Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Raffles


RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

 

Disusun guna Memenuhi Tugas Mata Kuliah

Perencanaan Pembelajaran Sejarah

 

 

 

 

 

 


 

 Oleh :

IWAN SUTIYONO

NIM                : 10021015

Semester         : IV( Empat )

Jurusan          : Pendidikan Sejarah

Fakultas         : Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial

 

INSTITUT KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

 YOGYAKARTA

2012

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

Sekolah                       : SMP N 1 Wates

Mata Pelajaran            : IPS – Sejarah

Kelas                           : VIII / 1

Alokasi Waktu            : 1 Jam Pelajaran (1X40 Menit)

  1. A.    Standar Kompetensi

Memahami masa kepemimpinan Th.S. Raffles di Nusantara.

  1. B.     Kompetensi Dasar

Menjelaskan masa kepemimpinan Th.S. Raffles di Nusantara.

  1. C.    Indikator
    1. Mendeskripsikan biografi Th.S. Raffles.
    2. Mengidentifikasi latar belakang Th.S. Raffles.
    3. Menjelaskan kebijakan pemerintahan Th.S. Raffles dalam bidang pemerintahan, perekonomian dan keuangan.
  1. D.    Tujuan Pembelajaran

Setelah penyajian materi, diharapakan siswa dapat :

  1. Mendeskripsikan biografi Th.S. Raffles.
  2. Mengidentifikasi latar belakang Th.S. Raffles.
  3. Menjelaskan kebijakan pemerintahan Th.S. Raffles dalam bidang pemerintahan, perekonomian dan keuangan
  1. E.     Materi Pelajaran

Thomas Stamford Raffles

  1. 1.    Biografi Raffles

Thomas Stamford Raffles adalah seorang yang kurang mempunyai karakter hebat, tapi cukup bijaksana untuk lebih memelih reputasi dalam sejarah daripada penghasilan material sesaat (Vlekke, 2008). Bernama lengkap Thomas Stamford Bringley Raffles ini lahir 6 Juli 1781 berkewarganegaraan Inggris. Ia adalah seorang Gubernur Jenderal Hindia-Belanda yang terbesar. Ia juga dikatakan pendiri kota dan Negara kota Singapura. Ayahnya adalah seorang kapten bernama Benjamin Raffles dan Ibunya adalah Anne Lyde Linderman, namun akibat terhimpit krisis ekonomi dan terjerat kasus dalam perdagangan budak di kepulauan Karibia mengakibatkan ayahnya meninggal saat Raffles berusia 15 tahun. Saat itu juga ia mulai bekerja sebagai pegawai di London untuk perusahan Hindia Timur Britania yang banyak berperan dalam penaklukan Inggris di luar Negeri (id.wikipedia.org) dan diangkat ke posisi agen perusahaan di Pulau Penang pada 1805. Di sini dia memulai studinya atas bahasa, adat istiadat, dan sejarah Melayu. Bermula menjadi palayan humaniter utama kemudian menciptakan lewat tulisannya, suatu legenda histori mengenai administrasinya di Jawa dan akhirnya dengan suatu kebijakan ekspansi yang berani sehingga membuat dia mencapai keberhasilan terbesarnya yaitu pendirian Singapura.

Dia menulis begitu baik dalam bentuk yang sangat menarik, sehingga selama seabad setelah kematiannya orang menilai Raffles lebih berdasarkan kata-katanya dari pada perbuatannya. Dari sinilah ia dinilai lebih unggul dari pada para pendahulu-pendahulunya dalam administrasi kolonial. Dari gabungan ambisi membara dan kecerdasan brilian tersebut, membuat Raffles orang yang tepat untuk menjalankan rencana Lord Minto untuk Indonesia. Kala waktu itu untuk menyerang dan menghancurkan kekuatan Belanda di Indonesia (Vlekke, 2008).

Keberhasilan Inggris dalam ekspansinya ini membawa nama Raffles menjadi semakin dikenal dan yang tidak kalah pentingnya adalah melejitnya karir Raffles yang semakin tinggi di usianya yang masih muda. Itu disebabkan karena pemerintah Inggris mempercayakan semua kendali di nusantara kepadanya. Sehingga di tunjuklah Raffles sebagai Letnan Gubernur oleh Lord Minto sebelum kembali ke Kalkuta (Vlekke, 2008). Dia menjadi Jenderal Gubernur di Jawa pada tahun 1811-1816. Selama di Jawa dalam menjalankan tugasnya, nampaknya Raffles juga memiliki keterkaitan erat dengan orang Jawa, bahkan ia lebih suka dengan orang Jawa dari pada dengan orang Belanda. Sebab orang Jawa tidak memiliki sifat amuk (chaos). Selain itu Raffles juga menyimpan besar perhatiannya pada budaya dan sastra Jawa, karena ketertarikanya tersebut ia mengembangkan Museum Ethnografi Batavia, yang sampai saat ini masih berdiri megah. Sebelumnya Belanda telah mendirikan lembaga kebudayaan yang bernama Koninklijk Bataviaasch Genootschap. Lembaga ini yang memelopori pendirian Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (1778) dan Museum Gajah (1862) yang kesemuanya berada di Jakarta. Pada 1814, Thomas Stamford Raffles mendengar berita adanya penemuan benda purbakala di sekitar Magelang, Jawa Tengah. Raffles kemudian mengutus H.C. Cornelius untuk menyelidiki lokasi penemuan berupa bukit yang dipenuhi semak belukar. Ia memerintahkan agar “bukit ilalang” itu dibersihkan, sehingga tampaklah sebuah candi raksasa yang dipenuhi patung Buddha Mahayana. orang. Raffles juga bercerita tentang keberadaan Candi Penataran yang berlokasi di sebelah utara Blitar (Jawa Timur). Raffles menemukan candi ini pada 1815 bersama seorang naturalis dan ahli kedokteran berkebangsaan Amerika, ialah Thomas Walker Horsfield. Raffles kembali ke London (1815) karena mengidap penyakit tropis yang cukup parah, serta kesedihannya yang sangat dalam atas meninggalnya istrinya pada 26 November 1814 karena penyakit malaria (Raffles, 2008) dan dimakamkan di Batavia tepatnya yang sekarang menjadi Museum Prasasti. Di kebun raya Bogor juga dibangun monument peringatan untuk mengenang kematian sang isteri (id.wikipedia.org).

Pada tahun 1818, Thomas Stamford Raffles kembali ke timur dan di promosikan menjadi gubernur Bengkulu. Disana banyak yang telah dilakukan yaitu mengagas proyek benama Singapore, mendirikan benteng, dan Ia juga dikenal sebagai pecinta lingkungan yang penuh gairah di bidang biologi. Banyak sederetan nama binatang dan tumbuhan telah dinamai dengan menggunakan namanya (Raffles, 2008). Salah satu tumbuhan yang paling terkenal adalah benama Rafflesia Arnoldii, sejenis tumbuhan parasit di pohon Palem, merupakan hasil penemuan Raffles di sekitar Bengkulu (Sumatra). Tanaman ini merupakan endemic di Asia Tenggara dan memiliki kelopak bunga terbesar serta paling spektakuler di dunia. Sekembalinya ke London Thomas Stamford Raffles mendirikan London Zoo dan Zoological Society of London yang sampai saat ini masih terkenal. Ia pun menjadi presiden pertama dalam lembaga ilmiah ini. Dari sinilah Raffles menghabiskan masa hidupnya yaitu di Kota dan Negara asalnya. Seorang anak yang tengah menjelma menjadi seorang figure dan menjadi seorang tokoh cerdas, bijaksana serta peduli terhadap sesama telah menyatu semua dalam diri raffles. Menurut catatan Sophia Malkasian, mahasiswa pascasarjana pada Southeast Asia Studies Program, Ohio University, Amerika Serikat mengatakan Raffles dianggap sebagai salah seorang pelopor kajian Jawa, serta bukunya menjadi sumber gagasan Barat mengenai daerah tersebut, dan sebagai titik awal pengkajian wilayah Timur.

Perjuangan telah dilakukan demi keluarga dan negaranya mulai dari masa remaja hingga menutup mata. Banyak sumber yang mengatakan bahwa Thomas Stamford Raffles meninggal dunia sehari sebelum ulang tahunnya yang ke-45 (5 July 1826), atau hanya dua tahun sekembalinya dari Hindia-Timur, karena menderita apoplexy atau Stroke (Raffles, 2008). Karena pendirianya yang menentang perbudakan, keluarganya tidak diizinkan mengebumikannya di halaman gereja setempat (St.Mary’s, Hendon). Larangan ini dikeluarkan pendeta gereja itu, yang keluarganya memetik keuntungan dari perdagangan budak. Ketika gereja itu diperluas pada 1920-an, kuburannya dimasukkan ke dalam bagian bangunannya (id.wikipedia.org).

  1. 2.    Masa Kepemimpinan Raffles di Nusantara

Sejak tahun 1800, blokade Inggris terhadap Belanda semakin memuncak. Kedudukan-kedudukan Belanda yang ada di luar Jawa (hanya Ambon yang agak kuat) diserang Inggris. Demikianlah Ambon, Gorontalo, Banda, Ternate, praktis dapat dikuasainya. Tidak dengan Jawa, rupanya pertahanan masih kuat dan memerlukan perhitungan militer yang lebih serius. Tetapi keputusan itu belum diambil oleh pucuk pimpinan Inggris di India. Walaupun demikian, persiapan untuk menyerang Jawa telah dilakukan sejak masa-masa sebelumnya (Dekker, 1993).

Pada tahun 1808 mulai berlangsung suatu zaman baru dalam hubungan Jawa-Eropa. Negeri Belanda telah berada di bawah kekuasaan Perancis sejak tahun 1795. Sehubungan dengan sentralisasi kekuasaan yang semakin besar, maka Napoleon Bonaperte mengangkat adiknya, Louis Napoleon sebagai penguasa di negeri Belanda pada tahun 1806. Pada tahun 1808, Louis mengirim Marsekal Herman Willem Daendels ke Batavia untuk menjadi Gubernur jenderal (1808-1811) dan untuk memperkuat pertahanan Jawa sebagai basis melawan Inggris di Samudera Hindia. Dalam perjalanannya Daendels tidak membawa pasukan baru bersamanya bahkan memakai bendera Amerika untuk menghindari serangan atau hadangan Inggris di India. Dengan tidak adanya pasukan yang dibawa dia segera membentuk pasukan yang terdiri dari sebagian besar terdiri atas orang-orang Indonesia, berjumlah dari 4000 menjadi 18000 orang (Ricklefs, 2005).

Tekanan blockade Inggris yang berat terhadap Belanda melumpuhkan export kopi yang merupakan salah satu sumber penghasilan yang besar. Suasana ekonomi di bawah Daendels yang bersifat revolusioner dan diktaktor ini rusak. Di samping itu kebencian terhadapnya datang dari semua golongan termasuk orang-orang Eropa sendiri. Maksudnya memberantas penyelewengan dan korupsi yang menyelimuti administrasi Eropa banyak mengalami kegagalan (Ricklefs, 2005). Salah satu contoh tindakan Daendels yang hanya menghasilkan kebencian adalah sebagai berikut, seperti disebutkan di atas, bahwa Ambon masih dipertahankan oleh Belanda dalam ukuran kecil. Di sana ditempatkan seorang colonel Perancis yang bernama Filz. Akibat serangan Inggris itu Filz menyerah. Dia dibebaskan oleh Inggris dan kemudian pergi ke Batavia untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya. Hasilnya malahan colonel yang malang itu dimarahinya dan kemudian dijatuhi hukuman mati (dengan jalan ditembak), itu merupakan perbuatan yang tidak bertanggung jawab yang dilakukan oleh seorang pemimpin seperti Daendels. Adapun perlawanan diberbagai tempat terhadap Daendels yang serba keras dari bangsa Indonesia antara lain ialah Banten, Cirebon, dan Yogyakarta (Dekker, 1993).

Pada 1811, Thomas Stamford Raffles disertakan dalam rombongan ekspedisi ke tanah Jawa sebagai Letnan Gubernur di bawah perintah Gubernur Jenderal (di India) Sir Gilbert Elliot Murray-Kynyn-mond atau yang lebih dikenal dengan nama Lord Minto, hingga 1817. Lord Minto menyukai Raffles karena kecerdikanya, keterampilan, dan kemampuannya dalam berbahasa Melayu, sehingga ia dikirim ke Malaka. Tidak lama setelah tiba di tanah Jawa pasca Perancis menguasai Kerajaan Belanda, Raffles mengatur ekspedisi melawan militer Belanda di Jawa. Penyerbuan itu dipimpin oleh Admiral Robert Stopford, Jenderal Watherhall, Kolonel Gillespie (Raffles, 2008) dan disamping itu ikut juga Jenderal Auchmuty dimana Kapitulasi Tuntang adalah pertanda yang secara resmi mengakhiri riwayat Belanda-Perancis di Indonesia. Berikut mengenai isi dari Kapitulasi Tuntang yang di tanda tangani oleh Auchmuty dari pihak Inggris dan Janssen dari pihak Belanda, pada tanggal 18 September 1811 :

  1. Seluruh Jawa diserahkan kepada Inggris
  2. Semua serdadu menjadi tawanan dan semua pegawai yang mau kerja sama dengan Inggris, dapat memegang jabatan terus
  3. Semua hutang-piutang pemerintah belanda yang dulu, tidak akan ditanggung oleh Inggris.

Seminggu sebelum Kapitulasi Tuntang, Raffles telah diangkat sebagai Letnan Gubernur Jenderal namun pusat kendali tetap berada di Calcuta (Dekker, 1993).

Dalam hal yang seperti ini masih ada juga perbedaan dalam penilaian terhadap Belanda antara Lord Minto dengan Raffles. Munculnya dua aliran ini sangat berbeda jauh yaitu aliran Lord Minto yang bersikap lunak dan terbuka terhadap Belanda yang telah kalah dan mau mempergunakan bangunan dan tenaga mereka kembali asalkan setia kepada Inggris, dan aliran Raffles yang bersifat membenci terhadap apa saja yang berbau Belanda yang dianggapnya sebagai kolot dan kejam.

Setelah takhluknya Belanda dari tangan Inggris, kepulauan Indonesia sepenuhnya berada di bawah control perusahaan Hindia Timur Inggris dan dibagi dalam empat unit administratif yaitu pemerintahan Malaka, Bengkulu, Jawa, Maluku. Dengan perubahan administratif ini Maluku sangat beruntung karena monopoli tidak dihapus melainkan ditetapkan dengan lebih longgar, sebab Perusahaan Hindia Timur Inggris tidak mempunyai kepentingan financial untuk menjaga ketat sistem itu seperti Belanda (Vlekke, 2008). Apabila dilihat sebagai kesatuan revolusi Daendels dan Raffles sama-sama tokoh yang paling penting bagi sejarah Indonesia yaitu sebagai pencetus revolusi penjajahan, suatu kebijakan baru yang menuntut pelaksanaan kedaulatan dan kekuasaan administrasi Eropa di seluruh pemerintahan Jawa yang tujuannya memanfaatkan, memperbaharui, atau menghancurkan lembaga-lembaga asli semuanya (Rickefs, 2005). Pemerintahan langsung rakyat oleh pejabat pemerintah yang digaji harus menggantikan pemerintahan tidak langsung lewat perantara kepala-kepala daerah herediter (Vlekke, 2008).

Thomas Stamford Raffles pernah menjadi Gubernur Jenderal pada masa yang sangat singkat di Jawa yaitu mulai tahun 1811 sampai dengan 1816. Selama kepemimipinannya, Raffles mengubah sistem tanam paksa (culture stelsel) yang diberlakukan colonial Belanda, yaitu sistem kepemilikan tanah yang kemungkinan besar dipengaruhi oleh tulisan awal Dirk van Hogendorp, dengan kebijakan landrente. Prinsip yang digunakannya berdasarkan pada teori liberalisme, seperti yang dipraktikkan Inggris di India. Seperti dalam bidang perekonomian dan keuangan Raffles menetapkan bahwa :

  • semua tanah adalah milik Negara, dan rakyat sebagai pemakai (penggarap) tanah wajib membayar sewa (berupa pajak bumi) kepada pemerintah.
  • Pemimpin pribumi seperti sultan dan bupati yang tidak taat pada peraturan landrente, akan dipecat.
  • Meneruskan usaha yang dilakukan Belanda misalnya penjualan tanah kepada swasta, serta penanaman kopi, melaksanakan penanaman bebas yang melibatkan rakyat dalam perdagangan.
  • Memonopoli garam agar tidak dipermainkan dalm perdagangan karena sangat penting bagi rakyat.
  • Menghapus segala penyerahan wajib dan kerja rodi.
  • Dia juga mengubah sistem berkendara di koloni Belanda menjadi sistem berkendara seperti di Inggris yaitu memakai jalur kiri yang berlaku dan dipakai sampai saat ini (Gus Anam’s, 2010 blog)

Selain menerapkan kebijakan landrente, dalam bidang pemerintahan Thomas Stamford Raffles juga menerapkan kebijakannya melalui :

  • Membagi tanah Jawa ke dalam 16 karesidenan
  • Mengurangi jabatan bupati yang berkuasa (Raffles, 2008)
  • Mengangkat Bupati menjadi pegawai negeri yang digaji
  • Mempraktekkan sistem yuri dalam pengadialn seperti di Inggris
  • Melarang adanya perbudakan, membangun pusat pemerintahan di Istana Bogor (Gus Anam’s, 2010 blog)
  • Kesultanan Banten dihapuskan, kedaulatan kesultanan Cirebon harus diserahkan kepada colonial Inggris (Raffles, 2008).

Disamping kebijakan-kebijakan yang telah disebutkan, Raffles juga seoarang sarjana yang tertarik dalam Sejarah dan keadaan alam Indonesia. Yaitu dengan membangun gedung Harmoni di jalan Majapahit Jakarta untuk lembaga pengetahuan yang berdiri sejak tahun 1778 yang bernama Bataviaasch Genootschap(Gus Anam’s, 2010 blog).

Pada 13 agustus 1814 diberlakukan konvensi London yang memuat bahwa seluruh wilayah yang pernah dikuasai Belanda harus dikembalikan kepada pihak Inggris tetapi tidak berlaku atas Bangka, Belitung, dan Bengkulu. Sebenarnya Raffles tidak menerima hal ini karena kekayaan Hindia-Belanda sanagat menguntungkan pihak Inggris, naumun ia terpaksa menandatanganinya yang merupakan bagian dari penyusunan kembali secara menyeluruh urusan-urusan Eropa setelah perang-perang Napoleon. Raffles akhirnya ditarik kembali ke Inggrisdan digantikan oleh John Fendall yang melaksanakan keputusan konvensi London sekaligus serah terimanya. Tahun 1818 Raffles kembali ke timur untuk Jabatan barunya yaitu menjadi Gubernur Bengkulu. Setelah setahun pemerintahannya ia menggagas proyek bernama Singapore. Proyek mercusuar ini adalah pelampiasan dari rasa kekecewaannya karena penyerahan tanah Jawa kepada Belanda. Diapun akhirnya terkenal sekali sebagai pendiri Singapura.

Sebelum kepulangannya ke London, di Bengkulu Raffles mendirikan benteng Inggris paling besar kedua di Asia Pasifik, setelah benteng utamanya di India. Dari pendirian benteng yang permanen, kokoh dan multifungsi itu dapat dipastikan kalau Raffles memiliki cita-cita di kawasan ini. Karena parahnya gejolak politik yang mendera Eropa pada tahun 1823 ia terpaksa untuk meninggalkan Sumatra. Namun Raffles sempat mewujudkan obsesinya di Singapura dan dalam proyek botani dan satwa Hindia Timur, terutama di pulau Sumatra. Tonggak imperalis Inggris ini menggagas pendirian Raffles Museum di Singapura. Misinya adalah mencatat dan mendokumentasikan binatang dan tanaman khas yang terdapat di pulau Jawa dan Sumatra (Raffles, 2008). Salah satunya adalah jenis tanaman bunga sekaligus nama Raffles diabadikan sebagai nama bunga itu, yaitu Rafflesia Arnoldii (Gus Anam’s 2010 blog). Karena peran besar Raffles, di Simgapura akhirnya diabadikan dengan bentuk patung atau monumuen Raffles untuk mengenang tokoh besar itu.

Berakhirnya pemerintahan Raffles karena kondisi eropa sudah tidak mendukung. Kedudukan Napoleon telah goyah, dan Belanda telah bangkit untuk melawan Perancis. Ujungnya terselesaikan pada 1824 yang disepakati di London. Britania berjanji tidak akan lagi campur tangan di Sumatra atau pulau-pulau lain di kepalauan Indonesia. Begitu juga orang Belanda berjanji menghormati kemerdekaan Aceh, tapi sekaligus bertekad melindungi pelayaran di sekitar ujung utara Sumatra dari perompak-perompak Aceh. Perjanjian 1824 mengakhiri kekuasaan Britania atas Bengkulu (Vlekke, 2008). Hingga akhirnya Nusantara kembali di bawah kekuasaan Belanda yang dengan sistimatik menguras serta mengkulikan penduduk Nusantara seperti yang dilakukanya sebelum Inggris datang.

  1. F.     Metode Pengajaran
    1. Metode pengajaran : Ceramah Bervariasi
    2. Persiapan :

–          Salam

–          Presensi

–          Appersepsi

  1. Pelaksanaan :

–          Pemasangan media/materi pembelajaran

–          Tanya jawab

–          Evaluasi : tes formatif

–          Penugasan

  1. Penutup :

–          Salam

  1. Media yang menghantar ke penyajian materi

Terlampir

  1. G.     Sumber Pembelajaran
    1. Sumber Buku :

Daliman, A. 2001. Sejarah Indonesia abad XIX-awal abad XX: Sistem Politok Kolonial dan Administrasi Pemerintahan Hindia-Belanda: Yogyakarta: Universitas Negeri Yogyakarta. Hal. 20-26.

Dekker, Nyoman., 1993, Sejarah Pergolakan Indonesia dalam Abad XIX, Malang: IKIP Malang. Hal.

Raffles, Th.S., 2008, The History of Java, Penyunting: Hamonangan Simanjuntak dan Revianto B. Santosa,Yogyakarta: Narasi.

Ricklefs, M.C., 2005, Sejarah Indonesia Modern 1200-2004, Terjemahan. Satria Wahono dkk, Jakarta:PT Serambi Ilmu Semesta. Hal. 251-258.

Vlekke, B.H.M., 2008, Nusantara: Sejarah Indonesia, Jakarta: PT. Gramedia. Hal.

Wiharyanto, A. Kardiyat., 2006, Sejarah Indonesia Madya XVI-XIX. Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma. Hal. 108-112.

  1. Sumber Elektronik :

–       http://id.wikipedia.org/wiki/Thomas_Stamford_Bingley_Raffles. diakses tanggal 28 mei 2012, pukul 23.05.

–       http://www.scribd.com/doc/27659726/Masa-Pemerintahan-Thomas-Stamfort-Raffles-Di-Indonesia#download. Diakses tanggal 28 Mei 2012, Pukul 23.09 WIB.

–       http://sejarah.kompasiana.com/2011/05/31/sib-masa-kepemimpinan-raffles/ . diakses tanggal 28 Mei 2012, pukul 23.10.

–       http://sejarah.info/2012/02/indonesia-di-bawah-pemerintahan-raffles.html . diakses tanggal 28 Mei 2012, pukul 23.12.

–          Anam’s, Gus.2010.blog: Pemerintahan VOC-Hindia Belanda. Diakses tanggal 29 Mei  2012.

  1. H.    Penilaian Hasil Belajar
    1. Tehnik

–          Tes Lisan (Appersepsi)

–          Tes Tertulis (Tes Formatif)

  1. Bentuk Soal : Pilihan ganda dan Essay
  2. Soal : Terlampir
  3. Standar Penilaian
    1. Pilihan Ganda
  • Tabel Penskoran
Benar Skor
10 10
9 9
8 8
7 7
6 6
5 5
4 4
3 3
2 2
1 1
0 0
  1. Uraian
  • Jawaban tepat sekali sesuai dengan kunci dan diungkapkan dengan bahasa yang baik dan benar mendapat skor 5.
  • Jawaban mendekati kebenaran diberi skor 4,3 atau 2.
  • Jawaban salah mendapat skor 1.
  • Skor terakhir diperoleh dengan menjumlahkan skor tiap nomor kemudian di bagi 2.

Rumus Penskoran:

Mengetahui,

Dosen Pengampu

Drs. Y. Supriyadi, M.Pd

NIP. 19530509 198703 1 001

Wates, 11 Juni 2012

Guru Praktikan

Iwan Sutiyono

NIM. 10021015

Lampiran 1

Soal

  1. I.       Pilihan Ganda

Jawablah dengan benar pertanyaan berikut dengan memberi tanda silang (x) pada huruf a,b,c, atau d pada lembar jawab yang telah tersedia !

  1. Raffles di lahirkan tanggal…
    1. 6 juli 1781
    2. 7 juli 1781
    3. 8 juli 1781
    4. 9 juli 1781.
  2. Ayah Raffles bernama… a.Lord Minto, b. Benjamin Raffles, c, H.C. Cornelius, d.Linderman Raffles.
  3. Raffles di angkat sebagai agen perusahaan pada tahun…
    1. 1802
    2. 1803
    3. 1804
    4. 1805.
  4. Raffles menjadi jendral Gubernur di jawa pada tahun…
    1. 1811-1816
    2. 1811-1817
    3. 1811-1818
    4. 1811-1819.
  5. Lembaga yang mempelopori pendirian Perpustakaan Nasional Republik Indonesia adalah…
    1. Etnograficsh Museum Batavia
    2. Nationale Bibliotheek Van Indonesia
    3. Museum Voor Geologie
    4. Konikujk Bataviasch Genoot Schap.
  6. Raffles menemukan Candi Penataran pada tahun 1815 bersama seorang Naturalis dan ahli kedokteran  berbangsa Amerika adalah…
    1. Thomas Walker Hosfield
    2. H.C. Cornelius
    3. Sir Gilbert Elliot Murray
    4. Lord Minto.
  7. Alasan Lord Minto menyukai Raffles sebagai Gubernur jawa adalah, kecuali
    1. Kecerdikannya dalam strategi perang
    2. Keterampilannya dalam berbahasa melayu
    3. Mempunyai watak yang keras
    4. Kemampuannya untuk beradaptasi.
  8. Kapitulasi Tuntang di tanda tangani pada tanggal…
    1. 18 september 1810
    2. 18 september 1811
    3. 18 september 1812
    4. 18 september 1813.
  9. Setelah di kuasai Inggris Kepulauan Indonesia di bawah kekuasaan India timur Inggris dan di bagi dalam empat unit administratif yaitu, kecuali
    1. Malaka
    2. Bengkulu
    3. Kalimantan
    4. Jawa.
  10. Kebijakan yang dilakukan raffles saat manjadi Gubernur Jendral di jawa dalam bidang ekonomi adalah…
    1.  Culturestelsel
    2. Romusa
    3. Landrente
    4. Rodi.

II. Soal Essay

Jawablah soal berikut dengan jelas dan benar pada lembar jawab yang tersedia !

  1. Sebutkan isi Perjanjian Tuntang!
  2. Sebutkan kebijakan Raffles di Hindia-Belanda dalam bidang perekonomian dan keuangan!

 

Lampiran 2

Kunci Jawaban

  1. I.    Pilihan Ganda

II. Essay

  1. Isi Perjanjian Tuntang :
  2. Seluruh Jawa diserahkan kepada Inggris
  3. Semua serdadu menjadi tawanan dan semua pegawai yang mau kerja sama dengan Inggris, dapat memegang jabatan terus
  4. Semua hutang-piutang pemerintah belanda yang dulu, tidak akan ditanggung oleh Inggris.
  1. kebijakan Raffles di Hindia-Belanda dalam bidang perekonomian dan keuangan :
  • semua tanah adalah milik Negara, dan rakyat sebagai pemakai (penggarap) tanah wajib membayar sewa (berupa pajak bumi) kepada pemerintah.
  • Pemimpin pribumi seperti sultan dan bupati yang tidak taat pada peraturan landrente, akan dipecat.
  • Meneruskan usaha yang dilakukan Belanda misalnya penjualan tanah kepada swasta, serta penanaman kopi, melaksanakan penanaman bebas yang melibatkan rakyat dalam perdagangan.
  • Memonopoli garam agar tidak dipermainkan dalm perdagangan karena sangat penting bagi rakyat.
  • Menghapus segala penyerahan wajib dan kerja rodi.

Lampiran 3

LEMBAR JAWABAN

  1. I.       PILIHAN GANDA

No

JAWABAN

No

JAWABAN

1

A

B

C

D

E

11

A

B

C

D

E

2

A

B

C

D

E

12

A

B

C

D

E

3

A

B

C

D

E

13

A

B

C

D

E

4

A

B

C

D

E

14

A

B

C

D

E

5

A

B

C

D

E

15

A

B

C

D

E

6

A

B

C

D

E

16

A

B

C

D

E

7

A

B

C

D

E

17

A

B

C

D

E

8

A

B

C

D

E

18

A

B

C

D

E

9

A

B

C

D

E

19

A

B

C

D

E

10

A

B

C

D

E

20

A

B

C

D

E

  1. II.    URAIAN

______________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________

Lampiran 2

Sir Thomas Stamford Bingley Raffles

Lapiran 3

 

Patung Sir Stamford Raffles oleh Thomas Woolner di Singapura

Lampiran 4

Gilbert Elliot-Murray-Kynynmound (Lord Minto)

Sampul buku Raffles

Diterbitkan oleh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s