ASIA TENGGARA DALAM PRESPEKTIF NETRALITAS DAN NETRALISME


ASIA TENGGARA DALAM PRESPEKTIF

 NETRALITAS DAN NETRALISME

Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah

Sejarah Asia Tenggara II

 

OLEH :

NAMA          : SAEFUL ROHMAN         

NIM              : 09021031

SEMESTER            : IV

 

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN SEJARAH

FP IPS IKIP

YOGYAKARTA

2011

BAB I

PROBLEMA STRATEGI BAGI KAWASAN ASIA TENGGARA

 

  1. A.      KONEKSITAS INTERNASIONAL
    1. Perjanjian Cina-Jepang 1978 dan Asia Tenggara

Pada tanggal 12 Agustus 1978 telah ditandantangani Perjanjian Perdamaian antara Republik Rakyat Cina (RRC) dan kekaisaran Jepang. Perincian perjanjian tersebut belum disiarkan secara resmi, namun berdasarkan perkiraan yang lazim dalam praktek pengamatan politik internasional pengamatan politik internasional, beberapa resultat sudah dapat diperkirakan bagi masa depan. Sejak proklamasi pembentukannya dalam tahun 1949, RRC hanya dapat memperbaiki keadaan ekonominya secara amat terbatas. Input teknbologi dan modal yang amat diperlukannya, yang pada mulanay diharapkan akan diterima dari Uni Soviet, mula-mula gagal karena Chrustschhov mengadakan pendekatan terhadap Amerika Serikat.

Jepang memang melihat dirinya sebagai pemuas kebutuhan RRC yang palin cocok dewasa ini, sebaliknya Peking dipandang sebagai sandaran yang mantab, terutama karena factor jumlah penduduk yang sukar menjadi jenuh sebagai pasaran. Restorasi Meiji (1868-1895) telah menjadikan Jepang sebagi Negara yang kuat dan modern, namun sempit. Menjelang Perang Dunia II pemerintahan Jepang berada di bawah bayangan kuat angkatan laut. Kemudian hal ini menjadi penyebab logis dari gagasan “Kekayaan Asia Timur Raya” yang berarti kolonialisasi seluruh Asia Timur dan Asia Tenggara.

Akibat dari perjanjian Cina-Jepang 1978 bagi konstelasi dunia diantaranya berkat hubungan baik dengan Peking, ketergantungan Jepang akan sumbe teknologi dari Eropa Barat dan Amerika Serikat menurun, demikian pula soal permintaan  modal untuk pembangunan ekonominya. Langkah berikutnya ia akan memperkuat posisinya terhadap Uni Soviet. Dalam hubungan dengan Jepang, pengaruh perjanjiannya dengan Peking terhadap Asia Tenggara akan mempunyai sifat lebih langsung. Jepang akan menjadi kurang tergantung dari bahan mentah dan pasar yang dimiliki Asia Tenggara. Posisi strategis kawasan ini jiga akan berkurang bersamaan dengan itu juga posisi Negara-negara Arab yang menghasilkan minyak. Dalam periode berikutya ketergantungan Jepang dari Cina akan tidak terhindarkan, kalau Tokyo tidak melakukan langkah keseimbangan untuk jangka panjang. Dalam keadaan serupa kemungkinan besar Jepang akan kembali memalingkan mukanya ke Asia Tenggara.

Dengan demikian persoalan yang lebih kritis adalah yang berhubungan dengan RRC. Vietnam sudah menjadi anggota Comecon pada bulan Juli 1978 dan Kamboja mendapat bantuan mantab dari Peking, sedangkan Laos masih belum ditentukan nasibnya. Terlepas dari peranan Uni Soviet yang sedikit banyak membawa keuntungan bagi Asia Tenggara , Negara-negara ASEAN terutama Indonesia yang memiliki potensi terbesar dan terpenting di kawasan Asia Tenggara sebelah selatan, perlu mempersiapkan diri dan mengejar ketinggalan di bidang ekonomi, teknologi, dan social. Asia Tenggara dapat memenuhi kebutuhannya sendiri karena potensial melakukannya bahkan Indonesia juga. Impor modal dan teknologi yang samapi sekarang masih terus berlangsung di banyak di Negara Asia Tenggara perlu dimanfaatkan dan dikelola secara lebih cepat dan efisien, supaya impor itu dapat selekas mungkin dihentikan  Semuanya itu dimaksudkan untuk mencegah campur tangan kekuatan-kekuatan yang benar dari luar kawasan dalam masalah intern kita.

  1. Asia Tenggara Setelah Perjanjian Persahabatan Soviet-Vietnam 1978

Pada tanggal 3 November 1978 di Moskwa ditandatangani perjanjian persahabatan oleh pimpinan tertinggi Uni Soviet dan Vietnam. Bila Pravda memusuhi Soviet, maka kini ganti radio Peking mengutuk Perjanjian Soviet-Vietnam sebagai kejahatan terhadap perdamaian. Kedua perjanjian itu saling menggunting dalam arti sama-sama menahan meletusnya konflik bersenjata, implikasi yang diperkirakan bias timbul dari perjanjian terakhir ini, disebabkan factor Vietnam sebagai satu negara Asia Tenggara yang saat ini mempunyai kedudukan spesifik yang dibayangkan oleh potensi militer yang sulit diremehkan, meskipun dari segi ekonomi cukup lemah.

Dengan penolakan Amerika, langkah Vietnam untuk masuk Comecon dan persahabatan dengan Mosckwa menjadi condition sie gua non (syarat mutlak) untuk mengatasi keparahan ekonomi sebagai akibat perang yang praktis telah berlangsung tiga puluh tahun lamanya.

Perjanjian Moskwa yang terdiri dari Sembilan artikel itu sebenarnya sebagian besar berisi hal-hal yang tradisional saja, seoerti ketentuan mengenai persahabatan dan kerjasam ekonomi dan kebudayaan, tidak campur tangan dalam urusan dalam Negara lain, dan lain-lain. Berdasarkan artikel 6 Perjanjian Moskwa ini diperkirakan RRC akan menahan diri di daerah perbatasan dengan Vietnam, karena bagaimanapun potensi teknologi RRC belum sebanding dengan apa yang dimiliki Uni Soviet.

Usaha-usaha ASEAN itu akan menemui kesulitan besar kalau kita mengamati salah satu pokok dari target modernisasi RRC adalah industry, dan ilmu serta teknologi, yang perlu kita hubungkan dengan kunjungan delegasi expert yang besar ke pusat-pusat perkapalan Jepang baru-baru ini. Kekuatan militer yang dapat diandalkan sudah akan melunturkan suatu hasrat untuk melakukan agresi.

Mengingat tingkat perkembangan pembangunan nasional sekarang, baik Indonesia maupun Filipina dapat menjalankan fortifikasi system pertahanan maritimenya masing-masing secara bertahan dan ganda artinya untuk sementara nampaknya impor persenjataan tidak bias dihindari, kendati demikian hendaknya hal itu dipenuhi tidak secara satu arah. Sehingga ketergantungan dapat dibatasi. Pendek kata Negara-negara Asia Tenggara harus menggengam kontrol utama atas kawasan sendiri.  Hanya bila saja ini dikuasai, Negara-negara ASEAN akan bisa mengharapkan pengakuan dari deklarasi Kuala Lumpur 1971 yang hendak mencapai Asia Tenggara yang damai (lepas dari konflik panas maupun dingin), bebas (dari ketergantungan pada kekuatan-kekuatan besar)  dan netral (namun aktif). Setelah hamper tujuh tahun berselang, baru sekarang ini deklarasi Kuala Lumpur menghadapi batu ujian realisasi yang cukup sulit. Ketahan regional dan nasional itu sifatnya harus sungguh-sungguh semesta, sebab hanya dengan sifat demikian kita bis mempertahankan diri terhadap arus globalisasi seperti yang nampak  dari kecenderungan hubungan internasional dewasa ini.

  1. Kemungkinan Peredaran Konflik Sino-Soviet dan Pengaruhnya terhadap Asia Tenggara.

Menurut Stanley, kedudukan Amerika Serikat sekarang ini malahan lebih baik daripada seandainya mereka memenangkan Perang Vietnam (Foreign Affairs April 1979). Penandatangan perjanjian perdamaian dan persahabatan antara RRC dan Jepang di bulan Agustus 1978 dan pembukaan hubungan diplomatic antara Amerika Serikat dengan RRC memang telah menempatkan Kremlin pada posisi yang cukup terjepit, dan nampaknya memang itulah yang mendorong rezim Brezhnev untuk mengirimkan nota kepada Beijing pada tanggal 17 April 1979. Bukan hanya karena konflik diantara keduanya adalah konfilk ideology, melainkan terutama karena ada pertentangan kepentingan nasional yang cukup frontal dan karena itu menjadi peka dan malahan eksplosif. Tidak jelas berapa lama waktu yang akan dibutuhkan kedua Negara itu untuk bisa melewati atau ketiga tahap yang pertama.

Akan ada negara-negara yang diuntungkan maupun Negara-negara yang dirugikan oleh suatu kemungkian peredaan dalam konflik Sino-Soviet. Yang akan dirugikan misalnya Amerika Serikat dan Eropa Barat, terutama Jerman Barat. Sebaliknya Jepang Vietnam akan mendapatkan keuntungan dari suatu konsiliasi Sino-Soviet, yang dimungkinkan oleh perjanjian-perjanjian Cina-Jepang dan Soviet Vietnam tahun 1978.

Dengan Kamboja Pham Van Dong memberlakukan suatu perjanjian yang tak sama tetapi serupa pada tanggal 18 Februari 1979, yaitu tepat enam minggu setelah tentara Vietnam yang dibantu pasukan Heng Samrin selesai menghalau tiran Pol Pot dan kawan-kawannya dari Phnom Penh. Ada alasan yang secara politis bisa dimengerti yang menjadi latar belakang eskpansi Hanoi setelah menyelesaikan integrasi Vietnam. Hegemoni di seluruh Indocina bagi Hanoi memainkan peranan penunjang bagi posisi Negara itu terhadap Negara-negara sekelilingnya, terutama RRC dan sekelompok ASEAN  yang sedikit banyak masih dianggapnya sebagai bahaya laten pengganti almarhum SEATO. Karena itu suatu pendekatan Sino Soviet akan sangat mempengaruhi dan menguntungkan posisi Vietnam dalam hubungannya dengan negara-negara Asia Tenggara lainnya.

Pada tahap pertama perwujudan peredaran konflik Sino Soviuet kemungkinan besar Kremlin akan diharapkan pada suatu permintaan RRC untuk “lebih mengendalikan” Hanoi sehingga Indocina kalaupun berada di bawah hegemoni Vietnam. Tidak merupakan bahaya potensial (potential danger) laten bagi Beijing. Sejarah dunia juga membuktikan bahwa politik internasional sedikit sekali bertumpu pada asas saling percaya dan lebih banyak pada kesediaan dan kesanggupan untuk membela diri, atau pada dissuasion seperti yang dikatakan orang Swiss. Asia Tenggara dewasa ini menghadapi persoalan-persoalan besar dan pilihan-pilihan rumit.

  1. Asia Tenggara dalam Struktur Tripolar yang Baru

Bukan tanpa sebab Amerika Serikat diharapkan untuk “menata kembali” kedudukan dan peranannya di Asia Tenggara. Presiden Marcos malahan menghendaki dimantabkannya kehadiran kekuatan Negara itu dikawasan kita. Dalam pembentukan konflik Demokratik Kamboja, konflik akan berkepanjangan selama Vietnam tidak menaruh minat terhadap formula penyelesaian apapu bagi Negara yang didudukinya. Lebih menentukan lagi adalah dukungan Soviet yang memungkinkan Vietnam untuk mengambil sikap non kooperatif atau malahan agresif dalam menghadapi negara-negara ASEAN yang gigih mencari penyelesaian masalah Kamboja.

Belum lagi krisis regional Kamboja-Vietnam dapat diatasi, semua Negara Asia Tenggara mulai dihadapkan kembali pada trauma militerisme dan remilitarisasi Negara patner ekonomi Asia Tenggara yang utama yaitu Jepang. Kejutan ketiga untuk Asia Tenggara dibuat oleh Beijing dan Moskwa bersama-sama dengan jalan memulai perundingan normalisasi hubungan kedua negara pada tanggal 5 Oktober 1982. Langkah bersama kedua raksasa komunis itu sebenarnya tidak patut disebut sebagai kejutan, sebab pertukaran nota maupun pembicaraan pendahuluan sudah terjadi dalam bulan April 1979 dan konsekuensi yang dapat timbul dari perkrmbangan itu juga sudah cukup awal dikemukakan. Ada soal-soal lain yang mendorong kedua raksasa komunis itu untuk mengambil langkah yang lebih pragmatis.

Carter lalu memainkan “kartu Cina” untuk memaksa Brezhnev menandatangani SALT H di Hofgarten di kota Wina. Setelah pembukaan kembali perundingan normalisasi hubungan Sino-Soviet nampaknya tidak ada siapapun yang dapat memainkan “kartu siapa”. Apabila diperhitungkan perundingan, perundingan Sino-Soviet tidak akan berjalan pesat maupun mencapai hasil maksimal mengingat perbedaan posisi dan kepentingan kedua belah pihak, kita boleh mengharapkan akan terbentuknya suatu struktur tripolar dalam hubungan antar negara-negara raksasa tidak menyangkut soal optimis atau pesimis. Persoalan politik internasional adalah kalkukasi dan kesempatan dan ini juga terjadi di Beijing sekarang ini.  Peredaran ketegangan itu lebih meupakan akomodasi yang pada suatu ketika bisa saja bubar lagi, kalau salah satu pihak merasa kuat kembali.

Yang mendapatkan keuntungan paling besar dari konstelasi serupa ini adalah Vietnam, yang karena urusan “belakang rumahnya” sudah beres lalu lebih bebas juga untuk member model Hanoi pada wajah Asia Tenggara. Baik untuk Jepang maupun Amerika Serikat berlaku dalil kuno yang sederhana, bila bekas musuh saya mulai berteman dengan musuh saya, maka saya harus bersahabat dengan teman saya dan bekas musuh yang lain. Asia Tenggara, baik kawasan yang komunis maupun non komunis tidak dapat tidak mengakui kapasitas Negara-negara yang akan membentuk struktur tripolar baru untuk mempengaruhi perkembangan di kawasan ini. Khusus dalam hubungan dengan kawasan Pasifik Barat. Jepang dapat menjadi factor X yang akan mempengaruhi stabilitas struktur tripolar itu di Timur Jauh.

  1. Jaminan Weinberger : Atas Rekening Siapa?

Kunjungan Caspar Weinberger awal November 1982 ke Simgapura, Muangthai, Indonesia, Australia, dan Selandia Baru merupakan usaha Amerika Serikat dalam rangka strategi globalnya untuk menangkal peningkatan kehadiran kekuatan militer Uni Soviet di semua lautan dunia. Dari NATO pembagian beban pertahanan melewati tahap consensus, tahap pelaksanaan dan tahap penyempurnaan alokasi beban. Untuk kawasan Asia Pasifik pemencaran beban menjadi lebih problematic karena menyangkut sekutu Washington di Timur Jauh yang potensial yaitu Jepang. Washington memerlukan Tokyo untuk ikut mengamankan kawasan Asia-Pasifik.

Poster depan adalah Muangthai dan Filipina. Muangthai mempunyai 200.000 tentara Vietnam di Kamboja,. Filipina menghadap jalur Vladivostok-Cam Ranh. Posisi Singapura terancam oleh setiap maneuver dan kekuatan maritim yang kritis. Indonesia juga sulit, karena struktur geografisnya tersebar. Hal ini menyebabkan setiap usaha invasi akan dibayar mahal.

Kunjungan pertama kalinya seorang menteri Pertahanan Amerika Serikat ke Indonesia member arti khusus pada posisi Jakarta di tengah keraguan tentang politik global Amerika Serikat dan di tengah ketidaksepakatan ASEAN mengenai posisi Jepang dalam rencana Weinberger. Jepang dibutuhkan oleh Uni Soviet untuk mengolah Siberia dan dibutuhkan oleh Cina untuk mengalihkan teknologi yang modern dan murah. Pejambon menata kembali politik global Indonesia yang bebas dan aktif. Bebas tidak hanya berarti tidak terikat pada kekuatan raksasa manapun tetapi juga berarti tidak terikat untuk mencari patner. Aktif tidak hanya berarti sebagai usaha giat mempertahankan perdamaian tetapi berhubung dengan keadaan dunia yang mengimplikasikan upaya Indonesia untuk berdiri dan duduk dengan kekuatan raksasa dunia.

  1. Yasuhiro Nakasone : Patroit / Militeris?
  2. Profil Nakasone

Yasuhori Nakasone menggantikan Zenko Suzuki sebagai perdana menteri. Sebagai arsitek modernisasi Jepan’s Self Defence Forces Nakasone mengelak dalam menghadapi kontrovensi peningkatan anggaran pemerintahan Jepang. Menurut Kompas tanggal 25 November 1982 dituliskan wajah Nakasone memancarkan ekspresi dari orang yang mengetahui benar apa yang dikendaki yang berlatarbelakangkan pada pendidikan dan pengalamannya. Pada usia 28 tahun Nakasone menduduki posisi penting sebagai anggota parlemen. Nakasone pernah menjadi perwira angkatan laut kekaisaran dengan rencana pasukan bela diri periode 1972-1976 yang menekankan mobilitas maritime dan firepower. Setiap orang yang ingin menjamin pertahanan negaranya adalah patriot dan belum tentu militeris.

  1. Posisi dan Potensi Jepang

Naiknya Nakasone tepat seperti rencana Casper Weinberger untuk mencapai konsensus strategis di kawasan Asia Pasifik. Negara-negara Asia Tenggara dan Cina mengharapkan Jepang dapat menghadapi peningkatan presensi angkatan laut Soviet. Uni Soviet menyambut dingin perkembangan di Tokyo. Nakasone adalah orang yang tahu menaksir potensi pasukan bela dirinya. Jepang menduduki tempat kedua di dunia setelah Jerman Barat. Andalan pasukan bela diri Jepang terletak pada tiga daya yaitu teknologi yang mutakhir. Korps perwira yang berkecakapan tinggi dan disiplin yang bertradisi samurai.

  1. Kostitusi yang Kurang Seronok

Konstitusi Jepang pada akhirnya merupakan merupakan refleksi dari suatu perjanjian perdamaian yang didiktre oleh pihak pemenang perang. Perubahan konstitusi sering punya implikasi internasional yang tidak dapat diabaikan begitu saja.

  1. Militerisme/Self-reliance?

Jumlah anggaran pertahanan Jepang yang naik 3 % dari GNP hamper menyamai jumlah anggaran pertahanan RRC yang besarnya 11 % dari GNP Cina.

Nakasone mengamankan jalur suplai kebutuhan hidup negaranya berdasarkan kekuatan sendiri. Orang yang membela kepentingan nasional berdasarkan kekuatan sendiri sambil memperhitungkan syarat-syarat nyata dalam bentuk kekuatan militer sebenarnya adalah patriot yang normal dan belum militeris.

  1. Alternatif

Asia Tenggara akan memperkuat dirinya untuk meyakinkan bahwa kerjasama lebih menguntungkan daripada harus membayar harga tinggi untuk menggunakan paksaan militer jika terancam oleh naiknya Nakasone.

  1. ANDALAN KEMAMPUAN
  2. Menuju Asia Tenggara yang Aman dan Damai Lewat Mana?

Atas prakarsa Amerika Serikat, Laos dinormalkan pada tahun 1962 untuk mencegah RRC dan Uni Soviet mendapat posisi hegenoniat di sana. India dan RRC masih belum menyatakan dukungannya padaDeklarasi Kuala Lumpur bulan November 1971. Mengusulkan suatu sistem persekutuan majemuk bagi Asia Tenggara. Prakarsa Amerika Serikat untuk menetralkan Laos dan gagasan Brezhnev untuk mewujudkan perdamaian di Asia dengan jaminan Negara-negara besar ternyata mengalami kegagalan. Antara Deklarasi Kuala Lumpur, gagasan Soejatmoko dan gagasan Weinstein sama-sama menjurus pada system majemuk hanya perbedaannya kalau gagasan Soedjatmoko mengambarkan system majemuk yang dilandasakan pada akomodasi kepentingan para super powers. Sedangkan gagasan Weinsten lebih mengandalkan diri pada potensi Negara-negara Asia Tenggara untuk mengadakan akomodasi dan kerjasama diantara mereka sendiri. Prinsip kebebasan yang termuat pada Deklarasi Kuala Lumpur membuat gagasan Weinstein yang lebih condong pada deinternasionalisasi Asia Tenggara menjadi lebih aksetable untuk menunjang realisasi deklarasi tersebut. Gagasan Weinstein lebih sesuai dengan prinsip ketahanan regional.

Gagasan Soedjatmoko mengandung realism terutama berkaitan dengan globalisasi politik internasional. Gagasan Weinstein lebih cocok bagi Deklarasi Kuala Lumpur. Pokok kedua konsepsi ini adalah basis ketahanan nasional dan ketahanan regional. Akomodasi dan kerjasama regional tidak mungkin diwujudkan secara seimbang apabila para patner tidak mempunyai landasan ketahanan nasional.

  1. Netralisme dan Netralitas di Asia Tenggara

Deklarasi Kuala Lumpur bertujuan menjadikan Asia Tenggara sebagai suatu zone yang damai, bebas dan netral genap berusia sewindu. Netralisme dan netralitas merupakan alat untuk mencapai tujuan dimana suatu negara melalui politik  tidk memihak dalam perang dingin dan perang panas..

Netralisme adalah politologis yang digunakan untuk menandai konsopsi yang lebih terkenal dengan istilah “politik nonblok”. Netralisme berhasil mendapatkan banyak pengikut karena sebagian Negara yang baru merdeka di Asia dan Afrika sert Yugoslavia kemudian menganut politik ini dan menjadi netralis. Netralisme mendpat pijakan di Asia Tenggara sejak awal perkembangannya karena  Indonesia dan Burma menjadi pelopor negara-negara nonblok. Setelah perang Vietnam, Republik sosialis Vietnam menjadi netralis tahun 1976.

Netralitas mulai berkembang pada abad  XVI di Eropa Barat. Setelah PD II berakhir konsepsi netralitas dikembangkan  menjadi netralitas yang permanen. Setahun setelah netralisasi Laos Jenderal De Gaulle mengeluarkan gagasan untuk menetralisasikan seluruh kawasan Asia Tenggara. Gagasan ini tidak memperoleh banyak dukungan karena pertikaian antara Perancis dan Amerika Serikat yang timbul karena persoalan NATO di Eropa.

Jepang mempunyai kepentingan Vital di Asia Tenggara, maka Jepang berhati-hati terhadap deklarasi kuala Lumpur karena netralisasi Asia Tenggara dapat mengurangi peluang untuk memainkan peranan yang menentukan perkembangan ekonomi negara di kawasan ini. RRC mendukung Deklarasi Kuala Lumpur karena RRC belum mempunyai angkatan Laut / angkatan udara. Faktor lain yang menentukan terwujudnya cita-cita Deklarasi Kuala Lumpur adalah factor  intern-regional. Sejak berakhirnya Perang Indocina tahun 1975 telah tercipta polarisasi ideologis di Asia Tenggara. Kesediaan Negara Asia Tenggara untuk menyelesaikan pertikaian Intern –regional tanpa mengikutsertakan kekuatan ekstra regional adalah persyaratan mutlak bagi terciptanya suatu Asia Tenggara yang netral.

BAB II

PROBLEMA REGIONAL BAGI NEGARA-NEGARA ASIA TENGGARA

  1. NEGARA-NEGARA ASEAN
    1. Kepualauan Natuan Besar dan Teori “Thalweg”

Pada bulan November 1979  Republik Sosialis Vietnam mengklaim kepualau Natuna Besar / Kepulauan Bunguran Utara, yang menyangkut Pualu Laut. Vietnam mendasarkan klaim itu pada teori Thalweg. Teori Thelweg, berasal dari hokum internasional aliran Jerman. Istilah “Thal” dalam bahasa Jerman modern ditulis “Tal” yang berarti lembah / bagian terdalam dari palung sungai yang umumnya ditandai pada bagian Arus sungai yang paling deras. Kata “Weg” berarti jalan. Teori ThelWeg tidak cocok untuk dijadikan dasar bagi klaim Vietnam atas bagian utara dari Kepualauan Natuna Besar. Keadaan geografis dan geopolitics memisahkan Indonesia dari Vietnam. Teori Thelweg secara definitive berpangkal dari garis pelayaran kapal dan kemungkinan untuk diterapkan secara analog pada selat malaka dan selat Singapore.

Setelah pembentukan Republik Sosialis Vietnam pada tahun 1976 yang mengakhiri perang tiga puluh tahun lamanya, Vietnam tidak membatasi diri ekspansi didaratan saja tetapi dilaut juga. Diplomasi dan hokum internasional hanya merupakan instrument yang opsional untuk menegaskan dan mempertahankan kepentingan nasional dalam kancah hubungan Internasional.

  1. Normalisasi Hubungan RI-RRC : Bukan Soal Suka atau Tidak Suka

Pada tahun 1967 pemerintahan Indonesia yang baru dan prangmatis bersama dengan pemerintah Cian yang lama dan dogmatis sepakat untuk mewakilkan kepentingan kenegaraan masing-masing kepada Rumania, kedua belah pihak sebenarnya dengan kepala dingin telah memulai suatu kegiatan kalkulasi politik luar negeri yang panjang.

  1. Primat Kepentingan Nasional

Pada tahun 1967 kepentingan nasional Indonesia menuntut pembekuan hubungan diplomatic dengan Cina. Rekonsiliasi Sino-Amerika, pendekatan Sino-Soviet, emansipasi Jepang, Integrasi Vietnam, RRC dengan percobaan ICBN menempatkan kepentingan nasional Indonesia dalam peta bumi politik internasional yang baru, Kepentingan nasional tidak hanya dibaca sebagai situasi dalam negeri. Kepentingan nasional lebih substansial dari persoalan.

  1. Kriterium Subversi Komunisme

Subversi model Cina belum jauh dari tingkat bersembunyi dalam hutan yaitu Burma, Malaysia, Filipina, dan Muangthai, sementara subversi model Soviet lebih pasif yaitu Angola, Nikaragua, Afganistan, Kamboja.

  1. Mendapatkan “Kartu Cina”

Perkembangan konsteksi global menimbulkan urgensi untuk merumuskan alternative “baru dalam rangka kepentingan nasional Indonesia. Uni Soviet menjadi resah karena Amerika Serikat merebut peluang-peluang  untuk memainkan “Kartu Cina” terhadap Moskwa. Bulan April 1979 orang mulai merasa khawatir ketika Moskwa dan Beijing merayakan datangnya musim semi dengan pertukaran pesan perdamaian.

Komunisme Cian lebih berbahaya dari komunis Soviet. Penguasa Tian An Men (Gerbang Perdamaian Langit) dalam satu-satunya super power yang tidak setengah-setengah menyatakan dukungan ketika Indonesia dan Malaysia menjalankan langkah strategis dengan menasionalisasikan selat malaka tanggal 6 November 1971.

RRC melakukan permainan ganda dalam politik luar negerinya dan Beijing tidak segan mengatakannya. Ketika Deng Xiaoping berkunjung je sebagian Negara ASEAN pada akhir tahun 1978, Radio Beijing mengirimkan ucapan selamat kepada CPT (Muangthai), CPM (Malaysia) dan PKI. Doktrin permainan ganda membolehkan hubungan government to government. Hubungan Sino-Amerika mengalami stagnasi karena ulah Ronald Reagen di Taiwan, kerjasama teknologi dengan Jepang kurang lancer, sementara Vietnam bertingkah di selatan dan harapan memperoleh stabilitas di utara diganggu oleh krisis suksesi di Kremlin.

  1. Diplomasi dengan Hati dan Kepala Dingin

Indonesia harus dapat berunding dengan Negara super power sehingga Jakarta tidak perlu bergantung pada jasa baik perantara. RRC adalah pemeran hak veto dalam  forum PBB yang merupakan konfigurasi system internasional yang utama.

  1. Konstante dan Variabel dalam Politik Luar Negeri Krung Thep

Pada tahun 1942 Asia Timur digencangkan oleh ekspansi militer Jepang yang membuat kekuatan global seperti Inggris dan Amerika Serikat tercengang. Orang Thai menyebut ibu negerinya berusaha untuk menetapkan rumus pribun untuk menghadapi politik dunia dan politik regional.

  1. Sangkar Emas Bagi Raja

Narai mengatasi ancaman dominasi Inggris dan Belanda dengan menjalin komitmen bersama Perancis. Strategi dari maha mongkut dan Chulalongkorn mempunyai jangkauan yang lebih jauh. Ketahanan nasional siam dapat ditingkatkan lewat modernisasi di berbagai bidang terutama bidang ketatanegaraan, militer dan kemasyarakatan. Chulalongkorn dapat disejajarkan dengan Meiji Tenno dari Jepang.

  1. Sangkar Emas Bagi Raja

Revolusi yang memuncak pada Coup dietat tahun 1931 boleh dikatakan merupakan salah satu hasil dari reformasi Chulalongkorn juga. Mengapa? Karena Pridi Bhanomyong yang sebenarnya adalah Dr. Luang Pradist Manudharm maupun Marsekal Phibun yang merancang coup d’etat tahun 1932 itu merupakan bagian dari program reformasi Siam. Keduanya dididik di Prancis, negeri dimana untuk pertama kalinya dimana raja digulingkan demi republic. Karena lewat coup d’etatmereka member Siam (nama “Muangthai” baru berlaku tahun 1939) suatu aturan permainan yang disebut konstitusi. Sri baginda Pradhipok, yaitu raja yang harus menalami semua itu, mereka seperti dimasukan kedalam sangkar emas dan kemudian minta pensiun.

Konstitusi tahun 1932 menggeser banyak wewenang dari raja kepada kaula yang teknokrat maupun yang militer. Hal itu juga terjadi di bidang politik luar negeri, dan semua ini untuk Siam dimasa itu merupakan suatu soal yang sukit dipercaya.

  1. Variable dari Kaum Teknokrat dan Militer

Kondisinya terletak dalam pernyataan, sejauh mana ASEANjuga mampu memenuhi harapan Muangthai, yang kini terutama diletakkan pada upaya untuk mengatasi konfik Kamboja yang sungguh merongrong bangsa thai disegala bidang. Lebih-lebih apabila Indonesia, Malaysia, dan Singapura manpu mengembalikan kedudukan pangeran Sihanouk pada posisinya yang pantas dalam gerakan Nonblok, nilai ASEAN akan smakin meningkat dimata para politis Krung Thep, yang teknokrat maupun yang militer. Yang menjadi persoalan bagi ASEAN adalah rendahnya tingkat kesinambungan proses pembuatan keputusan politik luar neberi di Bangkok,karena kaum teknokret dan militer secara bergantian menawarkan variable yang seperti tidak ada habisnya.

Posisi memang menjadi kurang seimbang karena Muangthai mengharapkan lebih banyak dari ASEAN, daripada apa yang dapat diharapkan ASEAN dari Krung Thep. Tetapi relasi serupa itulah yang hendaknya disadari oleh Negara-negar ASEAN. Pramagtisme adalah hal yang konstan dalam politik luar negeri Thai sejak 300 tahun yang lalu, dan hasilnya adalah variable bagi kawan dan lawan dari Krung Thep.

  1. Antara ASEAN dan Vietnam

Burma dan lebih-lebih Vietnam adalah dua nama yang kurang semerbak dalam sejarah Thai “sejak dahuli kala” karena itu Negara-negar ASEAN punya tempat yang lebih baik dalam kalkulasi para penguasa di Krung Thep.

Sejak tergulingnya triumvirat Thanom-Praphas-Narong akhir tahun 1973, telah berkembang semacam pola stabilitas yang khas untuk konstruksi sosio-demografis Muangthai. Para politis di Krung Thep berprinsip lebih baik ASEAN daripada Vietnam.

  1. 4.      Politik Luar Negeri Filipina 1963-1983: Eksperimen Emansipatoris

Pada tahun 1963, presiden Diosdado Macapagal memerintahkan penghapusan perayaan hari kemerdekaan Republik Filipina pada tanggal 4 Juli (yang sama dengan hari proklamasi kemerdekaan Amerika Serikat) dan sekaligus menetapkan tanggal 12 Juni sebagai hari kemerdekaan yang orisonal. Memang pada tanggal 12 Juni 1898 Emilio Aguinaldo telah memaklumkan pendirian Republik Filiphina berdasarkan Konstitusi Malolos”.

  1. Dilema “Spesial Relationship”

Special relationship adalah istilah yang digunakan untuk menandai pola hubungan Filipina-Amerika, yang dalam praktek terutama menyangkut kerja sama dibidang militer dan ekonomi. Dengan demikian special relationship juga menjadi masalah khusus dalam politik luar megeri Filipina selama dua dasawarsanya yang pertama. Ada dua kemungkinan mengenai sikap orang Filipina sendiri terhadap masalah itu mereka hanya terpaksa memperhatikan hubungan dengan Amerika Serikat sebagai masalah khusus dalam keseluruhan kerangka politik luar negeri Manila.

Namun demikian konstatasi seperti ini tidak adil kalau tidak dilengkapi dengan factor bahwa orang Filipina harus melepaskan diri dari suatu kekuatan imperialis yang sedang menanjak menjadi super power.

Dengan keputusannya untuk menggeser hari kemerdekaan, Macapagal menjadi presiden pertama yang membangkang terhadap politik Amerika di Filipina, dan sikapnya itu nampaknya tidak hanya dilatarbelakangi oleh kejengkelan kebudayaan dan sejarah, melainkan juga dilandasi oleh wawasan politik yang lebih luas dan real.

  1. “The New Society”

Pada tahun 1973 Presiden Marcos yang ahli hokum, maka mengerti “demokrasi” serta sekaligus bekas gerilyawan dank arena itu juga tahu “revolusi”, menerbitkan buku deangan judul yang profokatif: Today’s Refolution: Democracy. Buku itu menjelaskan cara berdemokrasi “yang baik”. Namun yang jelas, buku itu merupakan usaha pembenaran langkah Marcos yang menemukanlubang dalam Konstitusi 1946 untuk menempuh jalan pintas menuju apa yang dinamakannya sebagai “The New Society” bagi bangsa Filipina. Jalan pintas Martial Law itu diumumkan pada tanggal 21 September 1972, yaitu 15 bulan sebelum masa jabatan Marcos yang terakhir sebagai presiden yang dibenarkan oleh konstitusi 1946 habis. Teoritis keadaan darurat perang itu sudah dibatalkan lagi pada tanggal 17 Januari 1981. Namun demikian suasana “Marcosian” terus berlanjut, dan mudah-mudahan Today;s Revolution: Democracy tidak akan dibaca sebagai From Democracy to Revolution, karena justru pematangan proses itulah yang kini sedang terjadi di dalam negeri.

  1. “Development Oriented Diplomacy”

Sasaran yang sebenarnya dari development oriented diplomacy adalah diversifikasi perjalanan politik luar negeri Filipina dengansekaligus mengadakan penyesuaian diri terhadap perkembangan dunia, yaitu suatu hal yang praktis diabaikan selama dua dasawarsa pertama republic itu.

Malahan hamper tiga puluh tahun lamanya hubungan diplomatic dengan Negara komunis seperti tabu dalam kamus Manila. Tabu itu ditembus pada tahun 1975 lewat pembukaan hubungan diplomatic dengan Beijing dan setahun kemudian juga dengan Moskwa dan Hanoi, sehingga Manila tidak perlu merasa berpihak dalam konflik Sino-Soviet yang bukanya tanpa risiko bagi Filipina yang terletak dalam jangkauan operasi Angkatan Laut Cina maupun Soviet.

  1. Prospek

Dengan system pendidikan yang termasuk paling maju di Asia Tenggara dan penggunaan bahasa Inggris yang tetap masih lebih luas dari bahasa Tagalog, Manila bias lebih tangkas dalam menjalankan diplomasi. Persoalnya adalah apa yang hendak diperjuangkan lewat diplomasi itu dan apakah Marcos mau berbagi tanggungjawab atas bangsa Filipina tidak hanya secara kekeluargaan, tetapi juga secara nasional,dalam soal itu tidak  ada siapa pun yang berhak beruding dengan Marcos, kecuali orang Filipina sendiri.

  1. 5.      Aquino versus Marcos: Konflik Peradapan

Banigno Aquino telah dibunuh. Aquino sendiri adalah seorang idealis yang realistis yang tidak menutup mata terhadap kemungkinan itu. Dia memandang perlu untuk mengenakan vest anti peluru, meskipun sebelumnya bersikap tidak getar pada hukuman mati yang telah dijatuhkan oleh hakim-hakim yang bekerja di bawah pemerintah Ferdinand Marcos. Benign Aquino, kandidat presiden Republik Filipina pada pemilihan umum tahun 1973 yang dibatalkan dan potensial kandidat presiden untuk tahun 1984, sekaligus saingan terkuat bagi Marcos dalam kepemimpinan nasional Filipina, kini telah tiada karena ditiadakan.sekalipun demikian tidaklah berarti bahwabeban nasional dan internasional yang menumpuk pada pundak establishment “Marcos dan Family” sekaligus telah berkurang sebagian.

  1. Aquino versus Marcos

Pada tanggal21 September 1972, yaitu 15 bulan sebelum masa jabatan terakhir bagi Marcos sebagai presiden yang dibenarkan oleh konstitusi 1946 habis, dia memberlakukan Martial Law . keesokan harinya Aquino ditangkap untuk kemudian mendekam hamper 8 tahun lamanya dipenjara Banifacio dan dijatuhi hukuman mati sekalipun Aquino telah membela diri dengan sedemikian cemerlang. Pertentangan antara Aquino dan Marcos mungkin malahan merupakan paradigm dari pertentangan peradaban masakini, yaitu antara absolutism yang mulai dirntokkan dalam Revolusi Prancis tetapi yang sampai sekarang masih bertahan di sana sini dan demokrasi yang sudah diletakkan dasar-dasarnya oleh plato dan Aristoteles.

  1. Urusan Nasional atau Internasional

Suara-suara yang menegaskan dampak internasional dari “peristiwa Tarmac” tidak saja dating dari Australia dan Jepang, tetapi juga dari Muangthai dan Korea Selatan, yaitu dua Negara yang masih terus membayar mahal untuk harga demokrasi.

“Peristiwa Tarmac” yang punya kadar sedemikian pekat itu memang merupakan “peristiwa dalam negeri”, tetapi kaitan-kaitan internasional yang ditimbulkannya tidak dapat dikesampingkan begitu saja. Beberapa kalangan resmi internasional malahan menuntut dilaksanakannya pengusutan yuridis dibawah pengwasan ASEAN atau PBB.

  1. Sejarah, bagi Aquino atau Marcos ?

Dengan terbunuhnya Benigni Aquino, berakhir pula “Periode Marcial Banifacio” yang sebelas tahun kurang sebulan lamanya itu. Generasi-generasi mendatang masih akan manyaksikan, apakah sejarah memang memihak kepada para tiran dan menetapkan para pejuang kemanusiaan sebagai sasaran para penjahat? Karena itu akan menjadi menarik juga buku sejarah yang sedang ditulis oleh Matcos.

Sejarah juga masih akan memperlihatkan, apakah demokrasi, yaitu system politik dimana nasib rakyat ditentukan oleh rakyat sendiri dan bukan oleh seseorang atau oleh segelintir orang. Apabila Presiden Reagan juga sepakat dengan duta besarnya di PBB, Prof. Jeanne Kirkpatrik, dan percaya bahwa yang penting bukanlah apakah dunia ini menjadi demokratis artinya: tempat yang layak bagi rakyat banyak melainkan bahwa seluruh dunia menjadi antikomunis, maka kita tidak perlu lagi membedakan penguasa Moskwa atau Beijing.

B. NEGARA-NEGARA BUKAN ASEAN

  1. 1.      Netralisme Burma dalam Persimpangan

Meskipun penguasa Burma dalam tahun ini menjalankan beberapa langkah politik yang penting, terutama dengan pemberian amnesty umum bagi para tahanan politik didalam negeri dan pelarian politik yang tinggal di luar negeri, sulit untuk mengharapkan terjadinya perubahan dalam kaitan strategis regional dalam waktu dekat.

Sampai sekarang tidak dapat disangkal bahwa gerakan separatisme dan gerakan komunisme bersenjata serta proses keruntuhan ekonomi di Burma sama umurnya dengan pembebasan Negara itu dari penjajahan Inggris. Sedemikian parahnya keadaan, sehingga Burma yang sebelum Perang Dunia II merupakan pengekspor beras terbesar didunia, dalam waktu dekat diramalkan akan terpaksa mengimpor beras. Meskipun Ne Win masih tetap merupakan orang yang paling menentukan dalam politik luar negeri, bekas mentri pertahanan Jendral Tin Oo yang cenderung untuk menempuh jalan lain dalam mengtasi kemelut di Burma dan diperkirakan akan menggantikan Ne Win, sejak tahun 1976 berada dalam tahanan. Meskipun selama ini pemerintaha Ne Win berkat politik isolasinya relative berhasilmengibaskan campur tangan asing dalam urusan politik dalam negerinya.

  1. 2.      Sihanouk: Alternatif untuk Kamboja?

Dalam konsepnya untuk masa depan Kamboja, baik kawan maupun lawan akan memainkan peranan penting. Sihanouk yang oleh presiden Amerika sering dijuluki sebagai “pangeran yang angin-anginan” itu yang dalam konsepsinya malahan memberikan kesan bahwa dia betul-betul mau member tempat pertama pada “Real politik”yang diterapkan pada negaranya yang kecil dan lemah tetapi memilikki posisi yang strategis. Konsepsi ini dituangkan ke dalam asas-asas dari partai yang sekali waktu dan bila mungkin akan didirikanya dengan nama Front d’union nationale pour un Cambodge independent, neuter, pazifique et cooperative (FUNCINPEC) yang berarti Front persatuan nasional untuk Kamboja yang merdeka, netral, pasifis, dan koperatif.

Tegaknya asas itu menuntut beberapa persyaratan. Sihanouk yang pernah termasuk dalam kelompok pemimpin Negara penganjur netralisme kini menilai politik nonblok sebagai pelangi belaka, semarak dengan warna-warni tetapi tidak bias diandalkan. Dengan demikian Sihanouk menghidupkan kembali status Negara penyekat (buffer state) yang klasik dan pernah disepakati Muangthai ketika masih bernama Siam dan Vietnam ketika masih bernama Annam sebelum Prancis merangkum Kamboja, Vietnam, dan Laos ke dalam Union Indonhinoise dalam tahun 1884. Sihanouk memang dapat menjadi alternative untuk Kamboja, namun tidak tanpa dukungan masyarakat internasional.

  1. 3.      Setelah Bangsa Cham, menyusul Bangsa Khmer?

Sejak tangggal 30 Maret 1983, masyarakat di kawasan Asia-Pasifik harus member perhatian lebih kepada masalah perbatasan Muangthai-Kamboja. Vietnam melalui pasukannya mengejar pasukan Khmer Rounge yang mencari perlindungan di Muangthai.

Kamboja wilayahnya semakin menciut sejak pertengahan abad XIII. Kubilai Khan juga memberikan kebebasan bagi raja- raja Siam yang pertama, Ban Muang dan Rama Kamhaeng dari dinasti Sukhotahai yang memasukilembah Menam Chao Phraya, dua abad sebelumnya untuk menggerogoti wilayah Barat dari Khmer yang sedang Berjaya di bawah dinasti Angkor. Keutuhan wilayah Kamboja maupun eksistensi bangsa Kamboja sudah ada sejak 700 tahun yang lalu banyak ditentukan di daratan Cina. Hal itu semakin menjadi nyata, ketika Bangsa Annamit memusnahkan Bangsa Cham yang tergolong rumpun Melayu dan juga mulai memasuki wilayah Kamboja dari arah Timur, setelah membebaskan diri dari Cina pada tahun 939 M.

  1. a.      Negara Makmur dengan Perbatasan Rusuh

Setelah kepunahan bangsa Cham tahun 1471, bangsa Khmer merupakan satu-satunya bangsa yang tergolong rumpun melayu di Asia Tenggara. Setelah berkali-kali diserbu, pada tahun 1594 raja Khmer yang bernama Rama Chung Prey terpaksa mengakui kedaualatan dari raja Siam. Penguasa Annam di Hue mulai mengadakan intervensi ke Kamboja, ketika Chey Chetta II meminta bantuan Khmer uintuk mengatasi raja Siam. Chey Chetta II mungkin hendak menyelamatkan kedaulatan, tetapi akibatnya justru menciutkan wilayah bangsa Khmer secara bertahap. Dalam perkemabangn selnjutnya Siam memperoleh propinsi-propinsi lumbung padi Battambang dan Siem Reap (yang dikembalikan setelah PD II) serta propinsi Chanthaburi dan Korat (yang tidak perna dikembalikan lagi). Semua propinsi yang tidak kalah makmur di kawasan Delta Sungai Mekong yang terkenal dengan nama Kocin-Cina jatuh ketangan Vietnam sampai sampai sekarang.

Tanggal 10 November 1953, merupakan hari kemerdekaan Monarki konstitusional kamboja dan sekaligus menandakan berulangnya cerita lama dengan negara-negara tetangga yang tidak pernah ramah. Keadaan itu diperparah dengan komitmen Siam-Vietnam tahun  1845 untuk memberi status protektorat bersama kini tidak dapat dihidupkan lagi, karena konsekuensi hegemonial sudah mendapatkan faktor abad XX, yaitu ideologi.

  1. b.      Muangthai: Emergency exit

Pada tahun 1966 di depan Sangkum (parlemen) Sinhanouk masih menyebut dua musuh kamboja: imperialis Thai dan imperialis Vietnam. Sejarah Kamboja kembali berulang : mencari selamat di Muangthai bila di serang Vietnam, atau minta bantuan Vietnam bila di serbu muangthai. Karena itulah konflik di perbatasan Muangthai-kamboja sebenarnya merupakan masalah Kamboja sepenuhnya.

Setelah pecahnya konflik Kamboja –Vietnam, pemerintah Krung Thep di bawah Jendral Kriangsak menyatakan netral terhadap kedua pihak yang berperang. Hukum internasional mewajibkan setiap negara yang menyatakan netralitas terhadap satu konflik bersenjata untuk menangkap dan menginternir tentara dari pihak yang berperang yang memasuki wilayah yang dinyatakan netral. Tetapi dalam prakteknya Angkatan Bersenjata Muangthai hanya menggempur tentara Vietnam tetapi membiarkan gerilya Khmer rounge, gerilya nasionalis maupun gerilya Moulinaka untuk menyelamatkan diri dalam wilayahnya.

Dengan demikian Vietnam harus menghadapi 40.000 pasukan Demokratik Kampuchea yang tidak saling percaya dan yang dibantu oleh Angkatan Bersenjata Thai yang mengalami krisis pemerintahan di garis belakang. Konsekuensinya, Vietnam akan semakin bersikeras di Kamboja dengan dalih perbatasan Muangthai-Kamboja memang tidak aman, sehingga kawsan itu harus dijaga dan dikuasai.

  1. c.       Menangkal Vietnam

Sejak Ho Chi Minh mendirikan Vietnam Dong Ha (Republik Demokrasi Vietnam) September 1945, banyak sekali yang sudah dikerjakan oleh Dong Lao Dong (Partai Buruh). Kecuali mengalahkan tentara dari tiga negara Besar, mereka juga telah menghasilkan pemerintahan yang ketat dan punya disiplin nasional. Sementara itu Muangthai belum sanggup menyelesaikan proses demokratisasi yang dirintis tahun 1932. Vietnam mendominasi Laos pada tahun 1976,  pertengahan 1978 menyerbu Pnom Penh, dan mengunjungi Muangthai tahun 1980, dunia hanya sibuk dengan berbagai perundingan, sementara Vietnam lebih serius dalam upaya untuk membuat tank-tank Soviet dapat bertempur dalam musim hujan di rimba Kamboja.

  1. d.      Bersekutu demi Keadilan, Kemerdekaan, dan Perdamaian

Politk dan gerakan Vietnam di Indocina dan kemudian merambah ke Muangthai bertentangan dengan prinsip keadilan dan kemerdekaan serta berbahaya bagi perdamaian. Karena itu bukan hanya Muangthai yang sedang menghadapi keharusan untuk menentukan sikap, tetapi juga ASEAN. Mengikrarkan ZOFAN dalm bulan November 1971 sama sekali tidak meralang ASEAN untuk bersekutu, juga secara militer. Pandit Jawarhalal Nehru, bapak kemerdekaan india sekaligus pelopor gerakan Non Blok, berkata di hadapan PBB bulan September 1947 bahwa orang tidak boleh netral apabila keadilan dan kemerdekaan diinjak-injak dan apabila membahayakan perdamaian. ASEAN meluhurkan cita-cita mensejahterakan rakyat, ASEAN wajib menentukan sikap dan menindak teags keajahatan terhadap keadilan, kemerdekaan, dan perdamaian.

  1. 4.      Posisi Vietnam dalam Proses Détente Sino-Soviet
    1. a.      Vietnam antar RRC dan Uni Soviet

Akhir tahun  1982 diisi dengan imbauan Beijing kepada Moskwa supaya memperlancar proses normailisasi hubungan kedua negara. Meskipun demikaian, bukan merupakan rahsia bahwa proses détente Sino-Soviet itu menghadapi banyak rintangan. Salah satu batu sandungan dalam paket rintangan itu adalah masalah Vietnam. Beijing menganggap Vietnam sebagai ranjau yang ditanam soviet untulk memblokir Cina dari Selatan. Vietnam tidak dapat ditolelir oleh Cina, karena samapi abad X, Vietnam merupakan propinsi Cina yang bernama Yue-nan dan kemudian oleh orang Cina disebut An-nan yang artinya wolayah Selatan yang sudah diamandamaikan. Uni Soviet sebaliknya menyatakan bahwa tidak ada masalah dengan Vietnam. Mokswa terpaksa mendukung Hanoi secara massif, justru karena Cina mengancam kemamanan Negara itu dari Muangthai dan Kamboja.

  1. b.      Vietnam : Geopolitik dan Patriotisme

Disposisi Vietnam terhadap proses détente Sino-Soviet dapat ditelaah dari dua aspek, yaitu aspek geopolitik dan aspek kepentingan nasional yang dalam konteks Vietnam masih amat berbau patriotisme. Di Vietnam geopolitik diabaikan sebagai ilmu, tetapi sangat bermanfaat sebgai doktrin, terutama dalam kaitannya lebensraum. Sebagai ilmu, geopolitik menyodorkan konsep; lebih baik mempunyai tetangga yang akrab daripada sahabat jauh.

Doktrin geopolitik Vietnam banyak diimbas oleh patriotisme yang sukar diterobos. Patriotisme Vietnam tidak hanya dijiwai oleh semangat tidak mau dikuasai, tetapi juga oleh aspirasi untuk mengusai.

  1. c.       Skisma Sino-Soviet dalam petrang Vietnam

Ketika perang Vietnam dimulai tahun 1965, petrang dingin antara Moskwa dan Beijing sebenarnya sudah tidak dapat diatsi lagi. Tahun 1969 dan 1970 terjadi serangkaian insiden bersenjata antara Cina dan Soviet di pulau Zhenpao atau Damanski di tengah Sungai Ussuri yang diduga didalangi oleh Uni Soviet. Dalam kondisi ideal, ketika Deng Xiaoping memberi “pelajaran” kepada Pham Van Dong pada awal tahun 1979. Brezhnnev praktis menahan diri untuk menjaga agar keonaran dalam blok komunis tidak terjadi lebih besar. Artinya, sampai bats tertentu Moskwa rela mengorbankan Hanoi demi rapatnya tirai besi dan tirai bambu, yang berarti posisi Vietnam akjan runyam, bila skisma Sino-Soviet tidak kunjung berakhir.

  1. d.      Vietnam Lega, Asia Tenggara Celaka

Sesudah empat tahun, dengan dibantu skisma Sino-Soviet dan dukungan internasional lewat PBB, ASEAN belum juga berhasil menepis rezim Heng Samrin buatan Vietnam dari tampuk kekuasaan faktuan Kamboja. Perjuangan ASEAN untuk menundukkan suatu rezim yang lebih akseptabel secara regional baik Heng Samrin maupun Pot-sary si Pnom Pneh pasti akan menghadapi lebaih banyak rintanagn jika protes détente Sino-Soviet sudah mencapai tahap lebih matang, dan Triade Sino-Soviet akan mebuat Vietnam lebih leluasa dalam menyusun Pax Vienamica-nya sendiri.

Tantangan ASEAN adalah membuktikan kepada Vietnam bahwa ASEAN merupakan sarana untuk menuju kemakmuran yang sulit ditandingi, dan membuktikan bahwa secara geopolitis kerja sama dengan ASEAN merupakan alternatif yang sangat logis karena mengurangi ketergantungan Hanoi dan Moskwa.

BAB III

CINA: TETANGGA TUA DENGAN PROBLEMA TUA

 

  1. Pelajaran” untuk RRC dan Kita

Tahun 1962, pemerintah Nehru yang mendapat “pelajaran” dari ketua Mao, dalam persoalan yang sama yatu soal perbatasan. Karena baru empat tahun sebelumnya India dan Cina menandatangani suatu perjanjian Pancha Sheel (Pancasila) yang berisi ketentuan-ketentuan mengenai caranya hidup berdapingan secara damai. Mokswa merasa belum perlu turun tangan langsung, namaun langkah taktis maupun strategis sudah dijalankan.

Pengalaman dan disposisi Vietnam tidak hanya bisa menjadi pelajaran bagi Cina saja, melainkan untuk semua negara di kawasan Asia tenggara. Dan dari kejadian tersebut dapat disimpulkan dua hal penting. Pertama adalah bahwa jumlah penduduk bukan merupakan soal yang terlalu penting untuk sistem perang sekarang, yang lebih menentukan adalah kualitas dan kecakapan penduduk itu sendiri. Hal kedua adalah yang penting bagi Indonesia dari perang Cina-Vietnam adalah soal menyimak cara berpikir para pejabat tinggi RRC. Orang Cina menyebut negaranya adalah Cungguo, artinya negara ditengah atau pusat dunia. Sebutan tersebut sudah dapat diabayangkan bagaimana cara berpikir mereka.

  1. 2.      Asia Tenggara dalam banyangan “Modernisasi Empat” di RRC: Suatu Pendekatan Historis
    1. a.      Pengantar: Karakteristik Sejarah Cina

Dalam kerangka kebudayaan dunia, Sejarah Cina dan Kebudayaan yang dihasilkannya memang merupakan yang terpanjang dan tak terputus, dan dalam kenyataan telah membawa pengaruh besar pada pembentukan cara berpikir bangsa dan para pemimpin Cina. Orientasi diri dan sentisme memang dapat dijumpai pada banyak lingkungan kebuadayaan, namun demikian dalam lingkungan kebudayaan Cina orientasi diri maupun sentrisme itu mempunyai kadar yang sangat tinggi.

  1. b.      Kaitan Historis antara Cina dan Asia Tenggara

Asia Tenggara yang merupakan kawasan paling awal dikenal dalam bahasa mereka sebagai “Nan-Yang” (Laut selatan). Banyak raja di Asia Tenggara yang menolak tuntutan bahwa mereka adalh vassal dari Cina dan harus mengakui kedaulatan cina, akibatnya negara yang menolak akan dikirimi armada Cina untuk member “pelajaran”. Sementara itu raja–raja yang tidak menolak membayar upeti, melakukannya demi tujuan mendapat perlindungan dari raja Cina dalam menghadapi serangan dari negara-negara tetangga.

  1. c.       Dari Dominasi Barat Lewat Revolusi Kebudayaan Menuju “Modernisasi Empat”

Orientasi diri dan sentrisme bangsa Cina telah banyak menentukan perkembangan masyarakat menuju suatu isolasi diri. Perang Dunia II mengakibatkan berakhirnya dominasi Barat dan Jepang terhadap Cina dan kekuasaan kolinial di Asia Tenggara. Di dataran Cina disusul dengan perang saudara yang memebawa Partai Komunis Cina menuju kekuasaan De facto. Isolasi diri dijalankan lewan politik “tirai bambu’ yamg sementara itu menandai haluan negara-negara komunis lainnya. Namaun demikian, pertentangan politik dalam lingkungan kepemimpinan Partai Komunis selama hampir tiga puluh tahun berkuasanya Mao Ze Dong membuktikan bahwa “politik tirai bambu” itu tidak menghasilkan perkembangan yang memuaskan bagi masyarakat Cina seperti yang diharapkan.

Kematian Mao Ze Dong pada September 1976 menimbulkan kegoncangan, tetapi bangkitnya kaum pragmatis yang di zaman kuno sedikit banyak sudah mendapat angin dari Chou En Lai tidak dapat dihindari lagi. Politik kaum pragmatis Cina untuk melaksanakan modernisasi dalam bidang pertahanan, pertanian, industri dan ilmu pengetahuan dan teknologi, mau tidak mau telah memaksa disingkapnya tirai bambu, sebab hanya lewat kerja sama dengan negara-negara yang menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi maju kaum pragmatis dapat mencapai tujuan mereka.

  1. d.      Pengaruh “Modernisasi Empat” terhadap Asia Tenggara

Politik buka pintu Cina terhadap negara-negara Barat dan Jepang sebagai sarana mewujudkan program “modernisasi empat” dapat dibandingkan dengan politik buka pintu yang dijalankan Jepang mulai tahun 1864 sebagai sarana melaksanakan restorasi Meiji. Sebagaimana halnya dengan restorasi Meiji, program Modernisasi empat menjanjikan resultat-resultat dalam ukuran makro, terutama karena potitik buka pintu dijalankan dan dikendalikan atas prakarsa Cina sendiri.

Negara-negara Asia Tenggara sudah akan dapat mendeteksi pengaruh dari modernisasi empat dalam jangka waktu dekat. Namun demikian pengaruh nyata sudah mualai harus dirasakan dalam hubungan antara negara-negara Asia tenggara terutama yang Komunis dengan negara-negara Barat dan Jepang. Ada dua alasan,  yang pertama adalah potensi penduduk Cina yang tak terbandingkan kira-kira satu milyar, menjadi tiga kali lipat dari jumlah penduduk Asia Tenggara. Alsan kedua adalah cadangan bahan mentah dan barang tambang Cina nampaknya juga terdapat diseluruh Asia Tenggara. Kedua faktor inilah yang mendorong berbagai negara Barat dan Jepang untuk mengubah politik Cina mereka secara mendasar, dengan akibat kedudukan dari negara Asia Tenggara (komunis atau tidak) menjadi lemah. Selagi negara-negara Asia non komunis disibukkan denganjatuhnya Indocina ketangan Komunis, goncangan berikut sudah datang pada tanggal 12 Agustus 1978 dengan ditandatanganinya perjanjian Jepang-Cina. Dalam kenyataannnya perjanjian itu membuka peluang simbiose bagi kedua negara.

  1. e.       Masalah Cina Regional dan langkah-langkah alternative

Posisi negara-negara Asia Tenggara terutama yang non komunis menjadi lebih problematis karena adanya warisan masalah Cina perantauan (Hoakiau) yang ternyata sebagain besar sangat sulit untuk dintregasikan dalam masyarakat tuan rumah. terdapat dua kenyataan yang harus diakui untuk tidak lebih mengacaukan masalh Cina perantauan ini. Kenyataan pertama adalah bahwa tidak semua Hoakiau berorientasi kea rah RRC. Kenyataan kedua adalah bahwa Chou En Lai maupun Deng Xiaping berulangkali menganjurkan para Hoakiau untuk mentaati hukum yang berlaku negara tuan rumah. Umumnya dapat disimpulkan bahwa politik buka pintu dan program modernisasi empat yang dijalankan RRC akan dihadapkan negara-negara Asia Tenggara.

  1. 3.      Pendekatan antara India dan RRC?

Tanggal 27 Juni 1981 telah diakhiri serangkaian perundingan antara India dan RRC di New Delhi yang mungkin akan membawa pengaruh dalam waktu dekat. Perundingan itu sendiri mempunyai arti besar karean telah mengakhiri dead-lock politik maupun diplomatik dalam hubungan kedua negara yang diakibatkan oleh perang perbatasan pada tahun 1962. Pemerintah India maupun RRC menunjukan persamaan yang cukup penting, yaitu pragmatisme dalam haluan politik dalam maupun luar negeri. Persamaan inilah yang mendorong Indira Gandhi maupun pemerintah Cina yang berada dalam bayangan Deng Xiaoping untuk menyesuaikan konstelasi Real politik sejalan dengan tantangan geopolitik yang dihadapi keduanya.

Usaha pendekatan RRC terhadap India boleh dipandang sebagai suatu usaha untuk menerobos kepungan Soviet yang strategis dan diplomatis terhadapnya. Karena itu secara diplomatis reaksi terhadap konstilasi Sino-India bisa diramalkan akan mengambil bentuk membesarnya tekanan terhadap RRC di kawasan Indocina. Memang akan ada pengaruh buruk dari suatu rekonsiliasi Sino-India, terutama yang berkaitan dengan reaksi Mokswa. Namun demikian secara menyeluruh pendekatan antara India dan Cina akanmembawa pengaruh baik bagi Asia, terutama Asia Selatan dan secara tidak langsung juga Asia Tenggara.

Diterbitkan oleh

2 tanggapan untuk “ASIA TENGGARA DALAM PRESPEKTIF NETRALITAS DAN NETRALISME”

  1. Hi would you mind letting me know which webhost you’re working with? I’ve loaded your blog in 3 completely
    different web browsers and I must say this blog loads
    a lot quicker then most. Can you suggest a good web hosting provider at a reasonable price?
    Thanks, I appreciate it!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s