Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Sultan Hasanuddin


RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

 

Disusun guna mengikuti Micro Teaching

Pada mata kuliah PPL I

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 Oleh :

SAEFUL ROHMAN

NIM                : 09021031

Semester         : VI( Enam )

Jurusan          : Pendidikan Sejarah

Fakultas         : Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial

 

INSTITUT KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

YOGYAKARTA

2012

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

Sekolah                       : SMA N 1 Wates

Mata Pelajaran            : IPS – Sejarah

Kelas                           : XI IPA / 2

Alokasi Waktu            : 1 Jam Pelajaran (1X45 Menit)

 

  1. A.    Standar Kompetensi

Memahami Kerajaan Gowa pada masa kepemimpinan Sultan Hasanuddin

 

  1. B.     Kompetensi Dasar

Mendeskripsikan Kerajaan Gowa masa kepemimpinan Sultan Hasanuddin

 

  1. C.    Indikator
    1. Menjelaskan faktor-faktor VOC datang ke Makassar.
    2. Mengidentifikasi pertempuran Kerajaan Gowa dengan VOC.
    3. Menyebutkan faktor-faktor kekalahan Gowa melawan VOC.

 

  1. D.    Tujuan Pembelajaran

Setelah penyajian materi, diharapakan siswa dapat :

  1. Menjelaskan faktor-faktor VOC datang ke Makassar.
  2. Mengidentifikasi pertempuran Kerajaan Gowa dengan VOC.
  3. Menyebutkan faktor-faktor kekalahan Gowa melawan VOC.

 

 

 

 

 

 

  1. E.     Materi Pelajaran

                                                  SULTAN HASANUDDIN

 

Sultan Hasanuddin dilahirkan di Makassar  12 Januari 1631 dengan nama I Mallombosi Daeng Karaeng Bonto Mangape, setelah memeluk agama Islam ia mendapat tambahan gelar Sultan Hasanuddin Tumenanga Ri Balla Pangkana, dan merupakan putra Sultan Malikussaid, Sultan Gowa ke-15. Sebagai putra kedua sebenarnya Sultan Hasanuddin tidak berhak atas tahta kerajaan Gowa, tetapi saat ayahnya wafat pada tahun 1655, para pembesar kerajaan sepakat untuk menobatkannya sebagai raja Gowa. Pilihan itu didasarkan atas prestasi yang dicapainya sewaktu ayahnya masih memerintah. Ia memang sudah dipersiapkan sejak awal untuk menjadi raja, sehingga kepadanya diajarkan berbagai keahlian yang berkaitan dengan pemerintahan. Sultan Hasanuddin memerintah Kerajaan Gowa, ketika Belanda yang diwakili VOC sedang berusaha menguasai perdagangan rempah-rempah. Gowa merupakan kerajaan besar di wilayah timur Indonesia yang menguasai jalur perdagangan.

Orang-orang Belanda pada awalnya tidak tertarik kepada kerajaan Gowa yang terletak di kaki barat Sulawesi Selatan. Mereka baru mengetahui setelah berhasil menangkap sebuah kapal Portugis di dekat perairan Malaka. Di kapal itu terdapat seorang awak kapal dari Makassar. Dari awak kapal tersebutlah mereka mengetahui tentang keadaaan Kerajaan Gowa, dari itu mereka mengetahui ternyata pelabuhan Kerajaan Gowa di Sambaopu merupakan pelabuhan transito yang penting bagi kapal-kapal yang berlayar dari atau ke Maluku. Setelah Belanda mengetahui bahwa Makassar cukup ramai dan banyak menghasilkan beras, Belanda mulai mengirimkan utusannya ke Makassar untuk membuka hubungan dagang. Utusan itu diterima dengan baik, dan sejak saat itu Belanda sering datang ke Makassar,tetapi hanya untuk berdagang. Setelah Belanda sering ke Makassar, mereka membujuk Sultan Hasanuddin untuk bersama-sama menyerbu Banda (pusat rempah-rempah). Belanda juga menganjurkan agar tidak menjual beras kepada Portugis, namun ajakan tersebut ditolak oleh Makassar.

Antara Makassar dengan Belanda sering terjadi konflik karena persaingan dagang. Permusuhan itu diawali dengan insiden penipuan pada tahun 1616 oleh Belanda. Saat itu pembesar Makassar menghadiri undangan perjamuan Belanda di kapal VOC, tetapi  sesampainya disana mereka dilucuti senjatanya oleh Belanda, sehingga terjadi perkelahian antara Belanda dengan Makassar yang mengakibatkan banyak korban dari pihak Makassar. Sejak saat itulah orang-orang Makassar mulai membenci Belanda.

Pada masa pemerintahan Hasanuddin juga terjadi insiden antara VOC dengan Gowa pada tahun 1662. Kapal De Walvisch yang memasuki perairan Makassar tanpa izin karena dikejar oleh pasukan Gowa, kandas di pantai. Sebanyak 16 pucuk meriam disita oleh pasukan Gowa. Dua tahun kemudian kapal VOC De Leeuwin tenggelam di Pulau dayang-dayang. Seratus anak buah kapal tewas tenggelam dan sisanya 162 orang ditawan di Gowa. VOC mengirimkan 14 pegawainya ketempat kandasnya kapal tanpa memberitahu kepada Sultan, sehingga beliau merasa kehormatannya telah dilanggar oleh VOC. Akhirnya para pegawai ini ditawan dan dibunuh. Pada tahun 1665 Gubernur Jendral Joan Matsuijker mengutus Joan van Wesenhagen ke Gowa untuk berdamai, tetapi ditolak oleh Sultan Hasanuddin dengan alasan syarat yang ditentukan VOC merugikan Gowa. Menghadapi perlawanan itu pada bulan November 1666, di bawah pimpinan Laksamana Cornelis Speelman, berangkat dari Batavia menuju Gowa. Armada berkekuatan 21 kapal perang dengan membawa 1000 orang tentara. Dengan kekuatan sebesar itu, pada tanggal 21 Desember 1666, VOC mengumumkan perang kepada Gowa. Benteng pertahanan Gowa yaitu Sombaopu, Panakupang, dan Ujung Pandang ditembaki meriam. Serangan itu mendapatbalasan dari Gowa. Speelman menyadari bahwa pertahanan Gowa tidak mungkin ditembus, sehingga ia mengubah taktik serangan. Ia menggerakan armadanya ke Buton, tetapi di daerah pedalaman mereka mendapat perlawanan dari penduduk setempat. Pasukan Belanda terpaksa kembali ke kapalnya dan berlayar menuju Bantaeng. Di daerah ini juga mendapat perlawanan sengit pasukan Gowa, setelah membakar persediaan padi pasukan Belanda kembali ke Buton.

Di Buton terjadi pertempuran sengit, Belanda dibantu pasukan Arung Palaka yaitu seorang raja dari Bone yang ingin melepaskan diri dari Gowa. Akibatnya Gowa kuwalahan, para pemimpin Gowa Seperti Karaeng Bontomaranu, Datu Luwu, dan Sultan Bima ditawan Belanda. Hasanuddin menyiapkan siasat untuk melepaskan raja Bone La Maddaremmeng dari tekanan untuk mendapat simpati rakyat Bone, namun tidak berhasil. Setibanya di Bone, La Maddaremmeng menyerahkan kekuasaannya kepada Arung Palaka. Pertempuran berkobar kembali, karena kekuatan tidak seimbang, maka Hasanuddin mengundurkan diri dari Bantaeng menuju Gowa. Pertemputan terus berlanjut, dan mengakibatkan bayak kerugian dipihak Gowa, akhirnya Sultan Hasanuddin bersedia membuat perjanjian dengan VOC pada tanggal 18 November 1667, yang kemudian perjanjian itu disebut  perjanjian Bongaya.

Perjanjian Bungaya (sering juga disebut Bongaya atau Bongaja) adalah perjanjian perdamaian yang ditandatangani pada tanggal 18 November 1667 di Bungaya antara Kesultanan Gowa yang diwakili oleh Sultan Hasanuddin dan pihak Hindia Belanda yang diwakili oleh Laksamana Cornelis Speelman. Walaupun disebut perjanjian perdamaian, isi sebenarnya adalah deklarasi kekalahan Gowa dari VOC (Kompeni) serta pengesahan monopoli oleh VOC untuk perdagangan sejumlah barang di pelabuhan Makassar (yang dikuasai Gowan). Isi Perjanjian Bongaya adalah sebagai berikut :

  1. Perjanjian yang ditandatangani oleh Karaeng Popo, duta pemerintah di Makassar (Gowa) dan Gubernur-Jendral, serta Dewan Hindia di Batavia pada tanggal 19 Agustus 1660, dan antara pemerintahan Makassar dan Jacob Cau sebagai Komisioner Kompeni pada tanggal 2 Desember 1660 harus diberlakukan.
  2. Seluruh pejabat dan rakyat Kompeni berkebangsaan Eropa yang baru-baru ini atau di masa lalu melarikan diri dan masih tinggal di sekitar Makassar harus segera dikirim kepada Laksamana (Cornelis Speelman).
  3. Seluruh alat-alat, meriam, uang, dan barang-barang yang masih tersisa, yang diambil dari kapal Walvisch di Selayar dan Leeuwin di Don Duango, harus diserahkan kepada Kompeni.
  4. Mereka yang terbukti bersalah atas pembunuhan orang Belanda di berbagai tempat harus diadili segera oleh Perwakilan Belanda dan mendapat hukuman setimpal.
  5. Raja dan bangsawan Makassar harus membayar ganti rugi dan seluruh utang pada Kompeni, paling lambat musim berikut.
  6. Seluruh orang Portugis dan Inggris harus diusir dari wilayah Makassar dan tidak boleh lagi diterima tinggal di sini atau melakukan perdagangan. Tidak ada orang Eropa yang boleh masuk atau melakukan perdagangan di Makassar.
  7. Hanya Kompeni yang boleh bebas berdagang di Makassar. Orang “India” atau “Moor” (Muslim India), JawaMelayuAceh, atau Siam tidak boleh memasarkan kain dan barang-barang dari Tiongkok karena hanya Kompeni yang boleh melakukannya. Semua yang melanggar akan dihukum dan barangnya akan disita oleh Kompeni.
  8. Kompeni harus dibebaskan dari bea dan pajak impor maupun ekspor.
  9. Pemerintah dan rakyat Makassar tidak boleh berlayar kemanapun kecuali Bali,pantai Jawa,JakartaBantenJambiPalembangJohor,dan Kalimantan, dan harus meminta surat izin dari Komandan Belanda di sini (Makassar). Mereka yang berlayar tanpa surat izin akan dianggap musuh dan diperlakukan sebagaimana musuh. Tidak boleh ada kapal yang dikirim ke Bima,SolorTimor, dan lainnya semua wilayah di timur Tanjung Lasso, di utara atau timurKalimantan atau pulau-pulau di sekitarnya. Mereka yang melanggar harus menebusnya dengan nyawa dan harta.
  10. Seluruh benteng di sepanjang pantai Makassar harus dihancurkan, yaitu: Barombong, Pa’nakkukang, Garassi, Mariso, Boro’boso. Hanya Sombaopu yang boleh tetap berdiri untuk ditempati raja.
  11. Benteng Ujung Pandang harus diserahkan kepada Kompeni dalam keadaan baik, bersama dengan desa dan tanah yang menjadi wilayahnya.
  12. Koin Belanda seperti yang digunakan di Batavia harus diberlakukan di Makassar.
  13. Raja dan para bangsawan harus mengirim ke Batavia uang senilai 1.000 budak pria dan wanita, dengan perhitungan 2½ tael atau 40 mas emas Makassar per orang. Setengahnya harus sudah terkirim pada bulan Juni dan sisanya paling lambat pada musim berikut.
  14. Raja dan bangsawan Makassar tidak boleh lagi mencampuri urusan Bima dan wilayahnya.
  15. Raja Bima dan Karaeng Bontomarannu harus diserahkan kepada Kompeni untuk dihukum.
  16. Mereka yang diambil dari Sultan Butung pada penyerangan terakhir Makassar harus dikembalikan. Bagi mereka yang telah meninggal atau tidak dapat dikembalikan, harus dibayar dengan kompensasi.
  17. Bagi Sultan Ternate, semua orang yang telah diambil dari Kepulauan Sula harus dikembalikan bersama dengan meriam dan senapan. Gowa harus melepaskan seluruh keinginannya menguasai kepulauan Selayar dan Pansiano (Muna), seluruh pantai timur Sulawesi dariManado ke Pansiano, Banggai, dan Kepulauan Gapi dan tempat lainnya di pantai yang sama, dan negeri-negeri Mandar dan Manado, yang dulunya adalah milik raja Ternate.
  18. Gowa harus menanggalkan seluruh kekuasaannya atas negeri-negeri Bugis dan Luwu. Raja tua Soppeng [La Ténribali] dan seluruh tanah serta rakyatnya harus dibebaskan, begitu pula penguasa Bugis lainnya yang masih ditawan di wilayah-wilayah Makassar, serta wanita dan anak-anak yang masih ditahan penguasa Gowa.
  19. Raja Layo, Bangkala dan seluruh Turatea serta Bajing dan tanah-tanah mereka harus dilepaskan.
  20. Seluruh negeri yang ditaklukkan oleh Kompeni dan sekutunya, dari Bulo-Bulo hingga Turatea, dan dari Turatea hingga Bungaya, harus tetap menjadi tanah milik Kompeni sebagai hak penaklukan.
  21. Wajo, Bulo-Bulo dan Mandar harus ditinggalkan oleh pemerintah Gowa dan tidak lagi membantu mereka dengan tenaga manusia, senjata dan lainnya.
  22. Seluruh laki-laki Bugis dan Turatea yang menikahi perempuan Makassar, dapat terus bersama isteri mereka. Untuk selanjutnya, jika ada orang Makassar yang berharap tinggal denganorang Bugis atau Turatea, atau sebaliknya, orang Bugis atau Turatea berharap tinggal denganorang Makassar, boleh melakukannya dengan seizin penguasa atau raja yang berwenang.
  23. Pemerintah Gowa harus menutup negerinya bagi semua bangsa (kecuali Belanda). Mereka juga harus membantu Kompeni melawan musuhnya di dalam dan sekitar Makassar.
  24. Persahabatan dan persekutuan harus terjalin antara para raja dan bangsawan Makassardengan Ternate, Tidore, Bacan, Butung, Bugis (Bone), Soppeng, Luwu, Turatea, Layo, Bajing, Bima dan penguasa-penguasa lain yang di masa depan ingin turut dalam persekutuan ini.
  25. Dalam setiap sengketa di antara para sekutu, Kapten Belanda (yaitu, presiden atau gubernur Fort Rotterdam) harus diminta untuk menengahi. Jika salah satu pihak tidak mengacuhkan mediasi ini, maka seluruh sekutu akan mengambil tindakan yang setimpal.
  26. Ketika perjanjian damai ini ditandatangani, disumpah dan dibubuhi cap, para raja dan bangsawan Makassar harus mengirim dua penguasa pentingnya bersama Laksamana ke Batavia untuk menyerahkan perjanjian ini kepada Gubernur-Jendral dan Dewan Hindia. Jika perjanjian ini disetujui, Gubernur-Jendral dapat menahan dua pangeran penting sebagai sandera selama yang dia inginkan.
  27. Lebih jauh tentang pasal 6, orang Inggris dan seluruh barang-barangnya yang ada di Makassar harus dibawa ke Batavia.
  28. Lebih jauh tentang pasal 15, jika Raja Bima dan Karaeng Bontomarannu tidak ditemukan hidup atau mati dalam sepuluh hari, maka putra dari kedua penguasa harus ditahan.
  29. Pemerintah Gowa harus membayar ganti rugi sebesar 250.000 rijksdaalders dalam lima musim berturut-turut, baik dalam bentuk meriam, barang, emas, perak ataupun permata.
  30. Raja Makassar dan para bangsawannyaLaksamana sebagai wakil Kompeni, serta seluruh raja dan bangsawan yang termasuk dalam persekutuan ini harus bersumpah, menandatangani dan membubuhi cap untuk perjanjian ini atas nama Tuhan yang Suci pada hari Jumat18 November 1667.

Inti dari perjanjian tersebut adalah :

  1. VOC berhak monopoli di Makasar
  2. Belanda berhak menduduki benteng di Makasar (Benteng Rotterdam)
  3. Makasar/Gowa harus melepaskan daerah jajahannya
  4. Aru Palaka diakui sebagai Raja Bone.
  5. Kerajaan Makasar deperkecil, hanya meliputi Gowa
  6. Semua Bangsa Asing di usir dari Makasar, kecuali VOC
  7. Makasar harus membayar biaya perang

Perjanjian itu sangat merugikan Gowa, oleh karenanya Sultan Hasanuddin kembali menyusun kekuatan. Pertempuran meletus kembali, Belanda mengerahkan kekuatan yang lebih besar, dan Gowa tidak mampu menahannya. Akhirnya tanggal 12 Juni 1669 benteng Sombaopu dapat direbut oleh Belanda. Dengan dikuasainya benteng tersebut, Hasanuddin menyingkir ke Macein, Sombola dan pasukan Gowa Semakin lemah. Akhirnya, Sultan Hasanuddin  turun tahta dan pemerintahan diserahkan kepada puteranya, Sultan Amir Hamzah. Sampai akhir hayatnya Sultan Hasanuddin tetap menolak bekerja sama dengan Belanda. Beliau menggal tanggal 12 Juni 1670 dengan umur yang masih muda yaitu 39 tahun. Karena kegigihannya melawan Belanda, maka Belanda menyebutnya dengan sebutan De Haantjes van Het Oosten yang artinya Ayam Jantan dari Timur.

 

  1. F.     Metode Pengajaran
    1. Metode pengajaran : Ceramah Bervariasi
    2. Persiapan :

–          Salam

–          Presensi

–          Appersepsi

  1. Pelaksanaan :

–          Pemasangan media/materi pembelajaran

–          Tanya jawab

–          Evaluasi : tes formatif

–          Penugasan

  1. Penutup :

–          Salam

  1. Media yang menghantar ke penyajian materi

Terlampir

 

  1. G.    Sumber Pembelajaran
    1. Sumber Buku

Ignas Kingkin Teja, dkk, 2004, Sejarah SMA/MA Kelas XI-IPS, Jakarta: Grasindo. Hal 39-40.

 

Iskandar. Salman, 2009, 99 Tokoh Muslim Indonesia, Bandung: Mizan. Hal 88-89.

 

Mustopo. M Habib, dkk., 2007, Sejarah SMA Kelas XI Program IPS, Jakarta: Yudhistira. Hal 70-71.

 

Nugroho Notosusanto, Marwanti Djoened Poesponegoro., 2008, Sejarah Nasional Indonesia IV, Jakarta: Balai Pustaka. Hal 212-222.

 

Sudarmanto, JB., 2006, Jejak-jejak Pahlawan Perekat Kesatuan Bangsa Indonesia, Jakarta: Grasindo. Hal 194-197.

 

  1. Sumber Elektronik

–          http://kolom-biografi.blogspot.com/2011/08/biografi-sultan-hasanuddin-ayam-jantan.html. diakses tanggal 1 April 2012, pukul 15.24 WIB.

–          http://id.wikipedia.org/wiki/Sultan_Hasanuddin. diakses tanggal 1 April 2012, pukul 15.27 WIB.

–          http://bankjamal.blogdetik.com/2008/08/12/pahlawan-kemerdekaan-sultan-hasanuddin/ . diakses tanggal 1 April 2012, pukul 15.40 WIB.

–          http://foxest.blogspot.com/2009/11/c-perlwanan-sultan-hasanuddin-terhadap.html. diakses tanggal 1 April 2012, pukul 15.57 WIB.

–          http://arisandi.com/page/23/?author=2%2Fpage%2F3. diakses tanggal 1 Apri 2012, pukul 17.22 WIB.

–          http://suwandi-sejarah.blogspot.com/2010/09/kerajaan-gowa-tallo.html. diakses tanggal 1 April 2012, pukul 17.24 WIB.

–          http://bankjamal.blogdetik.com/2008/08/12/pahlawan-kemerdekaan-sultan-hasanuddin/. Diakses tanggal 2 mei 2012, pukul 19.25 WIB.

–          http://bagaswisnupratama01012011.blogspot.com/2011/12/sultan-hasanuddin-perjanjian-bongaya.html. diakses tanggal 3 Mei 2012, pukul 2.17 WIB.

 

  1. H.    Penilaian Hasil Belajar
    1. Tehnik

–          Tes Lisan (Appersepsi)

–          Tes Tertulis (Tes Formatif)

  1. Bentuk Soal : Essay
  2. Soal : Terlampir
  3. Standar Penilaian
  • Jawaban tepat sekali sesuai dengan kunci dan diungkapkan dengan bahasa yang baik dan benar mendapat skor 5.
  • Jawaban mendekati kebenaran diberi skor 4,3 atau 2.
  • Jawaban salah mendapat skor 1.
  • Rumus Penskoran:

 

 

 

Mengetahui,

Dosen Pengampu

Drs. Y. Supriyadi, M.Pd

NIP. 19530509 198703 1 001

Wates, 07 Mei 2012

Guru Praktikan

Saeful Rohman

NIM. 09021031

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Lampiran 1

Soal

Jawablah pertanyaan-pertanyaan di bawah ini dengan jawaban yang benar!

  1. Mengapa orang-orang Makassar membenci Belanda?
  2. Sebutkan inti pokok perjanjian Bongaya?

 

 

Jawab

  1. Antara Makassar dengan Belanda sering terjadi konflik karena persaingan dagang. Permusuhan itu diawali dengan insiden penipuan pada tahun 1616 oleh Belanda. Saat itu pembesar Makassar menghadiri undangan perjamuan Belanda di kapal VOC, tetapi  sesampainya disana mereka dilucuti senjatanya oleh Belanda, sehingga terjadi perkelahian antara Belanda dengan Makassar yang mengakibatkan banyak korban dari pihak Makassar. Sejak saat itulah orang-orang Makassar mulai membenci Belanda.
  2. Inti dari perjanjian Bongaya adalah :
    1. VOC berhak monopoli di Makasar
    2. Belanda berhak menduduki benteng di Makasar (Benteng Rotterdam)
    3. Makasar/Gowa harus melepaskan daerah jajahannya
    4. Aru Palaka diakui sebagai Raja Bone.
    5. Kerajaan Makasar deperkecil, hanya meliputi Gowa
    6. Semua Bangsa Asing di usir dari Makasar, kecuali VOC
    7. Makasar harus membayar biaya perang
Iklan

Diterbitkan oleh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s