak – hak istimewa dari Cina. Rusia memperoleh daerah Port Arthur dan daerah di semenanjung Liatung sehingga Rusia diperbolehkan membangun jalan kereta apai Trans Siberia yang menghubungkan kereta api dari Eropa lewan Manchuria ke Wladiwostok.

  1. c.       Terjadinya Perang Rusia  >< Jepang  (1904 – 1905)

Sebab terjadinya perang Rusia – Jepang adalah :

  1. Jepang dan Rusia sama – sama punya kepentingan poitik dan ekonomi terhadap Korea dan Manchuria.
  2. Kedua pihak ingin mempertahankan pengaruh dan kedudukan dengan cara mengadakan perjanjian rahasia dengan Cina.
  3. Jepang Ingin agar masalah Manchuria diselesaikan langsung dengan Tsar Rusia dan agar perjanjian rahasia tahun 1901 antara Rusia dengan Cina dibatalkan.
  4. Jepang mengajukan usul kepada Rusia yaitu :

–       Kedaulatan Korea dan Cina harus diakui

–       Soal administrasi Manchuria akan dikembalikan kepada Cina, Rusia hanya berwenang mengawasi jalan kereta api.

–       Kepentingan Rusia di Manchuria diakui oleh Jepang berdasar pada pengakuan perjanjian.

–       Rusia harus mengakui kepentingan Jepang di Korea terutama dibidang perdagangan dan industri.

–       Manchuria dan Korea Railway akan dihubungkan.

Karena usulan Jepang tidak dihiraukan oleh Rusia dan jalan damaipun sulit ditempuh mak tanggal 10 Februari 1904, Jepang mengumumkan perang dengan Rusia. Dibawah Jendral Kuroki pada bulan Mei 2904 Jepang mengalahkan Rusia di sungai Yalu kemudian menduduki Dalney. Sedang dibawah Jendral Nogi Jepang menghancurkan kapal – kapal perang Rusia di Port Arthur dan akhirnya diduduki.

Pasukan Jepang terus maju dan memblokir Wladiwostok, akhirnya seluruh benteng pertahanan Rusia jatuh ke tangan Jepang. Jendral Stossel akhirnya menyerah kepada Jendral Toko disertai peryataan perang telah selesai.

Faktor yang menyebabkan Rusia gagal menghadapi Jepang :

–          Tentara dan pimpinannya tidak disiplin

–          Keadaan negerinya sedang lemah

–          Ekonomi Rusia dalam keadaan lemah.

  1. d.      Perjanjian Perdamaian Portsmouth (Agustus 1905)

Perjanjian ini diadakan di Portsmouth negara bagian New Hampire. Jepang diwakili Baron Kemura (Menlu), Baron Takahira (Duta Jepang di Washington), sedang Rusia diwakili Witte dan Rosen.

Perundingan itu dibuka tanggal 10 Agustus 1905, sebagai perantara Presiden Roosevelelt, dan pada bulan September  1905 ditandatangani perjanjian Portsmouth yang isinya :

  1. Jepang menjadi yang dipertuan atas kepentingan politik, ekonomi, dan militer di Korea.
  2. Hak – hak Rusia di Liaoutung diserahkan kepada Jepang
  3. Pelabuhan di Saghalin diserahkan kepada Jepang untuk 50 tahun lamanya.
  4. Jalan kereta api di Manchuria Selatan diserahkan kepada Jepang.
  5. Tentara Rusia dan Jepang ditarik dari Manchuria, tetapi Jepang tetap menjadi pengawas atas jalan kereta api.
  6. Baik Rusia dan Jepang tidak boleh merintangi uasah Cina untuk mengembangkan perdagangan industrinya di Manchuria.
  7. Jalan kereta api di Manchuria digunakan untuk kepentingan ekonomi dan industri bukan untuk strategi, kecuali Liaoutung.

Disamping perjanjian Portsmouth, Baron Komura juga mengadakan perjanjian dengan Cina yang dinamakan “Sino Japanese Agreement” yang isinya :

  1. Cina akan membuka 16 kota di Manchuria sebagai kota dagang internasional.
  2. Jepang menarik pasukan dan pengawasan atas jalan kereta api bila Cina mau melindungi kehidupan serta kemakmuran orang asing.
  3. Jepang boleh menempatkan pasukannya untuk mengawasi jalan kereta api yang membentang dari Changchun ke Port Arthur dan Dalney.

Dampak dari perjanjian tersebut adalah :

  1. Jepang muncul sebagai negara Great Of Powers yang sekaligus merupakan tantangan bagi negara barat, sehingga citra Jepang dimata dunia terangkat sangat tinggi.
  2. Jepang mendorong rasa nasionalisme negara – negara Asia., dan telah mematahkan dominasi kulit putih sebagai bangsa yang tak terkalahkan.
  3. Jepang kecewa karena tidak mendapat ganti rugi perang seperti yang diharapkan.
  4. Citra Rusia dimata dunia merosot, dan terusir dari Korea serta pengaruhnay di Timur Tengah berkurang.
  5. Jepang mengundang kekaguman negara Cina dan negara – negar a Barat, karena Jepang muncul sebagai negara maju yang kuat.
  1. e.       Masa Kegemilangan Jepang sampai tahu 1937
    1. 1.      Situasi Dalam Negeri

Situasi dalam negeri Jepang yang semula aman, menjadi tidak menentu setelah Jepang melibatkan diri dalam Perang Dunia. pada masa ini kaum birokrat, militer, bussinesman dan intelektual semuanya saling berebut pengaruh dalam pemerintahan. Salah satu penyebabnya karena generasi pembaharuan dari zaman meiji telah habis, Ito Hirobumi meninggal tahun 1909, Meiji tahun 1912, Yamagato tahun 1922 dan Saionji tahun 1940. Sehingga dalam negeri kehilangan pemimpin yang dipandang sebagai pemersatu Jepang.

Usai perang dunia I, orang Jepang sangat tertarik pada demokrasi, sehingga muncul partai politik dan DPR (Diet) memegang peranan sangat besar. Pada masa itu militer memgang pengaruh yang besar sehingga corak pemerintahannya bersifat militer yang otoriter.

Tahun 1929 Jepang mengalami depresi otonomi, sehingga memukul perekonomian Jepang disaat ingin mengadakan ekspansi industri baratnya. Oleh Yasihara Konio dalam buku “Japanese Economic Development” dinyatakan bahwa tahun 1937 – 1951 merupakan periode tidak normal karena pada periode ini Jepang terlibat perang secara terus menerus.

  1. 2.      Tindakan Jepang diantara Dua Perang Dunia

Setelah Perang Dunia I selesai, Jepang menghadapi dua masalah besar yaitu aliran ekonomi yang menghendaki kapitalisme dan aliran militer yang menghendaki facisme, yang dipimpin oleh Jendral Araki dengan langkah pertama menakhlukkan Manchuria, kemudian mendirikan negara boneka Manchukuo.

Karena tindakannya, Jepang mendapat kecaman setelah masalahnya diajukan ke PBB. Komisi PBB pimpinan Lord Lytton dikirim ke Manchuria untuk mempelajari keadaan. Merasa tidak senang Jepang memutuskan keluar dari PBB. Dengan demikian Jepang bebas melakukan ekspansinya di Asia. Dengan dikuasainya Manchuria, orang militer yang radikal di Jepang menyusun organisasi “Surga Baru di Manchuria” sebagai pilot proyek untuk menciptakan Jepang baru., yang dimaksudkan untuk pangkalan perang di datratan Asia. Perusahaan partikelis Jepang dan Jalan kereta api di Manchuria dikuasai oleh militer. Dalam perebutan kekuasaan tahun 1932 – 1936 kaum militer mendapat kemenangan. Pada masa itu banyak terjadi pembunuhan politik oleh orang  – orang militer terhadap para menteri, pemimpin partai Zaibatsu (raja – raja bussinessman) dan mereka yang tidak tunduk terhadap kebijakan pemerintah militer. Tahun 1936 Jepang siap berserikat dengan Nazi Jerman dan Facis Italia.

About these ads

Diterbitkan oleh

11 tanggapan untuk “POLITIK EKSPANSI DAN IMPERIALISME JEPANG (1894 – 1945)”

    1. seperti yang telah dijelaskan diatas, setelah jepang mulai masuk diera modern jepang berkembang menjadi negara yang dapat dikatakan berhasil dalam bidang industrinya dan dapat disejajarkan dengan negara-negara maju lainnya didunia saat itu. oleh karena daerah Jepang yang sempit, akibat pesatnya industrialisasi yang mempengaruhi laju penduduk maka diperlukan daerah untuk menampung orang-orang Jepang, karena di jepang sendiri sudah kelebihan penduduk. selain itu Jepang juga harus memeasarkan hasil industrinya serta mencari bahan-bahan mentah untuk industri yang tidak dapat diperoleh di Jepang. satu hal yang perlu diperhatikan selain hal tersebut, Jepang melakukan Ekspansi karena adanya kepercayaan agama Shinto ynag di anut oleh Bangsa Jepang, bahwa Jepang adalah pemimpin Asia dan Jepang wajib mempersatukan wilayah Asia dalam satu kepemimpinan Japang.

  1. JEPANG, (MANTAN) PENJAJAH YANG CENDERUNG TERLUPAKAN

    Oleh : Indra Ganie

    Tulisan ini untuk mengenang 70 tahun (1942-2012) awal penjajahan Jepang di Hindia Belanda / Indonesia. Sekitar 4 juta orang tewas akibat kekejaman dan kelalaian.

    Ada suatu kisah “kecil” dari Piala Dunia 2010, seakan menjadi hal rutin jika di antara masyarakat kita memilih kesebelasan negara tertentu sebagai pujaan atau jagoannya. Ada menjagokan Spanyol, ada pilih Italia, ada yang pro Jerman dan lain sebagainya. Tak diragukan lagi bahwa sepak bola adalah jenis olah raga yang paling banyak penggemarnya di kolong langit ini. Event yang berkaitan dengan sepak bola semisal Piala Dunia atau Piala Eropa adalah hal yang sangat ditunggu atau dirindu sebagian besar masyarakat di planet ini.

    Ketika pertandingan demi pertandingan dilalui maka semakin semakin banyak kesebelasan yang tersingkir, akhirnya yang maju ke babak final adalah Spanyol dan Belanda. Dan pada akhirnya para penonton – yang tentu saja penasaran – seakan harus memilih satu diantara dua kesebelasan tersebut. Pada titik itu yang menjadi pembahasan masyarakat – termasuk di lingkungan kantor penulis – bukan hanya taktik atau teknik bermain, namun sadar atau tak sadar ada satu hal yang jarang dipedulikan jadi ikut terbawa, yaitu urusan sejarah.

    Penulis mendapat kesan, mayoritas orang kantor memilih Spanyol, apa kesan mereka terhadap Belanda? Tercetus dari mulut beberapa orang berpendapat tentang Belanda semisal, “Huh itu penjajah! Kenapa, atau untuk apa mendukung Belanda?” Seakan terlupakan bahwa sejumlah negara peserta Piala Dunia tersebut adalah (mantan) penjajah antara lain Spanyol, Portugal, Inggris dan Jepang, ini hanya untuk menyebut yang pernah “bertualang” atau “bermain” di negeri yang disebut dengan “Indonesia”. Dan yang menarik penulis adalah, pendapat ketus atau sinis tersebut keluar dari mulut orang-orang yang sama sekali tidak pernah mengalami penjajahan Belanda, tapi mengapa kenangan tersebut (masih) begitu dalam tertanam atau kuat teringat pada benak rakyat Indonesia, termasuk pada generasi yang lahir setelah sekian tahun Indonesia merdeka?

    Butuh waktu lama bagi penulis mencari jawabannya dan kini penulis mencoba menjelaskannya, walau mungkin kurang sempurna.

    Setiap bangsa atau kelompok masyarakat memiliki sejarah dan ingatan bersama (collective memory) tentang apa yang telah dilaluinya di masa silam, tak terkecuali kelompok masyarakat yang disebut “bangsa Indonesia”. Bangsa ini memiliki sejarah yang terbilang panjang – termasuk sejarah penjajahan. Dari sekian fihak yang pernah menjadi penjajah di negeri ini, Belanda adalah penjajah yang paling lama hadir atau bercokol. Inilah yang menyebabkan kenangan bersama yang tertanam dalam atau teringat kuat adalah penjajahan Belanda!

    Jika ingin merenung lebih luas lagi, yang sering dikenang sebagai penjajah adalah Eropa, atau “orang Barat” – dan Belanda adalah termasuk mereka. Maka, Barat identiklah dengan penjajah dengan berbagai istilah semisal “imperialis” dan/atau “kolonialis”.

    Kenangan tersebut agaknya tidak keliru karena dasarnya kuat, Barat memiliki riwayat penjajahan yang lama dan luas. Diawali oleh Yunani, disambung oleh Romawi, kemudian berlanjut oleh Spanyol. Portugis, Inggris, Belanda, Rusia, Perancis, Italia, Jerman, bahkan Belgia – negeri kecil yang berontak untuk lepas dari Belanda juga tak mau ketinggalan. Penjajahan (lagi) oleh Barat yang dimulai pada abad-16 mencapai puncak kejayaannya pada abad-20, saat Perang Dunia-2 dimulai sekitar 80% planet ini dikuasai Barat – dengan bermacam istilah semisal “koloni”, “persemakmuran” atau “protektorat”. Sungguh “malang” nasib Belanda (atau Barat pada umumnya), citra sebagai penjajah tak pernah lenyap dari ingatan. Cenderung terlupakanlah bahwa Indonesia khususnya – kawasan Asia-Pasifik umumnya – pernah mengalami penjajahan yang “bukan Barat”, yaitu Jepang.

    Agaknya Jepang cukup “mujur”, citra sebagai (mantan) penjajah kurang disimak atau diingat. Penjajahan Jepang yang berujung pada kekalahannya akibat Perang Dunia-2 ternyata mengandung hikmah untuk jangka panjang. Penjajahan Jepang yang paling lama adalah diTaiwan – kini dikenal dengan “Republik Cina”, yaitu 50 tahun. Sungguh beda dengan penjajahan Barat, berlangsung selama ratusan tahun – antara lain di Indonesia. Untuk Indonesia, penjajahan Jepang “hanya” berlangsung 3,5 tahun.

    Penjajahan Jepang yang terbilang singkat tersebut makin “tertolong” untuk dilupakan dengan fakta bahwa setelah Jepang kalah, Indonesia kembali mengalami kekuasaan Barat. Walau ada proklamasi kemerdekaan dan penegasan dalam konstitusi bahwa wilayah yang disebut “Republik Indonesia” mencakup bekas wilayah Hindia Belanda, namun dengan begitu cepat kekuatan kolonial Barat – dengan istilah “Sekutu” – yang merupakan gabungan Persemakmuran Inggris dan Belanda kembali hadir dan merebut sebagian besar wilayah yang dituntut sebagai wilayah Republik Indonesia. Kekuasaan Barat yang sempat pulih pada 1945 di bekas wilayah Hindia Belanda baru berakhir pada 1962, ketika Belanda harus melepas Irian Barat. Dengan kata lain, penjajahan Jepang sudah singkat, terjepit pula.

    Fakta tersebut di atas mempengaruhi dunia ilmiah atau akademis, begitu banyak atau relatif mudah menemukan kajian ilmiah, penelitian atau karya tulis tentang penjajahan Belanda / Barat. Begitu sedikit atau relatif sulit menemukan hal serupa tentang penjajahan Jepang. Akibatnya, makin “membantu” memperkuat ingatan bersama bangsa ini tentang penjajahan Barat dan makin mengurangi ingatan tentang penjajahan Jepang. Bagi penulis – yang terbilang gemar sejarah, ada suatu kejenuhan menelusuri sejarah penjajahan Barat dan mulai tertarik menelusuri penjajahan Jepang.

    Bahwa penjajahan Jepang terbilang singkat dan terjepit 2 perioda kekuasaan Barat, bukanlah alasan untuk menganggap bahwa perioda tersebut tidak memberi bekas atau pengaruh pada kita. Warisan penjajahan Jepang begitu dekat – bahkan lekat dengan hidup keseharian kita namun cenderung tidak terasa.

    Pertama, kemerdekaan yang kini kita rasakan sekaligus negara yang kita miliki. Prosesnya tidak terlepas dari pengaruh Jepang. Pembentukan “Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia” dan “Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia” sebagai bagian dari langkah menuju Indonesia merdeka, adalah prakarsa Jepang. Walau jadwal proklamasi kemerdekaan dapat dipercepat dari jadwal yang direncanakan Jepang, jika sudi direnungkan maka sukarlah untuk menghilangkan kesan bahwa Republik Indonesia sekian persennya adalah buatan Jepang. Penyusunan konstitusi yang menjadi dasar penetapan arah, tujuan dan kelengkapan negara jelas berada dalam lingkup 2 organisasi bentukan Jepang tersebut.

    Kedua, sistem keamanan lingkungan yang dikenal dengan rukun warga, rukun tetangga, pertahanan sipil (hansip) – yang kini disebut satuan pengaman (satpam). Jepang yang pertama memperkenalkan konsep tersebut. Ada 2 tujuan sekaligus yang ingin dicapai oleh pemerintah Jepang, sebagai bagian dari pengerahan rakyat semesta melawan Sekutu dan upaya mengawasi masyarakat hingga unit terkecil dari kemungkinan subversi, infiltrasi dan sabotase.

    Ketiga, barang-barang “made in Japan” yang kini merajai pasaran semisal otomotif. Pada zaman kolonial Belanda, mobil buatan Barat merajai jalanan seantero Hindia Belanda – dan tentu saja jumlahnya tidak seramai sekarang. Nah, coba saksikan sekarang, mungkin 99% mobil dan sepeda motor yang “merajalela” di jalanan adalah merk Jepang semisal Toyota, Daihatsu, Honda dan lain-lain.

    Penulis berharap, tulisan sederhana ini merangsang hasrat untuk menelusuri atau meneliti lebih jauh tentang perioda penjajahan Jepang, yang pada gilirannya akan menghasilkan tulisan atau kajian lebih banyak lagi tentang hal tersebut. Penulis menilai bahwa penjajahan Jepang memang singkat tetapi padat. Padat dengan perubahan dan tentu saja padat dengan penderitaan. Sekitar 4.000.000 orang tewas akibat kekejaman dan kelalaian, sungguh tragis dan ironis. Indonesia tak pernah berperang dengan Jepang selama Perang Pasifik (7/12/1941 – 2/9/1945), namun mengalami jumlah korban tewas pada urutan nomor 4 – dibawah jumlah korban tewas yang diderita Polandia yaitu sekitar 6.000.000. Jika Polandia sangat menderita, karena ada perlawanan cukup berat terhadap Nazi. Rakyat Indonesia dibiarkan tak berdaya ketika kolonial Belanda dipaksa menyerah saat Kapitulasi Kalijati 8 Maret 1942 – tanpa perlawanan berarti. Belanda menyatakan perang melawan Jepang namun rakyat Indonesia yang menanggung akibatnya, dan status keadaan perang tersebut masih berlangsung hingga 1958, ketika pemerintah Republik sepakat dengan pemerintah Jepang untuk mengakhirinya. Perjanjian pampasan perang yang merupakan awal terjalin hubungan diplomatik ternyata masih menyisakan masalah. Pampasan perang yang telah dibayar oleh Jepang dengan berbagai skema relatif tidak banyak dinikmati oleh rakyat Indonesia karena praktek korupsi, kolusi dan nepotisme. Belakangan terungkap bahwa perjanjian pampasan perang tersebut belum mencakup segala penderitaan rakyat Indonesia selama pendudukan Jepang (8/3/1942 – 17/8/1945). Dengan berbagai cara pemerintah Jepang mencoba mengelak dari tanggungjawab sejarah yang masih tersisa, atau berusaha memenuhi tuntutan sesedikit mungkin. Makin menyakitkan lagi bahwa pemerintah Republik cenderung diam atau kurang peduli.

    Perlu diketahui pula bahwa penjajahan Jepang tidak berhenti pada tahun 1945. Sejak hubungan diplomatik terjalin, sambil membayar pampasan perang dan memberi bantuan dalam bentuk lain Jepang berusaha mencari peluang untuk mempengaruhi atau menguasai Indonesia secara pelan-pelan. Bantuan Jepang untuk Indonesia sebagian besar adalah berbentuk hutang, yang jelas membebani APBN kita – yang semestinya untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat Indonesia.

    Berdasar pernyataan tertanggal 7 Maret 2007 dari Jaringan Anti Penjajahan Jepang – gabungan sejumlah organisasi semisal Arus Pelangi, INFID, Koalisi Perempuan Indonesia, Migran CARE – ada sejumlah perilaku “tak pantas” yang dilakukan Jepang khususnya terhadap Indonesia antara lain :

    Pertama, Jepang berusaha menutupi kejahatan perang selama perioda 1931-45, khususnya pendudukan di Indonesia 1942-5 yang mencakup antara lain pengerahan secara tipu atau paksa secara masal kaum lelaki untuk kerja paksa (romusha) dan perempuan untuk melayani nafsu “bawah perut” lelaki Jepang (juugun ianfu). Buku pelajaran sejarah cenderung “melembutkan” kisah perang yang dilakukan Jepang sekaligus menampilkan citra Jepang sebagai pembebas Asia dari imperialisme Barat.

    Kedua, terkait dengan point pertama, Jepang gigih menolak meminta maaf apalagi memberi ganti rugi yang pantas bagi para korban.

    Ketiga, pemberian bantuan yang sebagian besar dalam bentuk hutang sebagaimana telah disebut di atas.

    Keempat, hibah barang-barang bekas semisal kereta dan bis. Ini tak lebih merupakan politik “buang sampah” berupa barang bekas. Selain tak lepas dari aroma korupsi, untuk jangka panjang perawatan barang bekas tersebut lebih mahal dibanding beli baru, menimbulkan polusi dan sebagai tambahan menurut penulis adalah pelecehan martabat bangsa karena disodori barang bekas.

    Kelima, praktek perdagangan manusia terutama perempuan dengan modus pengiriman tenaga entertainment ke Jepang yang ujung-ujungnya terjerumus ke dunia prostitusi dan penempatan buruh magang yang faktanya dipaksa bekerja penuh waktu dengan tempat yang beresiko relatif tinggi sekaligus dengan upah murah.

    Pada 20 Agustus 2007 diteken kesepakatan kemitraan “Indonesia Japan Economic Partnership Agreement” antara Perdana Menteri Shinzo Abe dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

    Dilihat dari istilah “kemitraan” atau “partnership”, mungkin ada rasa kebanggaan karena dari istilah tersebut terkesan ada kesetaraan antar Jepang dengan Indonesia. Tidak ada yang merasa lebih tinggi atau menganggap lebih rendah satu sama lain. Padahal siapapun tahu siapa Jepang dan siapa Indonesia.

    Dari pengalaman sejarah, bangsa Indonesia pernah membuat perjanjian dengan bangsa asing antara lain perdagangan – dengan segala dampaknya. Perjanjian dengan bangsa lain bukan ha lasing bagi bangsa ini. Namun, tentu harus difahami bahwa setiap perjanjian perlu dipelajari atau dibahas sejauh mungkin untuk kemanfaatan bersama. Tidak ada yang merasa dirugikan. Perihal perjanjian yang merugikan pun pernah dialami bangsa ini, penyebabnya bisa karena ditipu atau bisa juga dipaksa. Boleh dibilang bangsa ini sudah “kenyang” dengan perjanjian macam itu. Contoh jelasnya, penjajahan yang dialami bangsa ini untuk sekian persennya adalah akibat dari perjanjian yang tidak adil atau tidak jujur .

    Terkait dengan IJEPA, menurut tulisan Samsul Prihatno tertangal 20 Agustus 2007 dengan judul “IJEPA Memperkuat ‘Penjajahan’ Jepang Di Indonesia”, ada sejumlah hal yang berpotensi merugikan Indonesia antara lain :

    Pertama, IJEPA adalah bentuk strategi mengamankan energi Jepang terutama untuk gas dan batu bara. Hal tersebut dpat mengancam ketahanan energi Indonesia karena gas adalah sumber daya tak terbarukan. Krisis energi yang saat ini tengah mengemuka dalam politik global hendaknya menjadi pelajaran bagi Indonesia untuk melakukan pengamanan pasokan energi di dalam negeri, untuk mencukupi kebutuhan rumah tangga, pertanian dan industri dalam negeri secara berkelanjutan.

    Kedua, komponen peningkatan kapasitas dan asistensi teknis di dalam hubungan “partnership” ini adalah kepentingan Jepang, di mana segala sesuatunya akan didatangkan dan dikelola oleh Jepang. Sementara itu sifat “partnership” ini tidaklah bersifat “dispute mechanism”, artinya Jepang tidak dapat dituntut bila tidak melakukannya. Sementara kesepakatan lainnya bersifat “dispute mechanism”, di mana pihak Indonesia dapat dituntut bila tidak menjalankan disiplin dalam kesepakatan IJEPA ini.

    Masih ada sejumlah hal lain yang berpotensi merugikan Indonesia namun penulis cukupkan mengutip 2 hal di atas, intinya IJEPA adalah bentuk baru penjajahan Jepang di Indonesia.

    Kesimpulan dari tulisan ini, waspadai perilaku bangsa lain – khususnya Jepang – terhadap bangsa ini. Ingat, ada sekitar 1000 perusahaan Jepang di negeri ini, luangkan waktu meneliti bagaimana keadaan para pegawai bangsa Indonesia. Ingat, Jepang adalah negara donor terbesar bagi Indonesia, cermati bagaimana bentuk bantuan untuk Indonesia. Jangan sampai ada penjajahan jilid 2 dari bangsa mana pun. Indonesia adalah negeri yang menggiurkan karena wilayah luas, alam kaya, letak strategis dan penduduk banyak. Indonesia sejak lama menjadi sumber bahan baku sekaligus sumber pemasaran yang melimpah. Inilah yang diincar oleh penjajah segala zaman.

  2. PERANG PASIFIK: REVOLUSI TIMUR ALA JEPANG

    Oleh : Indra Ganie

    Tulisan ini untuk mengenang 70 tahun (1942-2012) awal penjajahan Jepang di Hindia Belanda / Indonesia. Sekitar 4 juta orang tewas akibat kekejaman dan kelalaian.

    PENDAHULUAN

    Pakar sejarah Will dan Ariel Durant pernah menyatakan dari hasil penelitiannya bahwa sebagian besar waktu dalam riwayat manusia adalah perang. Hanya beberapa tahun saja yang merupakan tahun tanpa perang.

    Berkaitan dengan itu penulis mencoba membahas suatu perang yang berdasar pada anggapan umum yang cenderung membagi dunia menjadi 2 yaitu dunia Timur dan dunia Barat.

    Dalam hidup sehari-hari, jika mengingat Timur orang teringat dengan Asia dan Afrika dan jika mengingat Barat orang teringat dengan Eropa, Amerika dan Australia. Memang, riwayat umat manusia sebagian besar didominasi hubungan kedua dunia tersebut walaupun sadar tidak sadar kadang ada kecenderungan memelihara dikotomi Timur-Barat.

    Jelas bahwa walaupun 2 umat tersebut hidup berdampingan tetapi sulit dibantah bahwa bentuk hubungan tersebut lebih merupakan persaingan daripada persandingan. Ya, persaingan hampir dalam segala hal. Orang cenderung berfokus pada perbedaan dari pada persamaan dari 2 umat tersebut. Akibatnya, titik temu nyaris mustahil didapat.

    Berfokus pada perbedaan sesungguhnya sudah lama tetapi mencapai puncaknya – atau lebih tepat diperparah – mungkin sejak abad-16, ketika orang Barat dari berbagai bangsa menjelajah dan menjajah ke seantero dunia. Praktis pada awal abad-20, sebagian besar dunia Timur dijajah oleh Barat.

    Segala perbedaan tersebut akhirnya lebih banyak menampilkan peperangan dari pada pemahaman. Semuanya menampilkan korban yang mengerikan dan kadang dendam yang berkepanjangan.

    Di antara sekian banyak peperangan antara kedua umat tersebut, ada 1 perang yang hingga kini dianggap terbesar antara dunia Barat dengan dunia Timur walaupun tidak murni konflik Barat-Timur. Perang yang dimaksud adalah Perang Pasifik (7/12/1941 – 2/9/1945).

    Perang ini bukanlah peristiwa yang berdiri sendiri – terutama bukanlah peristiwa yang muncul begitu saja, tetapi berkaitan dengan berbagai konflik lain sebelumnya yang kemudian “bermuara” pada Perang Dunia-2 (1/9/1939 – 2/9/1945), perang terbesar yang pernah diciptakan manusia. Berbagai konflik tersebut merupakan “pemanasan” sebelum “pembakaran” yang melanda sebagian besar dunia. Tegasnya, Perang Pasifik adalah bagian dari Perang Dunia-2.

    Perang Dunia-2 adalah perang yang terbilang ruwet jika kita hanya berfokus pada dikotomi Barat-Timur. Perang ini mencakup konflik Barat-Barat, Timur-Timur dan Barat-Timur. Dengan demikian Perang Pasifik mencakup konflik Barat-Timur dan Timur-Timur.

    Para “pemain” Perang Dunia-2 terbagi 2 kelompok yaitu Sekutu dan Poros. Pemain utama Sekutu adalah Amerika Serikat (AS), Inggris, Perancis, Uni Soviet (US) dan Cina. Adapun pemain utama Poros adalah Jerman, Jepang dan Italia. Khusus Perang Pasifik, konflik Barat-Timur nyata dari perang antara AS, Inggris dan kemudian US melawan Jepang. Mengenai konflik Timur-Timur adalah Cina melawan Jepang.

    Tetapi umumnya cenderung berfokus dari Perang Pasifik adalah segi konflik Barat-Timur – khususnya bagi yang pernah mengalaminya – karena sebagian besar wilayah Asia-Pasifik dikuasai imperialis Barat, termasuk Indonesia. Penilaian tersebut diperkuat oleh propaganda Jepang yang terbilang berani yaitu “Asia untuk orang Asia” dan Jepang ingin memiliki citra pembebas Timur dari imperialis Barat.

    Tetapi jelas pula bahwa Jepang tidak murni membela Timur, propaganda tersebut dirusak oleh rasa unggul diri dibanding dengan bangsa lain termasuk Timur. Perilaku kejam Jepang tidak hanya berlaku bagi orang Barat tetapi juga orang Timur. Kekaguman atau kegembiraan yang mungkin sempat muncul nyaris tak bersisa karena kebencian dari penindasan tersebut. Jepang lebih mengejar kepentingan diri sendiri dari pada kepentingan sesama Timur.

    Propaganda “Asia untuk orang Asia” mungkin lebih ampuh ketika Jepang kalah dan imperialis Barat mencoba hadir kembali ke wilayah bekas jajahannya semisal kolonial Belanda kembali ke Indonesia. Sesudah Perang Pasifik, tampil gerakan kuat anti imperialis Barat bukan hanya di wilayah bekas taklukan Jepang tetapi juga wilayah jajahan Barat yang tidak sempat ditaklukan Jepang.

    Gejolak di Asia menyebar ke dunia Timur lain yaitu Afrika. Muncul negara-negara baru bagai jamur tumbuh di musim hujan. Hal tersebut memaksa imperialis Barat mencari cara baru untuk tetap unggul dan agaknya hal tersebut telah ditemukan dan dilaksanakan.

    Perang Pasifik, walaupun adalah peristiwa yang pahit tetap harus diakui telah mengubah wajah Asia-Pasifik termasuk Indonesia. Sulit membayangkan wajah Indonesia – waktu itu disebut “Hindia Belanda” – tanpa perang tersebut. Perang tersebut telah “mempercepat” kemerdekaan Indonesia mengingat gerakan kemerdekaan yang berlangsung sejak abad-16 belum sukses mengantar Indonesia kepada kemerdekaan. Sejak awal abad-20 corak perlawanan adalah politik setelah sebelumnya corak militer gagal mengusir kolonialis. Perlawanan politik perlu waktu lama untuk mewujudkan kemerdekaan. Serbuan pasukan Jepang adalah tantangan yang tak dapat dibendung oleh kolonial Belanda. Jepang hanya perlu waktu sekitar 3 bulan untuk merebut Nusantara.

    Kekejaman Jepang makin menggelorakan semangat kemerdekaan, dan ketika Jepang dipaksa menyerah oleh Sekutu hasrat merdeka terwujud dengan proklamasi kemerdekaan dan tak dapat dibendung oleh Jepang dan imperialis Barat.

    LATAR BELAKANG

    Umumnya orang menilai bahwa imperialisme Barat bermula pada abad-16, hal tersebut berdasar fakta bahwa pada abad tersebut pelaku imperialis tersebut tidak hanya 1 bangsa tetapi beberapa bangsa. Demikian pula korbannya, juga terdiri dari beberapa bangsa.

    Padahal imperialisme Barat telah ada sejak sebelum Masehi. Penaklukan oleh Alexander Yang Agung dari Kerajaan Macedonia sejauh Asia Tengah pada abad-4 sebelum Masehi adalah contoh imperialisme Barat.

    Pada perioda 500-1500 dunia Barat mengalami apa yang disebut “Zaman Kegelapan” (Dark Ages) atau “Zaman Pertengahan” (Middle Ages). Dunia Barat kehilangan capaian kemanusiaan yang pernah diraih sebelumnya yaitu sekitar perioda 1000 BC – 500 AD. Untuk kedua kalinya Barat harus belajar pada Timur yang sukses mempertahankan keunggulan pencapaian kemanusiaan praktis tanpa putus pada sekitar perioda 5000 BC – 1800 AD.

    Masuk abad-16 Barat boleh dibilang mulai bangkit kembali. Peradaban dari Timur dipoles, dikembangkan dan dipercanggih. Perioda 1500-1800 lazim dikenal dengan “Renaissance” (Kebangkitan atau Kelahiran Kembali).

    Tetapi sangat disayangkan bahwa ada ciri buruk dari kebangkitan tersebut yaitu imperialisme. Perkembangan teknologi memudahkan – dan tentu membangkitkan – hasrat imperialisme. Penjelajahan dan penjajahan ke seantero dunia tak terbendung.

    Menaklukan Australia dan Amerika relatif mudah karena penduduknya sedikit dan umumnya masih primitif, tetapi di Asia dan Afrika lebih sulit karena penduduknya banyak dan umumnya telah canggih.

    Sekitar abad-18 muncul gerakan kebangkitan berikut yang disebut “Aufklarung” (Pencerahan), dengan ciri sebagai berikut:

    1. Revolusi Industri di Inggris, yang umumnya dianggap bermula dari penemuan mesin uap oleh James Watt pada 1769.
    2. Revolusi Amerika (1775-83), usaha pemukim Eropa di Amerika Utara lepas dari negara induk yaitu Kerajaan Inggris dan membentuk Republik Amerika Serikat. Kelak AS menjadi superpower sejak abad-20.
    3. Revolusi Perancis (1789-1815), usaha rakyat Perancis menghapus monarki dan kelak akan menampilkan negara imperialis terbesar kedua pada abad-19.

    Akibat dari Aufklarung dapat dirasakan pada abad-19, dari 1800 hingga kini untuk pertama kalinya Barat mengungguli Timur. Usaha Timur untuk membendung keunggulan Barat banyak gagal.

    Nyaris mirip dengan Barat, gerakan kebangkitan di Timur lebih banyak dihambat oleh kalangan intern. Kelompok yang anti kebangkitan tidak ragu untuk minta bantuan imperialis Barat menumpas setiap gerakan kebangkitan. Dengan demikian gerakan kebangkitan di Timur kadang menghadapi lawan intern sekaligus ekstern.

    Contoh tantangan intern maupun ekstern dapat kita temui dalam sejarah Perang Paderi (1821-37) di Minangkabau. Perang tersebut berawal dari tantangan kelompok anti kebangkitan terhadap gerakan kebangkitan yang dikenal dengan gerakan “Paderi”. Gerakan tersebut melaksanakan kebangkitan dengan cara pemurnian pemahaman dan pengamalan agama Islam. Mereka yakin bahwa pemahaman dan pengamalan Islam yang tercampur berbagai faham yang dianggap bertentangan dengan Islam telah membawa keruntuhan moral masyarakat. Faham pemurnian tersebut dibawa dari Arabia. Muhammad bin ‘Abdul Wahhab membentuk gerakan pemurnian sebagai dasar kebangkitan dengan nama “Muwahhid” (Kelompok Monotheis), tetapi akan lebih dikenal dengan nama “Wahhabi”. Perbedaannya adalah gerakan Wahhabi mendapat tantangan hanya dari intern, sedangkan Paderi mendapat tantangan dari intern dan ekstern. Kelompok anti kebangkitan minta bantuan imperialis Barat menumpas Paderi. Nasib yang mungkin mirip dengan Paderi adalah al-Qa-idah, dipimpin Usamah bin Ladin. Propaganda imperialis Barat mampu mempengaruhi Timur untuk melawan gerakan tersebut.

    Kembali pada pokok masalah, mengingat bahwa Perang Pasifik dikobarkan oleh Jepang maka perlu dijelaskan walau mungkin sekilas latar belakangnya.

    Bangsa Jepang adalah termasuk rumpun (keluarga bangsa) Mongoloid, ciri umumnya adalah mata sipit, kulit putih atau kuning (menurut mata orang Barat), tinggi relatif sedang atau pendek. Yang juga termasuk rumpun ini adalah Cina, Korea, Tibet, Manchu dan Mongolia. Rumpun ini masuk bergelombang dari Cina melalui Korea masuk Jepang sekitar menjelang tarikh Masehi dan kelak kita kenal dengan bangsa Jepang. Di tempat baru mereka menemukan kepulauan yang kaya sumber laut tetapi miskin sumber tambang.

    Letak Jepang yang sedemikian rupa cenderung menciptakan ketertutupan dan keterasingan dari pengaruh luar selama berabad-abad. Hal tersebut berakibat bangsa Jepang termasuk bangsa sangat homogen, dengan demikian orang Jepang yang maju perang melawan Barat pada tahun 1941 adalah keturunan langsung – nyaris tanpa campuran – dari suku-suku primitif yang menyeberang dari daratan Asia tersebut. Hingga kekalahan Jepang tahun 1945 tidak sampai 1% campuran dengan bangsa lain.

    Sekitar abad-6 berangsur-angsur Jepang menjalin hubungan dengan Cina, negeri dengan penduduk yang berperadaban canggih. Hubungan tersebut membawa Jepang dari corak primitif ikut dalam arus besar peradaban Timur. Huruf Jepang contohnya, adalah huruf Cina yang telah mengalami proses alih tulis yang lama.

    Jepang memang dikenal sebagai bangsa peniru, tetapi selama berabad-abad segala pengaruh luar tersebut disesuaikan dengan identitas Jepang. Dengan demikian Jepang sekian lama mampu memperkaya peradaban tanpa perlu kehilangan kepribadian.

    Sistem pemerintahan Jepang menempatkan kaisar sebagai lambang, kaisar dianggap sebagai keturunan tuhan matahari dan berbagi status dengan rakyatnya. Dengan demikian rakyat juga memiliki status ketuhanannya.

    Penempatan kaisar secara demikian berdasar pemikiran bahwa kaisar adalah sosok sempurna, dengan demikian berbagai ciri ketidaksempurnaan yang lazim pada manusia semacam kita semisal salah, gagal, ceroboh atau bodoh harus dihindarkan. Kaisar harus berjarak dengan masyarakat, walau hadir di dunia tetapi harus terkesan berada pada “negeri di awan” dan pemerintahan duniawi diserahkan kepada siapapun yang kebetulan berkuasa. Sebab jika kaisar terlibat dalam membuat ketetapan yang terkait dengan masyarakat, dikhawatirkan jika ketetapan tersebut ada yang ditolak umum maka akan menjatuhkan martabat kaisar menjadi manusia biasa, yang dapat bertindak bodoh atau ceroboh.

    Dalam agama asli Jepang yaitu Shinto, pemujaan berpusat pada kaisar. Dengan demikian kaisar adalah imam. Agama ini tidak memuat hukum dan moral tetapi hanya ritual terhadap keajaiban alam.

    Sejarah awal Jepang boleh dibilang masih misteri, sebagian besar berbentuk dongeng yang tentunya sulit dipertanggungjawabkan secara ilmiyah. Walaupun menurut dongeng kaisar pertama adalah Jimmu sekitar perioda 700-600 BC, info yang layak dipercaya berasal dari abad-7.

    Pada abad-7 berkuasa keluarga Kamatari Fujiwara yang berlangsung hingga abad-12. Pada perioda tersebut hubungan dengan dunia luar berlangsung lebih giat. Dari hubungan tersebut Jepang mengenal agama Budha dan budaya Cina.

    Secara umum rezim ini ramah, konon selama sekitar 500 tahun tidak ada hukuman mati karena politik. Rezim ramah tersebut akhirnya ditumbangkan oleh tokoh-tokoh militernya sendiri yang kelak membentuk rezim, dikenal dengan rezim “Shogun” (1192-1868). Pada perioda ini benih militerisme muncul, keberanian atau bahkan kekejaman dihargai.

    Sekitar 30 tahun rezim ini hadir, tampillah sekelompok masyarakat atau kasta baru yang dikenal dengan nama “samurai”, pendekar yang menjunjung keberanian dan meremehkan kematian demi martabat. Sering tampil dalam naskah kuno sebagai manusia berbaju zirah dan bersenjata pedang. Bagi samurai pedang adalah simbol status.

    Waktu berjalan terus. Sebagaimana umumnya bangsa lain, Jepang juga mengalami konflik dengan bangsa lain dalam bentuk percobaan penaklukan. Pada abad-13 Jepang mendapat serbuan dari bangsa Mongol, yang telah menaklukan wilayah terbentang dari Korea hingga Polandia. Usaha tersebut gagal. Dan usaha Jepang menaklukan luar negeri juga gagal pada abad-16. Sejak itu Jepang tidak terlibat penaklukan hingga abad-19.

    Walaupun menyerap pengaruh luar, rasa unggul diri begitu kuat sehingga sejak abad-17 hingga abad-19 praktis Jepang menutup diri begitu ketat yang dikenal dengan “politik isolasi”. Pada perioda tersebut Jepang mengalami perioda unik dalam sejarah manusia yaitu perdamaian tanpa putus sekitar 250 tahun. Tetapi hal tersebut harus dibayar mahal, karena pengawasan ketat rezim Shogun yang sulit memungkinkan bangsa itu untuk berkembang. Ketika isolasi dibuka pada sekitar pertengahan abad-19, Jepang mirip dengan Barat abad-16. Tertinggal sekitar 300 tahun.

    Usaha membuka diri Jepang dilaksanakan AS. Armada kecil AS pimpinan Matthew Calbraith Perry dikirim ke Jepang untuk menjalin hubungan pada 1853. Setelah serangkaian perundingan tercapai kesepakatan disebut “Perjanjian Shimoda” tahun 1854. Intinya adalah AS diizinkan menempatkan konsul di Jepang dan beberapa pelabuhan dibuka untuk persinggahan kapal AS.

    Sukses tersebut ingin ditiru oleh bangsa Barat lain, tapi dengan niat lebih rakus. Semisal Inggris mencoba mengulang sukses di Cina, Inggris belum lama menang perang dan Cina dipaksa melepas Hongkong. Imperialis Barat ingin mendapat tempat berpijak berbentuk jajahan di Jepang, hanya istilahnya diperhalus yaitu “hak luar wilayah”.

    Kehadiran orang asing menampilkan gejolak. Pemerintah dinilai gagal melindungi Jepang. Tanpa sadar rezim Shogun sukses melindungi kaisar dari kegagalan tersebut dengan cara mengasingkan kaisar dari masyarakat. Revolusi bermula pada 1860 ketika sekelompok samurai mengobarkan pemberontakan. Pemberontakan tersebut sukses mengakhiri rezim Shogun. Status kaisar diubah dari sekedar lambang belaka, beberapa wewenang yang sekian lama “terlarang” jadi diberikan dan Mutsuhito dilantik menjadi kaisar dengan corak demikian tahun 1867. Perioda pemerintahannya lazim disebut “Restorasi Meiji”. Kaisar ini bertahta hingga 1912.

    Dengan didampingi para penasihat yang handal, kaisar mencoba mengubah Jepang dari ketertinggalan menjadi modern. Hal tersebut harus dilaksanakan dengan cara belajar di luar, mengingat Cina tidak dapat diharapkan lagi maka pilihan diarahkan ke Barat. Banyak orang Jepang belajar ke negeri-negeri Barat, antara lain demokrasi. Tetapi untuk kesekian kali Jepang meniru sambil menyesuaikan. Parlemen atau dikenal sebagai “diet” dibagi 2, majelis tinggi diisi para ningrat dan majelis rendah diisi para pilihan rakyat. Tentu saja majelis tinggi berwenang membatalkan ketetapan dari majelis rendah.

    Penghapusan kasta samurai adalah contoh lain modernisasi. Membawa senjata tidak lagi hanya menjadi hak mereka, juga memiliki tentara sendiri. Sebagai gantinya dibentuk angkatan perang tunggal nasional, pembentuknya adalah Jenderal Aritomo Yamagata.

    Dengan usaha serius untuk maju, Jepang memiliki rakyat paling terdidik di Timur. Pada awal abad-20 sekitar 90% warga melek huruf.
    Pembangunan industri yang pesat menghadapkan Jepang pada masalah serius: kebutuhan dengan sumber daya alam dan wilayah pemasaran. Mau tak mau Jepang harus menoleh ke luar negeri untuk menyelesaikan 2 masalah tersebut dengan sekali perhitungan. Jalan keluarnya: penaklukan luar negeri! Jepang agaknya tidak ingin kalah pula dengan Barat dalam perkara ini. Penaklukan memungkinkan meraih suatu wilayah untuk dikeruk sumber daya alamnya dan tempat menjual hasil-hasil industrinya.

    Wilayah pertama yang dicaplok adalah Kepulauan Kurile dari Rusia pada 1875, berikutnya adalah mencaplok Kepulauan Ryukyu dari Cina pada 1879. Perang Cina-Jepang I (1894-5) menghasilkan pulau Formosa (kini Taiwan).

    Tetapi peristiwa yang lebih menggemparkan adalah Perang Rusia-Jepang (1904-5). Peristiwa ini tak dapat disangkal lagi memang murni konflik Barat-Timur, Jepang sukses mengalahkan Rusia padahal militer Rusia jauh lebih kuat, ketika itu Rusia memiliki personal militer berjumlah sekitar 4.500.000 orang dan Jepang hanya sekitar 283.000 orang. Rusia harus melepas antara lain Sakhalin Selatan dan Manchuria Selatan.

    Sadar tidak sadar Jepang telah meruntuhkan mitos keunggulan ras Barat dan menyadarkan Timur akan potensi diri sendiri. Gerakan anti kolonial yang secara umum lesu seakan mendapat kesegaran lagi, termasuk di Hindia Belanda.
    Sebagaimana telah disebut di atas bahwa Jepang tidak murni membela Timur, mementingkan diri sendiri jelas prioritas pertama dan utama. Hingga peristiwa Pearl Harbor, Jepang justru lebih banyak berperang dengan sesama Timur dari pada Barat.

    Pada tahun 1910 Korea dicaplok, Manchuria selebihnya mendapat giliran pada 1931 dari Cina. Pada Perang Dunia-1 (1914-8) Jepang bersama dengan beberapa negara Barat tergabung dalam kelompok Sekutu melawan kelompok Sentral dengan Jerman sebagai anggota terkuatnya. Perjanjian Versailles 1919 mengakui pencaplokan Jepang terhadap jajahan Jerman mencakup Provinsi Syantung di Cina, juga Kepulauan Marshall, Kepulauan Mariana dan Kepulauan Carolina di Samudera Pasifik.

    Rekan Jepang dalam Sekutu yaitu AS dan Inggris cemas dengan kemajuan penaklukan itu. Mereka mencoba membatasi Jepang dengan mengundang Jepang ikut konferensi yang dikenal dengan “Konferensi Angkatan Laut” di Washington tahun 1922. Hasilnya sungguh memukul martabat Jepang, konferensi tersebut menetapkan kekuatan armada AS : Inggris : Jepang sebesar 5 : 5 : 3. Sedikit menghibur Jepang adalah kesepakatan AS-Inggris untuk tidak membangun kubu pertahanan baru di Asia-Pasifik.

    Pencaplokan Manchuria dari Cina ternyata mendapat reaksi keras. Jepang memilih keluar dari Liga Bangsa Bangsa, organisasi yang dibentuk pasca Perang Dunia-1 untuk menjaga perdamaian dunia. Proyek penaklukan tetap diteruskan. Jepang menilai segala pembatasan tersebut adalah bentuk kelicikan Barat. Barat dianggap berlomba-lomba meraih jajahan, tetapi ketika Jepang ikut main mendadak Barat ingin menghentikan permainan – tentunya setelah mendapat banyak yang diinginkan – dan menciptakan citra penuh kebajikan.
    Krisis ekonomi sedunia 1929 ikut memukul Jepang, beberapa usaha tutup dan jutaan orang menganggur. Suasana tersebut menampilkan radikalisme: Jepang perlu perubahan drastis berupa pembaharuan ke dalam dan penaklukan ke luar.

    Yang mampu mengambil untung dari krisis tersebut adalah nasionalis fanatik yang dikenal dengan istilah “jingo”, kelompok ini mencakup sipil dan militer. Mereka menginginkan pemurnian Jepang, mereka mencela banyak tiruan dari Barat. Untuk itu mereka tidak ragu membunuh para lawannya, beberapa tokoh pemerintah dibunuh.

    Setahap demi setahap mereka meraih kekuasaan, Diet ditekan untuk memberi berbagai ketetapan yang menjurus pada pemberangusan demokrasi. Pada tahun 1940 Diet praktis bersih dari para penentang militerisme dan chauvinisme. Jepang menjadi mesin totaliter dengan tokoh-tokoh berdedikasi semisal Hideki Tojo, Koki Hirota dan Sadao Araki.

    Penaklukan berlanjut. Siasat memancing konflik di Jembatan Marco Polo Peking mengobarkan Perang Cina-Jepang II (7/7/1937 – 2/9/1945). Hanya waktu 2 tahun yang diperlukan untuk merebut sekitar 30% wilayah Cina. Cina dipaksa melepas pesisirnya dan terkurung. Jalan ke dunia luar hanya “Jalan Sutra” dan “Jalan Birma”. Di Cina propaganda “Asia untuk orang Asia” praktis tidak laku, Cina adalah negara merdeka dan tentu saja bangsa Cina menjadi majikan di negeri sendiri. Hanya sedikit wilayah Cina dikuasai asing dan orang Cina di wilayah kekuasaan asing praktis sepakat bahwa dijajah Barat masih lebih baik dari pada dijajah Jepang. Kekejaman yang ditampilkan pasukan Jepang membangkitkan kebencian rakyat Cina dan mereka melawan. Walau serba kekurangan dan terpecah belah, Cina mampu bertahan hingga usai Perang Pasifik. Jelas konflik Cina-Jepang adalah konflik Timur-Timur, bukan Barat-Timur.

    Perang di Cina makin mencemaskan Barat, simpati diberi kepada Cina. Perasaan tersebut sangat kuat hadir di AS tetapi membantu bukan berarti ikut perang, walau Cina berharap AS ikut. Bantuan diberi dalam bentuk pinjaman atau sumbangan.

    Negara yang cemas juga dengan gerak maju Jepang adalah US. Negara ini adalah pengganti Kerajaan Rusia, kerajaan tersebut berakhir pada 1917 akibat Revolusi Rusia. Setelah perang saudara yang mengerikan kaum komunis memastikan diri menjadi penguasa di bekas kerajaan itu.

    Pemimpin pertama US yaitu Lenin wafat tahun 1924 dan diganti Josef Stalin. Tanpa membuang waktu dia memantapkan kekuasaannya dengan kejam, para penentangnya disingkirkan hingga nyaris tak bersisa. Pada perioda 1930-an, dengan cemas Stalin melihat kekuatan yang berpotensi mengepung yaitu Jerman yang dikuasai Nazi sejak 1933 di sisi barat dan Jepang yang berbatasan langsung di sisi timur. Sejak 1933 dia membangun militer yang kuat sambil tak lupa membersihkan siapa yang dicurigai sebagai penentang, termasuk dalam militer.

    US menjalin hubungan dengan Cina berdasar pakta “tidak saling menyerang”, pakta tersebut memuat ketentuan rahasia yaitu memberi bantuan militer kepada Cina. US menilai Cina adalah penghalang ambisi Jepang di Asia Timur. Sementara Jepang sibuk dengan Cina, US memperkuat diri.

    Yang dicemaskan Stalin terbukti kebenarannya, bentrokan US-Jepang terjadi pada bulan April 1939 dan berakhir pada bulan September 1939. US menang, agaknya Stalin bertekad Rusia tak boleh kalah lagi.

    Stalin dengan cerdik menghindar dari konflik 2 front sekaligus, pada 23 Agustus 1939 terwujud pakta “tidak saling menyerang” antara Soviet dengan Nazi. Pakta tersebut memuat ketentuan rahasia membagi Eropa menjadi 2. Pelaksanaan pakta tersebut pertama di Polandia, Jerman menyerbu pada 1 September dan US menyerbu pada 17 September dan membagi negeri malang tersebut. Beberapa anggota Persemakmuran Inggris, Perancis dan Polandia bergabung dalam kelompok yang disebut “Sekutu” melawan Jerman.

    Pada 10 Mei 1940 pasukan Jerman menyerbu Perancis,Belanda, Belgia dan Luxemburg. Perancis dan Belanda memiliki jajahan di Asia Tenggara, wilayah yang diincar Jepang. Terutama Hindia Belanda! Penaklukan negeri induk oleh Jerman memperlemah negeri jajahan.

    Pasukan Jepang masuk Indocina Perancis pada tahun itu juga tanpa perlawanan karena bulan Juni Perancis menyerah kepada Jerman. Rezim pro Jerman dibentuk dipimpin Jenderal Henri Petain. Jepang membiarkan urusan dalam negeri Indocina tetap dipegang Perancis karena wilayah tersebut hanya diperlukan Jepang untuk pangkalan militer.

    Pada 27 September 1940 Jerman, Jepang dan Italia mengikat diri dalam persekutuan yang disebut “Tripartite Pact” (Pakta Tiga Fihak), kelompok ini dikenal dengan sebutan “Poros” sebagai lawan Sekutu. Beberapa negara kemudian bergabung dengan Poros, tetapi jumlah anggota Sekutu lebih banyak.

    Untuk memastikan bahwa Jepang tidak diserang dari belakang ketika berperang di Pasifik, Jepang membuat pakta non agresi dengan US pada April 1941. Pakta tersebut jelas menggembirakan Stalin, dia tahu niat Jerman akan menyerbu US walau ada pakta non agresi yang dibuat Menteri Luar Negeri Vyacheslav Molotov dengan Menteri Luar Negeri Joachim von Ribbentrop pada Agustus 1939 sebagai tersebut di atas. Bagi Stalin, persoalannya adalah bukan apakah Jerman akan menyerbu tetapi kapan menyerbu. Pakta non agresi dengan Jepang memungkinkan Stalin memusatkan kekuatan untuk kelak melawan Jerman.

    Gelagat Jepang untuk menaklukan Hindia Belanda makin jelas karena wilayah tersebut adalah tujuan pokok perang yang akan dikobarkan kelak. Rezim kolonial berusaha memanfaatkan waktu untuk memperkuat diri. Warga pribumi diizinkan mendapat latihan militer sekaligus memberlakukan pembatasan terhadap aktivis kemerdekaan.

    AS mencoba untuk membendung ambisi agresi Jepang dengan embargo, Inggris dan Belanda diajak bergabung. Usaha tersebut sukses, embargo 3 negara tersebut berlaku bulan Juli 1941.

    Embargo tersebut memukul Jepang, negara miskin sumber alam, penduduk banyak, wilayah sempit dan masuk jalur gempa bumi pula. Karena itu Jepang mencoba berunding dengan AS sambil menghimpun kekuatan jika perundingan gagal.

    AS sudah menduga bahwa perundingan akan gagal. Jepang mustahil memenuhi tuntutan untuk menghapus negara ciptaan Jepang yaitu Manchukuo, menarik kekuatan militernya dari Cina dan Indocina.
    Jepang menilai bahwa untuk menguasai Pasifik haruslah lebih dulu melumpuhkan kekuatan AS di kawasan tersebut. Pandangan terarah ke Hawai, tepatnya pangkalan militer AS di Pearl Harbor. Rencana disusun: serangan ke Pearl Harbor harus langsung disusul dengan gerak maju di wilayah lain yang diincar.

    Ada hal yang boleh dibilang masih misteri atau kontroversi, suatu pendapat dari Robert B. Stinnet dalam buku “Day Of Deceit” (2001) yang menyatakan bahwa sesungguhnya beberapa tokoh pemerintah termasuk Presiden Franklin Delano Roosevelt sudah tahu niat Jepang, tetapi membiarkan saja karena ada tujuan yang lebih besar yang ingin di capai. Roosevelt ingin AS ikut Perang Dunia-2 dengan tujuan menolong Sekutu melawan Jerman, tetapi mayoritas rakyat AS enggan terlibat walaupun bersimpati pada Sekutu. Untuk membangkitkan minat rakyat untuk terlibat, Roosevelt menugaskan seseorang bernama Arthur H. MacCollum untuk menyusun rekayasa supaya Jepang terpancing menyerang AS, tidak mengapa muncul korban jika memang diperlukan untuk membangkitkan gairah rakyat. Logikanya, jika Jepang berperang dengan AS maka rekan utama Jepang di Eropa yaitu Jerman dan Italia ikut menyatakan perang dengan AS. Dengan demikian rakyat tidak melihat alasan untuk enggan terlibat perang.

    Rekayasa tersebut sukses, pada 7 Desember 1941 Pearl Harbor diserang dengan korban di fihak AS sekitar 2500-3000 orang tewas dan kekuatan AS di Pasifik lumpuh karena beberapa kapal, pesawat serta fasilitas lain rusak. Pada 8 Desember AS menyatakan perang dengan Jepang, Jerman dan Italia menyatakan perang dengan AS pada 11 Desember. Keikutsertaan AS berperang berlangsung lancar karena didukung mayoritas rakyat. Adapun kerugian di Pearl Harbor dapat dipulihkan dalam waktu relatif singkat mengingat AS adalah negara wilyah luas, sumber alam kaya dan teknologi canggih.

    PERANG BERKOBAR

    Perang Pasifik disebut Jepang dengan Perang Asia Timur Raya. Jepang memakai istilah “Asia” tidak terlepas dari propaganda “Asia untuk orang Asia”. Untuk meraih simpati, dengan berani Jepang membenturkan 2 dunia yang pada waktu itu terjalin hubungan yang tidak enak: Barat menjajah Timur. Dikotomi Barat-Timur, “kita di sini mereka di sana”, “kolonialisme-nasionalisme” dihembus-hembuskan, tetapi ada 1 hal yang tidak dihembuskan yaitu pembebasan ala Jepang tidak disertai kemerdekaan. Hal tersebut itulah yang sedikit disadari. Mayoritas rakyat Timur – minimal pada awalnya – mendukung perang Jepang.

    Cina, Korea dan Filipina termasuk yang tidak mendukung sejak awal. Cina tidak lupa kehilangan wilayah jauh sebelum Perang Pasifik sekaligus mengalami kekejaman Jepang. Ketika Pearl Harbor diserang, Cina telah terlibat perang kejam dengan Jepang sejak 1937. Demikian pula Korea sejak negeri tersebut dicaplok tahun 1910, merendahkan orang Korea telah menjadi cara hidup orang Jepang. Adapun Filipina merasa lebih dekat dengan AS karena perlakuan manusiawi yang sudah diterima sekitar 40 tahun sebelum perang. Kepercayaan Filipina akan janji diberi kemerdekaan pada tahun 1946 diperkuat oleh pembentukan pemerintahan sendiri tapi masih di bawah AS sebagai langkah awal merdeka penuh, yang disebut “Republik Persemakmuran Filipina” pada 1935. Presiden Manuel Luis Quezon meminta Mayor Jenderal (Purnawirawan) Douglas MacArthur membentuk tentara Filipina. Praktis sekitar 95% rakyat pada 3 negeri tersebut anti Jepang.

    Sebagaimana telah disebut di atas, serangan ke Pearl Harbor segera diikuti gerak maju ke wilayah lain. Pasukan Jepang menyerbu Filipina, Birma, Hongkong, Muangthai dan Malaya pada Desember 1941. Demikian pula Guam dan Tinian milik AS dan Kepulauan Gilbert jajahan Inggris. Hindia Belanda, Irian Timur dan Kepulauan Solomon mendapat giliran pada Januari 1942. Kepulauan Aleut milik AS diserbu pada Juni 1942.

    Di Filipina, MacArthur diaktifkan kembali sebagai tentara pada bulan Juli 1941 sebagai panglima pasukan AS di Timur Jauh dengan pangkat jenderal. Pasukan AS dan Filipina digabung di bawah pimpinannya. Pasukannya mengalami serba kekurangan karena bantuan kecil dari AS, karena itu tidaklah mengherankan ketika pasukan Jepang pimpinan Letnan Jenderal Masaharu Homma menyerbu pada 10 Desember 1941 gerak mundur pasukan AS-Filipina tak dapat dihindar. Manila jatuh pada 2 Januari 1942 dan kekuatan dihimpun di Semenanjung Bataan dan Pulau Corregidor. Pertempuran sengit terjadi hingga pasukan Mac Arthur dipaksa menyerah pada 6 Mei 1942. Mac Arthur diperintah untuk pindah ke Australia pada bulan Maret 1942 dan Quezon pindah ke AS membentuk pemerintah dalam pengasingan (government in exile). MacArthur menyerahkan komando kepada Letnan Jenderal Jonathan Wainwright, yang kemudian menyerah. Sesuai rencana, sebagian dari mereka melaksanakan perang gerilya.

    Jepang berusaha keras menarik simpati rakyat Filipina namun gagal. Walaupun Filipina diberi kemerdekaan pada Oktober 1943, rakyat tahu bahwa suasana nyata adalah tidak merdeka. Perilaku menindas membantu kegagalan tersebut. Makin banyak warga yang terlibat kegiatan anti Jepang dan mempersiapkan kedatangan kembali Amerika.

    Birma (kini Myanmar) telah mendapat hak pemerintahan sendiri di bawah Inggris sejak tahun 1937. U Saw dipilih sebagai perdana menteri. Pada tahun 1941 dia pergi ke London meminta kemerdekaan penuh tapi ditolak. Dia kemudian mencoba berhubungan dengan Jepang, akibatnya dia ditangkap dan diasingkan ke Uganda yaitu jajahan Inggris di Afrika.

    Sebelum menyerbu Jepang, sekelompok orang Birma mendapat latihan militer dari Jepang untuk ikut serta bersama pasukan Jepang menyerbu Birma. Tentara tersebut dikenal dengan nama “Tentara Kemerdekaan Birma”. Kelak tentara tersebut dipengaruhi oleh aktivis kemerdekaan yang disebut “Tiga Puluh Sekawan” yang dipimpin oleh Aung San. Jelas aktivis tersebut tidak ingin mengganti penjajahan dengan penjajahan. Ketika kolonial Inggris runtuh, gerakan tersebut mulai melawan Jepang.

    Pasukan Jepang masuk dari Muangthai, diawali dengan serangan udara terhadap ibu kota Rangoon (kini Yangon) pada 26 Desember 1941. Pertempuran dahsyat berlangsung hingga kota tersebut jatuh pada 7 Maret 1942. Pasukan British Commonwealth yang terdiri dari Inggris, India, Gurkha dan Birma mati-matian mundur ke utara dengan tujuan India. Pasukan Cina yang dikirim untuk membantu ternyata praktis tidak berguna karena bobrok: kurang gizi, kurang semangat, kurang terlatih, kurang perlengkapan, organisasi kacau, penuh korupsi dan lain-lain. Tentara Cina adalah gambaran pemerintahnya – yaitu Nasionalis Cina pimpinan Chiang Kai-shek – terutama praktek korupsi, kolusi dan nepotisme. Pasukan Cina lebih banyak mundur dari pada bertempur. Birma praktis jatuh pada akhir Mei 1942.

    Penaklukan Birma berakibat gawat bagi Sekutu. Terbuka kemungkinan bahwa Jepang akan menyerbu India – dan hal itu kelak terjadi. Penaklukan tersebut juga berakibat Jalan Birma ditutup dan Cina akan makin kekurangan. Kemungkinan Cina akan kalah jelas terbayang.

    Sementara pertempuran di darat berlangsung, armada Jepang melaksanakan serangkaian serangan ke Samudera Hindia selama 31 Maret hingga 9 April untuk memastikan bahwa penaklukan Birma tidak mendapat gangguan dari laut. Tujuannya adalah pangkalan Sekutu di Sailan. Beberapa kapal Sekutu dapat ditenggelamkan.

    Di Malaya, pasukan Jepang menyerbu dari utara. Tujuannya adalah Singapura, benteng terkuat imperialis Barat di Timur Jauh. Tapi perang dengan Jerman memaksa Inggris mengurangi kekuatan di Asia untuk dikirim ke Afrika dan Eropa sebelum Jepang menyerbu. Jazirah Malaya yang berhutan lebat bukan rintangan berarti, pasukan Jepang sudah dilatih perang hutan. Armada Inggris telah dilumpuhkan oleh serangan udara spektakuler yang berakibat kapal kebanggaan Inggris yaitu “Prince Of Wales” dan “Repulse” tenggelam pada 10 Desember 1941. Pada 15 Februari 1942 Letnan Jenderal Arthur E. Percival terpaksa menyerah kepada Letnan Jenderal Tomoyuki Yamashita di Singapura. Peristiwa tersebut sangat memukul martabat Inggris – dan juga Barat umumnya. Mitos keunggulan ras Barat makin runtuhlah.

    Singapura jatuh berarti Hindia Belanda jatuh hanya soal waktu. Pada 15 Januari 1942 Sekutu membentuk “ABDACOM” (American-British-Dutch-Australian Command) dengan markas di Bandung. Panglima tertinggi adalah Jenderal Sir Archibald Wavel dari Inggris, panglima darat adalah Letnan Jenderal Hein Ter Poorten dari Belanda dan panglima laut adalah Laksamana Thomas C. Hart dari AS. Pasukan Jepang menyerbu dari Filipina dan Indocina walaupun perlawanan Sekutu di Filipina belum usai. Untuk merebut Hindia Belanda dipilih Letnan Jenderal Hitoshi Imamura sebagai panglima. Gerak pasukan Jepang bagai tangan gurita memotong-motong pertahanan Sekutu sehingga terkepung atau terjepit.

    Nasib Jawa – jantung Hindia Belanda – ditentukan dalam “Pertempuran Laut Jawa” pada 27 Februari hingga 1 Maret 1942 dengan kemenangan Jepang. ABDACOM bubar, Wavel pindah ke Sri Langka. Demikian pula Hart. Ter Poorten mengambil alih komando dari kekuatan yang tersisa. Pada 8 Maret rezim kolonial Hindia Belanda menyerah di pangkalan udara Kalijati, Jawa Barat. Sisa kekuatan Sekutu ada yang lari ke Australia, Selandia Baru, Irian Timur dan berbagai kepulauan di kawasan tersebut. Nasib negeri berpenduduk (waktu itu) 70 juta telah ditentukan: hanya ganti majikan. Majikan yang lebih kejam.

    Timor Portugis terkena amuk perang akibat serbuan ke Hindia Belanda. Portugis telah berada di pulau tersebut sejak 1512. Pada abad-17 orang Belanda mendesak orang Portugis ke timur dan pulau tersebut terbagi antara Belanda di barat dengan Portugis di timur.

    Untuk mencegah pasukan Jepang masuk ke Timor, Sekutu tidak hanya mengirim pasukan ke sisi barat tetapi juga ke sisi timur pada Desember 1941. Portugis mengajukan protes – karena memilih netral dalam Perang Dunia-2 – tapi tak berdaya mencegah pencaplokan jajahannya oleh Sekutu. Portugis cemas pasukan Jepang pasti akan memasukkan Timor Portugis sebagai bagian dari penaklukan dan Sekutu tak akan mampu membendungnya, ternyata hal tersebut memang terbukti.

    Gerak maju pasukan Jepang mencerai beraikan pasukan Sekutu, Sekutu memilih siasat perang gerilya untuk menahan pasukan Jepang sebanyak mungkin supaya tidak dikirim ke tempat lain. Perang berlangsung hingga Desember 1942 dan sukses menahan cukup banyak pasukan Jepang. Timor Portugis digabung dengan Timor Barat, yang berarti digabung ke Hindia Belanda

    Portugis mungkin masih sedikit terhibur karena jajahan lainnya yaitu Macao dihormati.

    Australia dan Selandia Baru juga terancam serbuan Jepang. Kedua negara tersebut telah terlibat perang sejak 3 September 1939 ketika Inggris menyatakan perang dengan Jerman. Mereka telah mengirim pasukan ke Afrika dan Eropa sehingga relatif sedikit yang tersisa untuk melawan Jepang. Tanpa bantuan AS kedua negara tersebut tak akan bertahan dan tanpa kedua negara garis pertahanan Sekutu terpaksa ditarik ke benua Amerika.

    Ketika Hindia Belanda diserbu, pasukan Jepang juga bergerak menuju Kepulauan Solomon. Garnisun Australia di Pulau New Britain dengan cepat dikalahkan dan pasukan Jepang cepat membuat pangkalan besar di kota utama di pulau tersebut, Rabaul. Pada bulan Juni gerak maju pasukan Jepang di Pasifik Barat Daya telah menjangkau sejauh Guadalcanal setelah mendapat perlawanan ringan. Artinya jelas, Australia terkurung.

    Untuk memastikan bahwa Australia makin terkurung, pangkalan Sekutu di Port Moresby di bagian selatan Irian Timur (kini Papua Nugini) harus direbut. Sejak Februari 1942 Port Moresby mendapat serangan udara dari Rabaul untuk melemahkan pangkalan tersebut dan kota Darwin di Australia juga diserang dari udara oleh pesawat yang berpangkalan di Hindia Belanda. Usaha merebut pangkalan tersebut digagalkan Sekutu dalam Pertempuran Laut Karang pada 7-8 Mei 1942. Demikian pula usaha merebut lewat darat pada 21 Juli dapat digagalkan setelah pertempuran sengit hingga 22 Januari 1943.

    Kepulauan Aleut di dekat Alaska diserbu pasukan Jepang pada bulan Juni 1942, tapi sesungguhnya hanya pancingan supaya armada AS menuju ke wilayah tersebut. Laksamana Isoroku Yamamoto mengincar pangkalan AS di Midway, bagian tengah Pasifik. Jika Midway dilumpuhkan atau direbut maka gerak maju pasukan Jepang dapat menjangkau Hawai atau bahkan AS. Tetapi niat tersebut diketahui Laksamana Chester Nimitz sehingga Aleut dibiarkan direbut pasukan Jepang dan kekuatan Sekutu dihimpun untuk mempertahankan Midway, adapun Yamamoto menyerbu Midway dengan kekuatan yang sudah terbagi untuk Aleut. Hasilnya, dalam Pertempuran Midway pada 4-6 Juni 1942 Jepang mendapat kekalahan berat. Yamamoto mungkin sedikit terhibur karena ada wilayah AS yang direbut.

    Babak awal Perang Pasifik boleh dibilang berakhir pada 7 Agustus 1942, karena pada tanggal tersebut Sekutu menyerbu Guadalcanal yang merupakan serbuan Sekutu yang pertama dalam Perang Pasifik.Serbuan tersebut adalah awal babak kedua.

    SEKILAS SUASANA PENDUDUKAN JEPANG

    Dengan kehadiran pasukan Jepang sejak berkobar Perang Pasifik, rakyat di wilayah taklukan tersebut memiliki pendapat yang saling berbeda. Ada yang menilai bahwa Jepang memang tulus memerdekakan Timur, ada yang menilai Jepang hanya mementingkan diri sendiri dan ada pula yang menilai bahwa bagaimanapun perilaku Jepang kerja sama dengan Jepang diperlukan untuk meraih kemerdekaan. Pendapat berbeda ini juga ada di Hindia Belanda.

    Sikap Cina, Korea dan Filipina telah jelas: lawan Jepang! Dari ketiga bangsa ini, Korea boleh dibilang sangat lemah perlawanannya. Umumnya perlawanan tersebut dilaksanakan di luar negeri. Cengkeraman Jepang yang sangat kuat nyaris sempurna menutup peluang melawan. Dari seluruh wilayah taklukan Jepang, Korea yang paling dekat dan tentunya paling mudah diawasi Jepang.

    Pendudukan Jepang di Korea menampilkan 2 aktivis kemerdekaan yang menonjol yaitu Syngman Rhee dan Kim Il-sung. Akibat kegiatannya, Rhee terpaksa meninggalkan Korea dan menetap di AS. Di pengasingan, dia menghimpun orang Korea di AS untuk menyiapkan kemerdekaan. Dia kembali ke Korea pada 1945 dan menjadi presiden Korea Selatan pada 1948.

    Kim Il-sung melawan Jepang juga dari luar negeri. Dia memilih faham komunis sebagai ideologi gerakannya. Selama 1941-5 dia bergerilya di Manchuria dengan dukungan rahasia US. Dia juga kembali pada 1945 bersama pasukan US dan menjadi presiden Korea Utara juga tahun 1948.

    Di Korea, rezim Jepang berusaha melaksanakan Jepangisasi. Orang Korea harus menerima budaya Jepang dan agama Shinto . Mungkin kita mengira bahwa hal tersebut mudah mengingat kedua bangsa tersebut serumpun. Faktanya tidak semudah itu, walaupun serumpun Korea benci dengan proyek tersebut. Jelas ada beberapa hal yang merupakan ciri khas Korea. Hal tersebut berlaku juga pada bangsa lain. Bahkan dalam 1 bangsa terdapat beberapa suku yang tentunya memiliki ciri sendiri semisal bangsa Indonesia, tidak dapat dipaksakan untuk seragam dalam segala hal.

    Perilaku merendahkan dari orang Jepang adalah hal lain yang dibenci orang Korea. Ada beberapa tempat yang terlarang didatangi orang Korea atau hanya untuk orang Jepang semisal restoran, toko atau sekolah tertentu. Orang Korea yang berdinas dalam militer dan sipil Jepang cenderung mendapat penghasilan yang lebih kecil tapi pekerjaan lebih sulit dibanding orang Jepang. Kesalahan sekecil apapun dapat dihukum berat. Tak heran jika ketika Korea baru bebas, bangsa itu kekurangan sumber daya manusia yang bermutu akibat pembatasan di bidang pendidikan dan kesempatan lain. Korea harus bekerja keras mengejar ketertinggalan dan boleh dibilang sukses walaupun dalam bidang berbeda. Korea Utara unggul dalam militer dan Korea Selatan unggul dalam ekonomi.

    Mengingat keterbatasan data, tak banyak yang dapat disajikan tentang suasana pendudukan Jepang dan perlawanan Korea.

    Di Cina, peluang melawan sangat besar karena sebagian besar wilayah Cina masih bebas. Tapi sayang, Cina dilanda perang saudara – terutama antara komunis dengan nasionalis – sehingga sulit membentuk gerakan perlawanan terpadu. Usaha bersatu selalu gagal karena perbedaan ideologi yang jelas.

    Sejak tahun 1934 komunis pimpinan Mao Tse-tung memilih Yenan sebagai markas pusat karena didesak oleh nasionalis pimpinan Chiang Kai-shek. Wilayah tersebut kering dan miskin. Kedua fihak tersebut muncul akibat Revolusi Cina yang berkobar sejak 1911, revolusi untuk meruntuhkan Dinasti Manchu (1644-1912) dan mengubah Cina menjadi republik. Pada awalnya komunis dan nasionalis bersatu di pimpin oleh Sun Yat-sen, tokoh nasionalis. Pada tahun 1925 Sun wafat dan diganti oleh Chiang, Chiang makin lama makin kurang suka dengan komunis dan melaksanakan pembersihan besar-besaran terhadap komunis pada 1927. Selama beberapa tahun internasional mengakui nasionalis sebagai pemerintah yang sah di Cina.

    Sejak tahun 1938 Chiang Kai-shek menetap di Chungking, kota di tepi Sungai Yangtze jauh di pedalaman. Pasukan Jepang telah memaksa Chiang melepas Nanking pada Desember 1937 yang sekian lama menjadi ibukota nasionalis.

    Harapan Chiang untuk melibatkan negara lain – khususnya AS – berperang melawan Jepang tercapai setelah peristiwa di Pearl Harbor. Cina perlu hubungan ke luar negeri dan itu sulit dilaksanakan mengingat pesisir telah direbut Jepang dan kekurangan fasilitas perhubungan. Ketika Perang Pasifik berkobar AS dan Inggris berusaha membangun pangkalan di India untuk membantu Cina, juga beberapa pangkalan Sekutu dibangun di Cina. Penaklukan Birma mempersulit pengiriman bantuan.

    Mengingat Cina adalah negeri luas, alam tak ramah, penduduk yang banyak dan ulet serta faktor lain telah menjadikan Cina sebagai pengganggu yang menjengkelkan, karena memaksa Jepang harus menahan pasukan sekitar 1.000.000 orang padahal mereka diperlukan di tempat lain. Perlawanan Cina menghambat gerak maju pasukan Jepang ke wilayah lain. Hal itu memberi dalih kepada Jepang untuk bersikap kejam menumpas perlawanan supaya Cina menyerah selekas mungkin. Pembalasan berupa pembantaian, perusakan dan penjarahan besar-besaran tanpa pilih-pilih oleh pasukan Jepang karena perlawanan Cina menjadi “menu” sehari-hari. Kekejaman tersebut lebih membangkitkan kebencian dari pada ketakutan dan makin menambah perlawanan. Hingga perang usai, Jepang tidak pernah betul-betul menguasai wilayah yang direbut karena diganggu perlawanan Cina.

    Bagi Sekutu, menahan pasukan Jepang sebanyak mungkin dan selama mungkin di Cina supaya tidak dikirim ke tempat lain adalah tujuan. Untuk itu Sekutu berusaha membantu Cina supaya mampu berperang selama mungkin. Usaha merebut Birma adalah bagian dari bantuan Sekutu kepada Cina. Juga beberapa personal militer Sekutu dikirim untuk melatih tentara Cina.

    Bicara tentang perang gerilya, komunis lebih mahir. Keseriusan komunis meraih simpati berakibat banyak warga bergabung. Mao melaksanakan disiplin sedemikian rupa sehingga walau serba kekurangan masih sanggup melawan dengan ampuh.

    Kedisiplinan tersebut tidak terdapat pada nasionalis. Pemerintahan Chiang penuh dengan korupsi, kolusi dan nepotisme. Dukungan para tuan tanah dan feodalis lain pada rezimnya berakibat bangkit kebencian rakyat pada rezim, kebencian tersebut bertambah karena kaum feodalis tersebut cenderung bekerja sama dengan Jepang. Hal tersebut dimanfaatkan dengan lihai oleh komunis. Selain melawan Jepang, komunis juga tidak segan bertindak kejam terhadap kaum feodalis sehingga mereka praktis bebas berbaur dengan warga tanpa takut dikhianati. Doktrin Mao adalah “tentara dan warga ibarat ikan dengan air” memang serius dilaksanakan.

    Mungkin Cina adalah yang paling berat menanggung derita pendudukan Jepang dibanding yang lain. Sekitar 15.000.000 orang tewas sejak perang berkobar dengan Jepang pada 1937 dengan berbagai sebab antara lain aksi militer maupun dampak tak langsung dari perang semisal kurang gizi dan wabah. Bantuan dari Sekutu jelas tak cukup.

    Di Filipina, rakyat relatif cepat pulih dari rasa kaget akibat serbuan pasukan Jepang. Berbagai gerakan perlawanan tampil tapi kadang tidak rukun. Setelah beberapa waktu terjadilah penggabungan: kelompok kecil “diserap” oleh kelompok besar. Muncul nama-nama tokoh perlawanan semisal Luis Taruc, Ramon Magsaysay dan Ferdinand Marcos.

    Walaupun MacArthur tahu bahwa gerakan perlawanan ada tetapi tidak jelas nama kelompok dan tokohnya. Sekitar awal 1943 dia mencoba menjalin hubungan dengan Filipina dalam bentuk mengirim spion dengan kapal selam. Selain spion dia juga mengirim berbagai bantuan semisal senjata, amunisi dan radio. Beberapa waktu kemudian jaringan spionase tersebut telah tersebar di seantero Filipina, bahkan ke Manila. Rakyat Filipina makin percaya bahwa Sekutu akan kembali. Pemberian kemerdekaan pada 14 Oktober 1943 praktis diabaikan karena suasananya tetap tidak merdeka.

    Pemberian kemerdekaan palsu tersebut di atas menampilkan Jose P. Laurel sebagai presiden.

    Rakyat Filipina mengembangkan sikap yang mungkin unik terhadap orang yang bekerja sama dengan Jepang. Mereka cenderung menganggap bahwa para antek tersebut berusaha mengurangi kekejaman Jepang dan boleh dibilang hal itu ada benarnya. Para antek tersebut secara rahasia melawan Jepang dan para aktivis kemerdekaan memerlukan mereka untuk mendapat berbagai data.

    Pekerjaan spionase memiliki resiko besar. Tidak jarang orang yang tak tahu apapun tentang itu harus menanggung resikonya. Jika seorang spion tertangkap, aparat Jepang segera menciduk orang-orang yang kenal dengannya semisal keluarga dan teman. Selanjutnya pembaca dapat menebak nasib mereka.

    Pembantaian warga dan pembakaran desa juga terjadi di Filipina, membunuh seorang Jepang dibalas dengan membunuh atau menangkap banyak orang. Karena itulah MacArthur menghimbau rakyat untuk tidak melawan terang-terangan. Sebelum pasukan Sekutu tiba di Filipina, MacArthur hanya perlu data. Karena itu jarang terjadi pertempuran. Umumnya pertempuran terjadi karena melindungi markas, merebut logistik atau markas Jepang.

    Pasukan Sekutu menyerbu Filipina pada 20 Oktober 1944, dengan demikian terpenuhilah janji MacArthur yang terkenal “I shall return” (saya akan kembali).

    Di Birma, Jepang juga memberi kemerdekaan semu pada 1 Agustus 1943. Presidennya adalah Ba Maw dan tentaranya adalah Tentara Pertahanan Birma. Tentara ini menggantikan Tentara Kemerdekaan Birma.

    Walaupun ada pergantian organisasi, pada hakikatnya sama saja yaitu dipengaruhi oleh gerakan “Tiga Puluh Sekawan” pimpinan Aung San, bahkan rezim Ba Maw dipengaruhi olehnya. Ada 4 anggota kabinetnya yang sesungguhnya aktivis kemerdekaan.

    Selama pendudukan Jepang, Aung San menghimpun kekuatan dan menyebar pengaruh praktis tanpa diketahui Jepang. Agaknya Jepang lebih sibuk mempersiapkan serbuan ke India. Kelak ketika pasukan Sekutu tiba, dia menampilkan niat aslinya: berontak terhadap Jepang. Karena itu praktis tidak ada pemberontakan terbuka hingga tahun 1945, walaupun derita karena pendudukan juga hadir di Birma.

    Untuk mempermudah gerakan pasukan dan logistik – antara lain sebagai persiapan menyerbu India, Jepang membuat proyek terkenal dengan nama “Jalur Rel Maut”. Jalur tersebut dibuat untuk menghubungkan Muangthai dengan Birma dengan menggunakan tenaga paksa dari tawanan maupun warga dari berbagai bangsa antara lain Indonesia. Proyek tersebut meminta tumbal besar: ribuan tewas karena kurang kepedulian, perlakuan kejam dan kasus kecelakaan. Selebihnya ada yang terpaksa menetap karena tak mampu pulang atau hilang entah ke mana. Ada juga yang kelak mendapat perawatan dari Sekutu setelah usai perang.

    Usaha merebut Birma dimulai pada Oktober 1943 oleh pasukan Cina yang dilatih dan dilengkapi oleh AS di India. Tokoh yang terkemuka di arena ini antara lain Letnan Jenderal Joseph W. Stilwell dari AS dan Laksamana Lord Louis Mountbatten dari Inggris.

    Di Malaya (termasuk Singapura), Jepang mencoba memberi perlakuan berbeda antara 3 kelompok besar rakyat Malaya yaitu Melayu, Cina dan Keling. Yang paling menderita adalah Cina sebagai akibat Perang Cina-Jepang II, Jepang secara sistematis membunuh orang Cina dengan berbagai dalih antara lain tuduhan komunis walaupun secara umum orang Cina hidup sebagai kapitalis. Memang ada yang berfaham komunis tetapi mereka lolos dan membentuk kelompok perlawanan. Kelompok yang terkemuka adalah “Tentara Rakyat Malaya Anti Jepang”, kelompok tersebut dibantu orang Inggris yang sempat lolos atau mencoba melaksanakan gerilya yang telah direncanakan sebelum perang. Kadang kala bantuan Sekutu disusupkan kepada mereka.

    Orang Melayu mungkin sedikit lebih beruntung. Jepang memerlukan mereka untuk kelak membentuk pemerintahan Melayu masa depan. Demikian pula orang Keling, mereka diperlukan untuk membentuk pemerintahan India. Walaupun demikian, ribuan orang Melayu didaftar untuk ikut dalam berbagai proyek pembangunan antara lain “Jalur rel Maut” di Birma dan Muangthai. Sebagian mereka tewas atau hilang.

    Di Hindia Belanda tidak ada yang berubah kecuali pengawasan lebih ketat atau perlakuan lebih kejam. Pada 20 Maret 1942 Jepang mengumumkan larangan membicarakan dalam bentuk apapun soal tata negara. Larangan tersebut dibuat sedemikian rupa sehingga berbagai partai yang dibentuk pada masa kolonial Belanda praktis tak berkutik. Jepang cenderung pada organisasi baru dengan para tokoh yang terkenal sekaligus mau bekerja sama. Secara umum rakyat Indonesia tidak punya pilihan, Belanda tidak mempersiapkan rakyat untuk melawan Jepang. Belanda membiarkan rakyat tak berdaya jatuh dicengkeram Jepang.

    Soekarno, Hatta dan beberapa tokoh lain memilih kerja sama dengan Jepang untuk menuju Indonesia merdeka, mereka menempuh itu karena sudah terkenal sehingga sulit untuk sembunyi. Beberapa organisasi dibentuk antara lain “Putera” (Pusat Tenaga Rakyat), secara resmi Putera berfungsi menghimpun potensi rakyat membantu Jepang. Beberapa orang Indonesia diberi jabatan yang dulu terlarang oleh Belanda, atau beberapa jabatan baru diciptakan dan diisi orang Indonesia. Jepang berniat membawa rakyat terlibat perang dengan Sekutu sambil meredam hasrat kemerdekaan. Tapi hal tersebut diketahui oleh para tokoh. Karena itu pada tiap kesempatan mereka mengingatkan rakyat untuk tidak lupa pada tujuan pokok: merdeka! Propaganda anti Sekutu dengan cerdik disusupi dengan propaganda anti Jepang.

    Adapun Sutan Syahrir dan beberapa orang lain memilih jaga jarak dan melawan secara rahasia.

    Tanpa propaganda apapun, rasa anti Jepang muncul jua. Dimulai dari larangan mengibarkan bendera Merah Putih dan menyanyi “Indonesia Raya”, keharusan menundukkan kepala pada orang Jepang yang ditemui hingga berbagai perlakuan kejam. Pemberontakan muncul antara lain di Aceh, Jawa Barat dan Irian Barat. Di Kalimantan Barat pernah terjadi pembunuhan massal mencakup keluarga sultan, orang Barat dan warga lokal dengan dalih percobaan berontak. Konon di Irian Barat, pernah ada proyek Jepangisasi dengan pembunuhan massal dan wilayah tersebut kelak diisi dengan orang Jepang. Jika proyek tersebut sukses, akan dicoba di tempat lain. Proyek di Irian Barat itu dilaksanakan sambil menumpas pemberontakan yang terjadi. Pembunuhan massal juga terjadi di Kepulauan Tanimbar.

    Ketika perang berubah merugikan Jepang, orang Indonesia diizinkan berlatih militer untuk menghadapi kemungkinan serbuan Sekutu. Di Sumatera dibentuk Gyu Gun dan di Jawa dibentuk Peta (Pembela Tanah Air). Selain itu dibentuk pula organisasi semi-militer semisal Hizbullah dan Seinandan.

    Orang Indonesia yang berdinas dalam militer Jepang disebut Heiho, Jepang menggaji mereka dan bebas mengirim ke berbagai medan perang semisal Birma dan Morotai.

    Pada 7 September 1944 Perdana Menteri Kuniyaki Koiso berjanji memberi kemerdekaan kepada Indonesia “kelak kemudian hari”, sejak itu berangsur-angsur kelonggaran diberikan antara lain mengibarkan bendera nasional dan menyanyikan lagu nasional.

    Sementara itu pasukan Sekutu telah masuk di beberapa tempat di Hindia Belanda yaitu pesisir utara Irian Barat, Maluku Utara dan Kalimantan Timur. Jepang memacu gerak menuju Indonesia merdeka guna mencegah Belanda datang kembali, mengingat Belanda adalah anggota Sekutu dan pasukan Belanda memang bergabung dalam pasukan Sekutu menyerbu wilayah tersebut tadi.

    Langkah awal persiapan kemerdekaan adalah membentuk “Badan Penyelidik Usaha Kemerdekaan Indonesia” (BPUPKI). Di situ terdapat Soekarno, Hatta, Agoes Salim, Ki Bagoes Hadikoesoemo, Ki Hajar Dewantara, Muhammad Yamin dan lain-lain. Mereka terlibat pembahasan sengit mengenai bentuk Indonesia merdeka. Ada yang mengusulkan Indonesia berdasar Islam dalam arti kewajiban melaksanakan syari’at Islam bagi pemeluknya, ada pula yang menolaknya dengan dalih Indonesia terdiri berbagai umat walaupun kaum Muslim adalah mayoritas. Pembahasan tersebut kemudian menghasilkan dasar negara yang dikenal dengan “Piagam Jakarta” 22 Juni 1945.

    BPUPKI diganti dengan “Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia” (PPKI), beberapa orang adalah mantan dari BPUPKI. Kelak PPKI sempat mengalami proklamasi kemerdekaan, pengesahan konstitusi dan pemilihan presiden serta wakil presiden.

    Di Indocina, sejak sebelum Perang Dunia-2 telah ada gerakan kemerdekaan. Tokoh yang terkemuka adalah Ho Chi Minh, pada 1920 dia membentuk “Partai Komunis Vietnam” dan pernah berontak melawan kolonial Perancis. Pemberontakan tersebut gagal, tapi peristiwa tersebut telah menempatkan komunis sebagai aktivis kemerdekaan paling tangguh di Indocina. Pada tahun 1941 dia membentuk “Vietminh” (Liga Kemerdekaan Vietnam), ketika itu pasukan Jepang telah masuk Indocina dengan persetujuan pemerintahan Perancis pro Nazi, yang dikenal dengan sebutan “Vichy”.

    Hingga Maret 1945 hubungan Perancis-Jepang di Indocina relatif baik. Jepang hanya perlu Indocina sebagai pangkalan militer, adapun urusan sipil tetap wewenang Perancis. Sejak tahun 1932 Raja Bao Dai berkuasa di bawah Perancis, tugasnya praktis hanya lambang.

    Ketika Jepang menghapus kolonialisme Perancis, kekuasaan Raja Bao Dai ala Perancis tetap dipertahankan. Raja berusaha meraih kekuasaan lebih dari sekedar lambang namun gagal. Sulit mengajak orang bekerja sama dengan suasana tidak menentu, orang Vietnam yang cakap cenderung lebih suka melawan Jepang dari pada kerja sama.

    Sekutu pernah mencoba menjalin hubungan dengan Vietminh, beberapa spion dikirim menemui Ho Chi Minh. Hasilnya adalah Vietminh mencari data Jepang dan pilot Sekutu yang jatuh, Sekutu memberi senjata dan perlengkapan lain.

    Ketika perang usai Vietminh kuat di utara dan membentuk Republik Demokrasi Vietnam di Hanoi.

    Di India, pasukan Jepang sempat masuk pada 8 Maret 1944 tetapi dipaksa pergi pada 8 Juli 1944 setelah pertempuran sengit dekat perbatasan Birma-India. Jepang sempat membentuk tentara India pro Jepang yang dikenal dengan “Tentara Nasional India” (INA) bersama aktivis kemerdekaan bernama Subhas Chandra Bose. Tentara tersebut umumnya beranggota orang India yang berdinas dalam militer Inggris dan ditangkap Jepang di Birma dan Malaya. Jepang menggunakan mereka untuk bersama menyerbu India dan membangkitkan pemberontakan terhadap kolonial Inggris. Usaha merebut India gagal, INA bubar setelah Sekutu merebut Birma dan Bose tewas dalam suatu perjalanan dengan pesawat Jepang.

    Secara umum suasana pendudukan Jepang boleh dibilang sama terutama dalam arti mendapat derita yang sama yaitu:

    1. Serba kekurangan, tujuan perang Jepang adalah merebut wilayah untuk dikeruk sumber alamnya, diisi dengan bangsa Jepang dan menjadi wilayah pemasaran barang serta jasa. Harta paling berharga adalah firdaus tropis Hindia Belanda: sumber alam kaya, wilayah luas, letak strategis dan rakyat masih bodoh. Bahkan bukan hanya sumber alam yang dikeruk, tetapi berbagai fasilitas juga diangkut semisal rel, lokomotif, gerbong, mobil, truk, bis, tiang listrik, pagar sampai besi tua. Tekstil sedemikian langka sehingga banyak orang menutup tubuh – dan jenazah – dengan karung. Konon beredar cerita, banyak mayat yang bangkit lagi dari kubur karena gatal-gatal memakai karung, bukan kain kafan.

    Perhiasan perempuan juga tak luput dari permintaan untuk disumbangkan, banyak yang mencoba menyembunyikan antara lain dengan dikubur.

    Kelaparan tak terelakkan, beras – sama halnya dengan tekstil – berlimpah tapi hampir semua disimpan dalam gudang untuk persiapan perang. Pada perioda tersebut sudah menjadi pemandangan biasa melihat mayat terkapar di mana-mana atau orang dengan kulit pembungkus tulang karena kelaparan.

    Jepang menghadapi masalah pengiriman ke dan dari Jepang. Sejak 1943 kapal selam Sekutu berkeliaran mencari mangsa dan mengirim kapal-kapal Jepang ke dasar laut. Akibatnya ganda, serba kekurangan di luar dan dalam negeri.

    Untuk meningkatkan produksi pangan terutama beras, hutan dibuka untuk lahan pertanian dan perkebunan. Mengingat suasana darurat, pembukaan hutan dilaksanakan tanpa perhitungan cermat. Hasilnya, kekeringan di musim panas dan kebanjiran di musim hujan.

    2. Serba ketakutan, turut menyumbang suasana ini. Antara lain tak jelas apakah besok dapat makan atau belanja.

    Aparat Jepang sangat mudah curiga dan dengan demikian sangat mudah menuduh, menangkap, menyiksa, membunuh orang dengan tuduhan spionase anti Jepang. Yang menjadi sasaran kecurigaan ini umumnya kelompok menengah ke atas. Kaum intelek dicurigai sebagai antek Barat dan kaum kaya dicurigai membiayai kegiatan anti Jepang. Aparat yang terkenal dalam hal ini adalah “Kenpeitai”, semacam polisi rahasia. Kekejamannya selevel dengan rekan Jepang di Barat selama Perang Dunia-2 yaitu “Gestapo”, polisi rahasia Jerman perioda Nazi.

    Untuk mengeruk sumber daya alam perlu sumber daya manusia, demikian pula untuk proyek pembangunan dan perawatan. Aparat Jepang tidak segan menciduk orang seenaknya untuk tujuan tersebut. Ada juga yang ditipu dengan janji mendapat pekerjaan enak dan penghasilan enak. Sampai di tujuan bukan 2 hal tersebut yang dijumpai tapi segala yang tidak enak mencakup pekerjaan, perlakuan dan lingkungan. Sumber daya manusia demikian lazim disebut “romusha” (prajurit kerja). Mereka dikirim sesuai kebutuhan semisal proyek “Jalur Rel Maut” Birma-Muangthai.

    Jepang juga pernah membangun jalur rel Sijunjung-Pekanbaru menembus hutan, rawa dan menyeberangi sungai dengan tenaga romusha. Para tawanan juga digunakan, ada orang Belanda, Inggris, Australia dan Amerika.

    Untuk menghadapi kemungkinan serbuan Sekutu maka perlu membangun kubu pertahanan semisal bunker, gua dan benteng. Tenaga yang paling murah tentu siapa lagi kalau bukan romusha. Maka bekerja keras dan diperlakukan keras para romusha membangun kubu pertahanan. Ada yang selesai ada pula yang tak kunjung selesai. Semua proyek tersebut minta korban besar: tewas, hilang atau cacat.

    Bangsa Jepang memang ahli membangun di dalam tanah. Kisah Perang Pasifik penuh dengan perang dari gua ke gua mengingat gua sulit direbut sekaligus mudah dipertahankan. Sekutu belajar merebut atau menghancurkan gua pertahanan dengan korban begitu besar.

    Jika romusha adalah penderitaan untuk lelaki, maka ada pula penderitaan untuk perempuan yang dikenal dengan istilah “juugun ianfu”, yang diterjemahkan dengan “perempuan penghibur” atau “comfort woman”. Perekrutannya mirip dengan romusha: paksa atau tipu. Ditipu dengan janji pekerjaan dan penghasilan enak, atau janji akan disekolahkan di Jepang. Sampai di tujuan bukan sekolah yang dijumpai tetapi bordil, yang dikenal dengan istilah “rumah panjang”, “rumah kuning” atau “rumah bambu”.

    Bordil tersebut terutama disediakan untuk militer mengingat resiko pekerjaan yang lebih berat dari pada sipil. Ketegangan akibat perang memerlukan ketenangan dan rumah bordil adalah tempatnya. Jepang membangun banyak bordil: tersebar dari Manchuria di utara hingga New Britain di selatan. Sekitar 200.000 perempuan berbagai bangsa direkrut jadi juugun ianfu. Ada Korea, Cina, Indonesia, Filipina, Belanda dan lain-lain. Mereka umumnya harus melayani sekitar 30-40 orang per hari. Sama hal dengan romusha, mereka kurang perawatan. Di kamp tawanan yang dihuni warga negara Sekutu, ada kasus beberapa perempuan dipanggil dengan dalih periksa kesehatan. Dan mereka tidak kembali lagi. Ini jelas membangkitkan ketakutan.

    Jenis kekejaman lain yang mengerikan adalah praktek kanibalisme. Masuk tahun 1944 pasukan Jepang harus melepas banyak pangkalan akibat gerak maju pasukan Sekutu. Ada pula beberapa pangkalan yang terpencil akibat gerakan tersebut. Serba kekurangan tak terhindarkan termasuk pangan, kelaparanpun dialami pasukan Jepang. Untuk menyelesaikan masalah tersebut dipilih cara kanibalisme. Beberapa tawanan diambil dan dibunuh kemudian dijadikan santapan. Sejauh pengetahuan penulis kasus tersebut banyak terjadi di arena Pasifik Barat Daya.

    Sungguh, perilaku kejam Jepang yang ujuga berlaku terhadap sesama Timur praktis menggagalkan usaha membentuk front bersama “Kawasan Sekemakmuran Asia Timur Raya” pimpinan Jepang. Konferensi mengenai hal tersebut yang dilaksanakan di Tokyo pada November 1943 praktis mubazir karena hanya sukses di atas kertas tapi gagal di lapangan. Sama halnya dengan Jerman, Jepang merasa dirinya sebagai bangsa unggul. Tidak sudi dianggap sederajat walau dengan sesama Timur.

    SEKUTU BALAS MENYERBU

    Gerak maju pasukan Jepang memaksa pasukan Sekutu tercerai berai, ada yang ke India, Australia dan AS. MacArthur pergi dari Filipina dan Hubertus Johannes van Mook pergi dari Hindia Belanda menuju Australia. Stilwell pergi dari Birma dan Wavell pergi dari Hindia Belanda menuju India.

    Pada bulan Desember 1941 Sekutu membentuk arena perang yang dikenal dengan “Arena CBI” (China-Burma-India) dan ABDACOM pada bulan Januari 1942. ABDACOM runtuh ketika gagal mempertahankan Hindia Belanda. Istilah Arena CBI tetap dipakai hingga perang usai.

    Sekutu, yaitu Presiden Franklin D. Roosevelt dari AS dan Perdana Menteri Sir Winston Churchill membuat persetujuan: Inggris – dengan bantuan AS – membantu mempertahankan Birma dan India, Samudera Pasifik dipertahankan oleh AS. Adapun Cina harus mempertahankan diri sendiri dan Birma dengan bantuan AS dan Inggris. Belanda turut serta dengan mengirim Laksamana Conrad Emil L. Helfrich membantu Inggris di India dan Van Mook membantu AS di Australia.

    Untuk wilayah Pasifik dibentuk “Komando Wilayah Pasifik Barat Daya” dengan panglima MacArthur dan “Komando Wilayah Samudera Pasifik” dengan panglima Nimitz tahun 1942. Pada 1943 dibentuk “Komando Wilayah Asia Tenggara” (SEAC) dengan panglima Mountbatten. Hindia Belanda terbagi antara Sumatera di bawah Mountbatten dan selebihnya di bawah MacArthur.

    AL Jepang (Kaigun) telah mendapat kekalahan di Laut Koral dan Midway. Sesungguhnya. Midway adalah titik balik perang tapi hal tersebut kurang disadari, terlebih oleh Jepang. Hal tersebut mungkin karena AD Jepang (Rikugun) belum pernah kalah.

    Pada 7 Agustus 1942 pasukan Sekutu mendarat di Guadalcanal, pulau yang termasuk rangkaian Kepulauan Solomon. Tujuannya adalah mematahkan kepungan Jepang terhadap Australia-Selandia Baru sekaligus membuka front kedua setelah Irian Timur. Pertempuran di Irian Timur sedang berlangsung, pasukan Sekutu mati-matian mempertahankan pangkalan Port Moresby. Dengan demikian fokus Jepang terpecah. Letnan Jenderal Haruyoshi Hyakutake dihadapkan pada pilihan rumit: membantu pasukan di Irian atau Guadalcanal.

    Pertempuran di Guadalcanal berlangsung hingga Februari 1943. Pertempuran tersebut mencakup 3 matra: laut, darat dan udara. Di darat, pasukan yang bertempur harus juga melawan musuh ketiga: alam. Guadalcanal mungkin surga untuk piknik, tetapi

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s